.

Sabtu, 15 Juli 2017

Review Jurnal : Upaya Pengendalian Kualitas Pada Roda Castor 5

@ E15-David
Oleh : David Oktavian
 

 
A. Judul Penelitian
Upaya Pengendalian Kualitas Pada Roda Castor 5 - Studi kasus Unit Komponen Plastik di PT. Mega Andalan Kalasan).

Nama Penulis
Naniek Utami Handayani, Susatyo Nugroho W.P., Haneka Ari Wibowo (Industrial Engineering Department, Diponegoro University Jl. Prof. Sudarto, SH, Tembalang, Semarang).
B. Nama Jurnal
Jurnal PASTI
Volume IV Hal 1-11
Tahun terbit 2009
Phone/Fax. 024-7460052 E-mail: naniekh@yahoo.com
C. Latar Belakang Masalah
PT MAK merupakan sebuah industri manufaktur berdasarkan job order yang menghasilkan peralatan rumah sakit dari logam dan memiliki jenis produk yang sangat bervariasi. Dalam penelitian ini diambil studi kasus pada salah satu bagian produksi di PT MAK yaitu Unit Komponen Plastik yang memproduksi berbagai macam komponen terbuat dari plastik
Dalam penelitian ini diambil studi kasus pada salah satu bagian produksi di PT MAK yaitu Unit Komponen Plastik yang memproduksi berbagai macam komponen terbuat dari plastik Permasalahan yang sering terjadi adalah pada proses pembuatan komponen Wheel out dari Castor 5”. Roda Castor 5” digunakan untuk berbagai produk, misalnya Supra Mak Bed (tempat tidur pasien), Trolley emergency, Food Trolley, kereta dorong lipat ambulans dan lain-lain. Keluhan yang sering muncul adalah kerusakan pada bagian roda, terutama bagian wheel out roda. Setelah dilakukan penelitian dengan metode FMEA dan berbagai analisa kerusakan, diketahui bahwa adanya rongga udara antara komponen wheel out dengan wheel in dapat menyebabkan pecah/terpisahnya bagian wheel out dengan wheel in. Untuk mengetahui ada tidaknya rongga, cara yang dapat dilakukan selama ini adalah membelah roda sehingga dapat terlihat bagian dalamnya (uji merusak).

D. Masalah/Pertanyaan Penelitian
Adapun masalah yang dibahas mengenai penelitian ini yaitu :
Bagaimana cara menanggulangi produk cacat sampai hingga ke konsumen?
Apa saja faktor yang mempengaruhi terhadap kegagalan dari beberapa faktor yang ada?
Berapa faktor yang dapat mempengaruhi produk tersebut cacat hingga tidak terkendali?
Kapan dapat memulai perbaikan pengendalian kualitas di PT.MAK?
Dimana faktor yang lebih banyak timbul produk yang cacat?
Mengapa pengendalian kualitas di PT.MAK tidak dapat dikendalikan secara maksimal?
E. Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian diatas yaitu mengurangi atau menekan jumlah cacat produk castor yang berbahan baku TPU agar minimal sama dengan jumlah defect pada castor berbahan baku Haibam, dan sesuai dengan tingkat kerusakan yang ditetapkan oleh perusahaan selama ini. sedangkan target jangka panjang dari perbaikan ini tentunya adalah Zero Defect.
F. Metode Penelitian
    1. Metode penelitian yang digunakan pada jurnal diatas yaitu :
    2. Metode six sigma dengan menggunakan define, measure, analyze, improve, dan
       control.
    3. Metode statistical process control
    4. Metode peta kendali
    5. Metode analisis kemampuan proses
G.Hasil Penelitian
Dari hasil penelitian dari jurnal “ Upaya pengendalian Kualitas Pada Roda Castor 5 dengan studi kasus unit komponen plastik di PT. Mega Andalan Kalasan” yaitu Selama ini seluruh pengendalian kualitas untuk produk MAK berada dibawah pengawasan Departemen Quality Assurance. Namun Departemen Quality Assurance sendiri memiliki keterbatasan SDM sehingga saat ini yang menjadi fokus utama Departemen Quality Assurance adalah pengendalian pada lini produk akhir, ini terjadi di Unit Hospital Equipment dan Unit Aneka Produk. Sedangkan untuk komponen dalam pelaksanaannya dilakukan sendiri oleh operator tanpa ada tenaga SDM yang khusus menangani, ini terjadi di Unit Komponen Logam dan Unit Komponen Plastik. Pengendalian kualitas pada roda castor hanya dilakukan secara visual oleh operator. Penggolongan jenis cacat pada roda castor dilakukan untuk mempermudah pengamatan dan pencarian sebab-sebab cacat yang sejenis. Disini ada pula beberapa jenis cacat yang dapat diabaikan karena tidak memberikan pengaruh yang berarti.
H.Review/ komentar
Dari penelitian jurnal diatas yaitu pengendalian kualitas mencakup pemeliharaan, perbaikan dan pengembangan. Untuk menjaga kualitas harus diputuskan standar mutu, menentukan standar kerja yang akan mengantarkan ke mutu ini, dan menyusun sebuah sistem pengendalian untuk memeriksa prosedur kerja. Hal ini sebetulnya telah dilakukan oleh pihak perusahaan dengan menyediakan berbagai standard instruksi kerja dan check sheet yang berisi karakteristik kualitas yang dijadikan acuan. Untuk memperbaiki mutu produk, perlu menganalisa mutu produk yang sekarang ada, dengan memeriksa proses produksinya dan berbagai macam prosedur pengendalian mutu yang berkaitan untuk mengidentifikasi poin-poin persoalannya. PT MAK melalui Departemen Quality Control selama ini telah menerapkan kebijakan SPC dilantai produksinya dengan target kualitas sebesar 3 sigma. Hal ini telah mampu dicapai untuk proses produksi castor wheel out 5” dengan bahan baku haibam yang biasa digunakan. Namun kendala lain ditemui di lapangan dalam penggunaan komponen ini.    
Akibat adanya berbagai keluhan atas berbagai kerusakan berupa pecah/ terpisahnya wheel out dengan wheel in ditindak lanjuti oleh perusahaan dengan mencari sebab-sebab terjadinya dan solusinya. Setelah melalui serangkaian pertimbangan dan pengujian, perusahaanpun memutuskan untuk menggunakan TPU sebagai bahan pengganti Haibam. Bahan ini tentu saja memiliki kelebihan seperti yang telah disebutkan sebelumnya. Pada penggunaannya bahan ini mampu mengurangi keluhan yang terjadi berkaitan dengan cacat yang sebelumnya muncul ketika menggunakan material haibam Namun penggantian bahan ini tidak serta merta menyelesaikan permasalahan, muncul permasalahan baru berkaitan dengan proses produksinya.
I. Abstrak Jurnal
            PT. Mega Andalan Kalasan (MAK) merupakan industri manufaktur yang menghasilkan peralatan rumah sakit dari logam. Dalam penelitian ini, studi kasus dilakukan pada Unit Komponen Plastik yang salah satu hasil produknya adalah roda castor 5”. Keluhan yang sering terjadi adalah adanya kerusakan pada bagian roda, terutama bagian wheel out roda. Hal ini disebabkan adanya rongga udara antara komponen wheel out dengan wheel in yang dapat menyebabkan pecah/terpisahnya bagian wheel out dengan wheel in. Untuk mengetahui ada tidaknya rongga, cara yang dapat dilakukan selama ini adalah membelah roda sehingga dapat terlihat bagian dalamnya (uji merusak). Cara ini tentu saja sulit dan tidak ekonomis. Pihak perusahaan pun memutuskan untuk mengganti material yang selama ini digunakan (Haibam) dengan material lain (TPU) yang memiliki sifat bahan lebih baik. Hal ini mampu mengurangi keluhan yang terjadi akibat cacat yang terjadi ketika masih menggunakan material haibam. Akan tetapi, penggantian bahan tidak serta merta menyelesaikan permasalahan, hal ini dapat dilihat dengan muncunya permasalahan baru berkaitan dengan proses produksinya.
Hasil identifikasi terhadap bahan haibam dan TPU menunjukkan bahwa sink mark merupakan cacat dominan. Pengolahan data dengan menggunakan metode DPMO menghasilkan tingkat sigma yang berbeda. Dari kedua tingkat sigma yang dihasilkan tersebut terlihat bahwa Tingkat Sigma Haibam > TPU (3,0 Sigma > 2,8 Sigma). Hal ini menunjukkan terjadinya penurunan kemampuan proses ketika proses produksi castor diganti bahan bakunya dari Haibam menjadi TPU.
J. Daftar Pustaka
Buku Teks
1. Harry, Mikel dan Richard Schroeder (2000), “Six Sigma: The Breakthrough Management Strategy Revolutioning the Word’s”, Doubleday, New York
2. Brue, Greg (2002), “Six Sigma for Managers”, Terjemahan Emhas, Penerbit Canary, Jakarta 3. Mitra, Amitava (1993), “Fundamental of Quality Control and Improvement”, Macmillan Publishing Comp., New York
4. Montgomery, Douglas C.(1990), “Pengantar Pengendalian Kualitas Statistik”, Terjemahan Prof DR. Zanzawi Soerjati, MSc, Second Edition, Penerbit Gadjah Mada University Press, Yogyakarta
5. Pande, S. Peter, Robert P. Neuman, dan Roland R. Cavanagh (2002), The Six Sigma Way: Bagaimana GE, Motorola, dan Perusahan Terkenal Lainnya Mengasah Kinerja Mereka, Terjemahan Dwi Probantini, Penerbit Andi Yogyakarta
6. Pzydek, Thomas (2002), The Six Sigma Handbook, Terjemahan Lusy Widjaja, Penerbit Salemba Empat, Jakarta
7. Shima, Ghayatri (2002), Upaya Peningkatan Kualitas Pada Proses Produksi Lampu Pijar Menggunakan Metode Six Sigma di PT General Electric Lighting Indonesia.
8. Walpole, R.E and Myers, R.H.(1989), Ilmu Peluang dan Statistika Untuk Insinyur dan Ilmuwan, Edisi ke-4, Penerbit ITB, Bandung. b. Artikel Jurnal 1. Anonymous (2002), “Using Six Sigma to Improve PVC Qualit”, Annual Quality Congress Proceeding 2. Himah, Elok Faiqotul (2001), “Statistic Process Control Sebagai Monitoring Processdan Prioritas dalam Usaha Peningkatan Mutu”, Proceeding Seminar Nasional Teknik Industri FTI, Uniersitas Tri Sakti 3. Rancour, Tom dan Miuke McCracken (2000), “Applying Six Sigma Method for Breakthrough Safety Performance”, Profesinal Safety
Artikel Jurnal
1. Anonymous (2002), “Using Six Sigma to Improve PVC Qualit”, Annual Quality Congress Proceeding
2. Himah, Elok Faiqotul (2001), “Statistic Process Control Sebagai Monitoring Processdan Prioritas dalam Usaha Peningkatan Mutu”, Proceeding Seminar Nasional Teknik Industri FTI, Uniersitas Tri Sakti

3. Rancour, Tom dan Miuke McCracken (2000), “Applying Six Sigma Method for Breakthrough Safety Performance”, Profesinal Safety

Jumat, 14 Juli 2017

Sejarah dan Perkembangan Kereta Api

Sejarah Kereta Api Pada abad ke-18, setiap tambang di Inggris memiliki jaringan kereta api sederhana sendiri, dengan kuda sebagai tenaga penarik gerobak dari tambang ke pabrik. Perubahan kembali datang pada tahun 1774 setelah James Watt memperkenalkan penemuan mesin uap stasioner pertamanya ke seluruh dunia. Kemuadian pada tahung 1800-an beberapa ahli mesin uap berhasil memodifikasi mesin uap rancangan Watt, dengan merancang ruang bertekanan tinggi non-kondensasi yang memungkinkan mesin untuk mengkonversi lebih banyak energi uap menjadi energi mekanik.

Efek Bahaya Minuman Keras

Minuman keras yang disingkat dengan miras merupakan minuman yang mengandung alkohol. Dengan kenikmatannya yang banyak menimbulkan kesenangan semu, minuman ini berhasil menjadi gaya hidup di dunia termasuk di Indonesia. Tak jarang, minuman beralkohol biasa disajikan dalam perayaan tertentu atau pesta yang meriah. Walaupun termasuk minuman mewah, sayangnya minuman keras ini bisa membahayakan kesehatan bagi yang mengkonsumsinya.

Golongan Minuman Keras
Pada umumnya minuman keras diklasifikasikan menjadi 3 golongan. Golongan itu antara lain:
  1. Golongan A yakni minuman keras dengan kadar alkohol 1% hingga 5% seperti minuman bir dan green sand.
  2. Golongan B yakni minuman keras dengan kadar alkohol 5% hingga 20% seperti minuman martini dan wine atau anggur.
  3. Golongan C yakni minuman keras dengan kadar alkohol 20% hingga 50% seperti whisky dan brandy.

Sabtu, 08 Juli 2017

Gambaran Umum PT.Astra Daihatsu Motor


Disusun oleh : David Oktavian
Tugas             : Tugas B08 ( Gambaran Umum Perusahaan )