.

Sabtu, 30 September 2017

Bioetanol Alternatif Bahan Bakar Minyak

Menipisnya Bahan Bakar Minyak (BBM) dikarenakan jumlah fosil yang sudah langka mengakibatkan manusia harus beralih menuju energi alternatif yang lebih baru. Negara indonesia merupakan negara yang kaya akan sumber daya alamnya. Sangat sayang sekali kalau kita tidak bisa memanfaatkannya. Pada artikel kali ini saya akan sedikit mengulas tentang BIOETANOL. Bio merupakan makhluk hidup Etanol adalah alkohol.




Ethanol merupakan senyawa Hidrokarbon dengan gugus Hydroxyl (-OH) dengan 2 atom karbon (C) dengan rumus kimia C2H5OH. Secara umum Ethanol lebih dikenal sebagai Etil Alkohol berupa bahan kimia yang diproduksi dari bahan baku tanaman yang mengandung karbohidrat (pati) seperti ubi kayu,ubi jalar,jagung,sorgum,beras,ganyong dan sagu yang kemudian dipopulerkan dengan nama Bioethanol. 

Jadi Bioetanol adalah adalah bahan bakar paling dikenal baik sebaik biofuel dan merupakan alkohol yang dihasilkan dari jagung, sorgum, kentang, gandum, tebu, bahkan biomassa seperti batang jagung dan limbah sayuran. (Lauren Demates, 2014)

Beberapa keunggulan yang dapat diperoleh dari bioethanol adalah sebagai berikut:
1. Nilai oktan yang tinggi menyebabkan campuran bahan bakar terbakar tepat pada waktunya sehingga tidak menyebabkan fenomena knocking
2. Emisi gas buang tidak begitu berbahaya bagi lingkungan salah satunya gas CO2 yang dapat dimanfaatkan kembali oleh tumbuhan untuk proses fotosintesa serta emisi NO yang rendah
3.  Efisiensi tinggi dibanding bensin.
4. Kelebihan bioetanol dibanding minyak tanah adalah api berwarna biru sehingga tidak menghanguskan alat masak.
5. Bahan bakar dari bioetanol juga tidak berbau dan mudah dipadamkan dengan air

Selain memiliki keunggulan yang begitu banyak bioethanol ini pun terdapat kelemahan, kelemahan-kelemahan tersebut diantaranya:
1. Memerlukan modifikasi mesin jika ingin menggunakan bioethanol murni pada kendaraan
2. Bisa terjadi kemungkinan ethanol mengeluarkan emisi polutan beracun.

Dilansir di indobioethanol.com, berikut cara membuat bioethanol dari bahan singkong:
1.Kupas 125 kg singkong segar,semua jenis dapat dimanfaatkan. Bersihkan dan cacah berukuran kecil-kecil.

2.Keringkan singkong yang telah dicacah hingga kadar air maksimal 16%.Persis singkong yang dikeringkan menjadi gaplek.Tujuannya agar lebih awet sehingga produsen dapat menyimpan sebagai cadangan bahan baku.

3.Masukkan 25 kg gaplek ke dalam tangki stainless si eel berkapasitas 120 liter,lalu tambahkan air hingga mencapai volume 100 liter.Panaskan gaplek hingga 100″C selama 0,5 jam.Aduk rebusan gaplek sampai menjadi bubur dan mengental.

4.Dinginkan bubur gaplek,lalu masukkan ke dalam langki sakarifikasi.Sakarifikasi adalah proses penguraian pati menjadi glukosa.Setelah dingin,masukkan cendawan Aspergillus yang akan memecah pati menjadi glukosa.Untuk menguraikan 100 liter bubur pati singkong.Perlu 10 liter larutan cendawan Aspergillus atau 10% dari total bubur.Konsentrasi cendawan mencapai 100-juta sel/ml.Sebclum digunakan, Aspergilhis dikuhurkan pada bubur gaplek yang telah dimasak tadi agar adaptif dengan sifat kimia bubur gaplek.Cendawan berkembang biak dan bekerja mengurai pati.

5.Dua jam kemudian,bubur gaplek berubah menjadi 2 lapisan: air dan endapan gula.Aduk kembali pati yang sudah menjadi gula itu,lalu masukkan ke dalam tangki fermentasi.Namun,sebelum difermentasi pastikan kadar gula larutan pati maksimal 17—18%.Itu adalah kadar gula maksimum yang disukai bakteri Saccharomyces unluk hidup dan bekerja mengurai gula menjadi alkohol.Jika kadar gula lebth tinggi,tambahkan air hingga mencapai kadar yang diinginkan.Bila sebaliknya,tambahkan larutan gula pasir agar mencapai kadar gula maksimum.

6.Tutup rapat tangki fermentasi untuk mencegah kontaminasi dan Saccharomyces bekerja mengurai glukosa lebih optimal.Fermentasi berlangsung anaerob alias tidak membutuhkan oksigen. Agar fermentasi optimal, jaga suhu pada 28—32″C dan pH 4,5—5,5.

7.Setelah 2—3 hari, larutan pati berubah menjadi 3 lapisan. Lapisan terbawah berupa endapan protein.Di atasnya air,dan etanol.Hasil fermentasi itu disebut bir yang mengandung 6—12% etanol.

8.Sedot larutan etanol dengan selang plastik melalui kertas saring berukuran 1 mikron untuk menyaring endapan protein.

9.Meski telah disaring,etanol masih bercampurair.Untuk memisahkannya,lakukan destilasi atau penyulingan.Panaskan campuran air dan etanol pada suhu 78″C atau setara titik didih etanol.Pada suhu itu etanol lebih dulu menguap ketimbang air yang bertitik didih 100°C. Uap etanol dialirkan melalui pipa yang terendam air sehingga terkondensasi dan kembali menjadi etanol cair.

10.Hasil penyulingan berupa 95% etanol dan tidak dapat larut dalam bensin. Agar larul, diperlukan etanol berkadar 99% atau disebut etanol kering.Oleh sebab itu,perlu destilasi absorbent.Etanol 95% itu dipanaskan 100″C.Pada suhu ilu,etanol dan air menguap.Uap keduanya kemudian dilewatkan ke dalam pipa yang dindingnya berlapis zeolit atau pati.Zeolit akan menyerap kadar air tersisa hingga diperoleh etanol 99% yang siap dieampur dengan bensin.Sepuluh liter etanol 99%,membutuhkan 120— 130 liter bir yang dihasilkan dari 25 kg gaplek.


Sumber:
Demates Lauren. 2014. Perbedaa Bioethanol. Bioenerginusantara. Bogor.
Crismiadhi. 2011. Keunggulan dan Kelemahan bioethanol. Tombomumet. Bogor.
NN. 2010. Proses Pembuatan Bioethanol. indobioethanol. Bogor

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.