Materi Pembelajaran 14
Tujuan Pembelajaran
Setelah mempelajari modul ini secara mendalam, pembaca
diharapkan mampu:
- Memahami
teknik penyuntingan substansi, bahasa, dan mekanik pada naskah akademik
secara komprehensif.
- Menyusun
strategi presentasi ilmiah yang efektif, persuasif, dan berbasis data.
- Mengenali
alur publikasi pada jurnal ilmiah bereputasi serta menavigasi etika
publikasi global.
- Mengaplikasikan
standar penulisan sitasi dan daftar pustaka yang benar untuk menghindari
plagiarisme.
Ringkasan
Proses menulis akademik tidak berhenti pada penyusunan draf
awal. Tahapan pasca-penulisan yang meliputi penyuntingan (editing), presentasi
(diseminasi lisan), dan publikasi (diseminasi tertulis) adalah krusial
untuk memastikan gagasan dapat diterima dan diakui oleh komunitas ilmiah. Modul
ini membedah teknik self-editing, strategi komunikasi visual, hingga
prosedur peer review yang kompleks.
Kata Kunci
Penyuntingan Akademik, Presentasi Ilmiah, Publikasi
Jurnal, Peer Review, Etika Penulisan, Sitasi, Manuskrip.
I. Penyuntingan Tulisan Akademik (Editing): Analisis
Mendalam
Penyuntingan bukan sekadar mengoreksi ejaan, melainkan
proses menyempurnakan naskah agar pesan yang disampaikan jelas, logis, dan
memenuhi standar akademik yang ketat.
1.1 Hierarki dan Strategi Penyuntingan
Penyuntingan dilakukan dalam tiga level yang saling
mendukung:
- Penyuntingan
Substansi (Substantive Editing): Analisis difokuskan pada kekuatan
argumen, kebaruan (novelty), dan kelengkapan data pendukung. Penulis
harus memastikan alur logika dari pendahuluan (masalah) hingga kesimpulan
(solusi) sudah sinkron dan tidak memiliki celah argumen (logical
fallacies).
- Penyuntingan
Bahasa (Stylistic Editing): Fokus pada efektivitas kalimat agar tidak
ambigu dan tetap memiliki nada formal. Dalam konteks akademik, sangat
disarankan untuk menghindari penggunaan kata ganti orang pertama
(saya/kami) guna menjaga objektivitas, kecuali jika diperbolehkan oleh
disiplin ilmu tertentu.
- Penyuntingan
Mekanik (Copyediting): Merupakan tahap teknis terakhir yang memastikan
kepatuhan terhadap standar ejaan (PUEBI/KBBI), tanda baca, penulisan
istilah asing yang konsisten, dan akurasi referensi.
1.2 Teknik Swasunting (Self-Editing) yang Efektif
Sebelum naskah dikirim ke editor profesional, penulis dapat
melakukan teknik mandiri:
- The
Cooling Period: Membiarkan naskah "mengendap" selama 1-2
hari memungkinkan penulis mendapatkan perspektif baru saat membacanya
kembali, sehingga kesalahan yang sebelumnya tidak terlihat menjadi nampak
jelas.
- Membaca
Nyaring: Membaca tulisan secara vokal membantu mendeteksi kalimat yang
terlalu panjang, struktur yang kikuk, atau diksi yang sulit dipahami oleh
pendengar.
- Pengecekan
Konsistensi: Menjaga agar istilah teknis, singkatan, dan format
penulisan tetap seragam dari halaman awal hingga akhir.
II. Presentasi Ilmiah: Strategi Komunikasi dan Diseminasi
Presentasi ilmiah adalah forum krusial untuk mendapatkan
masukan instan dari rekan sejawat sebelum naskah akhirnya dipublikasikan secara
permanen.
2.1 Desain Visual dan Psikologi Kognitif
Penyampaian data secara visual harus mendukung pemahaman,
bukan membingungkan audiens:
- Prinsip
10-20-30: Batasi presentasi pada 10 slide, sampaikan dalam 20 menit,
dan gunakan ukuran font minimal 30pt agar terbaca jelas oleh audiens di
baris belakang.
- Minimalisme
Informasi: Gunakan poin-poin singkat (bullet points) untuk
memandu pembicaraan, hindari memindahkan paragraf utuh ke dalam slide.
- Optimalisasi
Visualisasi Data: Gunakan grafik atau diagram untuk menunjukkan tren
dan hubungan antar variabel; tabel rumit sebaiknya dihindari kecuali
benar-benar diperlukan.
2.2 Retorika dan Manajemen Forum
- Struktur
Penyampaian: Mulailah dengan Hook yang menarik perhatian,
lanjutkan dengan Meat yang berisi inti penelitian dan metodologi,
serta akhiri dengan Payload yang menekankan implikasi dari temuan
tersebut.
- Manajemen
Pertanyaan: Saat menghadapi pertanyaan kritis, gunakan teknik
"Listen, Acknowledge, Answer". Ini menunjukkan profesionalisme
dan penguasaan materi tanpa bersikap defensif.
III. Publikasi Tulisan Akademik: Navigasi Ekosistem
Jurnal
Publikasi memberikan legitimasi formal pada karya ilmiah
melalui validasi oleh pakar di bidang yang sama.
3.1 Strategi Pemilihan Jurnal Target
Pemilihan jurnal yang salah sering kali menjadi penyebab
utama penolakan naskah:
- Kesesuaian
Scope: Pastikan topik penelitian masuk dalam cakupan fokus jurnal
tersebut.
- Analisis
Reputasi: Evaluasi indeksasi jurnal melalui basis data kredibel
seperti Scopus, SINTA, atau Web of Science, serta perhatikan nilai Impact
Factor-nya.
- Model
Akses: Pertimbangkan apakah akan memilih Open Access (biasanya
memerlukan biaya publikasi/APC namun jangkauan pembaca luas) atau model Subscription
(gratis bagi penulis namun terbatas bagi pembaca).
3.2 Memahami Dinamika Peer Review
Proses ini dimulai dengan pengecekan awal oleh editor
sebelum diteruskan ke mitra bestari (reviewers). Penulis harus siap
dengan empat kemungkinan hasil:
- Accepted:
Naskah diterima langsung tanpa perubahan (kondisi yang sangat jarang
terjadi).
- Minor
Revision: Diperlukan perbaikan kecil pada bahasa atau format.
- Major
Revision: Diperlukan perbaikan signifikan, terkadang hingga penambahan
data atau analisis baru.
- Rejected:
Naskah ditolak karena alasan substansi, metodologi, atau ketidaksesuaian
dengan visi jurnal.
3.3 Integritas dan Etika Publikasi
Pelanggaran etika dapat menghancurkan reputasi seorang
akademisi selamanya:
- Plagiarisme:
Tindakan mengambil ide atau kata-kata orang lain tanpa memberikan kredit
melalui sitasi yang tepat.
- Salami
Slicing: Praktik tidak etis memecah satu penelitian utuh menjadi
beberapa artikel kecil demi meningkatkan kuantitas publikasi.
- Double
Submission: Mengirimkan satu naskah ke lebih dari satu jurnal dalam
waktu bersamaan.
Kesimpulan
Keberhasilan seorang akademisi diukur dari kemampuannya
meneliti sekaligus mengomunikasikan hasil tersebut kepada dunia. Penyuntingan
memberikan kejelasan, presentasi memberikan dampak langsung, dan publikasi
menjamin keberlanjutan ilmu pengetahuan. Ketiga pilar ini menuntut ketelitian
tinggi dan kepatuhan mutlak pada etika ilmiah.
Daftar Pustaka
- American
Psychological Association. (2020). Publication Manual of the American
Psychological Association (7th ed.).
- Creswell,
J. W. (2014). Research Design: Qualitative, Quantitative, and Mixed
Methods Approaches. Sage Publications.
- Keraf,
G. (2004). Komposisi: Sebuah Pengantar Kemahiran Bahasa. Nusa Indah.
- Swales,
J. M., & Feak, C. B. (2012). Academic Writing for Graduate
Students: Essential Tasks and Skills. University of Michigan Press.
Glosary
- Abstrak:
Ringkasan singkat naskah (tujuan, metode, hasil, kesimpulan).
- Impact
Factor: Frekuensi rata-rata sitasi artikel dalam suatu jurnal.
- Manuscript:
Naskah yang belum diterbitkan.
- Peer
Review: Evaluasi karya oleh pakar sebidang.
- Plagiarisme:
Penjiplakan tanpa menyebutkan sumber.
- SINTA:
Indeksasi jurnal nasional Indonesia.
Pertanyaan Pemantik (Diskusi)
- Mengapa
penyuntingan mekanik yang buruk bisa menyebabkan penolakan jurnal meskipun
isinya bagus?
- Apa
perbedaan mendasar menyunting tulisan sendiri vs orang lain?
- Sejauh
mana AI (seperti ChatGPT) boleh digunakan dalam penyuntingan akademik?
- Mengapa
visualisasi data lebih efektif daripada narasi panjang saat presentasi?
- Bagaimana
mengatasi kegugupan saat tanya jawab di konferensi?
- Apa
langkah selanjutnya jika naskah ditolak oleh editor sebelum peer review?
- Mengapa
etika publikasi sangat krusial di dunia akademik?
- Bagaimana
menentukan urutan penulis dalam kolaborasi?
- Apa
risiko publikasi di jurnal "predatory"?
- Bagaimana
menyederhanakan bahasa teknis tanpa merusak esensi ilmiahnya?
Pertanyaan Reflektif (Mahasiswa)
- Bagian
penyuntingan mana yang paling sulit bagi saya?
- Apakah
saya lebih fokus pada tata bahasa atau kekuatan argumen?
- Apakah
saya akan tertarik menonton presentasi saya sendiri?
- Seberapa
siap saya menerima kritik tajam dari reviewer?
- Pernahkah
saya mengabaikan sitasi karena menganggap suatu ide adalah
"umum"?
- Apa
motivasi utama saya mempublikasikan tulisan?
- Bagaimana
perasaan saya jika karya saya diplagiasi?
- Apakah
referensi saya sudah mutakhir (10 tahun terakhir)?
- Bagaimana
saya bisa meningkatkan kemampuan bicara di depan umum?
- Langkah
apa yang saya ambil besok untuk memperbaiki draf saya?
Hashtag
#MenulisAkademik #PenyuntinganNaskah #PublikasiIlmiah
#JurnalSinta #Scopus #TipsPresentasi #EtikaPenelitian #KaryaIlmiah
#MahasiswaAkhir #DosenIndonesia #PeerReview #AcademicWriting #ResearchPaper
#LiterasiInformasi #SelfEditing #PresentasiKeren #DuniaKampus
#SkripsiTesisDisertasi #PenelitiMuda #PUE

A-16 Yudhistira Daffa (41224010012)
BalasHapusPertanyaan Pemantik (Diskusi)
1. Karena kesalahan ejaan, tata bahasa, atau format bisa membuat editor ragu pada keseriusan dan kualitas penulis.
2. Menyunting tulisan sendiri sering tidak sadar kesalahan, sedangkan menyunting tulisan orang lain biasanya lebih objektif.
3. AI boleh dipakai untuk bantu bahasa dan perapian, tapi isi ilmiah tetap harus dari penulis.
4. Visual lebih cepat dipahami dan membuat audiens tidak lelah mendengar penjelasan panjang.
5. Persiapkan jawaban inti, tarik napas, dan jawab dengan tenang serta seperlunya.
6. Perbaiki naskah sesuai catatan editor, lalu kirim ke jurnal lain yang lebih cocok.
7. Karena etika menjaga kejujuran, kepercayaan, dan reputasi akademik.
8. Urutan penulis ditentukan dari kontribusi terbesar dan sebaiknya dibicarakan sejak awal.
9. Karya bisa tidak diakui, reputasi rusak, dan sering diminta biaya tanpa kualitas.
10. Gunakan bahasa sederhana dan penjelasan singkat tanpa menghilangkan makna ilmiahnya.
Pertanyaan Reflektif (Mahasiswa)
1. Menjaga alur tulisan agar tetap runtut.
2. Kadang lebih fokus ke tata bahasa daripada memperkuat argumen.
3. Kalau presentasinya jelas dan tidak membosankan, tentu mau.
4. Siap secara akademik, walau tetap butuh mental yang kuat.
5. Pernah, dan itu bisa jadi masalah serius.
6. Untuk berbagi ilmu dan mendukung perkembangan akademik.
7. Pasti sangat kecewa dan merasa tidak dihargai.
8. Masih perlu dicek dan diperbarui.
9. Lebih sering latihan dan berani mencoba.
10. Mulai dengan membaca ulang dan memperbaiki bagian yang lemah.
A-24 Galih Raka Siwi (41224010021)
BalasHapusPERTANYAAN PEMANTIK
1. Karena kesalahan bahasa, struktur, dan format memberi kesan kurang profesional, menyulitkan reviewer memahami argumen, dan menandakan kurangnya ketelitian—hal yang krusial dalam sains.
2. Menyunting tulisan sendiri cenderung bias dan “buta kesalahan”, sedangkan menyunting tulisan orang lain lebih objektif, fokus pada kejelasan dan logika, bukan niat penulis.
3. AI boleh digunakan untuk penyuntingan bahasa, kejelasan kalimat, dan struktur umum, namun bukan untuk menciptakan data, argumen ilmiah baru, atau menggantikan pemikiran kritis penulis. Transparansi dan kepatuhan kebijakan jurnal wajib.
4. Karena otak manusia memproses visual lebih cepat, visualisasi membantu melihat pola, perbandingan, dan tren yang sulit ditangkap lewat teks panjang.
5. Persiapan jawaban inti, mengakui jika belum tahu, menarik napas sebelum menjawab, dan mengingat bahwa pertanyaan adalah bentuk ketertarikan—bukan serangan.
6. Mengkaji alasan penolakan, memperbaiki fokus/topik, menyesuaikan scope jurnal, lalu mengirim ulang ke jurnal yang lebih sesuai.
7. Karena kredibilitas ilmu bergantung pada kejujuran, transparansi, dan kepercayaan publik. Pelanggaran etika merusak reputasi individu dan institusi.
8. Berdasarkan kontribusi nyata (konseptual, metodologi, analisis, penulisan), disepakati sejak awal, dan mengacu pada pedoman internasional (mis. ICMJE).
9. Kualitas review rendah atau palsu, reputasi akademik rusak, artikel sulit diakui, dan seringkali biaya tinggi tanpa dampak ilmiah nyata.
10. Dengan kalimat lebih pendek, definisi istilah kunci, analogi terbatas, dan fokus pada ide utama tanpa menghilangkan ketepatan konsep.
C.) PERTANYAN REFLEKTIF
1. Biasanya konsistensi argumen dan koherensi antarparagraf—bukan sekadar tata bahasa.
2. Idealnya seimbang, namun argumen ilmiah harus menjadi prioritas utama.
3. Pertanyaan ini menguji kejelasan, alur cerita, dan daya tarik visual presentasi.
4. Kesiapan menerima kritik mencerminkan kedewasaan akademik dan komitmen pada kualitas.
5. Ini refleksi penting, karena banyak “pengetahuan umum” sebenarnya tetap membutuhkan rujukan.
6. Apakah demi kontribusi ilmu, syarat akademik, reputasi, atau kombinasi semuanya?
7. Pertanyaan ini menumbuhkan empati dan kesadaran akan pentingnya etika sitasi.
8. Menunjukkan apakah riset benar-benar relevan dengan diskursus ilmiah terkini.
9. Latihan rutin, simulasi presentasi, merekam diri sendiri, dan mengikuti forum ilmiah.
10. Refleksi harus berujung pada aksi konkret: revisi, minta umpan balik, atau membaca ulang dengan perspektif baru.
Fadli Ananda Saputra
BalasHapus41224010007
Pertanyaan Pemantik
1. Karena kesalahan ejaan, tata bahasa, format sitasi, dan struktur kalimat memberi kesan tidak profesional. Editor sering menilai kualitas bahasa sebagai indikator ketelitian peneliti. Naskah yang sulit dibaca juga membebani reviewer, sehingga berisiko ditolak sejak awal.
2. -Tulisan sendiri: sulit objektif karena terikat emosi dan asumsi penulis.
-Tulisan orang lain: lebih kritis dan fokus pada kejelasan logika, bukan niat penulis.
Inilah sebabnya peer review sangat penting.
3. AI boleh digunakan untuk:
-perbaikan tata bahasa,
-penyederhanaan kalimat,
-pengecekan koherensi.
Namun tidak boleh:
-menggantikan analisis ilmiah,
-menciptakan data atau referensi,
-menulis klaim ilmiah tanpa verifikasi.
4. Otak manusia memproses visual lebih cepat daripada teks. Grafik, diagram, dan tabel membantu audiens:
-menangkap pola,
-membandingkan data,
-mengingat informasi lebih lama.
5. Dengan persiapan jawaban inti, latihan simulasi Q&A, dan memahami bahwa pertanyaan adalah bentuk ketertarikan, bukan serangan.
6.Evaluasi scope jurnal, perbaiki kesesuaian topik dan format, lalu kirim ke jurnal lain yang lebih relevan.
7. Karena menyangkut kejujuran ilmiah, kepercayaan publik, dan keberlanjutan pengetahuan; pelanggaran etika dapat merusak reputasi individu dan institusi.
8. Berdasarkan kontribusi nyata (konseptual, metodologi, analisis, penulisan), dan disepakati sejak awal secara transparan.
9. Artikel tidak diakui akademik, reputasi penulis rusak, dan karya sulit disitasi atau digunakan untuk keperluan akademik resmi.
10. Gunakan kalimat aktif, definisikan istilah penting, dan fokus pada pesan utama sebelum detail teknis.
Pertanyaan Reflektif
1. Identifikasi: logika argumen, bahasa akademik, atau konsistensi sitasi.
2. Idealnya, argumen kuat terlebih dahulu, lalu diperhalus secara linguistik.
3. Jika tidak, berarti perlu perbaikan alur, visual, atau cara penyampaian.
4. Kesiapan mental penting karena kritik adalah bagian dari proses ilmiah.
5. Ini berisiko plagiarisme; lebih aman tetap mencantumkan rujukan.
6. Nilai ilmiah, kontribusi pengetahuan, atau sekadar tuntutan administratif?
7.Pertanyaan ini menumbuhkan empati dan kesadaran etika akademik.
8.Referensi terbaru menunjukkan relevansi dan kebaruan riset.
9.Latihan rutin, rekaman diri, dan mengikuti forum diskusi atau seminar.
10. Tentukan satu tindakan konkret: revisi abstrak, cek sitasi, atau perbaiki grafik.
A-14 CHRISIDA CAKRA BUANA (41224010010)
BalasHapusPertanyaan Pemantik (Diskusi)
1. Karena kalau banyak salah teknis, editor bisa menganggap penulis kurang serius walaupun isinya sebenarnya bagus.
2. Menyunting tulisan sendiri susah karena kita sudah merasa tulisannya benar, beda kalau menyunting tulisan orang lain.
3. AI boleh dipakai sebagai bantuan, tapi tidak boleh menggantikan pemikiran penulis.
4. Karena visual lebih mudah dipahami dan tidak membuat audiens cepat bosan.
5. Menenangkan diri dulu, lalu menjawab sesuai yang ditanyakan tanpa berlebihan.
6. Memperbaiki naskahnya lalu mencari jurnal lain yang lebih sesuai.
7. Karena etika menjaga kejujuran dan nama baik penulis di dunia akademik.
8. Biasanya dilihat dari siapa yang paling banyak berkontribusi.
9. Tulisan bisa tidak diakui dan malah merugikan penulis.
10. Menggunakan bahasa yang lebih sederhana supaya mudah dipahami.
Pertanyaan Reflektif (Mahasiswa)
1. Menjaga supaya isi tulisan tetap nyambung dari awal sampai akhir.
2. Saya sering lebih fokus ke bahasa daripada memperkuat isi.
3. Kalau presentasinya jelas, saya sendiri pasti mau menontonnya.
4. Secara ilmu siap, tapi tetap deg-degan kalau dikritik.
5. Pernah, dan itu ternyata berisiko.
6. Supaya tulisan bisa bermanfaat dan diakui secara akademik.
7. Pasti kesal dan merasa tidak adil.
8. Masih ada referensi yang perlu diperbarui.
9. Dengan sering latihan dan berani tampil.
10. Membaca ulang tulisan dan memperbaiki bagian yang kurang.
A22 Ardelia Nurzahra (41224010019)
BalasHapusPemantik
1. Penyuntingan yang tidak tepat dapat merusak reputasi tulisan karena banyaknya kesalahan dalam bahasa dan format, sehingga membuat isi sulit untuk dinilai secara adil.
2. Mengedit tulisan sendiri cenderung lebih subjektif, sementara mengedit karya orang lain lebih memudahkan dalam menemukan kesalahan baik secara logika maupun bahasa.
3. Teknologi kecerdasan buatan bisa dimanfaatkan untuk mendukung aspek teknis bahasa, tetapi tidak seharusnya menggantikan pemikiran dan tanggung jawab penulis dalam konteks akademis.
4. Penyajian data secara visual lebih mudah dicerna dan lebih efektif dalam menunjukkan pola dibandingkan dengan penjelasan yang panjang lebar.
5. Kegugupan bisa diminimalisir melalui persiapan materi, latihan, dan pemahaman yang baik terhadap topik penelitian.
6. Naskah yang ditolak bisa diperbaiki berdasarkan masukan dari editor dan kemudian diajukan ke jurnal yang lebih cocok.
7. Etika dalam publikasi sangat penting untuk menjaga integritas ilmiah dan membangun kepercayaan di lingkungan akademis.
8. Urutan penulis ditentukan oleh besarnya kontribusi yang diberikan dan telah disepakati di awal kolaborasi.
9. Jurnal yang meragukan dapat berisiko merusak reputasi karena tidak memiliki proses penelaahan yang jelas.
10. Bahasa teknis bisa disederhanakan dengan kalimat yang ringkas tanpa kehilangan arti ilmiah.
Reflektif
1. Tantangan tersulit dalam penyuntingan adalah mempertahankan konsistensi dalam alur argumen.
2. Perhatian pada tata bahasa dan kekuatan argumen perlu seimbang.
3. Ketertarikan untuk menyaksikan presentasi sendiri mencerminkan kualitas cara penyampaian materi.
4. Kesiapan untuk menerima kritik ditunjukkan melalui sikap yang terbuka dan profesional.
5. Mengabaikan referensi dapat melanggar etika, meskipun gagasan tersebut dianggap umum.
6. Tujuan publikasi seharusnya untuk memberikan kontribusi pada bidang ilmu pengetahuan.
7. Plagiarisme membawa dampak negatif dari segi moral dan akademik bagi penulis.
8. Referensi terbaru sangat penting untuk menjaga relevansi dalam penelitian.
9. Keterampilan berbicara di depan umum dapat ditingkatkan lewat latihan dan refleksi pribadi.
10. Perbaikan draf bisa dimulai dengan membaca kembali dan menyesuaikan dengan pedoman jurnal.
Jawaban Pertanyaan Pemantik (Diskusi)
BalasHapus1.Mengapa penyuntingan mekanik yang buruk bisa menyebabkan penolakan jurnal meskipun isinya bagus?
Karena penyuntingan mekanik (tata bahasa, ejaan, format, sitasi) mencerminkan profesionalisme penulis. Editor sering menilai kualitas akademik dari kerapian awal naskah. Jika sulit dibaca, editor menganggap argumen juga tidak matang dan enggan melanjutkan ke tahap review.
2.Apa perbedaan mendasar menyunting tulisan sendiri vs orang lain?
Saat menyunting tulisan sendiri, penulis sering bias dan “merasa sudah jelas”. Menyunting tulisan orang lain lebih objektif karena pembaca benar-benar menilai kejelasan, alur, dan logika tanpa asumsi tersembunyi.
3.Sejauh mana AI (seperti ChatGPT) boleh digunakan dalam penyuntingan akademik?
AI boleh digunakan untuk penyuntingan bahasa, struktur, dan kejelasan, tetapi tidak untuk menghasilkan ide ilmiah, data, atau analisis asli tanpa pengakuan. Banyak jurnal menuntut transparansi penggunaan AI.
4.Mengapa visualisasi data lebih efektif daripada narasi panjang saat presentasi?
Otak manusia memproses visual lebih cepat daripada teks. Grafik dan diagram membantu audiens menangkap pola, tren, dan perbandingan secara instan tanpa kelelahan kognitif.
5.Bagaimana mengatasi kegugupan saat tanya jawab di konferensi?
Fokus pada inti pertanyaan, tarik napas sebelum menjawab, dan ingat bahwa pertanyaan bukan serangan. Jika tidak tahu jawabannya, mengatakan “itu poin menarik, akan saya kaji lebih lanjut” adalah sikap akademik yang sah.
6.Apa langkah selanjutnya jika naskah ditolak oleh editor sebelum peer review?
Baca komentar editor dengan objektif, perbaiki kelemahan utama (scope, kebaruan, struktur), lalu kirim ke jurnal lain yang lebih sesuai. Penolakan awal bukan kegagalan ilmiah.
7.Mengapa etika publikasi sangat krusial di dunia akademik?
Karena integritas ilmiah bergantung pada kejujuran data, sitasi, dan kepengarangan. Pelanggaran etika (plagiarisme, fabrikasi data) bisa merusak reputasi akademik secara permanen.
8.Bagaimana menentukan urutan penulis dalam kolaborasi?
Umumnya berdasarkan kontribusi ilmiah terbesar (konsep, analisis, penulisan). Kesepakatan sebaiknya dibuat sejak awal untuk mencegah konflik.
9.Apa risiko publikasi di jurnal “predatory”?
Karya tidak diakui secara akademik, reputasi penulis bisa rusak, dan publikasi sering tidak melalui peer review yang sah. Bahkan bisa merugikan saat akreditasi atau studi lanjut.
10.Bagaimana menyederhanakan bahasa teknis tanpa merusak esensi ilmiahnya?
Gunakan kalimat lebih pendek, definisikan istilah teknis saat pertama muncul, dan fokus pada konsep inti sebelum detail matematis atau teknis.
Jawaban Pertanyaan Reflektif (Mahasiswa)
1.Bagian penyuntingan tersulit → biasanya alur logika dan koherensi antarparagraf
2.Fokus tata bahasa atau argumen? → argumen harus utama, bahasa mendukung
3.Tertarik menonton presentasi sendiri? → jika tidak, berarti perlu disederhanakan
4.Siap menerima kritik reviewer? → kritik adalah bagian dari proses ilmiah
5.Mengabaikan sitasi? → ide “umum” tetap perlu rujukan akademik
6.Motivasi publikasi? → pengakuan ilmiah, kontribusi ilmu, atau kewajiban akademik
7.Jika diplagiasi? → marah wajar, tapi jalur etik dan hukum lebih penting
8.Referensi mutakhir? → idealnya 5–10 tahun terakhir
9.Meningkatkan public speaking? → latihan, rekam diri, dan simulasi Q&A
10.Langkah besok untuk draf? → revisi satu bagian spesifik, bukan semuanya sekaligus
WILDAN FAZRI | 41122010087
BalasHapus(A 07)
Pertanyaan Pemantik (Diskusi)
1. Kredibilitas sebuah karya bisa terancam jika proses penyuntingannya ceroboh; banyaknya kekeliruan bahasa dan format sering kali membuat pembaca gagal menangkap kualitas substansi tulisan.
2. Mengoreksi tulisan sendiri cenderung bias secara subjektif, sementara menelaah karya orang lain memudahkan kita dalam mengidentifikasi celah logika maupun kesalahan linguistik.
3. Meski AI sangat membantu dalam urusan teknis kebahasaan, kendali intelektual dan tanggung jawab moral dalam konteks akademis sepenuhnya tetap berada di tangan penulis.
4. Penggunaan elemen visual dalam menyajikan data jauh lebih efektif dan mudah dipahami untuk menggambarkan pola tertentu dibandingkan narasi yang terlalu panjang.
5. Rasa gugup saat presentasi dapat diredam dengan matangnya persiapan, latihan yang konsisten, serta penguasaan materi yang mendalam.
6. Penolakan naskah bukanlah akhir; gunakan masukan editor untuk melakukan perbaikan sebelum mengirimkannya ke jurnal yang lebih relevan.
7. Penerapan etika publikasi adalah pilar utama dalam menjaga integritas ilmiah sekaligus membangun kepercayaan di lingkup akademis.
8. Penentuan urutan penulis harus berdasarkan bobot kontribusi masing-masing dan disepakati bersama sejak awal kerja sama.
9. Mempublikasikan karya di jurnal predator atau yang meragukan berisiko mencoreng reputasi peneliti karena ketiadaan proses peninjauan (peer-review) yang standar.
10. Istilah teknis yang rumit bisa dikemas menjadi kalimat yang lebih sederhana dan padat tanpa mengubah makna ilmiah yang dikandungnya.
Pertanyaan Reflektif (Mahasiswa)
1. Menjaga agar alur argumen tetap konsisten dari awal hingga akhir merupakan tantangan tersulit dalam kegiatan penyuntingan.
2. Penulis harus mampu menyeimbangkan antara ketepatan tata bahasa dengan kekuatan argumen yang disampaikan.
3. Kualitas penyampaian materi dapat dievaluasi dengan melihat seberapa menarik presentasi tersebut jika kita sendiri yang menyaksikannya.
4. Kesiapan mental seorang peneliti tercermin dari sikap yang profesional dan terbuka dalam menanggapi setiap kritik.
5. Mencantumkan referensi adalah keharusan etis; mengabaikannya, meski pada ide yang dianggap umum, dapat mencederai integritas penulis.
6. Kontribusi nyata bagi pengembangan ilmu pengetahuan seharusnya menjadi tujuan utama dari setiap publikasi ilmiah.
7. Tindakan plagiarisme memberikan dampak destruktif bagi penulis, baik dari sisi moralitas maupun karier akademik.
8. Penggunaan referensi terkini sangat krusial guna memastikan penelitian tetap relevan dengan perkembangan zaman.
9. Kemampuan berbicara di depan publik bukan sekadar bakat, melainkan keterampilan yang bisa diasah melalui latihan dan evaluasi diri.
10. Langkah awal memperbaiki draf adalah dengan membaca ulang secara kritis dan menyesuaikannya dengan standar panduan jurnal yang dituju.
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusNAZWA HAZIDA 41124020002
BalasHapus• Pertanyaan Pemantik
1. Karena kesalahan mekanik menunjukkan kurangnya ketelitian dan membuat editor meragukan kualitas keseluruhan naskah.
2. Menyunting tulisan sendiri sulit objektif, sedangkan menyunting tulisan orang lain lebih kritis dan rasional.
3. AI boleh membantu bahasa dan struktur, tetapi tanggung jawab ilmiah tetap pada penulis.
4. Visualisasi membantu audiens memahami inti data dengan cepat dan lebih menarik.
5. Dengan persiapan matang, latihan, dan sikap tenang saat menjawab.
6. Memperbaiki naskah sesuai masukan lalu mengirim ke jurnal lain yang lebih sesuai.
7. Karena etika menjaga kepercayaan, kejujuran, dan kredibilitas akademik.
8. Ditentukan berdasarkan kontribusi ilmiah dan kesepakatan bersama.
9. Publikasi bisa tidak diakui dan merusak reputasi akademik.
10. Dengan menyederhanakan istilah tanpa menghilangkan makna ilmiahnya.
• Reflektif (Mahasiswa)
1. Menjaga konsistensi alur dan kekuatan argumen.
2. Saya lebih sering fokus pada tata bahasa.
3. Belum sepenuhnya, karena masih perlu diperbaiki cara penyampaian.
4. Saya mulai siap, meski kritik keras masih terasa menantang.
5. Pernah, dan itu berisiko secara etis.
6. Untuk kontribusi ilmu dan perkembangan akademik.
7. Sangat kecewa dan merasa dirugikan.
8. Sebagian sudah mutakhir, tetapi perlu pembaruan.
9. Dengan latihan, pengalaman, dan evaluasi diri.
10. Merevisi bagian argumen utama dan memperjelas tujuan tulisan.
PUTRI RAHMA NUR ZAHRA (41224010016) A-19
BalasHapusPertanyaan Pemantik
1. Karena kesalahan ejaan, sitasi, dan format menunjukkan ketidakpatuhan terhadap standar jurnal.
2. Menyunting sendiri cenderung subjektif, menyunting orang lain lebih objektif.
3. AI boleh membantu bahasa dan struktur, bukan analisis dan argumen ilmiah.
4. Visual lebih cepat dipahami dan menampilkan pola data secara jelas.
5. Menguasai materi, mendengarkan pertanyaan, lalu menjawab terstruktur.
6. Mengevaluasi naskah dan mengirimkannya ke jurnal lain yang lebih sesuai.
7. Etika menjaga integritas, kepercayaan, dan reputasi akademik.
8. Berdasarkan besarnya kontribusi ilmiah masing-masing penulis.
9. Karya tidak diakui dan dapat merusak reputasi akademik.
10. Dengan mempersingkat kalimat tanpa mengubah makna ilmiah.
⸻
Pertanyaan Reflektif
1. Penyuntingan substansi karena menuntut logika argumen yang kuat.
2. Saya lebih fokus pada tata bahasa dibandingkan kekuatan argumen.
3. Belum sepenuhnya karena presentasi masih terlalu padat teks.
4. Saya masih belajar menerima kritik sebagai bagian dari proses akademik.
5. Pernah, dan hal tersebut menjadi pembelajaran penting.
6. Untuk mengembangkan ilmu dan kualitas akademik diri.
7. Saya akan merasa dirugikan dan tidak dihargai secara intelektual.
8. Sebagian sudah mutakhir, namun masih perlu diperbarui.
9. Dengan sering berlatih dan memperdalam penguasaan materi.
10. Melakukan self-editing dan memperbaiki struktur argumen.
Gabriela Christa (A34, 46125010001)
BalasHapusPertanyaan Pemantik (Diskusi)
1. Karena terlihat tidak rapi dan tidak profesional, sehingga editor bisa meragukan kualitas keseluruhan tulisan.
2. Menyunting tulisan sendiri sering tidak objektif, sementara orang lain lebih mudah melihat kesalahan.
3. Bisa digunakan untuk membantu bahasa dan alur tulisan, tetapi ide dan analisis harus tetap dari penulis.
4. Karena visual lebih cepat dipahami dan membuat audiens tidak lelah mendengar penjelasan panjang.
5. Dengan persiapan yang matang, latihan singkat, dan fokus menjawab pertanyaan dengan tenang.
6. Memperbaiki naskah sesuai masukan editor lalu mengirimkannya ke jurnal lain yang sesuai.
7. Karena etika menjaga kejujuran ilmiah, kepercayaan, dan reputasi akademik.
8. Ditentukan berdasarkan kontribusi masing-masing dan disepakati sejak awal kerja sama.
9. Bisa merusak reputasi akademik dan membuat karya tidak diakui.
10. Menggunakan bahasa yang lebih sederhana tanpa menghilangkan makna utama.
Pertanyaan Reflektif (Mahasiswa)
1. Biasanya menyusun argumen agar tetap runtut dan jelas.
2. Saya cenderung fokus pada kekuatan argumen dibandingkan tata bahasa.
3. Jika penyampaiannya jelas dan tidak membosankan, saya akan tertarik.
4. Saya siap menerima kritik selama disampaikan secara objektif dan membangun.
5. Pernah, dan itu bisa berisiko menjadi masalah etika.
6. Untuk berbagi pengetahuan dan mengembangkan kemampuan akademik.
7. Saya akan merasa kecewa dan dirugikan secara akademik.
8. Perlu dicek kembali agar tetap relevan dengan perkembangan terbaru.
9. Dengan sering berlatih, meningkatkan rasa percaya diri, dan meminta masukan.
10. Memperjelas ide utama dan memperbaiki bagian yang masih lemah.
Abdul Bais Nadin (A-06, 41122010084)
BalasHapusPertanyaan Pemantik (Diskusi)
1. Karena kesalahan tata bahasa, format, dan sitasi memberi kesan kurang profesional, menyulitkan reviewer memahami isi, serta menunjukkan penulis kurang mematuhi pedoman jurnal.
2. Karena kesalahan tata bahasa, format, dan sitasi memberi kesan kurang profesional, menyulitkan reviewer memahami isi, serta menunjukkan penulis kurang mematuhi pedoman jurnal.
3. AI boleh digunakan untuk membantu bahasa, struktur, dan kejelasan, tetapi tidak untuk menggantikan analisis ilmiah, menghasilkan data palsu, atau menulis isi utama tanpa verifikasi penulis.
4.Karena visualisasi memudahkan audiens menangkap pola, perbandingan, dan tren secara cepat, sementara narasi panjang cenderung membebani daya ingat audiens.
5. Dengan persiapan materi inti, latihan menjawab pertanyaan umum, menarik napas sebelum menjawab, dan mengakui secara jujur jika belum mengetahui jawabannya.
6. Perbaiki sesuai komentar editor, sesuaikan dengan fokus jurnal lain, cek ulang format dan kebaruan, lalu kirimkan ke jurnal yang lebih sesuai.
7. Karena etika menjaga kejujuran ilmiah, mencegah plagiarisme dan manipulasi data, serta menjaga kepercayaan komunitas akademik.
8. Berdasarkan kontribusi ilmiah (konsep, analisis, penulisan), disepakati sejak awal secara transparan untuk menghindari konflik.
9. Karya tidak diakui akademik, reputasi penulis rusak, artikel sulit disitasi, dan berpotensi tidak terindeks secara resmi.
10. Dengan menggunakan kalimat lebih pendek, definisi singkat untuk istilah teknis, dan tetap mempertahankan konsep inti serta data pendukung.
PERTANYAAN REFLEKTIF MAHASISWA
1. Biasanya menyusun alur argumen agar konsisten dan mengalir logis antar paragraf.
2. Saya cenderung fokus pada tata bahasa, padahal kekuatan argumen juga harus diperkuat.
3. Jika saya membuatnya lebih visual dan ringkas, maka iya.
4. Saya cukup siap, meskipun perlu belajar memisahkan kritik dari perasaan pribadi.
5. Pernah, dan ini menjadi pelajaran penting untuk lebih berhati-hati dalam sitasi.
6. Untuk kontribusi ilmiah dan sebagai syarat akademik.
7. Sangat kecewa dan dirugikan, karena usaha dan integritas saya dilanggar.
8. Sebagian besar sudah, tetapi masih perlu diperbarui.
9. Dengan latihan rutin, simulasi presentasi, dan meminta umpan balik.
10. Merevisi struktur argumen, memperbaiki sitasi, dan menyederhanakan bahasa.
Rifqi Mahdi Saputra (A-33, 41623010038)
BalasHapusPertanyaan Pemantik (diskusi)
1. Penyuntingan mekanik mencakup tata bahasa, ejaan, konsistensi istilah, format sitasi, dan struktur kalimat. Jika buruk, editor akan menilai naskah tidak siap secara profesional, menyulitkan reviewer memahami substansi, dan memberi sinyal kurangnya ketelitian penulis. Banyak jurnal menolak lebih awal (desk rejection) bukan karena ide lemah, tetapi karena kualitas penyajian tidak memenuhi standar akademik.
2. Saat menyunting tulisan sendiri, penulis cenderung bias kognitif—otak “mengisi sendiri” kekosongan logika karena sudah memahami maksudnya. Penyunting orang lain lebih objektif, fokus pada kejelasan bagi pembaca awam, dan lebih mudah menemukan ambiguitas, repetisi, atau asumsi yang tidak dijelaskan.
3. AI boleh digunakan untuk penyuntingan bahasa, kejelasan struktur, dan ringkasan, namun tidak untuk menciptakan data, hasil penelitian, atau klaim ilmiah baru.
4. Karena visualisasi memudahkan audiens menangkap pola, perbandingan, dan tren secara cepat, sementara narasi panjang cenderung membebani daya ingat audiens.
5. Kegugupan saat sesi tanya jawab konferensi dapat diatasi dengan memandang sesi tersebut sebagai dialog ilmiah, bukan evaluasi personal. Strategi seperti mengulang pertanyaan, menjawab secara terstruktur, dan mengakui keterbatasan penelitian menunjukkan sikap profesional dan meningkatkan kredibilitas peneliti.
6. Memperbaiki naskah sesuai masukan editor lalu mengirimkannya ke jurnal lain yang sesuai.
7. Etika dalam publikasi sangat penting untuk menjaga integritas ilmiah dan membangun kepercayaan di lingkungan akademis.
8. Biasanya dilihat dari siapa yang paling banyak berkontribusi.
9. Publikasi di jurnal predatory berisiko merugikan peneliti karena jurnal tersebut umumnya tidak menerapkan peer review yang sah dan tidak diakui secara akademik.
10. Penyederhanaan bahasa teknis dapat dilakukan tanpa merusak esensi ilmiah dengan menggunakan kalimat yang jelas, mendefinisikan istilah teknis, dan menghindari jargon yang tidak perlu.
Pertanyaan Reflektif Mahasiswa
1. Menjaga supaya isi tulisan tetap nyambung dari awal sampai akhir.
2. Saya sering lebih fokus ke bahasa daripada memperkuat isi.
3. Kalau presentasinya jelas, saya sendiri pasti mau menontonnya.
4. Secara ilmu siap, tapi tetap deg-degan kalau dikritik.
5. Pernah, dan itu ternyata berisiko.
6. Supaya tulisan bisa bermanfaat dan diakui secara akademik.
7. Pasti kesal dan merasa tidak adil.
8. Masih ada referensi yang perlu diperbarui.
9. Dengan sering latihan dan berani tampil.
10. Membaca ulang tulisan dan memperbaiki bagian yang kurang.