Tampilkan postingan dengan label @A04-YULIANI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label @A04-YULIANI. Tampilkan semua postingan
Selasa, 03 Januari 2017
Rabu, 12 Oktober 2016
Selasa, 11 Oktober 2016
RESENSI BUKU PENGANTAR TEKNIK INDUSTRI
Resensi Buku
Judul Buku : Pengantar Teknik Industri
Penulis
: Amin Syukron, S.T.,
M.T.,
Ir. H. Muhammad
Kholil, M.T.,
Penerbit
: Graha Ilmu
Tahun Terbit : 2014
No. ISBN : 978-602-262-193-5
Oleh : YULIANI MARDIKAWATI
Rabu, 05 Oktober 2016
Rabu, 28 September 2016
Review Jurnal : SKALA PENGUKURAN SHIFT KERJA, BEBAN KERJA, DAN PERSEPSI KESEHATAN SEBAGAI STRESSOR DENGAN FASILITAS MANAJEMEN UNTUK PENANGGULANGANNYA
a.
Judul Penelitian : SKALA PENGUKURAN SHIFT KERJA, BEBAN KERJA, DAN PERSEPSI KESEHATAN SEBAGAI STRESSOR DENGAN FASILITAS MANAJEMEN UNTUK PENANGGULANGANNYA
b.
Nama Penulis :
Ho Hwi Chie; Rida Zuraida Industrial Engineering Department, Faculty of Engineering, Binus University Jl. K.H.
Syahdan No. 9, Palmerah, Jakarta Barat 11480 hhchie@binus.edu; rzuraida@yahoo.com
c.
Nama Jurnal :
Industrial and Systems Engineering Assessment Journal (INASEA) Vol 14, No 1
(2013): INASEA Vol. 14 No. 1 pada : http://download.portalgaruda.org/article.php?article=165113&val=5984&title=SKALA%20PENGUKURAN%20SHIFT%20KERJA,%20BEBAN%20KERJA,%20DAN%20PERSEPSI%20KESEHATAN%20SEBAGAI%20STRESSOR%20DENGAN%20FASILITAS%20MANAJEMEN%20UNTUK%20PENANGGULANGANNYA
d.
Publisher :
Industrial and Systems Engineering Assessment Journal (INASEA)
LATAR BELAKANG
Manusia memiliki sistem circadian
yang mengatur tubuh untuk bekerja atau beraktivitas di siang hari (ergotrophic
phase) dan beristirahat dan mengumpulkan energi kembali di malam hari (throtopic
phase) (Kroemer, 2003). Karyawan yang mendapat shift malam atau
harus bekerja dimalam hari pada saat fase relaksasi dalam menimbulkan dampak
fisik dan psikologi. Aspek lainnya yang dapat dianggap beban oleh pekerja
adalah terisolasinya dari kehidupan sosial serta hubungan keluarga.
Kondisi ini menyebabkan timbulnya
stres pada karyawan. Penyebab stres kerja antara lain jenis pekerjaan, tingkat
kesulitan kerja, beban kerja yang kompleks, pekerjaan yang bersifat monoton,
tanggung jawab yang berat, supervisor yang tidak bersahabat tanpa alasan,
lingkungan kerja, kurangnya pengakuan, kurangnya kontrol, kurangnya rasa aman
dalam bekerja, kurangnya dukungan sosial dari supervisor dan rekan kerja,
ancaman atau perilaku intimidasi dari atasan ataupun rekan kerja. Mengurangi
tingkat stres merupakanupaya yang lebih tepat dilakukan dibandingkan membuat
karyawan beradaptasi.
MASALAH PENELITIAN
Mengingat semakin bayaknya
pekerjaan yang dijalankan dengan shift kerja lebih dari satu shift serta
penelitian yang menunjukan bahwa hal ini mempengaruhi tingkat stress karyawan.
TUJUAN PENELITIAN
Penelitian ini akan membahas
pengembangan model pengukuran mengenai apakah sress kerja karyawan sebagai
dampak dari shift kerja serta beban kerja dapat ditanggulangi oleh fasilitas
manajemen yang diterima karyawan.
METODE
Untuk mencapai
tujuan yaitu pengembangan model pengukuran, metode yang dgunakan adalah
penelusuran teori dan penelitian terdahulu untuk menyusun alat ukur yang
diharapkan dapat memberi gambaran mengenai apakah stress karyawan sebagai
dampak dai shift kerja serta beban kerja dapat ditaggulangi oleh fasilitas
manajemen yang diterima oleh karyawan.
Hasil penelusuran
digunakan untuk mengembangkan kerangka pikir yang selanjutnya dijadikan dasar
penyusunan konstruk variabel dan akhirnya sebagai acuan untuk menysun alat
ukur. Alat ukur yang disusun menggunakan skala Likert 5.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil
skala VACP dan SF-36 serta deskripsi diri mengenai persepsi dampak shift kerja
terhadap kepuasan kerjanya kemudian dapat digunakan untuk mempetakan kondisi
stress karyawan serta dihitung korelasi antar ketiganya serta korelasi dengan
fasilitas manajemen yang diterima oleh seorang karyawan. Adapun hipotesis yang
akan diuji adalah terdapat hubungan yang signifikan antara fasilitas manajeman
dengan kondisi stress yang dialami oleh karyawan berdasarkan kondisi beban
kerja, shift kerja yang dialami, serta presepsi terhadap kesehatan diri.
KESIMPULAN
Sistem
sircadian yang mengatur tubuh untuk bekerja atau beraktifitas disiang hari
(ergrotrophic phase) dan beristirahat dan mengumpulkan energi kembali dimaalm
hari (throtopic phase) menjadikan karyawan yang mendapat shift malam atau harus
bekerja dimalam hari beresiko mengalami peningkatan stress. Selain karna beban
kerja, dan aspek sosial dan psikologi yang harus diterima karyawan, serta
dampak terhadap kondisi kesehatannya.
DAFTAR PUSTAKA
Hwi Chie Ho. Zuraida Rida. (2013). Skala Pengukuran Shift Kerja, Bebabn Kerja, dan Persepsi Kesehatan Sebagai Stressor Dengan Fasilitas Manajemen Untuk Penanggulangannnya. Industrial and Systems Engineering Assessment Journal (INASEA). Vol 14, No 1. pada : http://download.portalgaruda.org/article.php?article=165113&val=5984&title=SKALA%20PENGUKURAN%20SHIFT%20KERJA,%20BEBAN%20KERJA,%20DAN%20PERSEPSI%20KESEHATAN%20SEBAGAI%20STRESSOR%20DENGAN%20FASILITAS%20MANAJEMEN%20UNTUK%20PENANGGULANGANNYA
Eisenberger, R., Stinglhamber, F., Vandenberghe, C.,
Sucharski, I. L., & Rhoades, L. (2002).
Perceived supervisor support: Contributions to perceived organizational
support and employee retention. Journal
of Applied Psychology, 87, 565–573.
Horrey, W. J. and Wickens, C. D. (2005). Multiple resource
modeling of taskinterference in vehicle
control hazard awareness and in-vehicle task performance. Proceedings of
the Second International Driving
Symposium on Human Factors in Driving Assessment, Training, and Vehicle Design, Iowa City, Iowa: University
of Iowa.
Kroemer, K. H. (2009). Fitting the Human, Introduction to
Ergonomics. Florida: CRC Press.
Lerman, D. C., & Vorndran, C. M. (2002). On the status
of knowledge for using punishment:
implications for treating behaviour disorders. Journal of Applied
Behavior Analysis, 35 (4), 431 –
464.
Ismar, R. Amri, Z., dan Sostrosumihardjo, D. (2011). Stres
kerja dan berbagai faktor yang berhubungan pada pekerja call center PT X di
Jakarta. Majalah Kedokteran Indonesia, 61 (1), Januari 2011.
Snipes, R. L., Oswald, S. L., LaTour, M., & Armenakis,
A. A. (2005). The effects of specific job
satisfaction facets on customer perceptions of service quality: an
employee-level analysis. Journal of Business Research, 58 (10), 1330 – 1339.
Van Mark, A., Spallek, M., Kessel, R., and Brinkmann, E.
(2006). Shift work and pathological
conditions. Journal of Occupational Medicine and Toxicology, 1, 25.
Wangenheim, F. V., Evanschitzky, H., & Wunderlich, M.
(2007). Does the employee–customer
satisfaction link hold for all employee groups? Journal of Business
Research, 60, 690 – 697
Kamis, 22 September 2016
SISTEM DINAMIKA DIBERBAGAI SEKTOR INDUSTRI
Pada artikel ini saya akan menuliskan materi mengenai sistem
dinamis di berbagaai sektor industri. Secara luas, sistem dapat didefinisikan
sebgai keseluruhan interaksi antar unsur dari sebuah obyek dalam batasan
tertentu yang bekerja untuk mencapai suatu tujuan tertentu (Achmad Ghafiqie,
2012).
Sistem dinamika?
Minggu, 11 September 2016
Rabu, 07 September 2016
ENERGI TERBARUKAN ?
Oleh : Yuliani Mardikawati
Sadar kah kalian, kalau melihat antrean
kendaraan di pom bensin sampai mengular, apalagi saat akan ada kenaikan harga,
terlihat betapa minyak bumi masih menjadi andalan bangsa ini, baik digunakan
untuk kebutuhan industri maupun rumah tangga.
Padahal untuk menutupi kebutuhan stok minyak
bumi dan gas, sejak 2008, kita sudah menjadi pengimpor bahan keduanya. Hal itu
dilakukan sebab kebutuhan yang tak sebanding dengan pencapain yang dihasilkan
oleh kilang minyak yang kita miliki.
Kilang yang kita miliki tak pernah diperbarui,
sehingga lifting, perolehan bbm ke permukaan, tak pernah mencapai target yang
diinginkan.
Situasi ini memang tak bisa terus dibiarkan
sebab secara hitung-hitungan, negeri ini memiliki banyak energi baru, baik
terbarukan atau tidak yang bisa menjadi sumber energi alternatif setelah
berkurangannya atau bahkan habisnya energi fosil.
Walau menjadi tulang punggung kebutuhan energi
nasional, tapi pada saatnya kelak, sumber energi dari alam ini akan habis juga.
Artinya, ketersediaannya tidak bisa diperbarui. Adanya energi terbarukan
menjadi peluang untuk menjadi penggantinya.
Lalu, apa yang di maksud dengan nergi
terbarukan?
Energi terbarukan energi yang berasal dari
"proses alam yang berkelanjutan", seperti tenaga surya, tenaga angin,
arus air proses biologi, dan panas bumi. Dari definisinya, semua energi
terbarukan sudah pasti juga merupakan energi berkelanjutan, karena senantiasa
tersedia di alam dalam waktu yang relatif sangat panjang sehingga tidak perlu
khawatir atau antisipasi akan kehabisan sumbernya.
Menurut berita yang di update oleh Kementrian
ESDM, Indonesia memiliki Potensi Energi Baru Terbarukan (EBT) yang cukup besar
diantaranya, mini/micro hydro sebesar 450 MW, Biomass 50 GW, energi surya 4,80
kWh/m2/hari, energi angin 3-6 m/det dan energi nuklir 3 GW. Data potensi EBT
terbaru disampaikan Direktur Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi dalam
acara Focus Group Discussion tentang SupplyDemand Energi Baru Terbarukan yang
belum lama ini diselenggarakan Pusdatin ESDM.
Saat ini pengembangan EBT mengacu kepada
Perpres No. 5 tahun 2006 tentang Kebijakan Energi Nasional. Dalam Perpres
disebutkan kontribusi EBT dalam bauran energi primer nasional pada tahun 2025
adalah sebesar 17% dengan komposisi Bahan Bakar Nabati sebesar 5%, Panas Bumi 5%,
Biomasa, Nuklir, Air, Surya, dan Angin 5%, serta batubara yang dicairkan
sebesar 2%. Untuk itu langkah-langkah yang akan diambil Pemerintah adalah
menambah kapasitas terpasang Pembangkit Listrik Mikro Hidro menjadi 2,846 MW
pada tahun 2025, kapasitas terpasang Biomasa 180 MW pada tahun 2020, kapasitas
terpasang angin (PLT Bayu) sebesar 0,97 GW pada tahun 2025, surya 0,87 GW pada
tahun 2024, dan nuklir 4,2 GW pada tahun 2024. Total investasi yang diserap
pengembangan EBT sampai tahun 2025 diproyeksikan sebesar 13,197 juta USD.
Tidak hanya itu, masih banyak lagi energi
terbarukan yang sudah mulai diusulkan dan sudah dijadikan bahan penelitian dan
jurnal. Contoh contohnya adalah
1.
POTENSI ENERGI ARUS LAUT UNTUK PEMBANGKIT TENAGA LISTRIK DI KAWASAN PESISIR
FLORES TIMUR, NTT
Pada Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis,
Vol. 3, No. 1, Hal. 13-25, Juni 2011 yang di buat oleh Ai Yuningsih dan Achmad
Masduki Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan Jl. Dr. Junjunan No.
236 Bandung 40174, Fax. 022-601788 e-mail: yuningsih_ai@yahoo.com menunjukan
bahwa Indonesia dengan total luas lautan hampir 8 juta km2 berusaha untuk
meningkatkan inventarisasi sumberdaya non hayati dimana salah satunya berupa
potensi energi arus laut. Pembangunan pembangkit listrik tenaga arus laut ini
sudah dapat di bangun di sekitar Pelabuhan Tanah Merah sampai ke Tanjung
Gonsales. Lokasi ini cukup memenuhi syarat karena morfologi relatif landai
dengan kedalaman ±20 meter, jarak dari lokasi ke perumahan penduduk tidak terlalu
jauh dan masih dilalui arus cukup kuat.
2.
KAJIAN KEBIJAKAN ENERGI BIOMASSA KAYU BAKAR
Pada jurnal yang di buat oleh Agustinus P.
Tampubolon terbukti bahwa Peningkatan pemanfaatan energi biomassa, khususnya
kayu bakar, dalam rangka diversifikasi energi sejalan dengan Kebijakan Energi
Nasional dan sangat strategis untuk mewujudkan ketahanan energi Indonesia.
Meskipun kontribusinya hanya 0,766% dari total konsumsi energi nasional pada
proyeksi tahun 2025 namun dapat memenuhi sekitar 80% kebutuhan energi mayoritas
penduduk Indonesia yang tinggal di pedesaan
3.
Optimalisasi Energi Terbarukan pada Pembangkit Tenaga Listrik dalam
Menghadapi Desa Mandiri Energi di Margajaya
Jurnal yang disusun oleh ARIF FEBRIANSYAH
JUWITO, SASONGKO PRAMONOHADI, T. HARYONO telah membuktikan bahwa simulasi yang
dilakukan terhadap model sistem pembangkit hybrid yang terdiri dari sistem
mikrohidro, PV Array, biomassa dan grid yang berdasarkan hasil optimisasi
energi terbarukan untuk pembangkit listrik hybrid dapat memenuhi kebutuhan
energi listrik di Desa Margajaya. Sistem hybrid dengan konfigurasi yang optimal
terdiri dari sistem mikrohidro, biomassa dan grid. Sistem optimal menunjukkan
bahwa energi listrik yang dihasilkan dapat disalurkan ke grid (PLN), sehingga
dapat menjadi pemasukan kas di Desa Margajaya.
Kesimpulan dari artikel ini adalah energi terbarukan sangan penting untuk memenuhi ebutuhan energi dimasa mendatang. perlu banyak perkembangan untuk dapat mengoptimalkan pemanfaatan energi terbarukan ini.
Kesimpulan dari artikel ini adalah energi terbarukan sangan penting untuk memenuhi ebutuhan energi dimasa mendatang. perlu banyak perkembangan untuk dapat mengoptimalkan pemanfaatan energi terbarukan ini.
DAFTAR PUSTAKA :
Yuningsih Ai dan Masduki Ahmad. 2011. POTENSI ENERGI ARUS LAUT UNTUK PEMBANGKIT TENAGA LISTRIK
DI KAWASAN PESISIR FLORES TIMUR, NTT
P. Tampubolon Agustinus. - KAJIAN KEBIJAKAN ENERGI BIOMASSA KAYU BAKAR
Febrianyah Juwito Arif, Pramonohadi Sasongko, dan Haryono.T. 2012. Optimalisasi Energi Terbarukan pada Pembangkit Tenaga Listrik dalam
Menghadapi Desa Mandiri Energi di Margajaya
Langganan:
Komentar (Atom)
