.

Tampilkan postingan dengan label @G17-Virna. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label @G17-Virna. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 21 Oktober 2017

PERENCANAAN DAN PENGEMBANGAN PRODUK DENGAN QUALITY FUNCTION DEPLOYMENT (QFD)




Evan Jaelani 
Jurnal Sains Manajemen & Akuntansi 
Vol. IV No. 1/Mei/2012

a. Latar Belakang

         Dewasa ini organisasi atau perusahaan yang dapat bertahan adalah yang dapat memahami harapan konsumen. Perusahaan ditantang untuk dapat menjawab kebutuhan pasar (konsumen) dengan menghasilkan produk yang berkualitas. saat ini banyak pakar kualitas yang menyebutkan bahwa kualitas suatu produk yang baik adalah yang dapat memenuhi kebutuhan dan keinginan konsumennya.
         Prinsip-prinsip dari Quality Function Deployment (QFD) adalah sangat tepat digunakan untuk menjawab tantangan di atas, karena pada prinsipnya QFD adalah suatu metode untuk membuat perencanaan/desain produk (barang/jasa) dan pengembangannya, yang secara sistematis dilakukan dengan mengidentifikasi kebutuhan dan keinginan konsumen serta kemampuan teknis perusahaan, sekaligus mengevaluasi usaha-usaha untuk mencapai tujuan tersebut. Dengan demikian, perusahaan akan dapat memberikan produk yang benar-benar dibutuhkan dan diinginkan oleh pelanggan, sehingga tercapai keseimbangan produk dari segi efektivitas (manfaat) dan efisiensi (biaya, tenaga, dan waktu).

b. Teori

        Pemahaman konsep kualitas sangat penting dalam pengembangan aktivitas perusahaan sebab pertumbuhan suatu perusahaan sangat ditentukan oleh kualitas produk atau jasa yang dihasilkannya. Ketidakpedulian terhadap kualitas akan menyebabkan terjadinya kehilangan peluang menjual produk dan pangsa pasar, yang pada akhirnya berakibat pada penurunan aktivitas dan pertumbuhan perusahaan
        Kualitas berawal dari setiap individu apapun posisinya, dan bukannya dari departemen fungsional sebagaimana yang sering diduga orang. Strategi-strategi dasar tersebut meliputi:
1. menetapkan tujuan yang jelas.
2. Memprakarsai atau menentukan kembali budaya organisasi.
3. mengembangkan komunikasi yang efektif dan konsisten.
4. Melambangkan pendidikan dan pelatihan.
5. Mendorong perbaikan terus-menerus

c. Metode Penelitian

          Metode Quality Function Deployment adalah metode yang memperhatikan kebutuhan konsumen dan menterjemahkannya kedalam karakteristik engineering. Prosedur metode ini adalah :
1. Mengelompokkan kebutuhan konsumen kedalam istilah atribut produk. Mengumpulkan, mengelompokkan pendapat (data dan informasi) tentang atribut-atribut produk yang dibutuhkan dalam berbagai teknik penelitian.

2. Menentukan kepentingan relatif atribut. Dalam kegiatan ini dilakukan penentuan bobot antar kebutuhan yang menunjukkan tingkat kepentingan relatif kebutuhan-kebutuhan tersebut.

3. Mengevaluasi atribut-atribut persaingan produk. Pengamatan atribut-atribut dalam persaingan produk, dapat dilakukan baik melalui konsumen individual maupun penelitian pasar dengan metode perbadingan produk.

4. Menggambar suatu matriks atribut produk berlawanan karakteristik engineering. Atribut produk membentuk baris matriks dan karakteristik engineering membentuk kolom matriks. Setiap sel matriks menunjukkan hubungan potensial diantara karakteristik engineering dengan kebutuhan konsumen.

5. Mengidentifikasi hubungan diantara karakteristik engineering dan atribut produk. Perancang menjelaskan tingkat kekuatan hubungan antara kebutuhan konsumen dan karakteristik engineering dengan mencatatnya dalam sel-sel matriks.

6. Mengidentifikasi suatu interaksi diantara karakteristik engineering. Melakukan pengecekan sistematis untuk mengetahui hubungan pengaruh mempengaruhi diantara karakteristik engineering, apakah pengaruh mempengaruhi positif atau negatif. Melalui “Roof Matriks” dari rumah kualitas.

7. Penetapan Target. Menentukan target untuk parameter yang dapat diukur dari karakteristik engineering yang dapat memuaskan kebutuhan dan keinginan konsumen. Untuk menentukan nilai target dari Besterfield (1999) menyatakan bahwa nilai target sama dengan penilai persaingan pelanggan melalui pelanggan (1 untuk terburuk, dan 5 untuk terbaik). TQM QFD membutukan apakah mereka ingin tetap produknya tidak berubah, meningkatkan produk, atau membuat produk lebih baik dari pesaingnya.

8. Faktor Skala Faktor skala adalah perbandingan nilai target terhadap tingkat produk yang diberikan dalam penilaian pesaing melalui pelanggan. Semakin tinggi jumlahnya maka upaya makin diperlukan. Disini pertimbangan penting adalah tingkat dimana produk sekarang dan apa tingkatan targetnya, dan memutuskan apakah perbedaannya dalam bentuk alasan.  (Besterfield; 1999)

9. Point Penjualan Point penjualan memberitahukan tim QFD seberapa baik suatu persyaratan pelanggan akan terjual. Tujuan disini adalah mempromosikan persyaratan terbaik pelanggan dan beberapa persyaratan pelanggan lainnya yang akan membantu dalam penjualan produk. Sebagai contoh dari Besterfield (1999) point penjualan adalah antara 1,0 dan 2,0 dengan 2 yang paling tinggi.

10.  Bobot absolut dihitung dengan mengalikan kepentingan terhadap pelanggan, faktor skala, dan point penjualan.
Bobot absolut = kepentingan terhadap pelanggan x faktor skala x point penjualan (Besterfield; 1999)

11. Bobot Absolut Teknis

a Bobot absolut untuk deskripsi teknis dirumuskan oleh:

Keterangan:
aj = Vektor baris dari bobot absolut pada deskripsi secara teknis 
 Rij = Bobot yang ditentukan pada matriks hubungan 
 ci = Vektor kolom dari kepentingan terhadap pelanggan pada persyaratan pelanggan 
 m = Jumlah deskripsi secara teknis 
 n = Jumlah persyaratan pelanggan (Besterfield; 1999)

b. Bobot Relatif
           Dengan cara serupa, bobot relatif untuk deskripsi secara teknis diberikan dengan        menggantikan tingkat kepentingan pada persyaratan pelanggan dengan bobot absolut pada persyaratan pelanggan, yaitu:





Keterangan:
bj = Vektor baris dari bobot relatif pada deskripsi secara teknis
Rij = Bobot yang ditentukan pada matriks hubungan
ci = Vektor kolom dari bobot absolut persyaratan pelanggan
m = Jumlah deskripsi secara teknis
n = Jumlah persyaratan pelanggan (Besterfield; 1999)

         Menurut Daetz, Barnard, dan Norman (1995), proses QFD meliputi pembentukan matrik-matrik yang juga biasa disebut sebagai tabel kualitas yang memuat tahap-tahap penggunaan QFD yang terdiri atas 4 fasa, yaitu :

1. Perencanaan Produk (Product Planning), meliputi proses penerjemahan karakteristik kualitas yang menjadi keinginan pelanggan menjadi karakteristik teknik perusahaan. Tahap Perencanaan Produk biasa disebut juga The House Of Quality. Pada tahap ini dikumpulkan data – data tentang kebutuhan – kebutuhan konsumen, keterangan jaminan, peluang dari persaingan, ukuran produk, ukuran produk pesaing, dan kemampuan teknis organisasi untuk memenuhi setiap kebutuhan pelanggan.

2. Perencanaan Komponen (Part Planning), meliputi proses penerjemahan dan pengembangan karakteristik teknik perusahaan yang dihasilkan pada fasa (1) menjadi lebih detail dan membentuk karakteristik kualitas per bagian. Desain produk menghendaki ide team yang kreatif dan inovatif. Konsep produk dibuat selama tahap ini dan menspesifikasi bagian yang telah didokumentasikan. Bagian – bagian yang ditentukan menjadi yang terpenting untuk memenuhi keinginan – keinginan konsumen yang selanjutnya disebarkan kedalam perencanaan proses (tahap 3).

3. Perencanaan Proses (Process Planning), meliputi proses penerjemahan karakteristik kualitas pada tiap bagian yang dihasilkan pada fasa (2) untuk menentukan karakteristik proses masing-masing. Selama perencanaan proses, proses – proses manufacturing dijadikan diagram alir dan parameter proses (target values) didokumentasikan.

4. Perencanaan Produksi (Production Planning), proses pembentukan hubungan dan keselarasan antara karakteristik proses yang dihasilkan pada fasa (3) dengan karakteristik keinginan bagian produksi. Dalam perencanaan produksi, petunjuk – petunjuk pekerjaan dibuat untuk memantau proses produksi, jadwal pemeliharaan, dan pelatihan keterampilan operator – operator. Selain itu, pada tahap ini dibuat beberapa keputusan untuk menempatkan proses – proses yang paling beresiko dan beberapa kendali ditempatkan untuk mencegah kerusakan

d. Hasil dan Pembahasan

        Quality Functional Deployment (QFD) yang terdiri dari 4 fasa yaitu Product Planning, Part Deployment, Process Planning, dan Production Operation Planning sangat lengkap dalam melakukan perancangan dan pengembangan produk mulai dari tahap persiapan sampai pada tahapan produksi, sehingga proses perancangan dan pengembangan produk dapat dilakukan dengan efektif dan efisien.           Akan tetapi, untuk dapat memenuhi semua kebutuhan dan keinginan konsumen dengan tepat dalam hal timing dan juga dari sisi produknya, maka perusahaan harus memperhatikan siklus hidup dari produk yang dimiliki, karena siklus hidup produk tersebut menjadi kunci kapan perusahaan harus melakukan perancangan dan pengembangan produk.

Daftar Pustaka
Besterfield, Dale H, dkk, (1999), Total Quality Management, Second Edition, Prentice Hall International, Inc. New Jersey.
Jaaelani, Evan. 2012. Perencanaan dan Pengembangan Produk dengan Quality Function Deployment. http://jsma.stan-im.ac.id/pdf/vol4/1/5%20Perencanaan%20Dan%20Pengembangan%20Produk%20Dengan%20Quality%20Function%20Deployment%20-%20Evan%20Jaelani.pdf [Diakses pada 20 Oktober 2017]

Sabtu, 07 Oktober 2017

Reverse Logistics


@G17- Virna
Virna Cynthia Putri
41616110025

Reverse logistik termasuk ke dalam salah satu aktivitas dari logistik. Biasanya aliran aktivitas logistik itu dimulai dari produsen ke konsumen, namun reverse logistik adalah kebalikannya.

Sabtu, 30 September 2017

Pengolahan Limbah Organik dengan Biority

@G17 - Virna -

         Limbah Organik merupakan limbah yang banyak mencemari lingkungan. Permasalahan limbah timbul karena tidak seimbangnya produksi limbah dengan pengolahannya dan semakin menurunnya daya dukung alam sebagai tempat pembuangan limbah. 

Sabtu, 23 September 2017

Resensi Buku " Analisis Kelayakan Pabrik"

@G17-Virna -
Virna Cynthia Putri

Judul                            : Analisis Kelayakan Pabrik
Penulis                         : M. Sayuti
Penerbit                       : Graha Ilmu
Tempat Terbit              : Yogyakarta
Tahun Terbit                : 2008
Cetakan                       : Pertama
Jumlah Halaman         : 158 halaman
ISBN                           : 978-979-756-297-7

Sabtu, 16 September 2017

Perbandingan Teknologi Wi-FI vs WiMAX


@G17-Virna 
Oleh : Virna Cynthia Putri
NIM : 41616110025

Pendahuluan

Kehadiran fasilitas WiFi sangat efektif dan efisien untuk mengakses internet dimana pun kapanpun. WiFi sendiri memiliki banyak kelemahan ada kalanya koneksi pada WiFi tidak terlalu bagus dan lambat jika banyak yang menggunakannya. Akan tetapi kebutuhan internet masyarakat semakin bertambah sehingga masyarakat membutuhkan koneksi yang lebih dari koneksi WiFi. Kini hadir teknologi baru yang disebut dengan  WiMax (Worldwide Interoperability for Microwave Access). 

Berbeda WLAN/WiFi yang sudah banyak dikenal, WiMAX baru mulai dipublikasi dan baru beberapa negara yang menggunakan dan mengimplementasikan teknologi ini. WiMAX merupakan pengembangan dari WLAN. Masing-masing diantara keduanya WLAN dan WiMAX mempunyai potensi dan keunggulan sehingga keduanya akan saling mendukung dalam implementasinya. (Nasir, Muhammad, 2013)

Teknologi WLAN/ WiFi

Wi-Fi juga merupakan teknologi radio untuk transmisi data digital, dan didasarkan pada Institute of Electrical and Electronics Engineers '(IEEE) "802.11″ keluarga standar teknologi. Router Wi-Fi bisa digunakan di mana saja yang jelas ada pasokan listrik dan koneksi internet broadband. Router bekerja dengan cara menghubungkannya ke modem internet dan penyiaran sinyal radio ke komputer terdekat. Sinyal Wi-Fi biasanya memiliki jangkauan beberapa ratus meter tanpa hambatan, dan varian terbaru dapat memberikan kecepatan maksimum teoritis hingga 300 mbps. (Anonim, 2014)

Teknologi WiMax
WiMax adalah bagian dari anggota teknolgi 4G, generasi keempat dari sistem transmisi data seluler dan wireless. WiMax dirancang untuk mengirimkan data pada kecepatan tinggi melalui jarak yang relatif jauh. Lima mil adalah kisaran perkiraan rata-rata untuk sinyal menara WiMax standar, meskipun beberapa percobaan penyebaran menunjukkan cakupan mungkin hampir 30 mil di atas medan datar. Sebagai jaringan layanan telekomunikasi WiMax dibatasi untuk pelanggan, dan setiap menara didukung oleh infrastruktur besar yang mengontrol akses, kecepatan, frekuensi radio dan data "backhaul" ke inti jaringan dan internet yang lebih besar. Jaringan WiMax nasional dan multi-kota dapat mengaktifkan "roaming" di berbagai lokasi. Baca pengertian wimax (Anonim, 2014)

Perbedaan WiFi dan WiMax

Pada dasarnya WiFi dan WiMax tidak memiliki banyak perbedaan. Berikut penjelasannya :
  • Coverage Area
Apabila WiFi hanya dapat melingkupi coverage area beberpa meter saja, yang hanya dapat mencukupi akses internet hanya pada satu gedung saja. Lain halnya dengan WiMax, yang memiliki cakupan coverage area lebih luas, yaitu sekitar 50 km.
  • Standar yang digunakan
WiFi menggunakan standar IEEE 802.11 dan ETSI HiperLAN sedangkan WiMax menggunakan standar IEEE 802.16 dan ETSI HiperMAN.
  • Fitur
WiMax memiliki lebih banyak fitur dibandingkan dengan WiFi, sehingga sebuah BTS dapat melayani lebih banyak user untuk akses interenet.
  • Frekuensi
WiFi menggunakan frekuensi 5,8GHz, sedangkan WiMax selain menggunakan frekuensi 5,8GHz, juga menggunakan frekuensi 2,5GHz and 3,5GHz.
  • LoS (Line of Sight)
Standar WiMax memberikan koneksi tanpa memerlukan LoS, sedangkan WiFi tidak.

Pengembangan Teknologi WiMax di Indonesia

Dibanding dengan WiFi (sebuah teknologi nirkabel yang mirip), WiMAX menawarkan keuntungan yang lebih dalam hal jarak jangkauan dan efisiensi bandwidth. Selain itu WiMAX dapat digunakan untuk menyediakan konektivitas internet bagi seluruh kota, dan dapat diimplementasikan pada laptop untuk memberikan mobilitas yang lebih bagi para penggunanya. (Nasir, Muhammad, 2013)
Di Indonesia sendiri, perancangan pembangunan teknologi WiMax telah dimulai dari tahun 2007 sampai dengan sekarang. Pemerintah Indonesia Bersama-sama dengan lembaga penelitian dan industry nasional mengadakan program dukungan penelitian untuk mengembangkan produk telekomunikasi unggulan baru, yaitu system radio WiMax 2,3 GHz. Program direncanakan dilaksanakan mulai agustus 2007 s.d akhir tahun 2009. (Yuniarti, Rima. 2009)

Daftar Pustaka
Anonim. 2014. Perbedaan Antara WiMax vs WiFi. http://www.sby.dnet.net.id/dnews/januari-2014/article-perbedaan-antara-wimax-vs-wifi-301.html#.WbwFGsgjHIU. (Diakses pada 15 September 2017)
Nasir, Muhammad. 2013. Perbandingan Teknologi WiMax dan Wi-Fi. http://jurnal.binadarma.ac.id/index.php/jurnalmatrik/article/view/269/106. (Diakses pada 15 September 2017)
Yuniarti, Rima. 2009. Optimasi Peralihan Teknologi WiFi ke WiMax. http://unsri.ac.id/upload/arsip/Jarkom%20Rina%20Yuniarti%20(09061002036).doc. (Diakses pada 15 September 2017)









Sabtu, 09 September 2017

Energi Terbarukan Biomassa


         

           Terkadang kita tidak tahu bahwa banyak hal yang bisa dimanfaatkan dari sisa-sisa makanan atau barang yang kita anggap sebagai sampah. Kini sampah tanaman atau hewan bisa kita ubah menjadi bahan bakar alternatif melalui biomassa. Biomassa sendiri salah satu dari energi yang sedang dikembangkan di Indonesia. Dengan melihat lahan yang luas untuk membudidayakan tanaman-tanaman Indonesia sangat berpotensi untuk menghasilkan energi biomassa.

         
         Biomassa adalah produk fotosintesis yang menyerap energi surya dan mengubah karbon dioksida, dengan air ke campuran karbon, hidrogen dan oksigen. Biomassa adalah material biologis yang dapat digunakan sebagai sumber bahan bakar, baik secara langsung maupun setelah diproses melalui serangkaian proses yang dikenal sebagai konversi biomassa. Biomassa juga meliputi sampah bio yang dapat diuraikan yang dapat digunakan sebagai bahan bakar.

           Bahan baku dari biomassa bisa berasal dari limbah dan residu pertanian, kehutanan, industri dan limbah rumah tangga. Jika kita berbicara biomassa, maka akan meliputi juga hewan, sisa-sisa binatang dan bagian tumbuhan yang dapat dimakan.

           Biomassa adalah satu-satunya sumber energi terbarukan yang dapat diubah menjadi bahan bakar cair (biofuel) untuk keperluan transportasi (mobil, truk, bus, pesawat terbang dan kereta api). Di antara jenis biofuel yang banyak dikenal adalah biogas,  biodiesel dan bioethanol.

          

Berikut beberapa contoh pemanfaatan biomassa :

1. Biobriket yaitu salah satu cara yang digunakan untuk mengkonversi sumber energi biomassa ke bentuk biomassa lain dengan cara dimampatkan sehingga bentuknya menjadi lebh teratur. Briket yang terkenal adalah briket batubara.


2. Gasifikasi yaitu proses konversi bahan selulosa dalam suatu reaktor gasifikasi (gasifier) menjadi bahan bakar. Gas tersebut dipergunakan sebagai bahan bakar motor untuk menggerakkan generator pembangkit listrik.

3. Pirolisa adalah penguraian biomassa (lysis) karena panas (pyro) pada suhu lebih dari 150oC. Pada proses pirolisa terdapat beberapa tingkatan proses, yaitu pirolisa primer dan pirolisa sekunder.


4. Liquification merupakan proses perubahan wujud dari gas ke cairan dengan proses kondensasi, biasanya melalui pendinginan, atau perubahan dari padat ke cairan dengan peleburan, bisa juga dengan pemanasan atau penggilingan dan pencampuran dengan cairan ain untuk memutuskan ikatan


5. Biokimia. Contoh proses biokimia adalah hidrolisis, fermentasi dan an aerobic digestion.

          Ada beberapa manfaat energi biomassa dalam kehidupan sehari-hari yaitu pengganti bahan bakar fosil atau sebagai bahan bakar alternatif, mengurangi tingkat metana yang ada di atmosfer sehingga dapat mengurangi resiko efek rumah kaca, meningkatkan kualitas air dengan mengurai resiko terjadinya hujan asam, dan energi yang ramah lingkungan.

         
         Dilihat dari manfaat yang dapat dirasakan dari pemanfaatan energi biomassa ini dan ketersediannya yang melimpah di Indonesia. Energi biomassa ini dapat dijadikan energi alternatif yang harus dikembangkan.

Referensi

http://web.ipb.ac.id/~tepfteta/elearning/media

http://benergi.com/energi-biomassa-sebagai-energi-terbarukan

http://ebtke.esdm.go.id/post/2011/01/17/70/indonesia.sebagai.lumbung.bioenergi.dunia