.

Tampilkan postingan dengan label @Proyek B05. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label @Proyek B05. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 04 November 2017

Pengukuran Kualitas Produk Metode Garvin



@G23-Tri
Definisi Kualitas Produk


Produk bagi perusahaan adalah sesuatu yang sangat penting. Hal ini dikarenakan jika tanpa produk, perusahaan tidak dapat melakukan kegiatan usahanya.

Minggu, 22 Oktober 2017

KELELAHAN KARENA SIKAP KERJA YANG TIDAK ERGONOMIS PADA PENGRAJIN PERAK



KELELAHAN KARENA SIKAP KERJA YANG TIDAK ERGONOMIS PADA PENGRAJIN PERAK 
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah

Kerajinan perak merupakan salah satu industri kecil yang banyak menyerap tenaga kerja baik wanita maupun pria yang mempunyai ketrampilan khusus yaitu
membuat perhiasan dari perak termasuk perhiasan emas. Perhiasan perak yang dihasilkan diekspor ke berbagai negara di seluruh dunia.
Proses produksi industri kecil kerajinan perak dikerjakan secarakonvensional dan akan lancar apabila didukung oleh sumber daya manusia sebagai pengrajin yang berkualitas. Hal ini ditentukan oleh beberapa kriteria antara lain kesehatan dan kebugaran para pengrajin, organisasi dan sistem kerja termasuk waktu istirahat, sikap kerja yang alamiah, lingkungan kerja yang baik. Apabila semua faktor ini mendukung, kesehatan yang optimal tercapai sehingga efisiensi kerja dan produktivitas akan meningkat. Apabila beberapa faktor tersebut kurang mendukung maka akan terjadi sikap kerja yang tidak alamiah dan lingkungan yang kurang baik sehingga cepat menimbulkan rasa nyeri beberapa otot rangka yang akhirnya para pengrajin merasa lelah yang manefestasinya adalah keluhan subyektif pengrajin perak tersebut.
Pada studi pendahuluan di lapangan sebagian besar sikap kerja pengrajin perak wanita adalah sikap kerja statis yaitu sikap duduk di kursi menghadap meja dan punggung membungkuk, kaki kanan digunakan untuk menekan pompa kompor yang dipergunakan untuk mematri produk perhiasan. Sikap kerja ini dilakukan rerata 8-9 jam/hari dan sekali- kali berdiri untuk mengambil sesuatu yang dibutuhkan termasuk waktu istirahat makan atau minum. Beban kerja statis ini menyebabkan kelelahan otot rangka disamping otot-otot mata karena harus selalu melihat benda kerja yang relatif kecil dan ini tergantung pada model perhiasaan yang diproduksi, beban kerja ini akan lebih parah lagi apabila lingkungan dan sikap kerja yang tidak ergonomis.
Beban sikap tubuh statis yang lama menjadi faktor yang utama dalam kehidupan modern, yang menjadi penyebab nyeri otot rangka akibat kerja (Chavalitsakulchai & Shahnavas,1992). Sikap tubuh seseorang pada waktu menjalankan tugas ditentukan oleh hubungan antara dimensi berbagai objek kerja dan ruang kerja. Ketidakserasian ini selain akan menyebabkan nyeri otot-otot rangka juga akan menyebabkan kelelahan. Di Amerika Serikat keluhan nyeri otot-otot rangka merupakan salah satu penyakit akibat kerja sehingga menyebabkan penderitaan tenaga kerja, penurunan produktivitas dan kerugian ekonomi, penyebab kerja yang tidak alamiah sebagai akibat tidak betulnya design tempat kerja (kursi dan meja) menyebabkan hampir sebagian besar tenaga kerja menderita “Musculosketal Disorder” dan “Low Back Pain” (Manuaba, 1995).. Penelitian Suyasning terhadap pengrajin perak wanita di Desa Celuk (1995) didapatkan prevalensi 55% nyeri otot- otot paha, kemungkinan karena mereka bekerja duduk di kursi yang tidak ada
sandaran punggung. Penyebab cepat timbulnya kelelahan selain faktor tersebut di atas juga karena faktor-faktor antara lain umur, jenis kelamin, ukuran anthropometri, kesegaran jasmani, sosial dan mental.
B. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah maka penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut : Apakah sikap kerja yang tidak ergonomis pengrajin perak wanita mempengaruhi kelelahan.
C. Tujuan dan Manfaat 1 Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan secara umum untuk mengetahui aktivitas kerja pengrajin perak wanita industri kecil kerajinan perak di Desa Singapadu Kecamatan Sukawati Kabupaten Gianyar. Secara khusus mengetahui seberapa jauh pengaruh sikap kerja yang tidak ergonomis terhadap kelelahan pengrajin perak wanita di Desa Singapadu Kecamatan Sukawati Kabupaten Gianyar.
2 Manfaat Penelitian
Hasil/temuan penelitian ini dapat dimanfaatkan sebagai kajian ilmu pengetahuan dan teknologi pada umumnya dan secara khusus dapat dimanfaatkan sebagai masukan bagi para pengrajin dan pemilik untuk memahami lebih dalam tentang respon fisiologis terhadap sikap kerja yang tidak ergonomis.
D. Tinjauan Pustaka
1. Industri Kecil Kerajinan Perak

Industri kecil kerajinan perak merupakan salah satu industri yang banyak menyerap tenaga kerja karena proses kerjanya lebih banyak dilakukan secara manual. Hasil akhir dari proses produksi adalah berbagai cendera mata, model assoseries berupa kalung, cincin, bross yang berbentuk aneka ragam bunga-bunga, hewan, tanaman serta benda-benda yang bernilai artistik dan lain sebagainya. Bahan-bahan terdiri campuran perak murni (92,5 %) dan tembaga ( 7,5 %). Produk ini dibuat berdasarkan pesanan para importir maupun desain sendiri. Tetapi para importir lebih banyak menentukan model yang akan dibuat beserta standar kualitasnya. Oleh karena itu para pengrajin akan bekerja berdasarkan pesanan bentuk, fungsi, jumlah dan standar yang sudah ditetapkan.
Importir memiliki beberapa persyaratan yang wajib diikuti oleh para pengrajin, yaitu ketepatan standar produk dan ketepatan waktu pengiriman. Importir dapat menolak produk yang dipesan bila tidak sesuai dengan standar yang diminta. Hal ini akandikirim kembali untuk diperbaiki ataupun ditolak sama sekali sehingga ongkosnya tidak dibayar. Dalam pelaksanaannya, para importir memiliki ahli khusus di Bali untuk menyeleksi model yang akan dikirim ke luar negeri.
Sementara dari segi waktu, importir akan membebankan biaya pengiriman kepada pengrajin, bila waktu kirim yang sudah dibuat tidak dapat ditepati. Hal ini sangat dihindari oleh para pengusaha dan pengrajin, karena akan membebani anggaran perusahaan sebagai biaya tambahan dalam proses produksi. Oleh karena itu mereka akan berusaha bekerja memenuhi batas waktu yang ditetapkan.
Sistem kerja yang diterapkan selama ini oleh para pengusaha adalah dengan sistem kerja borongan dan harian. Sistem yang dipilih tergantung pada kesepakatan pengusaha dan karyawannya. Upah dihitung berdasarkan nilai upah per model dengan jumlah model yang dihasilkan. Pekerjaan yang dilakukan dapat sekaligus dari bahan sampai finishing.
Pengrajin akan ditambah bila dirasakan tidak mampu memenuhi pesanan, tetapi sistem lembur tetap dilaksanakan. Hal ini disebabkan jumlah produk yang dihasilkan belum memenuhi kuota yang ditetapkan oleh pemesan. Pengrajin akan mendapat upah lembur berdasarkan kesepakatan dan ditambah makan malam. Lamanya waktu lembur umumnya 1 – 5 jam tetapi pada beberapa kasus dapat sampai 10 jam. Lama hari lembur dapat terjadi dari 1 hari sampai 1 minggu tergantung jumlah produk yang dihasilkan.
Sistem lembur seperti itu terus berlangsung pada setiap menjelang batas waktu. Apabila produk sudah selesai dan dikirim, maka keesokan harinya karyawan tidak masuk dengan berbagai alasan, antara lain karena lelah, ngantuk, sakit, ataupun alasan lainnya. Oleh karena itu pada awal proses produksi berikutnya hanya beberapa karyawan yang bekerja dan baru lengkap 3 – 4 hari kemudian.
2. Proses produksi kerajinan perak a. Bahan Baku
Bahan baku utama adalah perak murni yang di dalam proses pembuatan barang perlu dicampur logam lain (tembaga) sehingga menghasilkan logam campuran tadi menjadi lebih keras dan kuat dari perak murni.
Adapun perbandingan pencampuran tersebut adalah 7,5 % tembaga dan 92,5 % perak murni.
b. Proses Produksi
Secara umum proses produksi kerajinan perak dapat dibagi menjadi 3 tahap :
1). Tahap penyiapan bahan baku
Proses pencampuran perak murni dengan tembaga dengan komposisi 1000 gram perak murni dan 75 gram tembaga atau 100 % perak murni dan 7,5 % tembaga. Kedua macam logam ini dicampur dalam mangkok peleburan dan dilebur dengan titik lebur 1000
o celcius. Setelah meleleh (kurang lebih) 30 menit cairan kedua logam ini dituang dalam cetakan untuk mendapatkan perak batangan, yang ukurannya menyesuaikan dengan produk yang akan dibuat.
2). Tahap pembuatan
Setelah proses peleburan kemudian lempengan perak didisain sesuai produk (mis : Gelang), kemudian diukir sesuai pesanan atau selera. Setelah proses pengukiran lempengan tersebut dipotong, dibentuk melingkar menjadi gelang kemudian disambung kedua sisinya dengan cara dipatri.
3). Tahap penyelesaian
Setelah proses pematrian gelang tersebut dihaluskan dengan kikir dan kertas amplas. Kemudian dibersihkan dengan cara direndam dalam campuran H
2SO4 + air. Setelah proses ini perak menjadi bersih tetapi belum mengkilap dan untuk mengkilapkan digunakan busa dari buah terak. Proses terakhir adalah pengeringan, kontrol kualitas dan produk siap dipasarkan.
3. Hasil Produksi
Sampai saat ini dalam produksinya menggolongkan kerajinan peraknya dalam 3 jenis yaitu utility product, decorative product dan assesories. Dalam setiap bulannya menghasilkan 80 sampai dengan 90 macam bentuk baik yang miniatur maupun yang assesories. Adapun untuk utility product yang dihasilkan diantaranya meliputi :
a. Peralatan rumah tangga (gelas, garpu,sendok, asbak)
b. Peralatan makan (coffe set, tea set, room set, lunch set, dinner set, sumpit, tusuk buah)
c. Tempat make up (pil box, tempat lipstik, tempat bedak)
4. Pengrajin industri kecil kerajinan perak
Pengrajin industri kecil kerajinan perak terdiri dari laki-laki dan perempuan. Populasi karyawan perempuan lebih banyak bahkan hampir sebagian besar karyawannya adalah perempuan. Pengrajin berasal dari daerah sekitar industri kecil kerajinan perak maupun di luar . Datang dan pergi dengan jalan kaki, naik motor maupun diantar jemput. Penrajin bekerja secara harian mulai pukul 08.00 pagi sampai pukul 17.00 sore dengan waktu istirahat pukul 12.00 – 1300 WITA. Jam kerja lemburdiberlakukan bila ada pekerjaan yang harus selesai tepat waktu. Makan siang dilaksanakan saat istirahat siang, sementara saat makan makanan ringan diatur sendiri-sendiri. Makanan dan makanan/minuman ringan di bawa sendiri. Bila bekerja lembur, maka makan malam disiapkan oleh pemilik industri.
a. Sikap kerja
Sikap kerja pengrajin hendaknya diusahakan dalam posisi fisiologis seperti saat duduk dan berdiri, sehingga tidak sampai menimbulkan sikap paksa yang melewati kemampuan fisiologis tubuh (Grandjean & Kroemer, 2000; Manuaba, 1998c). Tujuannya mencegah kontraksi otot dan peregangan tendo secara berlebihan (overuse). Sikap paksa dapat terjadi pada berbagai sikap seperti saat memegang, angkat angkut, duduk, mengambil alat, berdiri ataupun akibat ruang kerja yang tidak sesuai dengan pekerja (Adnyana, 2001; Chung, dkk.2003; Dempsey, 2003; Ferreira, 2005; Fergusson, dkk.; 2005; Sutajaya, 2000).
Perubahan sikap merupakan suatu adaptasi tubuh untuk mempertahankan suatu gaya yang timbul pada saat berkontraksi untuk suatu sikap seperti saat membungkuk, mengangkat beban, menahan beban dan lain sebagainya. Hal ini dipengaruhi oleh penampang otot, posisi otot serta insersi tendo pada tulang. Secara biomekanika hal ini bertujuan mempertahankan keseimbangan antara gaya yang ditimbulkan oleh beban dan gaya yang dihasilkan oleh otot untuk mempertahankan beban secara seimbang pada suatu titik tumpu. Oleh karena perbandingan momen gaya beban dengan momen gaya otot harus seimbang. Momen gaya merupakan hasil perkalian gaya beban / otot dengan jarak dari beban/otot ke titik sumbu (Widjaya, 1998) seperti persamaan di bawah ini.
Fb xdbt =Fo xd ....................... (1)
 Keterangan :
Fb / Fo= gaya beban / otot (Newton)
 dbt / do= jarak beban / otot ke titik
tumpu(meter) 

b. Sikap Kerja yang Ergonomis
Sikap kerja pengrajin perak adalah duduk di kursi menghadap meja kerja, dimana kerja dilakukan dengan menggunakan tangan dan mata yang membutuhkan ketrampilan khusus. Jadi termasuk sikap kerja statis dalam waktu yang relatif lama dibandingkan sikap kerja yang dinamis. Semua aktifitas kerja otot ini dilakukan oleh sekelompok otot-otot secara simultan yang dikoordinasikan oleh saraf baik saraf pusat maupun perifer secara efisien dan menimbulkan keterampilan tertentu. Kekuatan maksimum otot atau kelompok otot tergantung dari: umur, sex, konstitusi tubuh, latihan dan motivasi. Bebas statis pada otot merupakan sebab utama nyeri dan lelah oleh karena itu tata ruang sikap kerja harus dibuat sedemikian rupa sehingga beban kerja seminimal mungkin.
c. Penggunaan tenaga otot
Proses kerja pengrajin secara manual akan memerlukan penggunaan tenaga otot sebagai tenaga utama. Kekuatan otot ditentukan oleh sifat dari sel otot itu sendiri. Sel otot skeletal ada 2 tipe yaitu otot merah dan otot putih. Kontraksi otot merah berlangsung lambat dan dalam waktu lama, karena memiliki pembuluh intramuskular lebih banyak dibandingkan dengan otot putih yang mampu berkontraksi cepat dalam waktu singkat (Guyton & Hall, 2000; Silverthorn, 2001). Kontraksi otot memerlukan energi dan menghasilkan zat sisa metabolisme (Cummings, 2003).
Kontraksi otot timbul akibat eksitasi akson terminal ke sel otot, melalui eksositosis asetilkolin pra sinaps. Kontak asetilkolin dengan reseptor pasca sinaps merangsang aliran ion natrium ekstrasel ke intrasel sehingga terjadi potensial aksi di dalam sel otot seperti di sarkolema, tubulus transversalis, tubulus longitudinalis dan sisterna. Potensial aksi di sisterna akan merangsang sekresi kalsium sisterna ke dalam miofilamen otot skeletal sehingga terjadi ikatan kalsium – tranponin C. Ikatan troponin C – kalsium akan merangsang terjadinya kontak aktin dan miosin sehingga terjadi pergeseran aktin di atas miosin (sliding mechanism) dan timbul kontraksi otot (Guyton & Hall, 2000).
d. Kelelahan
1). Pengertian Kelelahan

Istilah fatigue atau kelelahan dipakai untuk menggambarkan berbagai kondisi yang sangat bervariasi yang semuanya berakibat penurunan kapasitas dan ketahanan kerja.
Konsep kelelahan yang sudah dikenal saat ini membedakan atas dua jenis kelelahan yaitu kelelahan otot dan kelelahan umum atau
general fatigue. Kelelahan otot terjadi apabila otot yang beraktifitas tidak lagi dapat berespon terhadap rangsangan dengan tingkat aktivitas kontraktil yang setara.
Kelelahan umum diartikan sebagai sensasi kelelahan yang dirasakan secara umum oleh tubuh. Tubuh dirasakan terhambat dalam melakukan aktifitas, kehilangan keinginan untuk melakukan tugas-tugas fisik maupun mental, merasa berat, ngantuk dan letih.
Kelelahan umum dapat diakibatkan oleh efek dari berbagai stress berupa monotony, intensitas atau durasi dari beban kerja mental atau mental dan fisik, iklim lingkungan termasuk penerangan dan
kebisingan, penyebab mental berupa tanggung jawab, kekhawatiran dan konflik-konflik, penyakit dan perasaan sakit dan faktor nutrisi yang dialami sepanjang hari kerja berakumulasi pada organisme dan secara bertahap meningkatkan perasaan lelah dimana perasaan lelah ini merupakan keadaan yg dapat dihilangkan dengan berbaring dan istirahat.
2). Pengukuran Kelelahan
Kondisi kelelahan pada pekerja perlu diukur agar dapat dilakukan upaya-upaya penanggulangan secara dini dan lebih rasional. Dengan mengetahui lebih awal kondisi kelelahan pd pekerja mengalami fatigue accumulation maupun kelelahan kronis yang dapat terjadi akibat pemulihan tidak memadai.
Dari beberapa literatur dikatakan bahwa sampai saat ini tidak ada suatu campuran yang dapat mengukur secara langsung suatu kelelahan itu sendiri. Untuk membuat interpretasi dari hasil-hasil pemeriksaan agar lebih reliabel, saat ini dalam beberapa studi dapat dipakai kombinasi dari bebrapa indikatordari kelelahan .
Beberapa cara yang saat ini dipakai untuk mengetahui kelelahan, yang sifatnya hanya mengukur manifestasi-manifestasi atau indikator-indikator kelelahan yaitu :
  1. Kualitas dan kuantitas dari penampilan
    kerja
  2. Mencatat persepsi subyektif dari kelelahan
  3. EEG (Electroencepalhography)
  4. Uji flicker fusion
  5. The Blink Apparatus
  6. Tes Psikomotor. Tes ini mengukur fungsi-
    fungsi yang melibatkan persepsi, interpretasi dan reaksi motorik: simple dan selektif reaction times test, tachistoscopic test.
  7. Tes mental : aritmatic problem, tes konsentrasi misalnya tes Bourdon wiersma.


  

Selasa, 17 Oktober 2017

Potensi Besar Industri Kopi Indonesia

Indonesia dengan segala kekayaan alam yang melimpah terutama di bidang kopi menjadi kan Indonesia termasuk dalam 5 besar negara penghasil kopi terbanyak di dunia,diketahui bahwa Indonesia menghasilkan kopi sebesar 691 ribu ton pada pertengahan tahun 2017, ini mengalami kenaikan 16% dari tahun sebelumnya (Ferry,2017).

Senin, 16 Oktober 2017

Aspek Perancangan Produksi



Aspek Perancangan Produk


APP merupakan studi untuk mengidentifikasi, mengendalikan, dan  mengaplikasikan berbagai aspek-aspek dalam merancang suatu pabrik, sehingga kelak suatu pabrik dapat berjalan dengan semestinya, dapat mengendalikan profitabilitas dan investasi, serta dapat

Sabtu, 14 Oktober 2017

Root Clause Analysis






Root clause analysis adalah sebuah alat kerja yang sangat berguna untuk mencari akar masalah dari suatu insiden yang terjadi. Menemukan akar suatu masalah sangat penting, karena apabila tidak ditanggulangi maka masalah akan berakibat berulangnya kejadian di kemudian hari dan akan semakin rumit penyelesaiannya.

Kamis, 12 Oktober 2017

Rekayasa Keandalan


Setiap produk hasil manufaktur, apapun jenisnya, pasti akan mengalami kegagalan. Banyak hal yang mempengaruhi terjadinya kegagalan tersebut. Umumnya, kegagalan ini akan menyebabkan banyak sekali ketidak-nyamanan sebagai tambahan terhadap dampak ekonomisnya.

Sistem otomasi industri

Kebutuhan akan proses produksi yang efisien dan efektif untuk menghasilkan suatu produk yang memiliki kualitas yang baik dengan biaya produksi yang seminimal mungkin adalah tujuan dari semua pabrik.

Senin, 09 Oktober 2017

PENGENDALIAN DAN PENJAMINAN MUTU



  

PENDAHULUAN
Pada era globalisasi dengan begitu cepatnya inovasi teknologi, kebutuhan akan sandang meningkat seiring dengan peningkatan jumlah penduduk, industri konveksi yang merupakan pendukung kebutuhan sandang merupakan industri yang menjanjikan bagi para pelaku bisnis.  Kompetisi produk menjadikan kecenderungan proses pengembangan produk yang lebih murah dan lebih berkualitas dari produk sebelumnya. Konsumen akan merasa puas bila kebutuhannya terpenuhi yakni produk yang dibeli sesuai dengan kualitas atau spesifikasi yang diperlukan. Namun bila tidak sesuai, konsumen akan beralih ke produk sejenis dengan merk lain.
Dalam rangka menggalakkan ekspor non migas dan memenuhi kebutuhan sandang  dalam negeri, industri konveksi memiliki peran yang cukup penting. Konveksi  memiliki berbagai tahap proses produksi dari bahan baku menjadi barang siap pakai, dimulai dari pembuatan pola untuk berbagai ukuran/size, pemotongan (cutting), penjahitan (sewing)  dan penyelesaian tahap akhir (finishing). Selain dari tahapan pokok tersebut masih ada berbagai tahapan pelengkap yang lain  yang memiliki peran yang tidak kalah  pentingnya seperti penambahan asessoris, pengemasan, labeling, promosi dan lain-lain. Semua tahapan  tentu memerlukan ketelitian untuk tetap menjaga kualitas sehingga perlu adanya pengawasan,
     Perusahaan Konveksi PT “ X” di Depok yang telah memiliki produk yang cukup dikenal dari berbagai kalangan pemakai, untuk tetap dapat mempertahan eksistensinya di tengah persaingan global saat ini harus mampu meningkatkan kualitasnya.
      Menurut  Tanjong (2013), kualitas barang yang dihasilkan ditentukan oleh kegiatan yang dilakukan pada saat awal proses produksi hingga barang jadi. Agar produk yang dihasilkan berkualitas baik. Pada kenyataannya sebaik-baiknya kegiatan produksi yang dilakukan perusahaan masih dijumpai produk yang rusak atau menyimpang dari standar yang telah ditetapkan perusahaan. Kurangnya pengawasan standar kerja yang jelas pada PT “X” mengakibatkan sering terjadinya kecacatan produksi.  Adanya kecacatan tersebut  akan berdampak pada proses produksi yang dapat menimbulkan penambahan biaya  sehingga dianggap pemborosan dan tidak dapat menggunakan sumber daya secara baik.   
Pengawasan kualitas adalah usaha memastikan apakah kebijakan dalam mutu atau kualitas dapat tercerminkan dalam hasil akhir kualitas sebagai jaminan. Dengan kata lain pengawasan kualitas merupakan usaha untuk mempertahankan kualitas dan barang-barang yang dihasilkan agar sesuai dengan spesifikasi produk yang telah ditetapkan sebelumnya berdasarkan kebijaksanaan perusahaan , Assáuri (2004).
Faktor-faktor penting yang terdapat dalam kegiatan pengawasan kualitas yaitu menentukan atau mengurangi volume kesalahan dan perbaikan, menjaga menaikkan kualitas sesuai standar serta mengurangi keluhan konsumen. Untuk mengetahui apakah kualitas produk yang dihasilkan sesuai dengan yang direncanakan maka diperlukan adanya pengawasan setiap proses dari awal sampai dengan produk akhir. Dengan menggunakan statistical  quality control evaluasi, perencanaan dan hasil  akhir dapat diketahui sehingga  kebijakan yang akan diambil berdasarkan objektivitas fakta. Untuk pelaksanaan proses produksi perusahaan harus menetapkan standar kualitas yang diperoleh dan hasil riset pasar, namun kenyataannya kegiatan produksi perusahaan mengalami hambatan-hambatan hal ini tercermin dengan adanya penyimpangan produk yang dihasilkan (defective), rusak atau cacat yang tidak sesuai dengan standar yang telah ditetapkan dan permintaan konsumen. Statistic Quality Control (SQC) sebagai alat pengawasan kualitas produksi dapat membantu perusahaan apakah produk yang dihasilkan masih berada dalam batas-batas control atau tidak dari proses awal kualitas bahan, proses produk, produk akhir. 

Pengertian Kualitas
Kualitas suatu produk dapat memiliki peranan penting didalam perusahaan, karena  dapat memiliki simbol kepercayaan yang bernilai  di mata konsumen.Usaha yang telah dilakukan perusahaan untuk mencapai nama baik perusahaan itu sendiri tergantung dan kualitas produk yang telah dihasilkan.
Menurut Roger G. Schroeder (1995), kualitas didefinisikan sebagai “kecocokan penggunaan” berarti bahwa produk atau jasa memenuhi kebutuhan pelanggan, artinya bahwa produk itu cocok dengan pengguna pelanggan yang berkaitan dengan nilai yang diterima pelanggan dan dengan kepuasan konsumen.
Sedangkan menurut Sofyan Assáuri, (2004), kualitas adalah sebagian kumpulan dan sejumlah sifat-sifat yang sebagian didiskripsikan dalam bentuk produk atau jasa yang bersangkutan.

Pengertian Pengendalian Kualitas
Pada perkembangan dunia industri, kualitas mulai diperhatikan dan menjadikan suatu hal yang tidak dapat dipisahkan dalam pengendalian produksi. Pengawasan kualitas sangat diutamakan oleh perusahaan untuk mempertahankan pasar atau menambah pasar perusahaan.
 Menurut Ahyari (1985), pengertian pengendalian mutu adalah jumlah dan atribut atau sifat-sifat sebagaimana dideskripsikan dalam produk yang bersangkutan, dengan kata lain pengendalian kualitas ini adalah aktivitas untuk menjaga dan mengarahkan agar kualitas produk perusahaan dipertahankan sebagaimana yang telah direncanakan.
Sedangkan menurut Sofyan Assauri (2004), pengendalian kualitas adalah kegiatan-kegiatan untuk memastikan apakah kebijaksanaan dalam hal mutu atau standar dapat tercermin dalam hasil akhir. Dengan kata lain pengendalian mutu adalah usaha mempentahankan mutu/kualitas dan barang yang dihasilkan, agar sesuai dengan spesifikasi produk yang telah ditetapkan berdasarkan kebijaksanaan pimpinan perusahaan. 
Pengendalian kualitas menentukan ukuran, cara dan persyaratan fungsional lain suatu produk dan merupakan manajemen untuk memperbaiki kualitas produk, mempertahankan kualitas yang sudah tinggi dan mengurangi jumlah bahan yang rusak. Dengan adanya pengawasan kualitas maka perusahaan atau produsen berusaha untuk selalu memperbaiki kualitas dengan biaya rendah yang sama/tetap bahkan untuk mencapai kualitas yang tetap dengan biaya rendah. Untuk mengurangi kerugian karena kerusakan-kerusakan pemeriksaan atau inpeksi tidak terbatas pada pemeriksaan akhir saja, tetapi perlu juga diadakan pemeriksaan pada barang yang sedang diproses. Menurut Sofyan Assauri (2004), tujuan pengendalian kualitas adalah sebagai berikut:
1. Agar barang hasil produksi dapat mencapai standar kualitas yang ditetapkan.
2.  Mengusahakan agar biaya inspeksi dapat menjadi sekecil mungkin.
3.  Mengusahakan agar biaya disains  produk dan proses dengan menggunakan kualitas produksi                             tertentu dapat menjadi sekecil mungkin.
4. Mengusahakan agar biaya produksi dapat menjadi serendah mungkin.

Pengertian Statistic Quality Control (SQC)
Statistic Quality Control merupakan sistem yang dikembangkan  untuk menjaga standar yang  uniform dari kualitas hasil produksi, pada tingkat biaya  yang minimum  dan merupakan  bantuan untuk mencapai efisiensi perusahaan.  Pada dasarnya SQC merupakan penggunaaan metode statistik untuk mengumpulkan dan menganalisis  data dalam menentukan dan mengawasi kualitas hasil produksi secara efisien.
 Menurut Agus Ahyari (1985) , quality control ada 2 (dua) hal yakni pertama (1) penggunaan diagram (Charts) dan prinsip-prinsip statistik  dan yang ke dua (2) statistic quality control, tindakan para pekerja untuk mengawasi proses pengerjaan/pengolahan yang selanjutnya meliputi penganalisisan sampel dan menarik kesimpulan mengenai karakteristik dari seluruh barang dimana sampel itu diambil,  sehingga statistic quality control dapat digunakan menerima atau menolak  (menyatakan barang rusak atau apkir) produk yang telah dibuat atau dapat dipergunakan untuk mengawasi proses sekaligus kualitas produk yang sedang dikerjakan.
 Dalam menjalankan proses produksinya, setiap perusahaan selalu dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik itu yang berpengaruh secara langsung maupun tidak langsung dalam pembentukan kualitas produksi. Kegiatan pengawasan kualitas secara garis besar dibedakan menjadi dua, yaitu pengawasan selama proses produksi dan pengawasan produkakhir. Dalam hal ini Sofyan Assauri (2004) menjelaskan untuk melaksanakan pengawasan kualitas dapat ditempuh dengan tiga (3) pendekatan, yaitu pendekatan bahan baku, pendekatan kualitas proses produksi dan pendekatan pengawasan produk akhir
1.       Pendekatan Bahan Baku.
 Bagi perusahaan yang memproduksi barang dimana karakterisitik bahan baku mempengaruhi karakteristik produk, atau sebagian besar kualitas produk akhir ditentukan oleh bahan baku, maka perlu adanya pengawasan bahan baku dengan lebih teliti dan teratur untuk menjaga kualitas produk akhir. Langkah yang cukup penting untuk pengawasan bahan baku adalah seleksisumber bahan atau suplier-suplier perusahaan. Untuk melaksanakan seleksi sumber bahan dapat dilakukan dengan beberapa cara, antara lain (Ahyari, 1997):
a) Evaluasi hubungan path waktu lalu.
b) Evaluasi dengan daftar pertanyaan.
c) Penelitian kualitas suplier secara langsung.


2.        Pendekatan Kualitas Proses Produksi.
Apabila setiap proses produksi dapat diperiksa dengan lebih mudah, maka pengawasan kualitas dapat dilakukan dengan baik, dengan pemeriksaan yang mudah, setiap ada penyimpangan segera dapat diketahui sehingga tindakan pembetulan tidak terlambat. Oleh karena sifat dan jenis perusahaan berbeda antara yang sama dengan yang lainnya, maka pengawasan kualitas inipun akan mempunyai beberapa perbedaan pokok.
3.       Pendekatan Pengawasan Kualitas Produk Akhir.
Walaupun telah diadakan pengawasan kualitas dalam tingkat proses, tetapi hal ini tidak menjamin bahwa tidak ada hasil yang rusak atau kurang baik ataupun tercampur dengan produk yang baik. Untuk mengetahui apakah kualitas produk yang dihasilkan sesuai dengan rencana, maka diperlukan adanya pengawasan produk akhir. Sebab bagaimanapun juga produk jadi inilah yang akan sampai ke konsumen dan konsumen menilai produk jadi saja. Dengan demikian keberhasilan atau proses akan dilihat pada produk akhir yang dihasilkannya.
    Dengan pertimbangan tersebut, maka tidak ada untuk tidak melakukan pengawasan produk akhir, walaupun dalam pengawasan ini, tidak dapat dilakukan perbaikan dengan segera. Mengingat pentingnya fungsi pengawasan kualitas pada suatu perusahaan, maka pada umumnya setiap perusahaan mempunyai fungsi pengawasan kualitas. Setiap bagian yang berhubungan dalam kegiatan produksi mempunyai tanggung jawab langsung atas pelaksanaan pekerjaan dan selesainya produk akhir dengan spesifikasi yang ditentukan. Oleh karena tugastugas dan bidang-bidang kegiatan begitu beraneka ragam yang berhubungan dengan kualitas, maka perlu adanya koordinasi, pengkoordinasian yang dibutuhkan dalam pengawasan kualitas sangat sulit karena menyangkut kegiatan dan berbagai bidang atau bagian maka tanggung jawab atas pengawasan kualitas ini berada pada bagian kepala produksi atau manager produksi.  

Derajat Pengendalian Kualitas.
 Proses produksi merupakan suatu pekerjaan yang dilakukan berulang-ulang oleh mesin-mesin atau orang-orang sehingga dibutuhkan kesesuaian dan spesifikasi, menurut Sofyan Assauri, (2004) hal ini tergantung pada faktor-faktor antara lain kemampuan proses, spesifikasi yang berlaku dan apkiran/scrap yang dapat diterima.
  Selain hal-hal yang berpengaruh terhadap derajat pengawasan kualitas, maka perlu diperhatikan faktor-faktor penting yang berpengaruh besar terhadap kualitas produk itu sendiri faktor-faktor tersebut antara lain menurut Soeprijono, dkk, (1992).antara lain bahan baku. mesin dan proses. manusia. kondisi lingkungan kerja dan manajemen. Untuk mendapat mutu yang baik dalam produk yang dihasilkan maka perusahaan umumnya menggunakan teknik dan cara pengendalian mutu, yang umum digunakan perusahaan adalah:
1.       Inspeksi.
 Inspeksi adalah pengamatan dan pengukuran proses input dan output dapat dilakukan oleh manusia atau mekanisme yang bertujuan untuk mengetahui apakah karakteristik produk sudah sesuai dengan spesifikasi yang telah ditentukan. Menurut T. Hani Handoko (1997), inspeksi merupakan kegiatan pemeriksaan produk selama diproses yang bertujuan untuk pencegahan bukan perbaikan, tujuannya adalah menghentikan pembuatan komponen-komponen yang rusak atau jasa yang tidak berguna. Dengan inspeksi ini perusahaan dapat menghemat berbagai biaya seperti biaya pencegahan, biaya penaksiran dan biaya kegagalan.
2.       Pengendalian mutu dengan statistik.
 Pengawasan mutu dengan statistik (Statistical Quality Control) adalah suatu sistem yang berkembang untuk menjaga standar yang sama dari mutu hasil produksi pada suatu tingkat biaya minimum. Adapun langkah dan penggunaan statistical quality control menurut Sofyan Assauni (2004):
 a) Pengambilan sampel secara teratur.
 b) Pemenksaan karakterisitik yang telah ditentukan apakah sesuai denganstandar yang ditetapkan.
 c) Penganalisaan derajat penyimpangan (deviasi) dan standar.
 d) Penggunaan tabel control (control chart) untuk bahan penganalisisan hasil-hasil pengawasan
                Deming dalam Suharyadi (2004), mengemukakan bahwa perusahaan harus memberikan kepuasan kepada konsumen,  memperbaiki barang dan jasa yang dihasilkan dan untuk itu tenaga kerjanya harus siap berubah menuju kebaikan.  Hal ini dikenal dengan Siklus Shewart-Deming Cycle atau siklus Plan, Do, Chek dan Act (PDCA). Alangkah beruntungnya setiap perusahaan yang  manajemen dan pekerjanya  mau mencoba sesuatu yang baru mengevaluasinya  demi perkembangan perusahaannya.
 Metode pendekatan dalam penelitian ini dengan menggunakan teknik sampling, di perusahaan konveksi PT “X” di  Depok  dengan pengambilan sampel produk selama  22 minggu dari tanggal 8 Juni 2013 sampai dengan tanggal 23 Nopember 2013 dan dianalisis menggunakan Statistic Quality Control (SQC)
 Pengawasan pada dasarnya berhubungan dengan masalah menerima atau menolak bahan maupun produk akhir. Dengan perkataan lain memisahkan bahan atau barang yang baik dan yang buruk berdasarkan standar yang telah ditetapkan. Dalam hal ini memerlukan data statistik tentang produk yang rusak. Cara untuk mendapatkan data statistik produk-produk rusak melalui prosedur pengambilan sampel untuk mengadakan pengawasan dengan standar yang telah ditetapkan. Hal ini merupakan variasi khusus yang ditimbulkan oleh gangguan  pada proses.  Variasi yang timbul akibat gangguan pada sebuah proses dapat dilacak penyebabnya. Sumber terjadinya dapat dikarenakan faktor peralatan seperti rusaknya mesin, peralatan yang distel salah, karyawan yang kelelahan atau kurang terlatih atau bahan baku yang baru, hal ini dapat menjadi variasi yang dihilangkan (Assignable variations). Menurut Besterfield (1986), teknik pengawasan ini lebih banyak digunakan pada perusahaan yang berproduksi secara kontinyu dan tidak berdasarkan pesanan, karena pada produksi pesanan, standar dan jenisnya selalu berbeda-beda
  Pengawasan atau pengontrolan dalam hal ini dilakukan dengan mengambil sampel secara teratur dan memeriksa karakteristik-karaktenstik yang telah ditentukan,apakah telah sesuai dengan standar yang ditetapkan atau tidak. Derajat penyimpangan (deviasi) dan standar, dianalisis dan hasilnya sebagai informasi untuk dapat segera dilakukan koreksi dan langkah-langkah pembetulan bilamana penyimpangan telah melampaui batas-batas yang telah dilakukan pada waktu proses produksi sedang berjalan, sehingga penyimpanganpenyimpangan yang terjadi dapat segera diketahui dan dapat dilakukan perbaikan. Cara ini juga dapat digunakan untuk membantu menjaga agar jumlah barang-barang yang apkir berada dibawah suatu jumlah tertentu.Adapun teknik pengawasan kualitas dapat dibagi menjadi dua golongan besar, yaitu Reksohadiprojo dan Indriyo, (1996):
a.       Metode Acceptance Sampling
 Metode ini digunakan untuk mengendalikan tingkat kualitas dan suatu pemeriksaan untuk mendapatkan jaminan agar tidak lebih sekian persen barang yang rusak tidak lolos dari pemeriksaan. Metode Acceptance Sampling dibedakan menjadi dua, yaitu:
 1). Acceptance Sampling by atribut Pemeriksaan ini dilakukan dengan cara menggolongkan produk menjadi dua bagian / kelompok yang baik dan yang rusak.
 2). Acceptance Sampling Variabel Dalam metode ini diadakan pengukuran teliti yang menunjukan seberapa baik atau buruk suatu komponen dan barang yang diteliti.
 b. Batas-Batas Kendali Untuk Bagan P Pengawasan dengan menggunakan metode Control Chart yang disebut P-Chart.P-Chart yaitu suatu bagian untuk proporsi atau bagian yang rusak yang terjadi.

ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN
                Dari hasil penelitian PT ”X”  di Depok yang bergerak di bidang konveksi  telah memproduksi  berbagai jenis pakaian,  baik yang dipesan oleh eksportir maupun berproduksi memenuhi kebutuhan pakaian dalam negeri.  Untuk memenuhi kebutuhan tersebut perusahaan telah menetapkan kualitas standar nasional maupun standar internasional. Dari data produksi periode 8 Juni sampai dengan  23 Nopember  2013 dilakukan terhadap  pengawasan  proses produksi. Dari data sebanyak 22 sampel yang diambil setiap seminggu sekali pada akhir pekan. Jumlah produksi dari sampel yang diambil sebanyak 29.991 unit baju, dengan jumlah kerusakan sebanyak 569 unit  atau proporsi kerusakan sebesar 0,019, ini relatif sangat kecil dibandingkan dengan jenis produk yang dihasilkan. Apabila dilihat ratarata jumlah produksi sebesar 1.364 unit per minggu dengan rata-rata kerusakan setiap minggu  adalah sebanyak 26 unit baju. Dengan batas maksimum kerusakan sebanyak 47 unit pada minggu ke 16 dan batas minimum kerusakan sebanyak 13 unit pada minggu ke 22  dengan proporsi kerusakan sebanyak 0,012.
 Data yang diperoleh kemudian dianalisis dengan menggunakan Satistical Quality Control (SQC) dengan metoda peta kendali (Control Chart), batas kontrol tingkat kerusakan pengawasan pada produksi untuk Batas Kendali Atas (BKA/UCL) sebesar 0,035 dan Batas Kendali Bawah (BKB/LCL) sebesar 0,008, sedangkan  pada sampel nomor : 16, yaitu Juli minggu pertama pada tanggal 13 Juli 2013 dengan jumlah produksi sebesar 1.167 unit dengan jumlah kenusakan sebesar 47  unit dengan proporsi kerusakan sebesar 0,040 berada di atas Batas Kendali Atas. Hal ini disebabkan pada saat  itu ada kerusakan mesin obras. Adapun diagram Control Chart (P- Chart) dan hasil perhitungan.

KESIMPULAN
                Dari hasil perhitungan analisis statistik deskriptif untuk setiap pengawasan proses produksi, produk akhir dengan mengambil 22 sampel setiap seminggu sekali pada akhir pekan. Dengan menggunakan analisis Statistical Quality Control (SQC) untuk pengawasan proses Batas Kendali tingkat kerusakan yaitu Batas Kendali  Atas (BKA/UCL) sebesar 0,035 dan Batas Kendali Bawah (BKB./LCL) sebesar 0,008  Kualitas produk yang dihasilkan masih berada dalam Batas Kendali Atas (BKA/UCL) dan dan Batas Kendali Bawah (BKB/LCL) penyimpangan - penyimpangan yang dihasilkan berdasarkan hasil analisis SQC, kesalahan manusia masih bisa dikendalikan. Kesalahan  yang diakibatkan karena kerusakan mesin dapat berakibat menurunnya kualitas produk. Namun hal ini dapat ditanggulangi dengan penanganan perbaikan mesin secara cepat untuk menstabilkan kualitas kembali.

DAFTAR PUSTAKA
Ali Syahbana, Jelita, 2005. Evaluasi Pengendalian Kualitas Total Produk Pakaian Wanita  pada Perusahaan Konveksi.Jurnal Ventura, Vol , 8 no. 1, April 2005
Ahyari Agus, 1985. Pengendalian Produk, Edisi 2 BPFE, Yogyakarta
 Assauri Sofyan, 2004. Manajemen produksi dan Operasi, penerbit fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Jakarta.
 Bachtiar, Suharto T, Ria Assyifa, 2013. Analisa Pengendalian Kualitas  dengan Menggunakan  Methode Statistcal Quality Control (SQC), Malikussaleh Industrial Journal Enginering Vol.12 No. 1 Tahun 2013, Universitas Malikussaleh, Aceh . Indonesia
 Besterfield, DH, 1986.  Quality control, edisi II , Englewood Cliffs, Prentice Hall
 El. Grand and Haven Worth, RS, 1985. Statistical Quality Control , 5th Ed.Mc. Graw Hill, Inc, New York.
 Handoko T. Hani, 1994.  Dasar-Dasar Manajemen Produksi dan Operasi, Edisi I, BPFE , Yogyakarta
 Heiser Jay, 2008. Operations Manajement  buku 1,Salemba Empat, Jakarta
 Herjanto Eddy, 2007. Manajemen Operasi edisi ketiga, Gramedia Widia Sarana Indonesia, Jakarta.
Ibid ,2007. Jurnal Manajemen Mutu, Vol 6 No. 2 , Juli 2007. Program Pascasarjana Universitas Pembangunan“Veteran”  Jakarta
 James T. Mc Clave, 2010.  Statistik Untuk Bisnis dan Ekonomi, Erlangga, Jakartav