Tampilkan postingan dengan label @G31-LUTHFI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label @G31-LUTHFI. Tampilkan semua postingan
Minggu, 31 Desember 2017
Jumat, 15 Desember 2017
Jumat, 08 Desember 2017
Sabtu, 25 November 2017
Rabu, 08 November 2017
REVIEW JURNAL : PERAMALAN JUMLAH TANDAN BUAH SEGAR (TBS) KELAPA SAWIT DENGAN METODE FUZZY TIME SERIES CHEN DAN ALGORITMA RUEY CHYN TSUR (STUDI KASUS PADA PT. XYZ)
Jurnal PASTI volume VIII No 1, 36 – 48
Penulis Sarah Azmiyati dan Widya Nurcahayanti
Tanjung
Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Al-Azhar
Indonesia
Sabtu, 14 Oktober 2017
Root Clause Analysis
Root clause analysis adalah sebuah alat kerja yang sangat
berguna untuk mencari akar masalah dari suatu insiden yang terjadi. Menemukan akar
suatu masalah sangat penting, karena apabila tidak ditanggulangi maka masalah
akan berakibat berulangnya kejadian di kemudian hari dan akan semakin rumit penyelesaiannya.
Rabu, 27 September 2017
AKUAPONIK DI LAHAN TERBATAS
AKUAPONIK
Pendahuluan
Faktor luas
lahan biasa menjadi masalah yang umum bagi masyarakat yang ingin membudidayakan
pertanianan, perikanan dan perkebunan. Selain itu faktor lingkungan dan ekonomi
juga menjadi beban tambahan untuk mengembangkan budidya tersebut. Faktor musim
juga sangat memengaruhi budidaya tersebut. Pada musim hujan, air mengali
melimpah akan tetapi justru dapat mengakibatkan banjir, hama dan petir yang
sangat berbahaya bagi petani dan peternak ikan. Sedangkan pada musim kemarau
merupakan musim yang ditunggu karena selain cuaca yang stabil masyarakat dapat
dengan mudah mengatur aliran air maupun mengolah pertanian. Hal negatif dari
musim kemarau adalah apabila terjadi panas yang terik, yang menyebabkan tanaman
mati bahkan ikan ternak juga terkena dampaknya.
Latar belakang
Selain itu
juga wawasan pengetahuan masyarakat akan teknologi terapan yang sederhana yang
memanfaatkan lahan sempit menjadi bermanfaat sangat rendah. Kerapatan antar
tanaman merupakan hal yang patut diperhatikan dalam sistem akuaponik. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Musa
(2007) yang menyatakan bahwa kerapatan atau ukuran populasi tanaman sangat
penting untuk memperoleh hasil yang optimal, tetapi bisa terjadi persaingan dalam
hara, air dan ruang tumbuh serta mengurangi perkembangan tinggi dan kedalaman
akar tanaman. Akuponik adalah solusinya.
Akuaponik merupakan
alternatif budidaya tanaman dan ikan dalam satu tempat. Teknik ini
mengintegrasikan budidaya ikan secara tertutup (resiculating aquaculture) yang dipadukan dengan tanaman. Dengan
kepadatan rendah ikan mempunyai kemampuan memanfaatkan makanan dengan baik
dibandingkan dengan kepadatan yang cukup tinggi, karena makanan merupakan
faktor luar yang mempunyai peranan di dalam pertumbuhan (Syahid dkk, 2006).
Dalam proses
ini, tanaman memanfaatkan unsur hara dari kotoran ikan. Jika kotoran ikan
dibiarkan di dalam kolam akan menjadi racun bagi ikan. Manfaat akuaponik adalah
Ketahanan ekonomi berbasis rumah tangga, kesehatan keluarga dari segi
lingkungan dan asupan gizi, alat peraga pendidikan keluarga atau cikal bakal entrepeneur dan praktisi peneliti.
Akuaponik memiliki
pola tanam terpadu yang menaytukan beberapa tanaman dalam satu manfaat. Prinsip
utamanya adalah rantai makanan. Akuaponik merupakan sistem berkelanjutan yang
mengombinasikan akuakultur dan hidroponik dalam lingkungan yang bersifat
simbiotik. Akuaponik terdiri atas dua komponen penting, yaitu bagian hidroponik
tempat tanaman tumbuh dan bagian akuakultur tempat ikan dipelihara.
Peranan
nitrogen secara khusus pada tanaman adalah berperan dalam, pertumbuhan
vegetatif tanaman, memberikan warna pada tanaman, panjang umur tanaman,
penggunaan karbohidrat, dan lain-lain (Zailani, Kadir, dkk, 1993).
Akuaponik memiliki
sistem biofilter yang menjadi tempat bagi bakteri nitrifikasi untuk mengubah
amonia dari kotoran ikan menjadi nitrat yang dapat digunakan tumbuhan. Bila
kadar NH3 hasil pembongkaran bahan organik di dalam air terdapat dalam jumlah
besar, yang disebabkan proses pembongkaran protein terhenti sehingga tidak terbentuk
nitrat sebagai hasil akhir, maka air tersebut disebut “sedang mengalami
pengotoran (Pollution)” (Metcalf dan Eddy, 1991).
Tanaman yang
dapat dibudidayakan secara akuaponik sebagian besar adalah sayuran daun yang
dapat tumbuh dengan baik. Beberapa contohnya antara lain selada, sawi, kangkung,
dan bayam. Sementara itu tanaman sayuaran buah juga bisa antara lain tomat dan
cabai. Ikan tawar yang dipelihara di dalam akuaponik antara lain ikan lele,
patin dan ikan gurami.
Keunggulan
Keunggulan dari
akuaponik adalah sistem resirkulasi. Akuaponik memiliki 5 komponen dasar yang
meliputi biota air dalam kolam budidaya terjaga, mengatur suhu, adanya penambahan
oksigen terlarut, penyaringan kotoran atau partikel, serta biofilter agar
amonia yang dihasilkan oleh ikan menurun dengan bantuan bakteri aerob yang mengubah
amonia menjadi nitrit dan nitrat. Sehingga akuaponik memiliki kelebihan antara
lain volume air tidak terlalu besar air dapat digunakan kembali, sistem
resirkulasi menggunakan tempat wadah terbatas, kualitas air terjaga
memungkinkan pertumbuhan ikan baik, produksi meningkat dan waktu pemeliharaan
lebih singkat, tingkat kematian ikan lebih rendah
Kesimpulan
Jadi akuaponik
merupakan alternatif bagi masyarakat yang budidaya sayuran dan ikan dengan
lahan yang terbatas. Tanpa takut akan bahaya musim, lingkungan dan limbah yang
dihasilkan. Tx
Referensi
Fathulloh
A.S & N.S.Budiana. 2015. Akuaponik Panen Sayur Bonus Ikan. Penebar Swadaya:
Jakarta.
Zailani, Kadir, dkk. (1993). Estimasi Penggunaan Pupuk Urea pada Percobaan Penanaman Kangkung Darat (Ipomoea reptans POIR) di Kecamatan Darussalam Kabupaten Aceh Besar. Laporan Penelitian. Universitas Syiah Kuala Darussalam Banda Aceh.
Musa Y., Nasaruddin, M.A. Kuruseng, 2007. Evaluasi Produktivitas Jagung Melalui Pengelolaan Populasi Tanaman, Pengolahan Tanah, dan Dosis Pemupukan. Agrisistem 3 (1): 21 – 3.3
Syahid, M. Subhan, A. dan Armando, R. 2006. Budidaya Udang Organik secara Polikultur. Penebar Swadaya: Jakarta.
Metcalf dan Eddy. 1991. Wastewater Engineering Treatment Disposal Reuse. McGraw-Hill Book Co, Singapore.
RESENSI : SISTEM PENGELOLAAN LINGKUNGAN DAN LIMBAH INDUSTRI
SISTEM PENGELOLAAN LINGKUNGAN DAN LIMBAH INDUSTRI
Penerbit :
Yrama Widya
ISBN :
978-979-543-582-2
Penulis :
ir. Perdana Ginting
Ukuran :
14.5 x 19.5 cm
Tebal :
104 hlm
Secara garis besar buku ini membahas tentang jenis limbah,
hal yang mempengaruhi limbah industri, dampak limbah industri terhadap
lingkungan dan tata cara mengatasi kerusakan limbah industri. Apalagi akhir - akhir
ini kegiatan industri mulai menjadi perhatian masyarakat secara serius diantara
lain menggunakan bahan baku yang tidak bisa dipulihkan, menggunakan bahan baku
yang dapat merusak ekosistem dan membuang limbah yang dapat mencemari
lingkungan hidup. Yang berdampak langsung terhadap kesehatan masyarakat yang
apabila dibiarkan sangat berbahaya dalam jangka waktu panjang. Isu ini semakin
populer dengan menggunakan tema – tema sederhana yaitu kerusakan lingkungan
yang abadi, sumber daya alam yang semakin tipis, kerusakan hutan hujan tropis,
instalasi pengolah limbah yang tidak memadai, kerusakan lapisan ozon dan lain –
lain.
Di samping itu setiap pembangunan kegiatan industri muncul
isu regional dan berbagai masalah lain seperti lokasi industri, pencemaran
lingkungan, kebisingan, alokasi tenaga kerja, kesehatan lingkungan, kepadatan
penduduk, pembangunan industri yang menimbulkan konflik sosial ekonomi dan
sosial buadaya serta industri yang tidak serasi lingkungan. Karena itu masalah
yang ditimbulkan sangat kompleks dan bahkan menjadi masalah yang biasa terjadi
jika terjadi pembanguna kegiatan industri. Maka berbagai solusi dilakukan agar
masalah – masalah dapat di selesaikan dengan baik .
Untuk dapat hidup dalam pembangunan berkelanjutan, apabila
pembangunan industri berada dalam kondisi industri yang berwawasan lingkungan
yaitu industri berusaha memelihara kestabilan dan melestarikan ekosistem.
Tindakan yang diperlukan untuk melestarikan ekosistem industri adalah mencegah
pencemaran, mengurangi terjadinya kepunahan keanekaragaman hayati. Hal ini
harus dilaksanakan agar lingkungan terjaga dan terpelihara. Sehingga anak cucu
kita dapat menikmati keanekaragaman hayati yang ada tanpa takut akan kepunahan.
Pemakaian bahasa dalam buku ini biasa dan tidak
membingungkan, serta cocok dibaca untuk segala umur karena bahasa yang dituliskan
berisi pengetahuan sains dan lingkungan yang sjak dini kta terbiasa membaca
bahasa dan menambah pengetahuan kita akan pentingnya menjaga lingkungan kita
terhadap bahaya yang ditimbulkan oleh limbah industri. Tidak terlalu kaku untuk
pembaca, karena bahasa yang diuakan ringkas dan tidak monoton.
Keunggulan buku ini adalah seperti yang telah dijelaskan memberi
pengetahuan yang lebih detail tentang cara pengelolahan limbah industri yang
selama ini kurang dimengerti oleh masyarakat. Sehingga masyarakat dapat tanggap
menghadapi bahaya limbah industri yang selama ini masyarakat hanya mengetahui
dampak buruk limbah industri tanpa mengetahui solusi menghadpi. Meskipun
demikian penampilan isi buku tidak begitu menarik karena masih menampilkan
gambar yang sangat sederhana dan kurang menghiasi dengan desain yang menarik.
Sabtu, 16 September 2017
AMPAS TEBU SEBAGAI PEMBUAT KERTAS
AMPAS TEBU SEBAGAI PEMBUAT KERTAS
Pendahuluan
Pemakaian kertas
sekarang sangat tinggi sehingga dibatasi penggunaannya. Apabila tidak dibatasi
penggunaannya maka akan terjadi kelangkaan kertas karena sumber utama kertas
yaitu pohon semakin menipis. Untuk mengatasi masalah tersebut ternyata ampas
tebu dapat dijadikan sebagai alternatif bahan pembuatan kertas.
Ampas tebu
memiliki kandungan serat dan hemiselulosa yang tinggi, dimana kedua hal
tersebut merupakan syarat utama dalam pembuatan kertas (Sudaryanto dkk., 2002; Witono
dan Michaella, 2005; PaperOnWeb, 2010). Ada
banyak penelitian yang telah dikembangkan untuk pembuatan pulp dan kertas dari
ampas tebu, antara lain oleh Sudaryanto dkk. (2002) dan Antaresti dkk. (2004).
Sudaryanto dkk. (2002) mempelajari proses pembuatan pulp dari ampas tebu dengan
menggunakan jamur Fusarium
solani dan Trichoderma viride, sedangkan Antaresti dkk. (2004)
meneliti proses pembuatan pulpdari ampas tebu dengan proses organosolv menggunakan
larutan pemasak asam asetat dan katalis asam sulfat.
Kertas serat
campuran, atau seringkali dikenal dengan istilah kertas komposit, merupakan
kertas yang terbuat dari campuran dua macam atau lebih pulp kertas dengan bahan
lain, seperti polimer dan kertas bekas yang bertujuan untuk meningkatkan nilai
guna kertas (Julianti dan Nurminah, 2006). Metode yang digunakan dalam membuat pulppada
proses pembuatan kertas serat campuran ini adalah asetosolv, yaitu proses delignifikasi
dengan menggunakan asam asetat (Vazquez dkk., 1997). Metode ini merupakan
metode yang ramah lingkungan karena limbah lindi hitamnya mudah didaur ulang.
Selain itu, asam asetat adalah salah satu pelarut organik yang tidak berbahaya
bagi lingkungan.
Ampas tebu,
atau disebut juga dengan bagas, adalah hasil samping dari proses ekstraksi
cairan tebu. Ampas tebu sebagian besar mengandung ligno-cellulose. Panjang seratnya
antara 1,7-2 mm dengan diameter sekitar 20 μm, sehingga ampas tebu ini dapat memenuhi
persyaratan untuk diolah menjadi papan-papan
buatan. Serat bagas tidak dapat larut dalam air dan sebagian besar terdiri dari
selulosa, pentosan, dan lignin. (Sudaryanto dkk., 2002).
Proses Acetosolv
Proses acetosolv
dalam pengolahan pulp memiliki beberapa keunggulan, antara lain: bebas senyawa
sulfur, daur ulang limbah dapat dilakukan hanya dengan metode penguapan dengan tingkat
kemurnian yang cukup tinggi, dan nilai hasil daur ulangnya jauh lebih mahal
dibanding dengan hasil daur ulang limbah kraft
(Simanjutak,
1994). Aziz dan Sarkanen (1989) menguatkan pernyataan tersebut
dengan
mengatakan bahwa rendemen pulplebih tinggi, pendauran lindi hitam dapat dilakukan
dengan mudah, dapat diperoleh hasil samping berupa lignin dan furfural dengan
kemurnian yang relatif tinggi, dan ekonomis dalam skala yang relatif kecil.
Dalam proses
pembuatan pulp dengan metode acetosolv, ada banyak hal yang perlu diperhatikan,
mulai dari suhu, waktu pemasakan, konsentrasi asam asetat dan juga konsentrasi
katalis yang digunakan. Pada umumnya, proses pembuatan pulp dengan metode acetosolv
dilakukan pada suhu 1100C selama 2-5 jam. Konsentrasi asam asetat yang
digunakan sebesar 95%. Katalis yang dipakai dalam proses pulpingdengan metode acetosolvadalah
asam klorida (HCl) sebanyak 0,01% (Vazquez dkk., 1997).
Binder
Binder mempunyai
pengaruh yang besar pada sifat akhir kertas. Fungsi binder antara lain
bertindak sebagai pembawa pigmen, pengikat partikel pigmen menjadi satu,
mengikat partikel pigmen dengan kertas, memberi sifat alir yang dibutuhkan dan
mengontrol absorpsi tinta cetak selama proses cetak pada kertas (PaperOnWeb, 2010).
Pati merupakan binderyang berasal dari bahan alam dan juga termasuk jenis perekat
dalam. Pati mampu mengikat bahan-bahan penyusun kertas untuk meningkatkan kualitas
kertas. Pati ditambahkan dalam
pembuatan pulp
sebelum dibuat menjadi kertas. Pati akan meningkatkan jumlah
kertas yang
dihasilkan serta keelastisan kertas yang diproduksi. Pati mengisi pori kertas,
menghaluskan permukaan kertas, dan mencegah tinta menyebar pada permukaan ketika
kertas tersebut diitulis. Pati yang teroksidasi, asam dari modifikasi pati, dan
kation dari pati biasa digunakan dalam proses pembuatan kertas, bersama dengan hidroksimetil
yang dimodifikasi dan fosfat ester dari pati, untuk meningkatkan kekuatan dan
ketebalan dari beberapa jenis kertas, seperti kertas untuk kalender dan kotak
karton (Asuncion, 2003).
Kesimpulan
Ampas tebu
memiliki dapat dimanfaatkan sebagi pembuat kertas dengan memanfaatkan menggunakan
jamur dan juga dapat dilakukan dengan proses organosolv menggunakan larutan
pemasak asam asetat dan katalis asam sulfat.
Daftar pustaka
Antaresti;
Christina, N.; Selviana, E.; Indrawati, M.; Yosanto,
Organosolv
dan Proses Biokimia sebagai Alternatif Proses Pulping yang Ramah Lingkungan, Prosiding
Seminar Nasional Fundamental dan Aplikasi Teknik Kimia, Surabaya, 15 November
2004.
Julianti,
E.; Nurminah, M., Teknologi Pengemasan, Bahan kuliah terbuka Opencourseware, Universitas Sumatera Utara, 2006.
PaperOnWeb, http://paperonweb.com/
wood.htm, (akses 20 September 2010).
Vazquez, G.;
Antorrena, G.; Gonzalez, J.; Freire, S.; Lopez, S., Acetosolv pulping of pine wood.
kinetic modelling of lignin solubilization and condensation, Bioresource Technology,
1997, 59(2-3), 121-127.
Aziz, S.;
Sarkanen, K., Organosolv pulping - A review, TAPPI Journal, 1989,72(3),
169-175.
Sudaryanto,
Y.; Antaresti; Wibowo, H., Biopulping Ampas Tebu Menggunakan Trichoderma viride dan Fusarium solani, Prosiding
Seminar Nasional Fundamental dan Aplikasi Teknik Kimia, Surabaya, 30 September
2002; hal. 163-171.
Witono, J.
R.; Michaella, Pengaruh Pencampuran Serat Pelepah Pisang dan Serat Kertas Koran
Bekas terhadap Kualitas Kertas yang Dihasilkan, Prosiding Seminar Nasional Fundamental
dan Aplikasi Teknik Kimia, Surabaya, 27 Juni 2005; hal. 108-113.
Asuncion,
J., The Complete Book of Paper Making, Lark Books: New York, 2003; hal. 29.
Langganan:
Postingan (Atom)










