.

Tampilkan postingan dengan label @G31-LUTHFI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label @G31-LUTHFI. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 14 Oktober 2017

Root Clause Analysis






Root clause analysis adalah sebuah alat kerja yang sangat berguna untuk mencari akar masalah dari suatu insiden yang terjadi. Menemukan akar suatu masalah sangat penting, karena apabila tidak ditanggulangi maka masalah akan berakibat berulangnya kejadian di kemudian hari dan akan semakin rumit penyelesaiannya.

Rabu, 27 September 2017

AKUAPONIK DI LAHAN TERBATAS


AKUAPONIK






Pendahuluan

Faktor luas lahan biasa menjadi masalah yang umum bagi masyarakat yang ingin membudidayakan pertanianan, perikanan dan perkebunan. Selain itu faktor lingkungan dan ekonomi juga menjadi beban tambahan untuk mengembangkan budidya tersebut. Faktor musim juga sangat memengaruhi budidaya tersebut. Pada musim hujan, air mengali melimpah akan tetapi justru dapat mengakibatkan banjir, hama dan petir yang sangat berbahaya bagi petani dan peternak ikan. Sedangkan pada musim kemarau merupakan musim yang ditunggu karena selain cuaca yang stabil masyarakat dapat dengan mudah mengatur aliran air maupun mengolah pertanian. Hal negatif dari musim kemarau adalah apabila terjadi panas yang terik, yang menyebabkan tanaman mati bahkan ikan ternak juga terkena dampaknya.

Latar belakang

Selain itu juga wawasan pengetahuan masyarakat akan teknologi terapan yang sederhana yang memanfaatkan lahan sempit menjadi bermanfaat sangat rendah. Kerapatan antar tanaman merupakan hal yang patut diperhatikan dalam sistem akuaponik.  Hal tersebut sesuai dengan pendapat Musa (2007) yang menyatakan bahwa kerapatan atau ukuran populasi tanaman sangat penting untuk memperoleh hasil yang optimal, tetapi bisa terjadi persaingan dalam hara, air dan ruang tumbuh serta mengurangi perkembangan tinggi dan kedalaman akar tanaman.  Akuponik adalah solusinya.
Akuaponik merupakan alternatif budidaya tanaman dan ikan dalam satu tempat. Teknik ini mengintegrasikan budidaya ikan secara tertutup (resiculating aquaculture) yang dipadukan dengan tanaman. Dengan kepadatan rendah ikan mempunyai kemampuan memanfaatkan makanan dengan baik dibandingkan dengan kepadatan yang cukup tinggi, karena makanan merupakan faktor luar yang mempunyai peranan di dalam pertumbuhan (Syahid dkk, 2006).
Dalam proses ini, tanaman memanfaatkan unsur hara dari kotoran ikan. Jika kotoran ikan dibiarkan di dalam kolam akan menjadi racun bagi ikan. Manfaat akuaponik adalah Ketahanan ekonomi berbasis rumah tangga, kesehatan keluarga dari segi lingkungan dan asupan gizi, alat peraga pendidikan keluarga atau cikal bakal entrepeneur dan praktisi peneliti.

Akuaponik memiliki pola tanam terpadu yang menaytukan beberapa tanaman dalam satu manfaat. Prinsip utamanya adalah rantai makanan. Akuaponik merupakan sistem berkelanjutan yang mengombinasikan akuakultur dan hidroponik dalam lingkungan yang bersifat simbiotik. Akuaponik terdiri atas dua komponen penting, yaitu bagian hidroponik tempat tanaman tumbuh dan bagian akuakultur tempat ikan dipelihara.
Peranan nitrogen secara khusus pada tanaman adalah berperan dalam, pertumbuhan vegetatif tanaman, memberikan warna pada tanaman, panjang umur tanaman, penggunaan karbohidrat, dan lain-lain (Zailani, Kadir, dkk, 1993).

Akuaponik memiliki sistem biofilter yang menjadi tempat bagi bakteri nitrifikasi untuk mengubah amonia dari kotoran ikan menjadi nitrat yang dapat digunakan tumbuhan. Bila kadar NH3 hasil pembongkaran bahan organik di dalam air terdapat dalam jumlah besar, yang disebabkan proses pembongkaran protein terhenti sehingga tidak terbentuk nitrat sebagai hasil akhir, maka air tersebut disebut “sedang mengalami pengotoran (Pollution)” (Metcalf dan Eddy, 1991).

Tanaman yang dapat dibudidayakan secara akuaponik sebagian besar adalah sayuran daun yang dapat tumbuh dengan baik. Beberapa contohnya antara lain selada, sawi, kangkung, dan bayam. Sementara itu tanaman sayuaran buah juga bisa antara lain tomat dan cabai. Ikan tawar yang dipelihara di dalam akuaponik antara lain ikan lele, patin dan ikan gurami.

Keunggulan

Keunggulan dari akuaponik adalah sistem resirkulasi. Akuaponik memiliki 5 komponen dasar yang meliputi biota air dalam kolam budidaya terjaga, mengatur suhu, adanya penambahan oksigen terlarut, penyaringan kotoran atau partikel, serta biofilter agar amonia yang dihasilkan oleh ikan menurun dengan bantuan bakteri aerob yang mengubah amonia menjadi nitrit dan nitrat. Sehingga akuaponik memiliki kelebihan antara lain volume air tidak terlalu besar air dapat digunakan kembali, sistem resirkulasi menggunakan tempat wadah terbatas, kualitas air terjaga memungkinkan pertumbuhan ikan baik, produksi meningkat dan waktu pemeliharaan lebih singkat, tingkat kematian ikan lebih rendah

Kesimpulan

Jadi akuaponik merupakan alternatif bagi masyarakat yang budidaya sayuran dan ikan dengan lahan yang terbatas. Tanpa takut akan bahaya musim, lingkungan dan limbah yang dihasilkan. Tx

Referensi

Fathulloh A.S & N.S.Budiana. 2015. Akuaponik Panen Sayur Bonus Ikan. Penebar Swadaya: Jakarta.

Zailani, Kadir, dkk. (1993). Estimasi Penggunaan Pupuk Urea pada Percobaan Penanaman Kangkung Darat (Ipomoea reptans POIR) di Kecamatan Darussalam Kabupaten Aceh Besar. Laporan Penelitian. Universitas Syiah Kuala Darussalam Banda Aceh.

Musa Y., Nasaruddin, M.A. Kuruseng, 2007. Evaluasi Produktivitas Jagung Melalui Pengelolaan Populasi Tanaman, Pengolahan Tanah, dan Dosis Pemupukan. Agrisistem 3 (1): 21 – 3.3

Syahid, M. Subhan, A. dan Armando, R. 2006. Budidaya Udang Organik secara Polikultur. Penebar Swadaya: Jakarta.

Metcalf dan Eddy. 1991. Wastewater Engineering Treatment Disposal Reuse. McGraw-Hill Book Co, Singapore. 

RESENSI : SISTEM PENGELOLAAN LINGKUNGAN DAN LIMBAH INDUSTRI

SISTEM PENGELOLAAN LINGKUNGAN DAN LIMBAH INDUSTRI


Penerbit              : Yrama Widya
ISBN                   : 978-979-543-582-2
Penulis                : ir. Perdana Ginting
Ukuran                : 14.5 x 19.5 cm
Tebal                   : 104 hlm



Secara garis besar buku ini membahas tentang jenis limbah, hal yang mempengaruhi limbah industri, dampak limbah industri terhadap lingkungan dan tata cara mengatasi kerusakan limbah industri. Apalagi akhir - akhir ini kegiatan industri mulai menjadi perhatian masyarakat secara serius diantara lain menggunakan bahan baku yang tidak bisa dipulihkan, menggunakan bahan baku yang dapat merusak ekosistem dan membuang limbah yang dapat mencemari lingkungan hidup. Yang berdampak langsung terhadap kesehatan masyarakat yang apabila dibiarkan sangat berbahaya dalam jangka waktu panjang. Isu ini semakin populer dengan menggunakan tema – tema sederhana yaitu kerusakan lingkungan yang abadi, sumber daya alam yang semakin tipis, kerusakan hutan hujan tropis, instalasi pengolah limbah yang tidak memadai, kerusakan lapisan ozon dan lain – lain.

Di samping itu setiap pembangunan kegiatan industri muncul isu regional dan berbagai masalah lain seperti lokasi industri, pencemaran lingkungan, kebisingan, alokasi tenaga kerja, kesehatan lingkungan, kepadatan penduduk, pembangunan industri yang menimbulkan konflik sosial ekonomi dan sosial buadaya serta industri yang tidak serasi lingkungan. Karena itu masalah yang ditimbulkan sangat kompleks dan bahkan menjadi masalah yang biasa terjadi jika terjadi pembanguna kegiatan industri. Maka berbagai solusi dilakukan agar masalah – masalah dapat di selesaikan dengan baik .
Untuk dapat hidup dalam pembangunan berkelanjutan, apabila pembangunan industri berada dalam kondisi industri yang berwawasan lingkungan yaitu industri berusaha memelihara kestabilan dan melestarikan ekosistem. Tindakan yang diperlukan untuk melestarikan ekosistem industri adalah mencegah pencemaran, mengurangi terjadinya kepunahan keanekaragaman hayati. Hal ini harus dilaksanakan agar lingkungan terjaga dan terpelihara. Sehingga anak cucu kita dapat menikmati keanekaragaman hayati yang ada tanpa takut akan kepunahan.

Pemakaian bahasa dalam buku ini biasa dan tidak membingungkan, serta cocok dibaca untuk segala umur karena bahasa yang dituliskan berisi pengetahuan sains dan lingkungan yang sjak dini kta terbiasa membaca bahasa dan menambah pengetahuan kita akan pentingnya menjaga lingkungan kita terhadap bahaya yang ditimbulkan oleh limbah industri. Tidak terlalu kaku untuk pembaca, karena bahasa yang diuakan ringkas dan tidak monoton.

Keunggulan buku ini adalah seperti yang telah dijelaskan memberi pengetahuan yang lebih detail tentang cara pengelolahan limbah industri yang selama ini kurang dimengerti oleh masyarakat. Sehingga masyarakat dapat tanggap menghadapi bahaya limbah industri yang selama ini masyarakat hanya mengetahui dampak buruk limbah industri tanpa mengetahui solusi menghadpi. Meskipun demikian penampilan isi buku tidak begitu menarik karena masih menampilkan gambar yang sangat sederhana dan kurang menghiasi dengan desain yang menarik.

Sabtu, 16 September 2017

AMPAS TEBU SEBAGAI PEMBUAT KERTAS



 AMPAS TEBU SEBAGAI PEMBUAT KERTAS







 Pendahuluan

Pemakaian kertas sekarang sangat tinggi sehingga dibatasi penggunaannya. Apabila tidak dibatasi penggunaannya maka akan terjadi kelangkaan kertas karena sumber utama kertas yaitu pohon semakin menipis. Untuk mengatasi masalah tersebut ternyata ampas tebu dapat dijadikan sebagai alternatif bahan pembuatan kertas.

Ampas tebu memiliki kandungan serat dan hemiselulosa yang tinggi, dimana kedua hal tersebut merupakan syarat utama dalam pembuatan kertas (Sudaryanto dkk., 2002; Witono dan Michaella, 2005; PaperOnWeb, 2010). Ada banyak penelitian yang telah dikembangkan untuk pembuatan pulp dan kertas dari ampas tebu, antara lain oleh Sudaryanto dkk. (2002) dan Antaresti dkk. (2004). Sudaryanto dkk. (2002) mempelajari proses pembuatan pulp dari ampas tebu dengan menggunakan jamur Fusarium solani dan Trichoderma viride, sedangkan Antaresti dkk. (2004) meneliti proses pembuatan pulpdari ampas tebu dengan proses organosolv menggunakan larutan pemasak asam asetat dan katalis asam sulfat.

Kertas serat campuran, atau seringkali dikenal dengan istilah kertas komposit, merupakan kertas yang terbuat dari campuran dua macam atau lebih pulp kertas dengan bahan lain, seperti polimer dan kertas bekas yang bertujuan untuk meningkatkan nilai guna kertas (Julianti dan Nurminah, 2006). Metode yang digunakan dalam membuat pulppada proses pembuatan kertas serat campuran ini adalah asetosolv, yaitu proses delignifikasi dengan menggunakan asam asetat (Vazquez dkk., 1997). Metode ini merupakan metode yang ramah lingkungan karena limbah lindi hitamnya mudah didaur ulang. Selain itu, asam asetat adalah salah satu pelarut organik yang tidak berbahaya bagi lingkungan.

Ampas tebu, atau disebut juga dengan bagas, adalah hasil samping dari proses ekstraksi cairan tebu. Ampas tebu sebagian besar mengandung ligno-cellulose. Panjang seratnya antara 1,7-2 mm dengan diameter sekitar 20 μm, sehingga ampas tebu ini dapat memenuhi persyaratan untuk diolah menjadi papan-papan buatan. Serat bagas tidak dapat larut dalam air dan sebagian besar terdiri dari selulosa, pentosan, dan lignin. (Sudaryanto dkk., 2002).
         
Proses Acetosolv

Proses acetosolv dalam pengolahan pulp memiliki beberapa keunggulan, antara lain: bebas senyawa sulfur, daur ulang limbah dapat dilakukan hanya dengan metode penguapan dengan tingkat kemurnian yang cukup tinggi, dan nilai hasil daur ulangnya jauh lebih mahal dibanding dengan hasil daur ulang limbah kraft
(Simanjutak, 1994). Aziz dan Sarkanen (1989) menguatkan pernyataan tersebut
dengan mengatakan bahwa rendemen pulplebih tinggi, pendauran lindi hitam dapat dilakukan dengan mudah, dapat diperoleh hasil samping berupa lignin dan furfural dengan kemurnian yang relatif tinggi, dan ekonomis dalam skala yang relatif kecil.

Dalam proses pembuatan pulp dengan metode acetosolv, ada banyak hal yang perlu diperhatikan, mulai dari suhu, waktu pemasakan, konsentrasi asam asetat dan juga konsentrasi katalis yang digunakan. Pada umumnya, proses pembuatan pulp dengan metode acetosolv dilakukan pada suhu 1100C selama 2-5 jam. Konsentrasi asam asetat yang digunakan sebesar 95%. Katalis yang dipakai dalam proses pulpingdengan metode acetosolvadalah asam klorida (HCl) sebanyak 0,01% (Vazquez dkk., 1997).

Binder

Binder mempunyai pengaruh yang besar pada sifat akhir kertas. Fungsi binder antara lain bertindak sebagai pembawa pigmen, pengikat partikel pigmen menjadi satu, mengikat partikel pigmen dengan kertas, memberi sifat alir yang dibutuhkan dan mengontrol absorpsi tinta cetak selama proses cetak pada kertas (PaperOnWeb, 2010). Pati merupakan binderyang berasal dari bahan alam dan juga termasuk jenis perekat dalam. Pati mampu mengikat bahan-bahan penyusun kertas untuk meningkatkan kualitas kertas. Pati ditambahkan dalam
pembuatan pulp sebelum dibuat menjadi kertas. Pati akan meningkatkan jumlah
kertas yang dihasilkan serta keelastisan kertas yang diproduksi. Pati mengisi pori kertas, menghaluskan permukaan kertas, dan mencegah tinta menyebar pada permukaan ketika kertas tersebut diitulis. Pati yang teroksidasi, asam dari modifikasi pati, dan kation dari pati biasa digunakan dalam proses pembuatan kertas, bersama dengan hidroksimetil yang dimodifikasi dan fosfat ester dari pati, untuk meningkatkan kekuatan dan ketebalan dari beberapa jenis kertas, seperti kertas untuk kalender dan kotak karton (Asuncion, 2003).

Kesimpulan
Ampas tebu memiliki dapat dimanfaatkan sebagi pembuat kertas dengan memanfaatkan menggunakan jamur dan juga dapat dilakukan dengan proses organosolv menggunakan larutan pemasak asam asetat dan katalis asam sulfat.

Daftar pustaka

Antaresti; Christina, N.; Selviana, E.; Indrawati, M.; Yosanto,
Organosolv dan Proses Biokimia sebagai Alternatif Proses Pulping yang Ramah Lingkungan, Prosiding Seminar Nasional Fundamental dan Aplikasi Teknik Kimia, Surabaya, 15 November 2004.

Julianti, E.; Nurminah, M., Teknologi Pengemasan, Bahan kuliah terbuka  Opencourseware, Universitas Sumatera Utara, 2006.

PaperOnWeb, http://paperonweb.com/ wood.htm, (akses 20 September 2010).

Vazquez, G.; Antorrena, G.; Gonzalez, J.; Freire, S.; Lopez, S., Acetosolv pulping of pine wood. kinetic modelling of lignin solubilization and condensation, Bioresource Technology, 1997, 59(2-3), 121-127.

Aziz, S.; Sarkanen, K., Organosolv pulping - A review, TAPPI Journal, 1989,72(3), 169-175.

Sudaryanto, Y.; Antaresti; Wibowo, H., Biopulping Ampas Tebu Menggunakan  Trichoderma viride dan Fusarium solani, Prosiding Seminar Nasional Fundamental dan Aplikasi Teknik Kimia, Surabaya, 30 September 2002; hal. 163-171.

Witono, J. R.; Michaella, Pengaruh Pencampuran Serat Pelepah Pisang dan Serat Kertas Koran Bekas terhadap Kualitas Kertas yang Dihasilkan, Prosiding Seminar Nasional Fundamental dan Aplikasi Teknik Kimia, Surabaya, 27 Juni 2005; hal. 108-113.

Asuncion, J., The Complete Book of Paper Making, Lark Books: New York, 2003; hal. 29.