.

Tampilkan postingan dengan label @Proyek B01. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label @Proyek B01. Tampilkan semua postingan

Senin, 16 Oktober 2017

Atap rumah dengan cat putih Mengurangi Pemanasan Global

Atap rumah dengan cat putih Mengurangi Pemanasan Global 

Sebuah studi baru menemukan bahwa atap putih bisa berefek  baik bagi lingkungan seperti meniadakan mobil di jalan selama 50 tahun. Kualitas reflektif bahan putih, dikatakan, merefleksikan kembali energi  matahari menjadi suasana bahwa penghematan karbon dapat menjadi dramatis. Menggunakan bahan berwarna lebih terang pada permuka

Sabtu, 23 September 2017

PhotoVoltaic (PV) System Rooftop


Menipisnya sumber daya alam untuk energi tak terbaharukan menyebabkan manusia memanfaatkan energi energi alternatif, salah satumya adalah panas matahari. Energi surya merupakan energi yang sudah tersedia dan akan terus ada.

Kamis, 14 September 2017

Drone Untuk Kelapa Sawit

Terlalu banyak kesamaan dengan http://belidrone.blogspot.co.id/2016/02/drone-untuk-agriculture-pertanian.html?m=1 

Perkembangan teknologi makin lama makin maju dan pengaplikasiannya semakin luas. Salah satu di antaranya teknolgi pesawat terbang mini tampa awak bernama drone yang di lengkapi dengan teknologi modern kini ikut andil di dalam perkembangan teknologi di bidang pertanian.

Sabtu, 09 September 2017

Pembangkit listrik tenaga sampah



Limbah ke Energi (Limbah Padat Kota)
Energi dari sampah padat kota
        Baru baru ini masyarakat dunia sedang menenggalakan betapa pentingnya menjaga lingkungan  akibat dari Sampah yang dapat merusak kesuburan tanah,penyebab bencana alam seperti banjir  dan penyebab bencana lainnya. Sampah padat perkotaan, yang sering kita sebut sampah yang tidak berguna atau hanya dipandang sebelah mata. Namun seiring dengan kemajua teknologi mulai lambat laun sampah yang tidak berguna dapat  digunakan untuk menghasilkan energi di pabrik limbah (pembangkit listrik tenaga sampah) . berkat teknologi sekarang ini yang telah berkembang sampah sampah yang sulit terurai ditanah dapat diolah kembali menjadi energi listrik atau hampir semua sapah dapat dibakar untuk menghasilkan energi.
Limbah limbah perkotaan dapat dibagi menjadi 2 kelompok yaitu :

     Biomassa, atau biogenik (tanaman atau produk hewani), bahan seperti kertas, kardus, limbah makanan, guntingan rumput, daun, kayu, produk kulit
    
Bahan nonbiomass mudah terbakar seperti plastik dan bahan sintetis lainnya yang terbuat dari minyak bumi
     Bahan yang tidak mudah terbakar seperti kaca dan logam
.
Merikut ini adalah table pemanfaatan sampah di Amerika srikat yang diambil dari google

Pada tahun 2014, sekitar 258 juta ton MSW dihasilkan di Amerika Serikat, di antaranya
• 53% ditimbun
• 35% didaur ulang dan dikomposkan
• 13% dibakar untuk energi


Pembangkit listrik tenaga sampah membuat uap dan listrik
     
sampah sampah  biasanya dibakar di Pembangkit listrik tenaga sampah khusus yang menggunakan panas dari api untuk membuat uap untuk menghasilkan listrik atau untuk memanaskan boiler. Bahan biomassa yang dibakar di pembangkit listrik ini menyumbang sekitar 64% dari berat sampah dan menyumbang sekitar 51% energi. Sisa dari sampah adalah bahan yang mudah terbakar nonbiomassa, terutama plastik. Banyak tempat pembuangan sampah yang besar juga menghasilkan listrik dengan menggunakan gas metana yang dihasilkan dari pembusukan biomassa di tempat pembuangan sampah.

Pembangkit listrik tenaga sampah adalah pilihan pengelolaan limbah
    
Memproduksi listrik hanyalah salah satu alasan untuk membakar sampah. Limbah pembakaran juga mengurangi jumlah bahan yang mungkin akan dikuburkan di tempat pembuangan sampah. Pembakaran sampah mengurangi volume sampah sekitar 87%.

Bagaimana kerja pembangkit Pembangkit listrik tenaga sampah?
     
Pembangkit listrik tenaga sampah membakar sampah kota, sering disebut PLTS ,pembakaran sampah menghasilkan uap dalam boiler yang digunakan untuk menghasilkan listrik. Berikut ini merupakan gambaran atau mekanisme dari PLTS yang diambil dari google.

berikut adalah  mind map urutan proses dari PLTS tersebut :

Proses pembangkit listrik tenaga sampah memiliki tujuh tahap:
1. Sampah dibuang dari truk sampah ke dalam lubang besar.
2. Cakar raksasa pada derek mengambil limbah dan membuangnya ke dalam ruang bakar.
3. Limbah (bahan bakar) dibakar, melepaskan panas.
4. Panas mengubah air menjadi uap dalam boiler.
5. Uap bertekanan tinggi mengubah bilah generator turbin untuk menghasilkan listrik.
6. Sistem pengendalian pencemaran udara menghilangkan polutan dari gas pembakaran sebelum dilepaskan melalui tumpukan asap.
7. Abu dikumpulkan dari boiler dan sistem pengendalian pencemaran udara.

Pikirkan sampah padat kota sebagai campuran bahan bakar kaya energi. Dalam 100 pon sampah, lebih dari 85 kilogram bisa dibakar sebagai bahan bakar untuk menghasilkan listrik. Bahan bakar tersebut meliputi limbah kertas, plastik. Satu ton sampah padat kota yang terbakar di PLTS menghasilkan sekitar 481 kilowatthours (kWh) listrik, jumlah listrik yang digunakan oleh sekitar 16 rumah tangga A.S. dalam satu hari.
Di PLTS, satu ton sampah dikurangi menjadi 300-600 pon abu.


(Gambar diambil dari google)
Sampah dibakar di seluruh dunia

Banyak negara menggunakan pembangkit listrik tenaga sampah untuk mennghasilkan energi dalam limbah. Penggunaan pembangkit listrik tenaga sampah di beberapa negara Eropa dan Jepang relatif tinggi, sebagian karena negara-negara tersebut memiliki sedikit ruang terbuka untuk tempat pembuangan sampah, dan mereka hanya memiliki sedikit sumber energi.
Referensi penulis di ambil dari  :
1



eia us energy information administration.
2.       Gambar diambil dari google search

TERMODINAMIKA

@G20-Yoga -

Pendahuluan

Kata "termodinamika" berasal dari bahasa Yunani therme (kalor) dan dynamis (gaya). Meskipun berbagai aspek dari apa yang dikenal sebagai termodinamika telah menarik perhatian sejak dahulu kala, kajian termodinamika secara formal dimulai abad ke-19 melalui pemikiran mengenai pergerakan data dari kalor (heat), yaitu kemampuan benda panas untuk menghasilkan kerja (work). Dewasa ini lingkup kajian termodinamika telah berkembang, umumnya meliputi energi dan hubungan antara sifat-sifat (properties) materi.

MATERIAL PALING TIPIS DI DUNIA NAMUN PALING KUAT



Graphene (grafin) adalah serat karbon yang hanya disusun dari satu lapis atom karbon yang tersusun dalam kisi heksagonal. Pengaturan atom yang khusus membuat graphene memiliki sifat unik dan khusus.

RAIN HARVESTING


Rain Harvesting (Pemanen Air Hujan)

Air adalah sumber kehidupan makhluk hidup yang ada di bumi. Bagi manusia sendiri, air diperlukan hampir dalam semua aspek kehidupan. Sumber air bersih yang dapat dimanfaatkan manusia fresh water) hanya berkisar 2,5-3 % dari total keseluruhan air di bumi, air ini terdapat pada getser, danau dan sungai Air bumi/ groundwater juga dapat dimanfaatkan manusia namun keberadaannya kadang suit dijangkau pada daerah-daerah tertentu Mayoritas air di muka bumi merupakan air laut. Namun untuk menjadi air bersih perlu proses panjang dengan peralatan yang canggih dan rumit untuk mengolahnya juga biaya yang cukup banyak.

Rain Harvesting (Pemanen Air Hujan) adalah proses pengumpulan, penyimpanan, dan menggunakan kembali air hujan dari permukaan seperti atap. Pemanen air hujan telah lama digunakan untuk irigasi petanian dan sebagai sumber air minum, dan membiarkan peradaban kuno berkembang didaerah semi kering dan kering. Sistem pemanen air hujan sedang digunakan saat ini di banyak lokasi terbatas air, terutama di beberapa wilayah barat Amerika Serikat (Ling 2014). Pemanen dan penyimpanan air hujan dapat mengurangi penggunaan air sumur dan kota. Atap seringkali merupakan permukaan tahan paling besar ditempat tinggal dan menghasilkan volume air yang besar yang jika tidak masuk ke system air stormwater. Air hujan sendiri sangat bersih meskipun kontaminan yang ada dipermukaan atap harus ditangani dengan tepat.

Sistem Pemanen Air Hujan (Rain Harvesting)
Sistem pemanenan air hujan ini terdiri dari beberapa tahap seperti penangkapan air  hujan, pengaliran, fitrasi awal, penyimpanan, dan pemurnian kembali. Penangkap air hujan biasanya berada pada atap-atap bangunan dengan memperhatikan bahan yang digunakan. Sebab air hujan yang dipanen dapat tercemar jika atap luasan penangkap yang digunakan mudah terkorosi. Selain itu pemilihan bahan yang tepat digunakan untuk menghindari terjadinya kebocoran pada bangunan yang atapnya digunakan sebagai daerah tangkapan hujan. Kemudian pengaliran, berdasarkan Suprapto (2015) pengaliran air hujan menuju tangki penyimpanan biasanya melibatkan talang dan pipa air vertical. Material yang basanya direkomendasikan untuk sistem pengaliran ini adalah galvanized steel, stainless steel, fiberglass,  dan plastic. Setelah air hujan dialirkan, diperlukan perlakuan awal terhadap air hujan dengan cara dilakukan filtrasi. Filtrasi awal ini sifatnya hanya membersihkan material fisik yang tidak diinginkan dari air hujan. Filtrasi dapat dilakuukan dengan tumpukan kerikil, serabut, dsb.

Setelah dilakukan filtrasi sebagai perlakuan awal, selanjutnya air akan dibawa masuk ke dalam  tangki penyimpanan. Tangki penyimpanan dapat dibedakan menjadi dua jenis yaitu tangki atas tanah dan tangki bawah tanah sesuai dengan kndisi dan konstruksi yang memungkinkan. Air hujan yang sudah ditampung , tidak serta merta langsung diknsumsi, diperlukan  pemurnian untuk membersihkan mikroorganisme dengan menggunakan filter membrane. Filtrasi menggunakan membran dapat dilakukan dengan berbagai tipe membran Microfiltration (MF) memiliki rentang pori 0.03 hingga 0.1 mikron dan dapat digunakan untuk menghilangkan partikulat, alga, dan beberapa jenis mikroorganisme. Ultrafiltration (UF) memiliki rentang pori 0.002 hingga 0.1, sehingga kemampuannya di atas MF. Teknologi baru untuk mengolah air hujan adalah membran filtrasi logam (Metal membran filtration, MMF) [15]. MMF memiliki beberapa keunggulan dibandingkan membran polimer konvensional: lebih tahan lama, lebih tahan pada tekanan (1 Mpa) dan temperatur (350°C) tinggi, tahan goncangan dan reaksi kimiawi korosif seperti ozonasi. Selain itu dapat juga diakukan teknologi distilasi untuk memisahkan air dari pengotornya menggunakan penguapan dan pengumpulan kondensat.

Manfaat
Pemanenan air hujan dapat menjadi salah satu upaya mengurangi debit air jatuh tanah ketika musim hujan, dan upaya menghadapi kekeringan saat kemarau Penggunaannya dinilai memiliki biaya yang lebih murah dan mampu memenuhi kebutuhan domestik air berdasarkan uji yang diakukan di daerah barat Amerika Jnes 2010)

Kesimpulan
Pemanenan air hujan dapat menjadi sebuah jawaban untuk memenuhi kebutuhan terhadap air bersih secara domestik pada daerah-daerah berkualitas air rendah ataupun pada daerah kurang sumber mata air

Daftar pustaka
Jones M.,2010.Performance of Rainwater Harvesting Systems in Southeasthern United States.     Resources, Conservation and Recyling. 54:623-629
Ling E. 2014. Rainwater Harvesting System. Viginia Cooperative Extension Virginia Tech. Virginia (US):       Virginia University
Suprapto HBA,2015, Konsep Pemanfaatan Air Hujan Sebagai Air Siap Pakai Bandung ID): Institut Teknologi                 Bandung

BIOETHANOL BONGGOL PISANG



Bioethanol Bonggol Pisang









Berkurangnya dan menipisnya bahan bakar fosil berlawanan dengan kebutuhan energi bagi kehidupan manusia. Sejak lima tahun terakhir, Indonesia mengalami penurunan produksi minyak nasional sedangkan pulasi penduduk bertambah, sehingga kebutuhan sarana transportasi dan aktivitas industri juga bertambah. Oleh sebab itu sangat diperlukan bahan bakar alternatif yang dapat diproduksi berulang dan ramah lingkungan. Dan alternatif tersebut dapat menggunakan bahan dasar dari bonggol pisang yang difermentasi dijadikan bioethanol bonggol pisang.

Menurut Khairani (2007), Bioetanol adalah etanol yang diproduksi dengan cara fermentasi menggunakan bahan baku nabati. Bioetanol diproduksi dari bahan yang mangandung pati, seperti ubi kayu, ubi jalar, jagung, dan sagu. Bioetanol merupakan bahan bakar dari minyak nabati yang memiliki sifat menyerupai minyak premium

Pohon pisang (Musa Paradisiaca)  merupakan tanaman yang berasal dari kawasan Asia Tenggara. Menurut Rismunandar (1990), Pisang umumnya dapat tumbuh di dataran rendah sampai pegunungan dengan ketinggian 2000 mdpl. Pisang dapat tumbuh pada iklim tropis basah, lembab dan panas dengan curah hujan optimal adalah 1.520–3.800 mm/tahun dengan 2 bulan  kering.

Menurut Yuanita (2008), bonggol pisang memiliki komposisi yang terdiri dari 76% pati, 20% air. Menurut Munadjim (1983), bonggol pisang basah mengandung ±11% pati. Pati didapatkan melalui metode ekstraksi. Menurut Prihandana (2007), bahan berpati yang akan digunakan sebagai bahan baku bioetanol disarankan memiliki kadar pati tinggi, memiliki potensi hasil yang tinggi, fleksibel dalam usaha tani dan umur panen. Dapat disimpulkan bahwa potensi kandungan pati bonggol pisang yang besar dapat dimanfaatkan sebagai alternatif bahan bakar yaitu, bioetanol.

Berikut proses pembuatan pati dari bonggol pisang :

1.      Bonggol pisang dihancurkan kemudian diparut
2.      Pengepresan dan pembuangan ampas
3.      Pati basas dikeringkan
4.      Didapatlah pati kering

Proses Pembuatan Bioethanol

Isolasi Pati
Bonggol pisang dibuat kering bertujuan agar lebih awet dan menghilangkan kandungan airnya sehingga di peroleh bonggol yang kering dan dapat disimpan sebagai cadangan bahan baku (Anonim, 2008). Bonggol pisang yang kering digiling kemudian ditumbuk sehingga menjadi serbuk halus. Untuk mendapatkan pati yang homogeh maka serbuk bonggol pisang yang setelah ditumbuk haruas disaring dan diayak.

Hidrolisis Pati Menjadi Glukosa
Pada proses ini menentukan jumlah glukosa yang dihasilkan untuk kemudian dilakukan proses fermentasi. Menurut Musanif (2008), prinsip hidrolisis pati adalah pemutusan rantai polimer pati menjadi unit-unit dekstrosa atau monosakarida yaitu glukosa  (C6H12O6). Pemutusan ikatan pada pati atau karbohidrat menjadi glukosa dapat menggunakan beberapa metode di antaranya yaitu metode kimiawi (hidrolisis asam) dan metode enzimatis (hidrolisis enzim)

Fermentasi
Fermentasi adalah perubahan 1 mol glukosa menjadi 2 mol etanol dan 2 mol CO2. Proses fermentasi dilakukan dengan menambahkan yeast atau ragi untuk mengkonversi glukosa menjadi bioetanol yang bersifat anaerob yaitu, tidak memerlukan oksigen (O2).

Destilasi Bioethanol
Bioethanol hasil dari proses fermentasi kemudian disaring, filtrat dibuang dan didapatlah Bioethanol yang bebas dari kontaminan. Bioethanol dari proses destilasi pertama ini mempunyai kadar 95%.

Menurut Musanif (2008), destilasi merupakan proses pemisahan komponen berdasarkan titik didihnya, titik didih etanol murni sebesar 78oC, sedangkan air adalah 100oC, dengan pemanasan larutan pada suhu rentang 78 - 100oC akan mengakibatkan sebagian besar etanol menguap, dan melalui unit kondensasi akan bisa dihasilkan etanol dengan konsentrasi 95 % volume. Bioetanol dengan konsentrasi 95 % belum dapat dijadikan sebagai bahan bakar.

Menurut Nurdyastuti (2008), bioetanol yang digunakan sebagai campuran bahan bakar untuk kendaraan harus benar-benar kering dan anhydrous supaya tidak korosif, sehingga bioetanol harus mempunyai grade sebesar 99,5 – 100 % volume. Jadi untuk mendapatkan bioetanol dengan grade 99,5 – 100 % dengan cara destilasi vakum. Pada destilasi vakum ini memerlukan bahan yang dapat menyerap kandungan air, bahan tersebut adalah CaCO3 dan zeolit. Setelah itu didapatlah bioetanol yang lebih murni yang dapat digunakan untuk bahan bakar.

Bioetanol memiliki banyak manfaat karena dicampurkan dengan bensin pada komposisi berapapun memberikan dampak yang positif dalam mengurangi emisi yang dihasilkan oleh bahan bakar minyak (bensin). Pencampuran bioetanol absolut sebanyak 10 % dengan bensin 90 % sering disebut gasohol E-10 yang memiliki angka oktan 92 dibanding dengan premium hanya 87-88. Bioetanol dikenal sebagai octan enhancer (aditif) yang paling ramah lingkungan dibandingkan Tetra Ethyl Lead (TEL) maupun Methyl Tertiary Buthyl Ether (MTBE) (Anonim, 2008).

Daftar Pustaka

Nugroho, Triadi. 2012. Peluang Membuat Usaha Membuat Bensin dan Solar dari Bahan Nabati. Yogyakarta. Pustaka Mahardika

Rahmi, Fajariyah. 2015. Membuat Bahan Bakar Mesin Dari Bonggol Pisang. Dalam : http://mesinsakti.blogspot.co.id/2015/04/membuat-bahan-bakar-mesin-dari-bonggol.html (diakses pada tanggal 8 September 2017)

Belajar Fisika. 2012. Memanfaatkan Bonggol Pisang Sebagai Energi Alternatif Pengganti BBM. Dalam : http://belajarfisikafisika.blogspot.co.id/2012/03/memanfaatkan-bonggol-pisang-sebagai.html ( diakses pada tanggal 9 September 2017)

Ica Sujono. 2011. Memanfaatkan Limbah Batang Pisang Untuk Bahan Bakar. Dalam : http://rdsujono.blogspot.co.id/2011/03/memanfaatkan-limbah-batang-pisang-untuk.html ( diakses pada tanggal 9 September 2017)

Anonim. 2012. Proses Pembuatan Bioethanol dari Bonggol Pisang. Dalam : https://ikrimadotnet.wordpress.com/2012/02/17/proses-pembuatan-bioethanol-dari-bonggol-pisang/ (diakses pada tanggal 9 September 2017)