.

Tampilkan postingan dengan label @J28-LUTFI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label @J28-LUTFI. Tampilkan semua postingan

Senin, 04 Mei 2020

DARI USIA DINI UNTUK BUMI

Oleh : Lutfi Bayhaqi
Abstrak
Pendidikan memiliki peranan penting bagi manusia. Menurut Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang  Sistem Pendidikan Nasional menyatakan pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta  keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Selain itu juga menyebutkan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Pendahuluan
Pendidikan memiliki tujuan yang dapat dicapai melalui proses pendidikan. Proses pendidikan tentunya tidak terlepas dari lingkungan pendidikan. Lingkungan pendidikan memiliki ruang lingkup yang sangat luas. Arif Rohman (2009:195) berpendapat bahwa hubungan pendidikan dengan lingkungan ibarat makhluk hidup dalam ilmu ekologi dinyatakan selalu hidup dalam habitatnya. Pendidikan memliki tujuan yang mulia bagi kehidupan dan lingkungan manusia, tetapi sekarang semakin banyak kerusakan lingkungan yang terjadi di sekitar manusia. Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho menuturkan bahwa Pulau Jawa merupakan pulau yang paling rentan terjadi bencana. Sebab, daya dukung dan daya tampung lingkungan sudah terlampaui. Sekitar 130 juta jiwa penduduk tinggal di Jawa atau 59% dari penduduk Indonesia. Sutopo menjelaskan, tingginya angka kependudukan di Jawa otomatis pembangunan pun ekstraktif dilakukan. Hal ini yang akhirnya menyebabkan kerusakan lingkungan. (Liputan6.com Februari 2014).

Penanaman karakter sejak dini dapat menjadi dasar yang kuat bagi penanaman karakter peduli lingkungan. Karakter peduli lingkungan dapat ditanamkan berdasarkan kurikulum sekolah maupun program-program yang sudah direncanakan sekolah. Kementrian Pendidikan Nasional (2010:15) mengemukakan upaya penanaman pendidikan karakter peduli lingkungan melalui kurikulum sekolah dan proses pembelajaran. Undang-Undang RI No.32 tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup menambahkan salah satu cara untuk menanamkan karakter peduli lingkungan melalui kesehatan lingkungan sekolah.

Untuk memelihara dan menjaga lingku- ngan, banyak faktor yang perlu disertakan, di antaranya adalah pembelajaran geografi dengan pendekatan kelingkungannya di dalam kelas. Namun, pelajaran geografi saja tidak cukup, karena banyak mata pelajaran lain yang materinya berhubungan dengan lingkungan misalnya fisika. Untuk itu, perlu dintegrasikan materi-materi yang berkaitan dengan lingkungan, sehingga kesadaran lingkungan dapat ditumbuhkan, dan pada saatnya nanti bencana alam yang terjadi setiap tahun dapat dimi- nimalkan (Wesnawan, 2004). Dalam penelitian ini, peneliti mengintegrasikan terbentuknya karakter kepedulian lingkungan dalam matakuliah Fisika Lingkungan. Menurut Mulyani (2000) ada kaitan antara pendidikan, penge- tahuan Lingkungan Hidup seseorang dengan sikap terhadap pengelolaan lingkungan hidup. Adanya pengetahuan seseorang tentang suatu hal akan menyebabkan seseorang memiliki sikap tertentu. Dari sikap yang ada akan terben- tuk minat. Minat menentukan realisasi perilaku seseorang.
Problem Based Instruction (PBI) merupakan suatu metode atau pendekatan  pengajaran yang menggunakan masalah dunia nyata sebagai suatu konteks bagi siswa untuk belajar tentang cara berpikir kritis dan keterampilan pemecahan masalah, serta untuk memperoleh pengetahuan dan konsep yang essensial dari materi pelajaran. Problem Based Instruction menyajikan adanya situasi masalah autentik dan bermakna yang dapat memberikan kemudahan kepada siswa melakukan penyelidikan dan inkuiri (Nurhadi, 2004). Problem Based Instruction merupakan rangkaian aktivitas pembelajaran yang menekankan pada proses penyelesaian masalah. Menurut Sanjaya (2008) terdapat tiga ciri utama dari Problem Based Instruction. Pertama, PBI merupakan rangkaian aktivitas pembelajaran, artinya dalam implementasi PBI ada sejumlah kegiatan yang harus dilakukan siswa. PBI tidak mengharapkan siswa hanya sekedar  mendengarkan, mencatat, kemudian menghafal materi pelajaran, akan tetapi melalui PBI siswa aktif berpikir, berkomunikasi, mencari dan mengolah data, dan akhirnya menyimpulkan. Kedua, aktivitas menempatkan pembelajaran diarahkan untuk menyelesaikan masalah. Ketiga, pemecahan masalah dilakukan dengan menggunakan metode berpikir secara ilmiah. Proses berpikir ini dilakukan secara sistematis dan empiris, yakni melalui tahap-tahapan tertentu, dan berdasar- kan pada data dan fakta yang jelas.


DAFTAR PUSTAKA
Arif Rohman. (2009). Memahami Pendidikan & Ilmu Pendidikan. Yogyakarta: Laksbang Mediatama Yogyakarta.
Trahati R,M. (2015). Implementasi Pendidikan Karakter Peduli Lingkungan Di Sekolah Dasar Negeri Tritih Wetan 05 Jeruklegi Cilacap. Jurnal Pendidikan Guru Sekolah Dasar Edisi 12 Tahun ke IV Agustus 201. UNY Yogyakarta.
Wesnawan, G.A. 2004. Menumbuhkan Kesadaran Lingkungan melalui Pembelajaran Geografi. Jurnal Pendidikan dan Pengajaran IKIP Sin- garaja. No 1 tahun XXXVII Januari 2004
Nurhadi. 2004. Kurikulum 2004. Jakarta: Grasindo

Rabu, 29 April 2020

TPM (Total Productions Maintenance)

Oleh Lutfi Bayhaqi


Setiap perusahaan baik perusahaan manufaktur maupun jasa akan terus meningkatkan produktivitas perusahaannya dalam segala aspek. Dalam industri manufaktur, produktivitas suatu perusahaan dapat di lihat dari kemampuan perusahaan dalam menjalankan proses produksi secara efektif dan efisien. Semakin efisien sistem produksi perusahaan tersebut, maka semakin sedikit timbulnya kerugian akibat tidak tercapainya target produksi dalam aktivitas produksinya.
Usaha perbaikan pada industri manufaktur, dilihat dari segi peralatan, adalah dengan meningkatkan utilitas peralatan yang ada seoptimal mungkin dan memperpanjang umur ekonomisnya. Utilisasi dari peralatan pada rataan industri manufaktur adalah sekitar setengah dari kemampuan mesin yang sesungguhnya (Nakajima, 1988)
PT. Toyota Motor Manufacturing Indonesia. Dalam melakukan proses produksinya pada lini produksi mesin Stamping terjadi ketidaksesuaian hasil output produksi dengan target produksi yang ditentukan. Hal tersebut terjadi karena beberapa faktor penyebab yang menyebabkan mesin dan peralatan tidak dapat bekerja secara maksimal sehingga mesin tidak mencapai nilai effisiensi seperti yang telah ditetapkan oleh manajemen perusahaan.
Untuk itu pemeliharaan diterapkan pada peralatan yang bermasalah. Bermasalah disini berarti, terjadi kemerosotan dalam hal kualitas maupun kuantitas dari produk. Beberapa aspek dari pemeliharaan pencegahan biasanya merujuk pada kegiatan perbaikan (repair), perkiraan (predictive), dan pemeriksaan menyeluruh (overhaul). Hal ini juga disebabkan karena tidak adanya atau kurang efektifnya sistem atau metode yang mampu mengukur kinerja sesungguhnya dari peralatan dan memberikan solusi terhadap permasalahan yang ditemui. Salah satu metode pengukuran kinerja yang banyak digunakan oleh perusahaanperusahaan yang mampu mengatasi permasalahan-permasalahan machine/equipment adalah Overall Equipment Effectiveness (OEE). Metode ini merupakan bagian utama dari sistem pemeliharaan yang banyak diterapkan oleh perusahaaan Jepang, yaitu Total Productive Maintenance (TPM).  (Rahmad et al, 2012)
TPM (Total Produktion Maintenance) dengan menggunakan metode pengukuran OEE (Overall Equipment Efectivness) berguna sebagai metode pengukuran performasi mesin untuk melihat secara keseluruhan effektifitas mesin yang mencakup avaibility rate, performance rate, quality of rate.
Tujuan dari setiap TPM (Total Production Maintenance) adalah untuk menghilangkan kerugian yang terkait dengan perawatan peralatan atau, dengan kata lain menjaga agar peralatan hanya memproduksi produk yang baik secepat mungkin tanpa downtime yang tidak direncanakan. Produk untuk konsumen akhir dengan meminimalkan pengerjaan ulang, peralatan slow run dan down time, serta mengurangi limbah dari proses pembuatannya dengan cara mengurangi atau menghilangkan waktu produksi yang hilang akibat dari kegagalan mesin, dan memastikan bahwa mesin dan peralatan selalu tersedia untuk membuat produk (Nayak et al, 2013).
Menurut Heizer & Render (2010) pemeliharaan adalah semua aktivitas yang terlibat dalam menjaga peralatan suatu sistem agar tetap bekerja. Sedangkan menurut Assauri (2008) maintenance dapat diartikan sebagai kegiatan untuk memelihara atau menjaga fasilitas atau peralatan pabrik dan mengadakan perbaikan atau penyesuaian ataupun penggantian yang diperlukan supaya terdapat suatu keadaan operasi produksi yang memuaskan sesuai dengan apa yang direncanakan.
Nilai maksimalnya OEE (Overall Equipment Efectivness) adalah metrik yang awalnya dikembangkan untuk mengukur keberhasilan TPM (Total Production Maintenance) dengan mengaitkan enam kerugian besar dengan tiga terukur: ketersediaan, kinerja, dan mutu. OEE (Overall Equipment Efectivness) memungkinkan organisasi untuk mengukur dan memantau kemajuan mereka dengan metrik yang sederhana dan mudah dipahami. OEE (Overall Equipment Efectivness) menyediakan baik ukuran untuk keberhasilan TPM (Total Production Maintenance) dan kerangka kerja untuk mengidentifikasi area yang bisa diperbaiki (Nayak et al, 2013).
1.1.   Overall Equipment Efectiness (OEE)
Manajemen perbaikan modern tidak hanya untuk memperbaiki peralatan yang rusak secara cepat. Manajemen perbaikan yang modern adalah untuk menjaga suatu barang atau peralatan dapat bekerja dan berjalan dengan fungsi yang maksimal dan menghasilkan produk yang berkualitas dengan menekan biaya serendah mungkin (Muhtady, 2009),
Dalam suatu kegiatan proses produksi terdapat beberapa ukuran untuk mengetahui tingkat keberhasilan dan performa dari suatu mesin. Terdapat banyak faktor-faktor yang mendukung effektifitas suatu mesin. Faktor-faktor tersebut diantaranya adalah kegagalan mesin, kapasitas produksi, effissiensi waktu untuk menghasilkan produk, waktu siklus ideal, kinerja operator, penanganan kerusakan mesin, dan kegagalan proses.
Dalam mendukung efektifitas suatu mesin untuk menghindari faktor-faktor yang mengurangi efektifitas mesin, salah satunya dengan pemeliharaan. Jenis pemeliharaan sampai saat ini terbagi menjadi tiga cara yaitu pemeliharaan terencana (planned maintenance), pemeliharaan tak terencana (unplanned maintenance) dan pemeliharaan mandiri (Autonomous maintenance) berdasarkan Leong (2012) yang dikutip oleh Rimawan dan Raif (2016).
Nursanti dan Susanto (2014) menyebutkan bahwa pada praktiknya, seringkali usaha perbaikan yang dilakukan tersebut hanya pemborosan, karena tidak menyentuh akar permasalahan yang sesungguhnya. Hal ini disebabkan tim tidak mendapatkan dengan jelas akar permasalahan yang terjadi dan faktor-faktor penyebabnya, sehingga dalam upaya mengatasi masalah ini tim tidak efektif dalam mengatasinya.
Menurut Nakajima (Nakajima, 1988), terdapat enam kerugian peralatan yang menyebabkan rendahnya kinerja dari mesin dan peralatan, keenam kerugian tersebut di kenal dengan istilah Six Big Losses. Diperlukan suatu pengukuran untuk mengetahui kinerja perawatan mesin dan sebagai evaluasi untuk melakukan perbaikan yang dapat dilakukan untuk meningkatkan effektifitas mesin maupun perawatan yang sudah dilakukan. Dalam hal ini pengukuran yang dilakukan sesuai dengan kondisi dan factor komplek seperti tersebut di atas. Salah satu pendekatan yang dapat dilakukan adalah dengan menggunakan metode OEE (Overall Equipment Effectiveness) sebagai produk dari TPM (Total Production Maintenance yang konsepnya diperkenalkan oleh Seiichi Nakajima pada tahun 1971.
Dalam melakukan perencanaan kegiatan proses produksinya, PT.Toyota Motor Manufacturing Indonesia. khususnya pada lini produksi Mesin Press Line H mengalami ketidaksesuaian hasil output produksi dengan target produksi yang ditentukan. 
Hal ini mengindentifikasikan bahwa belum tercapai salah satunya parameter produktivitas perusahaan untuk menghasilkan produk sesuai target yang telah ditetapkan oleh perusahaan. Indikasi tersebut dapat di lihat dari output produksi per bulan yang dihasilkan oleh PT.Toyota Motor Manufacturing Indonesia pada bulan September 2019, di mana terlihat output yang dihasilkan per bulannya masih di bawah rencana atau target produksi yang diinginkan.
OEE (Overall Equipment Efectivness) adalah ukuran kinerja yang penting untuk efektivitas peralatan apapun, analisis yang cermat diperlukan untuk mengetahui efek berbagai komponen. Dari analisis efektivitas peralatan secara keseluruhan dan implementasi yang tepat dari TPM (Total Production Maintenance). Perusahaan akhirnya dapat mengurangi downtime mesin, meningkat output / bulan, ketersediaan waktu, efisiensi kinerja dan kinerja kualitas yang menghasilkan peningkatan OEE (Overall Equipment Efectivness) mesin (VivekPrabhu et al, 2014).
Pengukuran merupakan persyaratan penting untuk proses perbaikan terusmenerus. Hal ini diperlukan untuk menetapkan metrik yang sesuai untuk tujuan pengukuran. Dari perspektif generik, TPM (Total Produktion Maintenance) dapat didefinisikan dalam hal efektivitas peralatan secara keseluruhan OEE (Overall Equipment Efectivness), yang pada gilirannya dapat di anggap sebagai kombinasi antara perawatan operasi, manajemen peralatan, dan sumber daya yang tersedia (Gupta & Garg, 2012).
Tujuan utama mengambil studi ini di perusahaan adalah menghitung OEE (Overall Equipment Efectivness) yang memberi kita pemahaman tentang efisiensi mesin dan pada gilirannya memberikan persentase penggunaan mesin yang tepat untuk membantu kita mendeteksi kerusakan. Untuk mencapai standar baku dilakukan dengan mengidentifikasi dan mengukur 6 kerugian besar dari proses. Kerugian yang terjadi terutama adalah downtime, kehilangan kecepatan, kerugian kualitas yang mempengaruhi OEE (Overall Equipment Efectivness). Untuk meminimalkan kerugian ini dan untuk mencapai OEE (Overall Equipment Efectivness) 85%. Harus dilakukan upaya untuk mengurangi tingkat kejadian yang dibahas dalam enam bagian kerugian besar (Nayak et al, 2013)
Menurut Nakajima (Nakajima, 1988), pengukuran OEE (Overall Equipment Efectivness) adalah cara efektif untuk menganalisis efisiensi satu mesin atau sistem manufaktur terpadu. Ini adalah fungsi ketersediaan, tingkat kinerja, dan tingkat kualitas. Sebenarnya, tiga dimensi itu adalah ukuran kerugian peralatan. Dalam prakteknya, OEE (Overall Equipment Efectivness) di hitung sebagai produk dari tiga faktor pendukungnya. Di hitung untuk semua mesin sebelum dan sesudah implementasi (Gupta dan Garg, 2012).

Daftar Pustaka

Muhtady, M.Z.Z. 2009. Manajemen Pemeliharaan Untuk Optimalisasi Laba Perusahaan. Jurnal Pendidikan Akuntansi Indonesia, Vol. 8 (1) : 35-43.
Nakajima, S. 1988. Introduction to Total Productive Maintenance. Portland: Productivity  Press, Inc.
Nayak,D,M., Kumar,V., Naidu,G,S., Shankar,V. 2103. Evaluation of OEE in a continuous process industry on an insulation line in a cable manufacturing unit. International Journal of Innovative Research in Science, Engineering and Technology, 2(5), 1629-1634.

Sabtu, 21 Maret 2020

BAHASA INDONESIA DI PERKEMBANGAN ZAMAN NOW


Oleh : Lutfi Bayhaqi @J28-LUTFI
ABSTRAK

Bahasa itu dinamis, ia berkembang seiring dengan perkembangan peradaban manusia. Hal ini tidak terkecuali pada bahasa Indonesia yang merupakan bahasa nasional dan pemersatu masyarakat Indonesia. Di era Teknologi Informasi dan Komunikasi (Information and Communication Technology) sekarang ini, bahasa ini Indonesia mengalami perkembangan pesat. Perkembangan tersebut memicu perubahan-perubahan fundamental di dalam tubuh bahasa Indonesia yang selain membawa dampak positif juga membawa dampak negatif yang sangat krusial dalam proses pemertahanan eksistensi bahasa Indonesia di masa depan. Bahasa adalah sebuah identitas dari suatu negara ataupun wilayah yang digunakan sebagai alat komunikasi utama dalam menjalani kehidupan. Setiap manusia membutuhkan bahasa ketika akan berinteraksi, mengungkapkan ide dan pendapat serta hubungan sosial lainnya dengan manusia lainnya. Dalam perkembangannya pemakaian bahasa Indonesia mulai bergeser digantikan dengan pemakaian bahasa anak remaja yang disebut bahasa gaul. Pemakaian bahasa gaul tidak hanya dipakai oleh remaja, tak jarang orang berpendidikan pun menggunakan bahasa gaul ini, baik dalam bentuk lisan maupun tulisan, baik dalam waktu formal maupun non formal mengakibatkan penggunaan bahasa menjadi tidak baik dan tidak benar.

KATA KUNCI : Perkembangan, Bahasa Indonesia dalam kehidupan

PENDAHULUAN

Di era yang sedemikian pesat ini, Teknologi Informasi dan Komunikasi memegang kendali atas peradaban manusia. Dominasi IT pada setiap kehidupan manusia tergambar dalam pola keseharian manusia dewasa ini, seperti penggunaan telepon seluler canggih, sosial media, komputer, browsing, dan sebagainya. Dalam menggunakan berbagai media informasi tersebut, tentu saja bahasa teks masih menjadi fitur standar yang dipakai, meskipun saat ini perlahan fitur tersebut mulai beralih ke bahasa audio. Untuk itulah maka para pengguna teknologi informasi diharuskan menguasai bahasa yang dipakai pada suatu teknologi informasi tersebut, sebab bahasa merupakan penghubung tunggal antara pengguna dengan teknologi informasi yang digunakan.

Berdasarkan pada hal tersebut, bahasa dan Teknologi Informasi dan Komunikasi mengalami perkembangan yang seiringsejalan. Kemajuan Teknologi Informasi dan Komunikasi akan berpengaruh langsung pada perkembangan bahasa yang digunakan dalam berinteraksi menggunakan perangkat Teknologi.
PERMASALAHAN

Kondisi bahasa Indonesia, terutama di era ini mengalami perubahan yang sangat drastis. Terbentuknya masyarakat cyber, serta menjamurnya regulasi atau kebijakan yang dibuat pemerintah untuk membuka ‘jendela global’ melalui Teknologi Informasi dan Komunikasi, secara langsung mengakibatkan terjadinya perubahanperubahan dalam penggunaan bahasa Indonesia dalam kehidupan sehari-hari. Dampak yang terjadi adalah tergerusnya nilai - nilai sosial dan hilangnya penghargaan terhadap budaya lokal, sebab bahasa Indonesia adalah simbol jati diri bangsa. Hilangnya jati diri bangsa berarti hilangnya masa depan yang berusaha dibangun oleh suatu bangsa. Serta pengaruh kondisi kecanggihan teknologi dari luar yang membawa dampak yang buruk terhadap berkurangnya penggunaan Bahasa Indonesia yang baik dan benar.

Agar lebih jelas mengenai pengertian bahasa yang baik dan benar,sebagai berikut ini contohnya :
·         Dalam rapat kantor, seorang pejabat fakultas memulai rapat resmi dengan pemakaian bahasa Indonesia seperti kalimat berikut. “Bapak-bapak dan saudarasaudara sekalian, ayo deh, kite mulai aje rapat kali ini, ntar keburu ujan”. Okey you dah pada siap kan?. (Apa jadinya apabila pejabat fakultas memulai acara rapat formal dengan kalimat seperti itu?) tentu saja akan merubah suasana menjadi tidak formal dan berwibawa. Kalimat di atas merupakan penggunaan bahasa Indonesia yang tidak baik dan benar. Karena kalimat yang digunakan tidak memenuhi persyaratan kebaikan dan kebenaran.
·         Dalam rapat di kantor, seorang pjabat Universitas memulai rapat resmi dengan pemakaian bahasa Indonesia seperti kalimat berikut ini. “Bapak-bapak dan ibuibu, acara rapat senat siang ini marilah kita buka bersama-sama dengan membaca basmalah. “Kalimat tersebut benar, karena kalimat yang digunakan memenuhi persyaratan kebaikan dan kebenaran.


Kesimpulan
Dalam urainan diatas dapat dismpulkan bahwa bahasa Indonesia yang baik dan benar adalah bahasa Indonesia yang dalam penggunaan nya sesuai dengan kaidah tata bahasa.Kaidah bahasa yaitu kaidah bahasa Indonesia baku atau yang danggap baku. Bahasa merupakan unsur yang sangat vital dalam berkomunikasi, yakni sebagai alat komunikasi yang paling utama. Bahasa mempunyai kedudukan yang sangat penting bagi kehidupan manusia. Dalam melaksanakan hubungan sosial dengan sesamanya, manusia sudah menggunakan bahasa sebagai alat komunikasi sejak berabad-abad silam.


DAFTAR PUSTAKA
Alatas, dkk. 2006. Penggunaan Ragam Bahasa Gaul Dikalangan Remaja. Jakarta:  PT. Gramedia
Badudu, J.S. 1989. Inilah Bahasa Indonesia yang Benar. Jakarta:  PT. Gramedia
Ening Herniti dkk.2005.Bahasa Indonesia.Yogyakarta:Pokja Akademik UIN sunan kalijaga Yogyakarta.
Anum Putri R. Menumbuhkan Bahasa Indonesia yang Baik dan Benar dalm Pendidikan dan Pengajaran.

Jumat, 20 Maret 2020

MAITENANCE

MAINTENANCE
@J28_LUTFI
Abstrak
Dalam  industri  manufacture,  maintenance memegang peranan yang sangat penting. Hal ini disebabkan  apabila  mesin  sering  terjadi kerusakan pada  tengah-tengah proses  produksi maka  proses  produksi akan berhenti,