.

Tampilkan postingan dengan label @J35-CHELLINE. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label @J35-CHELLINE. Tampilkan semua postingan

Kamis, 07 Mei 2020

PENDIDIKAN BERBASIS KEARIFAN LOKAL SEBAGAI DAYA SAING BANGSA

Oleh : Chelline Jihan Sasmita (J35-CHELLINE)


ABSTRAK

Pendidikan merupakan usaha yang disengaja dan terencana untuk membantu perkembangan dan potensi kemampuan individu agar bermanfaat bagi kepentingan hidupnya baik sebagai individu maupun dalam anggota masyarakat.

Rabu, 29 April 2020

PENERAPAN GREEN BUILDING DALAM DUNIA INTERIOR DI INDONESIA


PENERAPAN GREEN BUILDING DALAM
DUNIA INTERIOR DI INDONESIA
Oleh : Chelline Jihan Sasmita (J35-CHELLINE)


ABSTRAK

Sarana dan prasarana fisik, atau sering disebut dengan infrastuktur, merupakan bagian yang sangat penting dalam sistem pelayanan masyarakat. Demikian luasnya cakupan layanan masyarakat, maka peran infrastruktur dalam mendukung dinamika suatu negara menjadi sangatlah penting artinya. Wacana soal green building tapi pasti mulai menembus dunia bangunan dan interior di Indonesia. Namun wacana tersebut sudah mulai di realisasikan di Indonesia sendiri. Indonesia sebagai negara tropis sangat membutuhkan konsep bangunan green building ditengah kota besar yang padat merayap. Green building adalah bangunan gedung hijau dan sesisi peraturan atau ketentuan yang berlaku dalam pergub DKI Jakarta. Keberadaan asosiasi bangunan gedung hijau di Indonesia juga akan di perhatikan dampaknya.

KATA KUNCI : Penerapan, Green Building, Interior, Indonesia dan Pergub DKI Jakarta.

PENDAHULUAN

Implementasi awal konstruksi bangunan yang ramah lingkungan cenderung menghabiskan biaya yang tidak sedikit. Oleh karenanya sedikit pengembang yang mau menerapkan prinsip ramah lingkungan untuk bangunan ini. Padahal kegunaannya sendiri sangat penting dalam rangka menghemat energi bangunan di masa mendatang. Teknologi ramah lingkungan telah ramai dikampanyekan, masyarakat dikenalkan dengan konsep ramah lingkungan, misal prinsip pemisahan sampah organik dan anorganik, serta penggunaan plastik dan sabun yang bisa terdegradasi. Selain itu perusahaan-perusahaan juga mulai diwajibkan untuk menggunakan teknologi yang ramah lingkungan dan penanganan pengolahan limbah sesuai dengan standard yang telah ditetapkan oleh pergub DKI Jakarta nomor 38 tahun 2012 tentang Bangunan Gedung Hijau.
Indonesia merupakan negara tropis yang dilewati oleh garis katuliswa sehingga dilimpahi sinar matahari yang cukup sepanjang tahun, serta suhu yang cukup stabil. Dengan memperhatikan kondisi geografis tersebut, maka energi alternatif matahari sangat cocok diterapkan di Indonesia. Konstruksi bangunan ramah lingkungan (green building) juga harus memperhatikan unsur penggunaan bahan/material dan bentuk bangunan yang mampu mengurangi penggunaan lampu untuk pencahayaan, AC untuk pendingin, sistem pembuangan yang baik.

PERMASALAHAN

Keterbatasan lahan di kota-kota besar membuat pencarian lokasi yang pas untuk membangun sebuah bangunan yang menerapkan prinsip green building menjadi tidaklah mudah. Selain itu, harga lahan di tempat yang sesuai dengan pembangunan bangunan relatif memiliki harga yang lebih mahal. Tingginya biaya awal untuk membangun sebuah bangunan yang menerapkan konsep ramah lingkungan. Tingginya biaya ini berkaitan dengan beberapa material yang akan dipakai untuk sebuah bangunan. Bahan bangunan pun relatif lebih sulit untuk dicari dibandingkan dengan bangunan standar untuk membangun sebuah bangunan. Konsep apa yang nantinya akan dibuat dalam green building di interior di Indonesia dengan pedoman pergub DKI Jakarta nomor 38 tahun 2012 tentang Bangunan Gedung Hijau.

PEMBAHASAN

1. Definisi Green Building

Green building (juga dikenal sebagai konstruksi hijau atau bangunan yang berkelanjutan) mengacu pada struktur dan menggunakan proses yang bertanggung jawab terhadap lingkungan dan sumber daya yang efisien di seluruh siklus hidup-bangunan: mulai dari penentuan tapak untuk desain, konstruksi, operasi, pemeliharaan, renovasi pembongkaran, dan. Hal ini membutuhkan kerjasama yang erat dari tim desain, arsitek, insinyur, dan klien di semua tahapan proyek. Praktik Green Building memperluas dan melengkapi desain bangunan klasik keprihatinan, ekonomi, utilitas, daya tahan, dan kenyamanan.
Peraturan Gubernur (Pergub) tentang bangunan gedung hijau disusun dalam rangka mewujudkan pembangunan gedung yang bertanggung-jawab terhadap lingkungan dan pemanfaatan sumber daya yang efisien. Penyelenggara pembangunan gedung di wilayah provinsi DKI Jakarta  baik baru maupun eksisting harus mengimplementasikan peraturan ini dalam proyek mereka.

2. Konsep Green Building

Dengan semakin langka dan terbatasnya sumberdaya alam dan energi. Memaksa manusia untuk mengembangkan bangunan yang ramah lingkungan dan hemat energi, atau yang dikenal dengan Green Building. Konsep Green Building menekankan pada peningkatan efisiensi penggunaan air, energi dan material bangunan, yang dapat mengurangi dampak bangunan baru terhadap lingkungan dan kesehatan manusia. Misalnya desain double skin pada bagian luar bangunan yang dapat menurunkan beban panas di dalam ruangan hingga 30 persen, sehingga penggunaan pendingin ruangan dapat dihemat.
Pemakaian material/bahan bangunan yang banyak digunakan seperti kaca, beton, kayu, asphalt, baja dan jenis metal lainnya ditengarai dapat menimbulkan efek pemanasan global yang signifikan dan menyebabkan perubahan iklim di dunia. Ingat kan penggunaan kaca gelap/ kaca yag dapat memantulkan cahaya matahari yang biasanya digunkan pada gedung-gedung tinggi/bertingkat yang biasa disebut dengan kaca film ribben. Jelas-jelas itu sangat merugikan karena menghantarkan cahaya matahari kembali ke atmosfer bumi dan terjadilah penumpukan sehingga suhu bumi semakin panas. Empat aspek utama yang perlu dipertimbangkan dalam membangun green building yaitu:

1.       Material
Material yang digunakan untuk membangun haruslah diperoleh dari alam, merupakan sumber energi terbarukan yang dikelola secara berkelanjutan, atau bahan bangunan yang didapat secara lokal untuk mengurangi biaya transportasi. Daya tahan material bangunan yang layak sebaiknya tetap teruji, namun tetap mengandung unsur bahan daur ulang, mengurangi produksi sampah, dan dapat digunakan kembali atau didaur ulang.

2.       Energi
Penerapan panel surya diyakini dapat mengurangi biaya listrik bangunan. Selain itu, bangunan juga selayaknya dilengkapi jendela untuk menghemat penggunaan energi (terutama untuk lampu serta AC). Untuk siang hari, jendela sebaiknya dibuka untuk mengurangi pemakaian listrik. Jendela tentunya juga dapat meningkatkan kesehatan dan produktivitas penghuninya. Menggunakan lampu hemat energi, peralatan listrik hemat energi lain, serta teknologi energi terbarukan seperti turbin angin dan panel surya.

3.       Air
Penggunaan air dapat dihemat dengan menginstal sistem tangkapan air hujan. Cara ini akan mendaur ulang air yang misalnya dapat digunakan untuk menyiram tanaman atau menyiram toilet. Gunakan pula peralatan hemat air, seperti pancuran air beraliran rendah, tidak menggunakan bathtub di kamar mandi, menggunakan toilet flush hemat air atau toilet kompos tanpa air, dan memasang sistim pemanas air tanpa listrik.

3. Ketentuan Pergub DKI Jakarta No. 38/2012

Bangunan gedung yang harus memenuhi persyaratan bangunan gedung hijau adalah bangunan gedung dengan luas tertentu sesuai fungsinya.yaitu lebih dari 50 000 M2 untuk fungsi hunian, usaha perkantoran, perdagangan, dan fungsi campuran, serta lebih dari 20 000 M2 untuk fungsi usaha, dan sosial budaya.

• Persyaratan teknis bangunan gedung hijau untuk bangunan gedung baru meliputi :

A.  Efisiensi energi, Untuk mengefisienkan beban pendingin ruangan, perencanaan selubung bangunan harus merencanakan selubung bangunan dengan menghitung OTTV tidak melebihi 45 (empat puluh lima) watt/m2 (telah diperbarui menjadi 35 watt/m2 menurut SNI tahun 2011). Perencanaan mengenai OTTV mengacu pada SNI 03-6389-2011 tentang Konservasi Energi Selubung Bangunan pada Bangunan Gedung.

B.  Ventilasi, Ventilasi alami digunakan selama memungkinkan untuk meminimalkan beban pendinginan. Perencanaannya mengacu pada versi terakhir dari SNI 036572 tentang Tata Cara Perancangan Sistem Ventilasi dan Pengkondisian Udara pada Bangunan Gedung.   Perencanaan temperatur udara dalam ruang hunian ditetapkan serendah-rendahnya 25ÂșC (dua puluh lima derajat celcius)  dan kelembaban relatif 60% (enam puluh persen) ± 10% (kurang lebih sepuluh persen) dan untuk mempertahankan kondisi termal dimaksud ruangan diperlukan sensor temperatur.

C.   Pencahayaan, Sistem pencahayaan alami harus menjadi bagian integral dari perencanaan sistem tata cahaya bangunan gedung. Perencanaannya mengacu pada versi terakhir dari SNI 03-2396 tentang Tata Cara Perancangan Sistem Pencahayaan Alami pada Bangunan Gedung. Pencahayaan buatan digunakan pada kondisi pencahayaan alami yang tidak memenuhi standar tingkat pencahayaan (iluminasi).

D.  Sarana Transportasi, Perencanaan sarana transportasi vertikal bangunan gedung harus mempertimbangkan beban dan waktu penggunaan. Perencanaannya mengacu pada versi terakhir dari SNI 03-6573 tentang Tata Cara Perancangan Sistem Transportasi Vertikal dalam Gedung.

E.  Hemat energi, Perencanaan sistem kelistrikan harus menggunakan  peralatan listrik yang hemat energi. Perencanaan bangunan gedung hijau menggunakan Sistem Pengendalian Energi/Building Management Systems (BMS), kecuali bangunan gedung dengan fungsi pelayanan pendidikan. Kriteria efisensi air meliputi: a. perencanaan peralatan saniter hemat air; dan b. perencanaan pemakaian air.

F.    Pengudaraan, Perencanaan kualitas udara dalam ruang harus memenuhi ketentuan peraturan perundang-undangan dengan memperhitungkan laju pergantian udara dalam ruang dan masukan udara segar. Refrigeran tata udara yang digunakan harus mengandung material yang aman dan tidak berbahaya bagi penghuni dan lingkungan, dan harus menggunakan bahan yang tidak mengandung Chloro Fluoro Carbon (CFC). Persyaratan tata ruang meliputi : a. perencanaan lanskap pada dan/atau di dalam bangunan gedung serta di luar bangunan gedung; dan b. perencanaan sistem penampungan air hujan. 

G.   Vegetasi, Perencanaan dan pelaksanaan penanaman vegetasi alami pada dan/atau di dalam bangunan gedung, dilakukan dengan kriteria luas area penanaman minimal 15%, 30%, dan 45% masing-masing untuk bangunan dengan jumlah lantai lebih dari 5 lantai, antara 5 – 9 lantai, dan lebih dari 9 lantai. Perencanaan dan pelaksanaan penanaman vegetasi alami pada dan/atau di dalam bangunan gedung dilakukan dengan metode : a. penghijauan atap datar (green roof); b. pembuatan taman di dalam bangunan gedung (inner court/interior scape); dan/atau c. penghijauan vertikal (vertical greenery).

H.    Konstruksi, Persyaratan pelaksanaan kegiatan konstruksi meliputi : a. keselamatan, kesehatan kerja dan lingkungan;  b. konservasi air pada saat pelaksanaan kegiatan konstruksi (water conservation management); dan c. pengelolaan limbah B3 kegiatan konstruksi (hazardous construction waste management). Kebisingan yang ditimbulkan dari aktivitas pelaksanaan konstruksi di lapangan tidak boleh melampaui ambang batas kebisingan yang ditetapkan dalam ketentuan teknis yang berlaku.

4. Konstruksi dan Material Rumah Ramah Lingkungan

Terdapat banyak aspek yang harus diperhatikan ketika merancang sebuah rumah. Berikut ini adalah berbagai contoh yang telah ditawarkan/dicontohkan oleh para arsitektur yang peduli akan lingkungannya. Pertama, kita bisa meniru konsep rumah pangung. Dengan adanya jarak antara tanah dengan lantai, maka area tanah dibawah lantai masih bisa berfungsi untuk penyerapan air. Hal ini bisa bermanfaat untuk mengurangi banjir. Kedua, harus diperhatikan masalah pencahayaan. Jika rumah mempunyai titik-titik masuknya cahaya yang cukup, maka akan mengurangi penggunaan lampu pada siang hari. Selanjutnya yang ketiga adalah masalah ventilasi, jika pertukaran udara di rumah cukup, maka akan mengurangi penggunaan AC maupun kipas angin, ditambah lagi jika rumah mempunyai ruang terbuka hijau maka udara yang keluar masuk rumah akan lebih bersih.
Berikut ini adalah contoh berbagai bahan yang bisa dipilih untuk menghasilkan sebuah rumah yang ramah lingkungan. Gunakan sumber daya yang bisa diperbarui. Sumber daya yang bisa diperbarui misalnya material bangunan dari kayu, bebatuan dan semacamnya yang pada umumnya adalah material alami yang banyak terdapat di lingkungan sekitar dan mudah untuk diperbarui kembali. Low E-Glass, yang bisa digunakan untuk kaca jendela yang akan menyerap panas sehingga ruangan tidak akan terlalu panas dan berarti penggunaan AC juga bisa dihemat. Rain Harversting yang memanfaatkan air hujan dengan cara menampungnya dan digunakan kembali untuk kebutuhan sehari-hari seperti menyiram tanaman sampai untuk toilet. Storage Heating adalah penyimpanan sumber panas yang nantinya akan digunakan untuk menghangatkan ruangan pada saat suhu dingin tiba, sehingga penggunaan mesin penghangat ruangan (heater) dapat dikurangi. Penggunaan bahan Photocatalytic pada permukaan dinding bagian luar yang akan mengkonversi organic yang berbahaya menjadi tidak berbahaya.

5. Upaya-Upaya untuk Mewujudkan Green Construction dan Green Building:

  1. Membangun kesadaran masyarakat akan pentingnya Green Construction bagi dunia pembangunan di Indonesia.
  2. Membuat bangunan-bangunan yang berbahan dasar ramah lingkungan
  3. Mengatur tata letak kota yang sesuai dengan konsep Green Construction yang berwawasan lingkungan.
  4. Membangun sistem bangunan yang effisien dalam menggunakan energi.
  5. Membangun Green Construction dengan menggunakan material yang dapat di perbaharui, didaur ulang, dan digunakan kembali serta mendukung konsep efisiensi energi.
  6. Mengolah limbah-limbah yang bermanfaat untuk dijadikan material bahan dasar.
  7. Membangun Green Construction yang sesuai dengan kondisi alam, dan iklim wilayah Indonesia.
  8. Inovasi untuk mengembangkan green building terus dilakukan sebagai upaya untuk menghemat energi dan mengurangi masalah-masalah lingkungan.
  9. Pemilihan material yang pas agar Green Building bisa bertahan lebih lama.
  10. Penggunaan teknologi-teknologi yang sesuai dan ramah lingkungan agar tidak merusak ekosistem sekitar

6. Manfaat Green Construction dan Green Building:

Seperti dilansir dari Solidiance, Rabu (13/7/2016), berikut adalah manfaat dari adanya bangunan yang menggunakan konsep green building atau bangunan hijau.

1.       Penggunaan energi menurun
2.       Mengurangi limbah air
3.       Melestarikan sumber daya alam
4.       Meminimalisir limbah dan daur ulang limbah
5.       Meningkatkan produktivitas karyawan

KESIMPULAN

Green building (juga dikenal sebagai konstruksi hijau atau bangunan yang berkelanjutan) mengacu pada struktur dan menggunakan proses yang bertanggung jawab terhadap lingkungan dan sumber daya yang efisien di seluruh siklus hidup-bangunan: mulai dari penentuan tapak untuk desain, konstruksi, operasi, pemeliharaan, renovasi pembongkaran, dan. Hal ini membutuhkan kerjasama yang erat dari tim desain, arsitek, insinyur, dan klien di semua tahapan proyek.
Terhadap bangunan gedung dengan luas dan kriteria tertentu yang wajib melaksanakan ketentuan bangunan gedung hijau sebagaimana diatur dalam Peraturan Gubernur ini, diberikan masa peralihan paling lama 1 (satu) tahun untuk menyesuaikan dengan ketentuan Peraturan Gubernur ini.
Pemilihan material untuk membangun sebuah rumah juga akan berpengaruh terhadap efek keramah-tamahan lingkungan yang sedang gencar-gencarnya dikampanyekan. gunakanlah sumber daya yang bisa diperbarui. Sumber daya yang bisa diperbarui misalnya material bangunan dari kayu, bebatuan dan semacamnya yang pada umumnya adalah material alami yang banyak terdapat di lingkungan sekitar dan mudah untuk diperbarui kembali. Selanjutnya bisa menggunakan kembali material bangunan yang masih layak pakai, dan mengolah limbah atau material sisa bangunan untuk dapat dimanfaatkan kembali. Perancangan rumah yang hemat energi dan ramah lingkungan harus memperhatikan aspek kecukupan cahaya, ventilasi, konstruksi, pengudaraan, material dan sanitasi.

DAFTAR PUSTAKA



Sabtu, 21 Maret 2020

PERKEMBANGAN DAN RAGAM BAHASA INDONESIA PADA ERA TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI



PERKEMBANGAN DAN RAGAM BAHASA INDONESIA PADA ERA TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI
Oleh : Chelline Jihan Sasmita (J35-CHELLINE)


ABSTRAK

Bahasa itu dinamis, ia berkembang seiring dengan perkembangan peradaban manusia. Hal ini tidak terkecuali pada bahasa Indonesia yang merupakan bahasa nasional dan pemersatu masyarakat Indonesia. Di era Teknologi Informasi dan Komunikasi (Information and Communication Technology) sekarang ini, bahasa ini Indonesia mengalami perkembangan pesat. Perkembangan tersebut memicu perubahan-perubahan fundamental di dalam tubuh bahasa Indonesia yang selain membawa dampak positif juga membawa dampak negatif yang sangat krusial dalam proses pemertahanan eksistensi bahasa Indonesia di masa depan.

KATA KUNCI : Perkembangan, Bahasa Indonesia, Teknologi Informasi dan Komunikasi

PENDAHULUAN

Di era yang sedemikian pesat ini, Teknologi Informasi dan Komunikasi memegang kendali atas peradaban manusia. Dominasi IT pada setiap kehidupan manusia tergambar dalam pola keseharian manusia dewasa ini, seperti penggunaan telepon seluler canggih, sosial media, komputer, browsing, dan sebagainya. Dalam menggunakan berbagai media informasi tersebut, tentu saja bahasa teks masih menjadi fitur standar yang dipakai, meskipun saat ini perlahan fitur tersebut mulai beralih ke bahasa audio. Untuk itulah maka para pengguna teknologi informasi diharuskan menguasai bahasa yang dipakai pada suatu teknologi informasi tersebut, sebab bahasa merupakan penghubung tunggal antara pengguna dengan teknologi informasi yang digunakan.

Berdasarkan pada hal tersebut, bahasa dan Teknologi Informasi dan Komunikasi mengalami perkembangan yang seiringsejalan. Kemajuan Teknologi Informasi dan Komunikasi akan berpengaruh langsung pada perkembangan bahasa yang digunakan dalam berinteraksi menggunakan perangkat Teknologi Informasi dan Komunikasi tersebut.

PERMASALAHAN

Kondisi bahasa Indonesia, terutama di era ini mengalami perubahan yang sangat drastis. Terbentuknya masyarakat cyber, serta menjamurnya regulasi atau kebijakan yang dibuat pemerintah untuk membuka ‘jendela global’ melalui Teknologi Informasi dan Komunikasi, secara langsung mengakibatkan terjadinya perubahanperubahan dalam penggunaan bahasa Indonesia dalam kehidupan sehari-hari. Dampak yang terjadi adalah tergerusnya nilai - nilai sosial dan hilangnya penghargaan terhadap budaya lokal, sebab bahasa Indonesia adalah simbol jati diri bangsa. Hilangnya jati diri bangsa berarti hilangnya masa depan yang berusaha dibangun oleh suatu bangsa. Serta pengaruh kondisi kecanggihan teknologi dari luar yang membawa dampak yang buruk terhadap berkurangnya penggunaan Bahasa Indonesia yang baik dan benar.

PEMBAHASAN

1. Perkembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi

Menurut Haag dan Keen dalam Renol (2010: 38) Teknologi Informasi adalah seperangkat alat yang membantu anda bekerja dengan informasi dan melaksanakan tugas-tugas yang berhubungan dengan pemrosesan informasi, ini berlaku juga untuk alat komunikasi. Haag mengklasifikasikan ITC ke dalam dua pengertian dengan aspek yang berbeda, yaitu:
  • Teknologi informasi meliputi segala hal yang berkaitan dengan proses, penggunaan sebagai alat bantu, manipulasi, dan pengelolaan informasi.
  • Teknologi komunikasi adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan penggunaan alat bantu untuk memproses dan mentransfer data dari perangkat yang satu ke lainnya.
Menurut William (2007), Di awal sejarah manusia bertukar informasi melalui komunikasi, yaitu; bahasa. Dengan demikian, bahasa adalah teknologi. Bahasa memungkinkan seseorang memahami informasi yang disampaikan oleh orang lain tetapi itu tidak bertahan lama karena setelah ucapan selesai, maka informasi yang berada di tangan si penerima akan dilupakan dan tidak bisa tersimpan lama. Perkembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi memasuki babak baru ketika ditemukannya huruf alfabet yang memudahkan cara penyampaian informasi yang lebih efisien dari cara yang sebelumnya. Suatu gambar yang mewakili suatu peristiwa dibuat dengan kombinasi alfabet yang secara lugas menceritakan peristiwa secara lugas dan jelas. Teknologi dengan alfabet ini memudahkan dalam penulisan informasi itu, juga dalam hal berkomunikasi, yakni melalui surat dan lain-lain. Kemudian, teknologi percetakan memungkinkan pengiriman informasi lebih cepat lagi. Teknologi elektronik seperti radio, televisi, komputer mengakibatkan informasi menjadi lebih cepat tersebar di area yang lebih luas dan lebih lama tersimpan.

2. Hubungan Bahasa dan TIK

Bahasa adalah alat penghubung antar manusia. Keraf dalam Smarapradhipa (2005:1), memberikan pengertian bahasa sebagai alat komunikasi antara anggota masyarakat berupa simbol bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia. Bahasa adalah alat penghubung dalam komunikasi baik verbal maupun non-verbal yang dilakukan oleh manusia. Setiap negara/kelompok sosial masyarakat dipastikan memiliki bahasanya masing-masing. Tanpa bahasa tentu manusia tidak dapat membangun kehidupan sosialnya.

Perkembangan bahasa dan Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam catatan sejarah cenderung menunjukan keterkaitan. Kecenderungan Teknologi Informasi itu menunjukkan bahwa Teknologi Informasi dan Komunikasi sebagai sebuah perangkat (benda) mati yang paling banyak mempengaruhi perkembangan bahasa. Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam perkembangannya berhasil melahirkan kosakata-kosakata baru yang memperkaya khazanah kosakata dan istilah bahasa Indonesia di zaman modern. Contohnya adalah kata/huruf E, Chat, Mobile, Browse, Download, Upload, dan sebagainya yang belakangan muncul dan berkembang menjadi tidak hanya sebatas nama perangkat, tetapi juga dalam komunikasi sehari-hari dengan konteks yang lain. Hal ini kemudian berpengaruh lebih jauh, sebab bahasa tersebut ketika masuk ke suatu negara dianggap sebagai bahasa asing oleh negara konsumen. Akibatnya, negara-negara tersebut membuat terjemahan sendiri atas kosakata dan istilah baru tersebut yang kebanyakan juga adalah kosakata yang belum pernah didengar sebelumnya.

3. Bahasa Indonesia pada Era Teknologi Informasi dan Komunikasi

         Bahasa Indonesia yang dijadikan sebagai bahasa resmi Republik Indonesia dan bahasa persatuan bangsa Indonesia. Bahasa Indonesia diresmikan penggunaannya setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, tepatnya sehari sesudahnya, bersamaan dengan mulai berlakunya konstitusi. Bahasa Indonesia secara resmi diakui sebagai bahasa nasional pada saat Sumpah Pemuda tanggal 28 Oktober 1928.

          Harus diakui bahwa bahasa Indonesia tidak kebal terhadap pengaruh globalisasi. Hal ini disebabkan oleh perkembangan teknologi yang juga sangat cepat, sehingga komunikasi antar manusia di negara-negara yang terpisah jauh pun dapat dilakukan dengan praktis tanpa perlu memakan waktu lama. Kemudahan ini membuat informasi dapat bergerak dari satu tempat ke tempat lain dengan waktu yang relatif singkat. Percepatan perpindahan informasi ini kemudian juga mempercepat proses keterkaitan dan ketergantungan antarmanusia. Hubungan-hubungan langsung seperti perdagangan pun dipererat dengan adanya berbagai metode untuk berinteraksi, misalnya dengan menggunakan jaringan internet, telepon, atau surat elektronik. Hal-hal tersebut berperan penting dalam menyebarkan informasi ke seluruh dunia dan membentuk masyarakat berbasis internet (internet based society).

4. Dampak Perkembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi Terhadap Bahasa Indonesia

      Perkembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi secara langsung memberikan dampak terhadap penggunaan bahasa Indonesia baik yang bersifat postif maupun negatif.

1.1. Dampak Positif 
  • Meningkatnya pengetahuan masyarakat dunia terhadap bahasa Indonesia dimana menurut catatan Wall Street Journal bahwa jumlah pengguna media sosial Facebook di Indonesia menyentuh angka 59 juta pengguna sedangkan pengguna media sosial Twitter di Indonesia adalah 50 juta pengguna. Ini tentu berpengaruh 156 secara signifikan pada meningkatnya pengetahuan masyarakat dunia terhadap masyarakat dan bahasa Indonesia.
  • Meningkatnya produksi buku-buku terjemahan ke dalam bahasa Indonesia. Banyaknya buku terjemahan ini selain sebagai pengayaan literature juga merupakan sebuah media pembauran kesusasteraan antar bangsa.
  • Bertambahnya kosakata dalam Bahasa Indonesia.
  • Bahasa Indonesia sebagai kandidat bahasa Internasional.
1.2. Dampak Negatif 
  • Tidak lagi menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar, salah satu contoh adalah penggunaan media sosial oleh remaja yang cenderung menggunakan bahasa gaul di media sosial dari pada bahasa Indonesia yang baik dan benar.
  • Tergerusnya budaya asli Indonesia Masyarakat global yang lebih terbuka menawarkan budaya baru yang lebih mudah dipilih oleh generasi muda.
  • Campur Kode Banyak masyarakat lebih bangga menggunakan istilah asing atau mencampur bahasa Indonesia dengan bahasa asing baik secara lisan maupun tulisan.
5. Perubahan Bahasa Indonesia di Era TIK

           Pergeseran atau perubahan bahasa sebenarnya telah ada sejak bahasa-bahasa itu mulai mengadakan kontak dengan bahasa lainnya (Grosjean 1982). Kontak antar dua suku atau suku bangsa yang masing-masing membawa bahasanya sendiri-sendiri lambat laun mengakibtakan terjadinya persaingan kebahasaan. Pada umumnya, di dalam persaingan kebahasaan terjadi fenomenafenomena kebahasaan yang diawali dengan kedwibahsaan, diglosia, alih kode/campur kode, interferensi, dan akhirnya permertahanan dan pergeseran bahasa. Jika satu bahasa lebih dominan, lebih berprestise, atau lebih modern atau bahkan mungkin lebih “superior” daripada bahasa lain, bahasa tersebut dipastikan dapat bertahan, sedangkan lainnya dalam beberapa generasi akan ditinggalkan oleh penuturnya.
Dewasa ini bahasa asing lebih sering digunakan daripada bahasa Indonesia hampir di semua sektor kehidupan. Sebagai contoh, masyarakat Indonesia lebih sering menempel ungkapan “No Smoking” daripada “Dilarang Merokok”, “Stop” untuk “berhenti”, “Exit” untuk “keluar”, “Open House” untuk penerimaan tamu di rumah pada saat lebaran, dan masih banyak contoh lain.

        Di dalam pergaulan di media, baik itu media sosial, layanan pesan, atau mailing, pengguna dari Indonesia lebih cenderung menggunakan kata / kalimat gaul yang lebih mudah ditulis dan dicerna menurut mereka, disamping itu juga menggunakan simbol-simbol yang secara frontal menyebabkan berubahnya penggunaan bahasa Indonesia secara brutal. Contohnya adalah mereka lebih suka menulis; t4 untuk Tempat, q untuk Aku, g untuk Nggak, Lw untuk Kalau, dan masih banyak lagi yang lainnya.

        Perubahan ini oleh Grosjean (1982:107) disebut sebagai persoalan yang diakibatkan oleh lima faktor: sosial, sikap, pemakaian, bahasa, kebijakan pemerintah, dan faktorfaktor lain. Adanya pola-pola sosial dan budaya yang beragam dalam suatu masyarakat ikut menentukan identitas sosial dan keanggotaan kelompok sosialnya, faktorfaktor sosial itu meliputi status sosial, kedudukan sosial ekonomi, umur, jenis kelamin, tingkat pendidikan, pekerjaan atau jabatan, serta keanggotaan seseorang dalam suatu jaringan sosial.

KESIMPULAN

Kehadiran Teknologi Informasi dan Komunikasi secara langsung dapat mempermudah manusia dalam membangun interaksi antar sesamanya, interaksi tersebut bahkan bisa dibangun menembus ruang dan waktu. Tetapi di sisi yang lain pola interaksi tersebut dapat menyebabkan perubahanperubahan yang secara fundamental mempengaruhi jati diri darin suatu kelompok manusia. Bangsa Indonesia dengan bahasa Indonesia sebagai identitas diri adalah salah-satu yang turut dipengaruhi oleh kehadiran Teknologi Informasi dan Komunikasi.

Perubahan yang terjadi pada bahasa Indonesia dalam kaitannya dengan pesatnya perkembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi adalah perubahan fundamental yang meliputi keberlangsungan penggunaan bahasa Indonesia di dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, perubahan-perubahan menuju kearah yang negatif harus segera diantisipasi dengan merevitalisasi kembali pendidikan, terutama yang menyangkut penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Selain itu berbagai kemajuan teknologi informasi dan komunikasi, seharusnya bisa 158 dimanfaatkan dalam upaya mempertahankan bahasa Indonesia

         Menurut Indrajut (2004), fungsi teknologi informasi dan komunikasi dalam pendidikan dapat dibagi menjadi tujuh fungsi, yakni:

a.       sebagai gudang ilmu,
b.       sebagai alat bantu pembelajaran,
c.       sebagai fasilitas pendidikan,
d.       sebagai standar kompetensi,
e.       sebagai penunjang administrasi,
f.        sebagai alat bantu manajemen sekolah, dan
g.      sebagai infrastruktur pendidikan

DAFTAR PUSTAKA

Kridalaksana H. 1991. Pendekatan tentang Pendekatan Historis dalam Kajian Bahasa Melayu dan Bahasa Indonesia. Dalam Kridalaksana H. (penyunting). Masa Lampau bahasa Indonesia: Sebuah Bunga Rampai. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.

Rusyana, Yus. 1984. Bahasa dan Sastra dalam Gamitan Pendidikan: Himpunan Bahasa. Semarang: Penerbit Diponegoro.

Setiadi, Julianto Arief dkk. 2009. Teknologi Informasi dan Komunikasi. Jakarta: Ristek.

Sugono, Dendy. 1994. Berbahasa Indonesia dengan Benar. Jakarta: Puspa Swara.

Kamis, 12 Maret 2020

KENYAMANAN DESAIN INTERIOR PADA PERPUSTAKAAN


KENYAMANAN DESAIN INTERIOR PADA PERPUSTAKAAN
( Studi Kasus : Perpustakaan Umum Kota Wonosari, Yogyakarta )
Oleh : Chelline Jihan Sasmita (J35-CHELLINE)



ABSTRAK

Perpustakaan Umum Kota Wonosari, Yogyakarta membutuhkan peningkatan kualitas kenyamanan interior khususnya pada aspek tata ruang, pencahayaan, pewarnaan dan sirkulasi. Studi ini menggunakan metode penelitian deskriptif dengan teknik penelitian survey tingkat kenyamanan pengguna terhadap desain interior di perpustakaan. Metode penelitian yang digunakan merupakan metode campuran (mixed), yaitu penggunaan metode kualitatif dalam menjelaskan kondisi eksisting objek observasi dan metode kuantitatif dalam pengambilan data persepsi pengguna perpustakaan malalui teknik survey. Analisis yang dilakukan merupakan analisis dari hasil pengamatan lapangan, analisis data kuantitatif dari survey kuisioner dan analisis dengan standar yang ada. 

KATA KUNCI : Desain interior perpustakaan, Tingkat kenyamanan pengguna.

PENDAHULUAN

Desain interior adalah salah satu hal yang cukup penting dalam rancangan suatu pembangunan perpustakaan. Perpustakaan yang baik dalam perancanaan gedung dan ruang perpustakaannya perlu memperhatikan fungsi tiap ruang, unsur – unsur keharmonisan dan keindahan, baik dari segi interior maupun eksterior. . Dalam penyusunan interior ruangan perpustakaan ada beberapa elemen yang perlu diperhatikan yaitu ruang, pewarnaan, penerangan, dan sirkulasi. Hal tersebut dimaksudkan agar dapat memberikan kenyamanan kepada pengguna perpustakaan. Perencanaan desain interior tidak bisa lepas dari persepsi pemakai perpustakaan. Hal tersebut disebabkan karena nyaman tidaknya ruang perpustakaan berdampak langsung pada pemakai. Oleh karena itu, salah satu faktor keberhasilan pelayanan perpustakaan dapat dilihat dari persepsi pengguna terhadap desain inerior dari perpustakaan tersebut. Kota Terupakan kota Kabupaten berpenduduk banyak yang ingin maju pada bidang pendidikan. Supaya sistem pendidikan dapat berhasil dengan baik, suatu kota harus dilengkapi dengan sarana penunjang yang mampu menyediakan informasi yang sesuai dengan kebutuhan masyarakatnya. Sarana penunjang tersebut adalah sebuah perpustakaan yang merupakan pusat informasi bagi masyarakat terutama civitas akademik. Maka diharapkan ada peningkatan kualitas dalam dunia perpustakaan untuk semakin maju dan berkembang sehingga perpustakaan mampu melayani segala bentuk kebutuhan informasi yang dibutuhkan pengguna.

PERMASALAHAN

Perpustakaan umum Kota Wonosari merupakan satu-satunya perpustakaan di Kota Wonosari  Perpustakaan ini menjadi satu-satunya pula wadah dimana masyarakat Kota Wonosari mendapatkan bebagai macam informasi melalu media buku dan media cetak lainnya. Perpustakaan umum yang menjadi tempat layanan utama dalam bidang informasi masyarakat Wonosari ini berada di jalan utama Wonosari provinsi Yogyakarta. Merupakan perpustakaan pusat daerah yang ada di Kabupaten Gunungkidul. Pada penelitian ini yang diteliti adalah empat ruang utama yaitu : Ruang koleksi buku, Ruang baca, ruang multimedia dan ruang referensi. Keempat ruangan tersebut adalah ruangan yang paling fungsional dan didatangi banyak pengunjung.

A.    Tingkat Kenyamanan Desain Interior Perpustakaan Berdasarkan Persepsi Pengguna :

Kriteria sampel pengguna yaitu orang yang datang berkunjung ke Perpustakaan Umum kabupaten Tuban dengan tujuan bervariasi, baik membaca buku, mencari referensi, meminjam buku maupun dengan tujuan lainnya misalnya mencari informasi dengan media internet. Berdasarkan ketentuan tersebut, jumlah sampel untuk pengunjung ditentukan sebanyak 100 orang, karena termasuk penelitian deskriptif berbentuk survey yang memiliki batas responden minimal 100 orang.

PEMBAHASAN

1.    Ukuran Ruang
Berdasarkan hasil analisis maka dapat disimpulkan bahwa tingkat kenyamanan terkait dengan ukuran ruangnya, perpustakaan umum secara umum mendapatkan respon negatif dari masyarakat dengan perolehan rata-rata (2.97) yang artinya berada pada kriteria Tidak nyaman. Perlu adanya peningkatan kenyamanan desain interior terkait dengan ukuran ruangnya.

2.    Aksesibilitas ruang
 Analisis dari hasil penelitian tentang kenyamanan ruang berkaitan dengan aksesibiltas ruangnya secara umum menemukan pernyataan bahwa pengguna memberikan respon negatif dengan perolehan mean score (2.99) yang berarti berada pada kriteria tidak nyaman. Jadi perlu adanya perbaikan pada aspek desain interior ini guna meningkatkan kualitas kenyamanan aksesibilitas ruang.

3.    Estetika ruang
Hasil analisis menyimpulkan bahwa tingkat kenyamanan terkait dengan estetika ruangnya, perpustakaan umum secara umum mendapatkan respon negatif dari masyarakat dengan perolehan rata-rata (2.99) yang artiinya berada pada kriteria tidak nyaman. Perlu adanya peningkatan kenyamanan desain interior terkait dengan estetika ruangnya.

4.    Tata letak perabot Analisis
Dari hasil penelitian tentang kenyamanan ruang berkaitan dengan tata letak perabotnya secara umum menemukan pernyataan bahwa pengguna memberikan respon negatif dengan perolehan mean score (2.78) yang berarti berada pada kriteria tidak nyaman. Jadi perlu adanya perbaikan pada aspek desain interior ini guna meningkatkan kualitas kenyamanan tata letak perabot dalam ruang.

5.    Pewarnaan ruang
Hasil analisis menyimpulkan bahwa tingkat kenyamanan terkait dengan pewarnaan ruangnya, perpustakaan umum secara umum mendapatkan respon yang positif dari masyarakat dengan perolehan rata-rata (3.33) yang artiinya berada pada kriteria cukup nyaman. Kenyamanan desain interior terkait dengan pewarnaan ruangnya perpustakaan Umum Kota Tuban sudah cukup baik. Pengguna sudah merasa hampir nyaman berada pada ruang-ruang yang ada di perpustakaan umum Kota Tuban.

6.    Pencahayaan ruang
Dari hasil penelitian tentang kenyamanan ruang berkaitan dengan pencahayan ruangnya secara umum menemukan pernyataan bahwa pengguna memberikan respon positif dengan perolehan mean score (3.20) yang berarti berada pada kriteria cukup nyaman Pencahayaan ruang dirasa sudah cukup baik dalam memenuhi kebutuhan pengguna.

7.    Sirkulasi ruang
Berdasarkan hasil analisis maka dapat disimpulkan bahwa tingkat kenyamanan terkait dengan sirkulasi ruangnya, perpustakaan umum secara umum mendapatkan respon positif dari masyarakat dengan perolehan rata-rata (3.03) yang artinya berada pada kriteria biasa saja.

KESIMPULAN

Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian mengenai Tingkat Kenyamanan Desain Interior pada Perpustakaan dengan studi pustaka di Perpustakaan Umum Kota Wonosari disimpulkan sebagai berikut:

1.    Ukuran ruang, Pada hasil observasi lapangan, ukuran ruang ada yang sudah sesuai standar ukuran ruang tingkat kabupaten dari Pedoman perpustakaan nasional ada yang kurang dan ada yang lebih. Ukuran ruang masih belum diperhitungkan secara matang, hal ini membuat kenyamanan ruang dirasa belum terpenuhi. Dan berdasarkan persepsi pengguna setuju dengan hasil dari observasi lapang.

2.  Aksesibilitas ruang, Aksesibilitas ruang berdasakan hasil observasi menyatakan bahwa aksesibilitas masih terasa kurang nyaman karena belum adanya pola ruang yang tertata dengan teratur. Membingungkan pergerakan pengguna dalam aktivitasnya. Persepsi pengguna pun layaknya setuju dengan pernyataan yang diuraikan dengan hasil observasi.

3.  Estetika Ruang, Berdasarkan observasi lapang, disimpulkan bahwa estetika ruang masih banyak yang terkesan monoton dan kurang menarik bagi visualisasi. Dalam hasil analisis persepsinya, pengguna pun setuju dengan apa yang ditemukan pada hasil observasi. Dimana mereka memberikan respon yang negatif terhadap estetika ruang.

4. Tata letak perabot adalah penilaian yang tingkat kenyamanannya paling rendah berdasarkan hasil observasi lapang dan juga berdasarkan persepsi pengguna ruang.

5.     Pewarnaan ruang, Hasil observasi lapangan menunjukkan bahwa kenyamanan pada pewarnaan ruang sudah terpenuhi. Hasil analisis berdasakan persepsi pengguna pun setuju bahwa pewarnaan ruang pada perpustakaan umum kota tuban mendekati nyaman dan variabel ini mendapatkan nilai paling tinggi tingkat kenyamanannya dibanding variabel lainnya.

6.    Pencahayaan ruang, Pencahayaan buatan dan alami dinyatakan sudah nyaman dan mampu memenuhi kebutuhan pengguna. Pengguna pun sepakat dengan pernyataan ini.

7.  Sirkulasi ruang, Sirkulasi ruang dirasa masih berada diantara skala kenyamanan nyaman-tidak nyaman. Ada beberapa sirkulasi ruang yang sudah memenuhi kenyamanan pengguna da nada pula yang belum memenuhi kenyamanan pengguna. Pengguna dari hasil analisis persepsinya menyatakan setju dengan pernyataan ini.

DAFTAR PUSTAKA

-  Depdiknas. RI. 2004. Perpustakaan Perguruan Tinggi: Buku Pedoman. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional RI. Depdiknas RI.

-  Pedoman Tata Ruang Dan Perabot Perpustakaan Umum Perpustakaan Nasional Republik Indonesia 2009