.

Tampilkan postingan dengan label Tugas TB04. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tugas TB04. Tampilkan semua postingan

Rabu, 26 Oktober 2016

Review Jurnal : PEMELIHARAAN CIRCULATING WATER PUMPS PADA PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA GAS DAN UAP (PLTGU)

Judul Penelitian : PEMELIHARAAN CIRCULATING WATER PUMPS PADA PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA GAS DAN UAP (PLTGU) 

Nama Penulis : Popy Yuliarty dan Fachrurrozi Program Studi Teknik Industri Universitas Mercu Buana.

Selasa, 18 Oktober 2016

Review Jurnal : PERBAIKAN SISTEM KERJA UNTUK MENINGKATKAN PRODUKTIVITAS KARYAWAN



A. PERBAIKAN SISTEM KERJA UNTUK MENINGKATKAN PRODUKTIVITAS KARYAWAN

B. Iva Mindhayani dan Hari Purnomo (Univ. Widya Mataram Yogyakarta dan Univ. Universitas Islam Indonesia Yogyakarta)

Sabtu, 15 Oktober 2016

Review Jurnal - PENERAPAN METODE SIX SIGMA DENGAN PENDEKATAN DMAIC PADA PROSES HANDLING PAINTED BODY BMW X3 (STUDI KASUS: PT. TJAHJA SAKTI MOTOR)





A. Judul Penelitian

PENERAPAN METODE SIX SIGMA DENGAN PENDEKATAN DMAIC PADA PROSES HANDLING PAINTED BODY BMW X3 (STUDI KASUS: PT. TJAHJA SAKTI MOTOR)

Bio Energi Berbasis Jagung dan Pemanfaatan Limbahnya

Review jurnal dari :

Bio Energi Berbasis Jagung dan Pemanfaatan Limbahnya

Teguh Wikan Widodo, A. Asari, Ana N.dan Elita, R.

Balai Besar Pengembangan Mekanisasi Pertanian Serpong
Badan Litbang Pertanian, Departemen Pertanian
Tromol Pos 2 Serpong, Tangerang 15310 BANTEN
Tel.: (021) 537 6780, Fax: (021) 537 6784


Abstrak
Berdasarkan karakteristik fisik dan kimianya, tanaman jagung (Zea mays) memiliki banyak kegunaan, berpotensi sebagai sumber bio energi dan produk samping yang bernilai ekonomis tinggi. Pemanfaatan jagung dan limbahnya sebagai sumber bio energi dengan

Resensi Jurnal : Peranan Manajemen Puncak, Wakil Manajemen, dan Konsultan dalam Tahap Awal Penerapan Sistem Manajemen Mutu


A. JUDUL
Peranan Manajemen Puncak, Wakil Manajemen, dan Konsultan dalam Tahap Awal Penerapan Sistem Manajemen Mutu

B. NAMA PENULIS

I Nyoman Sutapa

C. NAMA JURNAL

Peranan Manajemen Puncak, Wakil Manajemen, dan Konsultan
Jurnal Teknik Industri Universitas Kristen Petra Vol.14 No.1. Juni 2012. pp. 43-52
http://jurnalindustri.petra.ac.id/index.php/ind/article/view/18405/18225

D. ABSTRAK

Keberhasilan menerapkan Sistem Manajemen Mutu ISO 9001:2008 (selanjutnya disingkat SMM) pada perusahaan keluarga yang baru pertama kali menerapkannya adalah hal yang sangat penting. Bagi pemilik perusahaan, keberhasilan ini akan mendorong mereka untuk memberikan sokongan sumber daya yang memadai, sementara bagi karyawan akan meningkatkan moral dan semangat mereka bekerja.

E. METODE
Operasional Validasi :

  1. Hipotesa H1 : jajaran manajemen puncak yang men-jalankan tanggung-jawab dan wewenang dengan baik akan berdampak nyata pada keberhasilan penerapan SMM.
  2. Hipotesa H2 : peran dan tanggung-jawab wakil manajemen berdampak nyata pada keberhasilan penerapan SMM.
  3. Hipotesa H3 : peran konsultan mendampingi mana-jemen perusahaan berdampak nyata pada keber-hasilan penerapan SMM.
  4. Hipotesa H4 : jajaran manajemen puncak yang menjalankan tanggung-jawab dan wewenang dengan baik akan berdampak nyata pada tingginya motivasi wakil manajemen menjalankan peran dan tanggung-jawabnya.
  5. Hipotesa H5 : Jajaran manajemen puncak yang menjalankan tanggung-jawab dan wewenang dengan baik akan memotivasi konsultan menjalan-kan perannya secara optimal.

Operasional Variabel
Operasionalisasi variabel penelitian adalah pendefinisian suatu konsep sehingga dapat diukur sesuai obyek yang diteliti. Peran, tanggung-jawab, dan we-wenang pimpinan puncak dalam perencanaan dan penerapan SMM menggunakan konsep standar ISO 9001:2008 dan definisinya mengacu pada Chow-Chua et al. Peran dan tanggung-jawab wakil manajemen didasarkan pada konsep standar ISO 9001:2008.

Validitas dan Realibelitas
Validitas dan realibilitas instrumen (indikator-indikator) penelitian diuji menggunakan validitas konsep dan realibilitas komposit. Validitas konsep dapat dievaluasi dengan validitas konvergen dan diskriminan. Validitas konvergen dari suatu indikator terhadap konsep atau variable yang diukurnya, ditunjukkan oleh nilai bobot faktor (factor loading), terpenuhi jika skor yang diperoleh dengan instrument berbeda yang mengukur konsep sama menunjukkan korelasi tinggi, disebut valid konvergen jika nilai korelasi minimal 0,50.

F. LATAR BELAKANG MASALAH
  1. Apa peran, tanggung-jawab, dan wewenang jajaran manajemen puncak yang berdampak nyata pada keberhasilan penerapan SMM? Peran, tanggung-jawab, dan wewenang jajaran manajemen puncak ditunjukkan oleh komitmen mereka (Standar ISO 9001), yaitu dengan menetapkan dan mengkomunikasikan persyaratan pelanggan (undangundang, peraturan, keinginan dan kebutuhan pelanggan)
  2. Apa peran dan tanggung-jawab wakil manajemen, yang membantu jajaran manajemen puncak, yang berdampak nyata pada keberhasilan penerapan SMM ISO? Wakil manajemen, sebagai representasi jajaran manajemen puncak di lapangan, mempunyai tugas dan tanggung-jawab yang besar dalam perencanaan, pelaksanaan, pengendalian, dan perbaikan SMM 
  3. Apa peran konsultan, yang membantu jajaran manajemen puncak, yang berdampak nyata pada keberhasilan penerapan SMM? Peranan konsultan SMM adalah sebagai pendamping dalam melakukan diagnosa awal terhadap sistem manajemen yang telah diterapkan perusahaan, memberikan analisis kelemahan sistem sesuai persyaratan standar, memberikan pelatihan pemahaman standar SMM, pelatihan sistem dokumentasi dan rekaman, dan pelatihan audit.

G. TUJUAN PENELITIAN
Penerapan SMM di suatu perusahaan dikatakan berhasil efektif, jika produk dan/atau layanan yang dihasilkan memuaskan pelanggan. Kepuasan konsumen tercapai ketika terjadi ke-sesuaian antara permintaan pelanggan dengan produk dan/atau layanan yang diberikan perusaha-an (ISO 9001). Disamping memberikan kepuasan, efektivitas SMM diperlihatkan oleh peningkatan kinerja mutu yang berdampak pada peningkatan keunggulan bersaing perusahaan. Ukuran keberhasilan implementasi SMM dapat ditunjukkan dengan penurunan keluhan pelanggan, penurunan retur, dan peningkatan hubungan relasi dengan pelanggan, serta penurunan produk cacat, penurunan variasi proses, pembenahan prosedur dokumentasi, peningkatan kesadaran mutu diantara seluruh karyawan, komunikasi antara karyawan dari berbagai fungsi lebih efektif, dan peningkatan sistemisasi manajemen mutu.

H. KESIMPULAN
Perusahaan ini membutuhkan jembatan perantara yaitu wakil manajemen yang berperan dan bertanggung-jawab, mewakili jajaran manajemen puncak di lapangan, dalam perencanaan, penerapan, pengendalian, dan evaluasi SMM. Sementara itu, jajaran manajmen puncak juga membutuhkan peran konsultan pendamping, terutama membantu dalam memberkan pemahaman dan pelatihan SMM yang sesuai dengan kebutuhan perusaan.
Penelitian ini memiliki batasan, tidak mempertimbangkan variable kebiasaan perusahaan (budaya) yang telah tertanam lama. Disarankan untuk penelitian lanjutan, meneliti dampak moderasi variable budaya perusahaan dalam memperbesar keberhasilan penerapan SMM.

I. DAFTAR PUSTAKA

1. Alic, M., and Rusjan, B., Contribution of the ISO 9001 Internal Audit to Business Performance, International Journal of Quality & Reliability Management, 27(8), 2010, pp. 916–937.
2. Balzarova, M. A., Bamber, C. J., McCambridge, S., and Sharp, J. M., Key Success Factors in Implementation of Process-Based Management: A UK Housing Association Experience, Business Process Management Journal, 10(4), 2004, pp. 387-399.
3. Chow-Chua, C., Goh, M., and Wan, T. B., Does ISO 9000 Certification Improve Business Perfor-mance? International Journal of Quality & Reliability Management, 20(8), 2003, pp. 936–953.


Minggu, 02 Oktober 2016

Review Journal: Potensi Kebijaksanaan Kontrak Pemeliharaan Mesin dalam Menunjang Keberhasilan Mekanisme Industri Pertanian

mind map
Judul Penelitian
Potensi Kebijaksanaan Kontrak Pemeliharaan Mesin dalam Menunjang Keberhasilan Mekanisme Industri Pertanian.

PENERAPAN LEAN MANUFACTURING UNTUK MEREDUKSI WASTE DI INDUSTRI SKALA UKM

Darminto Pujotomo, Raditya Armanda
3 September 2011 

A. Latar Belakang

Lean manufacturing merupakan konsep manufaktur untuk menghasilkan produk yang efisien daengan mengurangi biaya produksi melalui efisiensi, dalam konsep lean, dikenalkan 7 macam pemborosan yang meliputi produksi berlebih, transportasi material yang berlebihan, menunggu proses yang tidak perlu, persediaan, pergerakan dan cacat produk. penelitian ini menggunakan value stream mapping dalam mengidentifikasi pemborosan dan menelusuri potensi terjadinya pemborosan.
Banyak pemborosan yang terjadi di perusahaan tanpa di sadari oleh pelakunya. Selama ini perusahaan merasakan adanya pemborosan yang sering terjadi. tetapi perusahaan jarang melakukan pengukuran. padahal, pemborosan sangat berpotensi mengurangi efisiensi perusahaan. Penelitian ini bermaksud mengidentifikasi pemborosan yang terjadi dan mereduksi pemborosan tersebut sehingga mampu meningkatkan efisiensi produksi.

B. Hasil dan Pembahasan


CV. Citra Jepara merupakan perusahaan yang melayani permintaan meubel dari customernya (make to demand) dan memilikki skala produksi yang cukup besar sehingga penerapan lean manufacturing merupakan kebutuhan bagi perusahaan untuk meminimasi waste untuk memaksimalkan profit dan dapat menjadi unggul dari para kompetitornya. Banyaknya pemborosan material dengan membuang bahan yang cacat dan sisa serbuk kayu dapat dikurangi dengan down size, finger joint dan pres.

Proses Produksi

di fokuskan pada peroses perubahan dari log kayu menjadi komponen sebuah meubel.
proses produksi ini di bagi menjadi 3 tahap
  1. tahap ini adalah proses pembuatan log kayu menjadi papan kayu dengan menggunakan mesin sawmill.
  2. tahap kedua menggunakan mesin ricksaw, yaitu proses pembuatan papan kayu menjadi komponen setengah jadi. tentu saja sesuai dengan yang di butuhkan.
  3. tahap terakhir dengan mesin radial adalah pembuatan komponen setengah jadi menjadi komponen jadi..
pada setiap tahap proses tersebut terdapat quality control yang bertugas mengecek hasil dari proses produksi. pengecekan berupa sepisifikasi produk sesuai yang di butuhkan.

Desain Layout Produksi

perusahaan menerapkan proses layout, peletakan mesin pun telah sesuai dengan kebutuhan pekerja dari proses pembuatan komponen.

Penerapan Value Stream Mapping

pada penerapan ini terlihat adanya  beban kerja yang tidak seimbang pada setiap proses kerja, terutama terlihat pada mesin sawmill yang hanya terdiri dari 2 mesin dan memiki waktu pemrosesan yang paling lama. ketidak seimbangan aliran proses dapat diatasi dengan cara lantai produksi membuat persediaan work in process berupa papan kayu.

The 7 Wastes

  • Correction Waste
untuk mengurangi waste pada proses correction waste, di terapkan system qualitu control yang berfungsi untuk menyingkirkan material cacat agar tidak di proses lebih lanjut.

  • Overproduction Waste
dalam proses ini tidak terjadi karna produk yag di kerjakan merupakan produk make to demand.

  • Movement of Material Waste
Pada proses ini menggunakan Forklift, Platform truck, dan Handlift Truck yang masing masing di gunakan sesuai kapasitas barang produksi tersebut

  • Motion Waste
para pekerja memiliki job desk masing-masing sehingga pergerakan yang terjadi tidak mengakibatkan motion waste

  • Waiting Waste
Waiting Waste sedikit terjadi pada proses produksi, ini terbukti dengan sedikitnya material yang menunggu untuk di proses selanjutnya dan kesesuaian beban kerja.

  • Inventory Waste
Karna banyaknya faktor yang tidak tentu seperti faktor alam dan perijinan, maka perusahaan menerapkan kebijaka safety stock untuk mencegah terjadinya stockout atas permintaan konsumen.

  • Processing Waste
dalam proses produksi yang di lakukan, bagian produksi menetapkan jumlah komponen yang harus di penuhi pada hari tersebut.

Sustainable Manufacturing

ketiga pilar pendukung sustainable mancufacturing tidak dapat berdiri sendiri karena makna sustainable itu sendiri berarti berkelanjutan dimana satu proses berlanjut ke proses-proses berikutnya dimana proses sebelumnya akan mempengaruhi proses selanjutnya baik secara langsung atapun secara tidak langsung. sebagai contoh ketersediaan bahan baku mempengaruhi ada tidaknya proses produksi yang akan di laksanakan.

dalam studi kasus ini akan kita bahas beberapa alternatif yang dapat digunakan untuk menciptakan sustainable manufacturing pada CV. Citra Jepara. antara lain:
  1. mengurangin pengguanaan bahan utama yang tidak berkelanjutan dengen penggunaan bahan pengganti yang berkelanjutan dan lebih ramah lingkungan.
  2. mengoptimalkan penggunaan energi selama logistik, proses produksi dan distribusi.
  3. menurunkan tingkat waste dari proses produksi dengan meningkatkan efisiensi proses produksi
  4. meningkatkan kualitas produk untuk memperpanjang masa pemakaian produk dan mudah terurai oleh alam.
  5. meningkatkan servis produk untuk pemanfaatan produk yang lebih lama sehingga tidak menimbulkan prilaku konsumtif pada konsumen.
  6. memperbaiki keamanan dan kesehatan dari pekerja, komunitas, dan pengguna.
  7. mengoptimalkan penggunaan satu kawasan industri untuk penghematan biaya dan kemudahan pengelolaan limbah.
  8. meningkatkan peran serta perusahaan, perkotaan dan pemerintah dalam upaya menciptakan sustainable manufacturing.
  9. menggalakan inovasi dalam dunia industri.
berikut merupakan tindakan sustainable untuk mengurangi sampah yang di buang dan memaksimalkan material yang ada;
  • down size; adalah penurunan ukuran komponen yang di produksi akibat cacat komponen yang reject.
  • Finger joint; adalah desain dengan menyusun komponen-komponen kecil yang dapat di susun untuk menjadi komponen yang lebih besar
  • press; adalah proses dimana bubuk sisa serpihan kayu dengan di press sehingga dapat di gunakan untuk menjadi bagian yang dapat di gunakan kembali.

 Peluang penelitian selanjutnya

dalam penelitian ini penelitian untuk selanjutnya tidak ada karena limbah kayu yang di hasilkan dapat di manfaatkan kembali. dan juga penggunaan kayu dari pohon jati menggunakan jati yang ideal untuk sebuah tanaman sebagai bahan baku pembuatan mebel.


Sabtu, 01 Oktober 2016

MENINGKATKAN KNOWLEDGE SHARING DI ORGANISASI: STUDI LITERATUR TERHADAP FAKTOR–FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KNOWLEDGE SHARING




MENINGKATKAN KNOWLEDGE SHARING DI ORGANISASI: STUDI LITERATUR TERHADAP FAKTOR–FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KNOWLEDGE SHARING

Nama Penulis:
Aditya Andika, Program Studi Teknik Industri, Universitas Bina Nusantara. Email: aandika@binus.edu Nama Jurnal : Vol 9 No 3 (2015) Jurnal PASTI http://publikasi.mercubuana.ac.id/index.php/pasti/issue/view/100

LATAR BELAKANG MASALAH

Banyak organisasi yang belum berhasil menerapkan konsep knowledge management. Salah satu penyebabnya adalah kurang berhasilnya organisasi untuk mendorong knowledge sharing.

MASALAH/PERTANYAAN PENELITIAN Banyak organisasi yang belum menerapkan knowledge sharing.

TUJUAN PENELITIAN Mengetahui manfaat dan factor-faktor yang mempengaruhi knowledge sharing.
 

METODE PENELITIAN  Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode studi literatur.

HASIL PENELITIAN

Hasil penelitian Akhbar & Musa (2012) menunjukkan bahwa proximity (kedekatan jarak) berpengaruh positif terhadap knowledge sharing. Organisasi dapat mengatur agar jarak antar meja kerja anggota organisasi berada dalam jarak yang cukup dekat tetapi tetap menghargai privasi masing-masing anggota organisasi. Akhbar & Musa (2012) mengusulkan agar organisasi membuat ruang–ruang diskusi yang cukup dekat dengan area kerja agar memungkinkan anggota organisasi dapat sewaktu-waktu dan secara spontan menggunakan ruang tersebut untuk melakukan knowledge sharing. Organization Culture (Budaya Organisasi)

Hasil penelitian Borges (2013) menunjukkan bahwa budaya organisasi yang berpengaruh positif terhadap knowledge sharing adalah budaya organisasi yang suportif dan berorientasi pada tim. Organisasi dapat menciptakan budaya yang suportif dan berorientasi pada tim dengan menciptakan organization values (nilai-nilai organisasi) yang menghargai kerja sama tim dan sikap saling mendukung. Information Systems (Sistem Informasi).

Hasil penelitian Supar (2012) menunjukkan bahwa keberadaan teknologi informasi untuk knowledge sharing berpengaruh secara positif terhadap knowledge sharing. Organisasi perlu mengembangkan sistem informasi yang memiliki fitur khusus untuk knowledge sharing yang mudah diakses dan user-friendly. Dengan begitu, diharapkan anggota organisasi dapat melakukan knowledge sharing dengan mudah. Rewards (Penghargaan).

Hasil penelitian Al-Alawi (2007) menunjukkan bahwa rewards (penghargaan) memiliki pengaruh yang positif terhadap knowledge sharing. Organisasi dapat mengembangkan sistem rewards yang terkait dengan aktivitas knowledge sharing. Salah satu contohnya adalah dengan memberikan bonus bagi anggota organisasi yang aktif melakukan knowledge sharing. Organization Structure (Struktur Organisasi).

Hasil penelitian Al-Alawi (2007) menunjukkan bahwa organization structure (struktur organisasi) memiliki pengaruh yang positif terhadap knowledge sharing. Organisasi perlu mengembangkan struktur organisasi yang memungkinkan terjadinya pengambilan keputusan secara partisipatif. Knowledge sharing dapat terjadi didalam proses pengambilan keputusan secara partisipatif. Organizational Justice (Keadilan Organisasi).

Hasil penelitian Yesil & Dereli (2013) menunjukkan bahwa organizational justice (keadilan organisasi) berpengaruh secara positif terhadap knowledge sharing. Organisasi perlu memperlakukan setiap anggota organisasi secara adil. Contohnya adalah memberikan reward kepada anggota organisasi sesuai dengan kinerja dan kontribusinya kepada organisasi. Opportunity to Share Knowledge (Kesempatan untuk Berbagi Knowledge).

REVIEW/KOMENTAR JURNALPenulisan jurnal sudah baik. Materi sudah dijabarkan dengan lengkap beserta dengan refrensi. Kekurangan dari jurnal ini hanya terletak di latar belakang yang tidak dijelaskan dengan baik oleh penulis.

ABSTRACT
berbagi pengetahuan adalah bagian tengah antara manajemen pengetahuan. Makalah ini melakukan studi literatur faktor yang mempengaruhi berbagi pengetahuan dalam sebuah organisasi. Berdasarkan studi literatur yang dilakukan dari hasil penelitian tentang faktor yang mempengaruhi berbagi pengetahuan dalam sebuah organisasi, ditemukan 21 faktor mempengaruhi berbagi pengetahuan. Faktor-faktor tersebut kemudian dianalisis dan dikategorikan berdasarkan aspek organisasi kontrol. Faktor-faktor yang berada di dalam organisasi kontrol adalah 13 faktor. Maka makalah ini membahas informasi lebih lanjut tentang faktor-faktor yang ada di dalam organisasi kontrol dan langkah-langkah yang dapat diambil organisasi untuk meningkatkan berbagi pengetahuan.

Kata kunci: Organisasi, Manajemen Pengetahuan, Knowledge Sharing.

DAFTAR PUSTAKA

Abdul-Jalal H. & Toulson P. 2013. Knowledge Sharing Success for Sustaining Organizational Competitive Advantage. Procedia Economics and Finance. Vol. 7. 150-157.
Abdullah H.S., Hassim A.A. & Chik R. 2009. Knowledge Sharing in a Knowledge Intensive Organisation: Identifying the Enablers. International Journal of Business and Management, Vol. 4(4), 115-123.
Akhavan P., Hosseini S.M., Abbasi M., & Manteghi M. 2015. Knowledge-Sharing Determinants, Behaviors, and Innovative Work Behaviours, Aslib Journal of Information Management. Vol. 67(5). 562-591.
Akhbar A.R.N. & Musa M.F. 2012. Enhancing Human Interaction of Knowledge Sharing In Higher Learning Workplace Environment, Procedia–Social and Behavioral Sciences. Vol. 35, 137-145.
Al-Alawi A.I., Al-Marzooqi N.Y. & Mohammed Y.F. 2007. Organizational Culture and Knowledge Sharing: Critical Success Factors. Journal of Knowledge Management, Vol. 11(2), 22-42.
Bass B.M. 1997. Does the Transactional–Transformational Leadership Paradigm Transcend Organizational and National Boundaries? American Psychologist. Vol. 52(2). 130-139.
Borges R. 2013. Tacit Knowledge Sharing Between IT Workers. Management Research Review. Vol. 36(1). 89-108.
David Gurteen. 1999. Creating a Knowledge Sharing Culture Knowledge. Management Magazine. Volume 2. Issue 5. February. Filemon A. And Uriarte JR. 2008. Introduction to Knowledge Management. ASEAN Foundation. Jakarta. Indonesia.
Girard J. & Girard J. 2015. Defining Knowledge Management: Toward An Applied Compendium. Online Journal of Applied Knowledge Management. Vol. 3(1). 1-20.
Halawi L.A., McCarthy R.V. & Aronson J.E. 2006. Knowledge Management and the Competitive Strategy of the Firm. The Learning Organization. Vol. 13(4). 384-397.
Ibrahim S. & Heng L.H. 2015. The Roles of Learning in Stimulating Knowledge Sharing at Smes. Procedia–Social and Behavioral Sciences. Vol. 172. 230-237.
Javadi M.H.M., Zadeh N.D., Zandi M. & Yavarian J. 2012. Effect of Motivation & Trust on Knowledge Sharing and Effect of Knowledge Sharing on Employee’s Performance. International Journal of Human Resources Studies. Vol. 2(1). 210-221.
Kelloway E.K. & Barling J. 2000. What We Have Learned About Developing Transformational Leaders. Leadership & Organization Development Journal. Vol. 21(7), 355-362.
Jurnal PASTI Volume IX No 3, 230 – 237 237 Kuzu O.H. & Ozilhan D. 2014. The effect of employee relationships and knowledge sharing on employees’s performance: An empirical research on service industry. Procedia–Social and Behavioral Sciences. Vol. 109. 1370-1374.
Lin H. 2007. Knowledge sharing and firm innovation capability. International Journal of Manpower. Vol. 28(3/4). 315-332.
Ma Z., Qi. L. & Wang K. 2008. Knowledge Sharing In Chinese Construction Project Teams and Its Affecting Factors: An Empirical Study. Chinese Management Studies. Vol. 2(2). 97-108.
Sajeva S. 2014. Encouraging Knowledge Sharing Among Employees: How Reward Matters. Procedia–Social and Behavioral Sciences. Vol. 156. 130-134.
Sanchez J.H., Sanchez Y.H., Collado-Ruiz D. & Cebrian-Tarrason D. 2013. Knowledge Creating and Sharing Corporate Culture Framework. Procedia–Social and Behavioral Sciences. Vol. 74. 388-397.
Smith E.A. 2001. The Role of Tacit and Explicit Knowledge in the Workplace. Journal of Knowledge Management. Vol. 5(4). 311-321.
Solek-Borowska. C. 2015. Knowledge sharing practices in CEMS–Global Alliance of Management Education. Online Journal of Applied Knowledge Management. Vol. 3(2). 134-149. Supar N. 2012. Technological Factors Affecting Knowledge Sharing among Academic Staff in Selected Malaysian Higher Educational Institutions and the Effect on Performance. Journal of Education and Vocational Research. Vol. 3(7). 234-241.
Trivellas P., Akrivouli Z., Tsifora W. & Tsoutsa P. 2015. The Impact of Knowledge Sharing Culture on Job Satisfaction in Accounting Firms: The Mediating Effect of General Competencies. Procedia Economics and Finance. Vol. 19. 238-247.
Xia, L. & Ya, S. 2012. Study on Knowledge Sharing Behavior Engineering. Systems Engineering Procedia. Vol. 4. 468-476.
1-25.

SIMULASI SISTEM PERENCANAAN DAN PENGENDALIAN PRODUKSI PADA PERUSAHAAN MANUFAKTUR

Penulis : Citra Noviyasari, Dosen Program Studi Sistem Informasi, Universitas Komputer     Indonesia



1.        PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang Masalah

                Proses produksi harus dipandang suatu perbaikan terus menerus, yang diawali sederet siklus sejak adanya ide-ide untuk menghasilkan suatu produk, pengembangan produk, proses produksi, sampai distribusi kepada konsumen.
Bagian produksi harus meningkatkan efisiensi dari proses dan kualitas produk, agar diperoleh produk-produk berkualitas sesuai dengan desain yang telah ditetapkan berdasarkan keinginan pasar, dengan biaya serendah mungkin. Hal ini dapat dicapai dengan menghilangkan pemborosan yang terjadi dalam proses produksi itu, melalui perencanaan dan pengendalian proses produksi. Keberhasilan perencanaan dan pengendalian produksi membutuhkan perencanaan kapasitas yang efektif, agar mampu memenuhi jadwal produksi yang ditetapkan. Kekurangan kapasitas akan menyebabkan kegagalan memenuhi target produksi, keterlambatan pengiriman ke pelanggan, dan kehilangan kepercayaan dalam sistem formal yang mengakibatkan reputasi dari perusahaan akan menurun atau hilang sama sekali.
 Pada sisi lain, kelebihan kapasitas akan mengakibatkan tingkat utilisasi sumber-sumber daya yang rendah, biaya meningkat, harga produk menjadi tidak kompetitif, kehilangan pangsa pasar, penurunan keuntungan, dan lain-lain. Dengan demikian, kekurangan kapasitas maupun kelebihan kapasitas akan memberikan dampak negatif bagi sistem produksi, sehingga perencanaan kapasitas yang efektif adalah menyediakan kapasitas sesuai dengan kebutuhan pada waktu yang tepat.
1.2 Identifikasi Masalah
Permasalahan pokok yang dihadapi oleh perusahaan khususnya pada bagian produksi adalah :
1.      Dalam memproses bahan mentah menjadi suatu produk, sering terjadi kekurangan maupun kelebihan kapasitas produk.
2.      Dalam hal pengeluaran biaya produksi, sering terjadi pemborosan akibat tidak adanya satuan yang pasti dalam memproduksi suatu produk.
3.      Tidak ada kesesuaian anatara penyedian kapasitas dengan kesesuaian kebutuhan pada waktu yang tepat.

1.3 Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini yaitu :
1.      Merancang suatu simulasi perencanaan dan pengendalian produksi, sesuai dengan metode tertentu. Yang kemudian dapat mengurangi pemborosan produksi.
2.      Mempercepat proses analisis kebutuhan informasi dalam menentukan tingkat kebutuhan produksi.





1.4 Batasan Masalah
Batasan masalah ini bertujuan untuk memudahkan dalam penyusunan dan supaya masalah yang di bahas lebih jelas dan terarah dan mencapai tujuan atau sasaran yang di harapkan maka penulis membatasi masalah yang akan di bahas yaitu :
1.       Simulasi perencanaan dan pengendalian produksi ini hanya berlaku pada perusahaan manufaktur yang bersifat Constant Level, yaitu perusahaan manufaktur yang apabila dilihat dari waktu kegiatan produksinya cenderung tetap.
2.       Pembahasan perencanaan dan pengendalian produksi hanya berada pada manajemen tingkat atas (top managemen), sehingga tidak diuraikan pada tingkat operasionalnya.
3.       Metode yang digunakan dalam menentukan perencanaan dan pengendalian produksi ini, adalah Manufacturing Resource Planning (MRP II).
4.       Untuk melakukan perencanaan produksi tersebut membutuhkan data-data sebagai berikut :
·         Data Aktual Permintaan, yaitu data-data permintaan pada periode tahun sebelumnya, yang dikelompokan dalam periode bulanan.
·         Data Ramalan Permintaan tahun berikutnya, untuk menghasilkan data ramalan permintaan tahun berikutnya, digunakan suatu model peramalan yaitu Model Rata-rata Bergerak (Moving Averages Model).
·         Data Pesanan (Order), data-data pesanan pada tahun sebelumnya merupakan masukan yang berupa tetap (input)
·         Variabel bebas yang digunakan adalah periode (n) dalam menentukan perhitungan peramalan Permintaan.
2.       KAJIAN PUSTAKA
2.1 Pengertian Simulasi.
Menurut Thomas J. Kakiay, dalam bukunya “Pengantar Sistem Simulasi” Menyatakan bahwa Simulasi adalah suatu sistem yang digunakan untuk memecahkan atau menguraikan persoalan-persoalan dalam kehidupan nyata yang penuh dengan ketidakpastian dengan tidak atau menggunakan model atau metode tertentu dan lebih ditekankan pada pemakaian computer untuk mendapatkan solusinya.
Keuntungan-keuntungan yang terdapat dalam simulasi, diantaranya :
Compress Time (Menghemat Waktu). Kemampuan didalam menghemat waktu ini dapat dilihat dari pekerjaan yang bila dikerjakan akan memakan waktu yang panjang, tetapi kemudian dapat disimulasikan hanya dalam waktu yang singkat.
Expand Time (Dapat Melebar luaskan Waktu). Hal ini terlihat terutama dalam dunia statistic dimana hasil yang diinginkan dapat tersaji dengan cepat.Simulasi dapat digunakan untuk menunjukan perubahan struktur dari suatu sistem nyata (real sistem), yang sebenarnya tidak dapat diteliti pada waktu yang seharusnya (real time).

Stop Simulation and Restart (Dapat dihentikan dan dijalankan kembali). Simulasi computer dapat dihentikan untuk kepentingan peninjauan ataupun pencatatan semua keadaan yang relevan tanpa berakibat buruk terhadap program simulasi tersebut.



2.2 Pengertian Sistem Informasi

Terdapat dua kelompok pendekatan di dalam mendefinisikan sistem yaitu yang menekankan pada prosedurnya dan yang menekankan pada komponen atau elemennya. Pendekatan sistem yang lebih menekankan pada prosedur didefinisikan oleh Jogianto HM sebagai berikut :“ Suatu sistem adalah suatu jaringan kerja dari prosedur-prosedur yang saling berhubungan, berkumpul bersama-sama untuk melakukan suatu kegiatan atau untuk menyelesaikan suatu sasaran yang tertentu ”. Jogianto (1999:8)
Informasi ibarat darah yang mengalir di dalam tubuh suatu organisasi, sehingga informasi ini sangat penting di dalam suatu organisasi. Suatu system yang kurang mendapatkan informasi akan menjadi luruh, kerdil dan akhirnya berakhir.

2.3 Pengertian Produksi dan Manufaktur.

Didalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, dikatakan bahwa : “ Produksi adalah proses mengeluarkan hasil.” Dapat penulis uraikan, bahwa definisi produksi adalah suatu proses dimana terdapat kegiatan pengolahan bahan mentah (input), dengan serangkaian tahapan-tahapan untuk menghasilkan produk (output), yang lebih bernilai maknanya. Sedang pengertian dari produk itu sendiri adalah hasil akhir dari proses pengolahan. Sedangkan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, yaitu : “ Produk adalah barang atau jasa yang dibuat dan ditambahkan gunanya atau nilainya dalam proses produksi dan menjadi hasil akhir dari proses produksi itu.“Sistem produksi merupakan fungsi pokok dalam setiap organisasi, yang mencakup aktivitas yang bertanggung jawab untuk menciptakan nilai tambah produk yang merupakan output dari setiap organisasi industri itu. Proses transformasi nilai tambah dari input menjadi output dalam sistem produksi modern selalu melibatkan komponen structural dan fungsional. Sistem produksi memiliki beberapa karakteristik sebagai berikut :
·         Mempunyai komponen-komponen atau elemen-elemen yang saling berkaitan satu sama lain dan membentuk satu kesatuan yang utuh. Hal ini berkaitan dengan komponen structural yang membangun sistem produksi itu.
·         Mempunyai tujuan yang mendasari keberadaannya, yaitu menghasilkan produk (barang dan/ atau jasa) berkualitas yang dapat dijual dengan harga kompetitif di pasar.
·         Mempunyai aktivitas berupa proses transformasi nilai tambah input menjadi output secara efektif dan efisien.
·         Mempunyai mekanisme yang mengendalikan pengoperasiannya, berupa optimalisasi pengalokasian sumber-sumber daya.

2.4 Pengertian Peramalan.

Aktivitas peramalan merupakan suatu fungsi bisnis yang berusaha memperkirakan penjualan dan penggunaan produk sehingga produk tersebut dapat dibuat dalam kuantitas yang tepat. Dengan demikian peramalan merupakan suatu dugaan terhadap permintaan yang akan datang berdasarkan pada beberapa variable peramal, sering berdasarkan data deret waktu histories. Peramalan dapat menggunakan teknik-teknik peramalan yang bersifat formal maupun informal. Penentuan horizon waktu peramalan akan tergantung pada situasi dan kondisi actual dari masing-masing industri manufaktur serta tujuan dari peramalan itu sendiri. Bagaimanapun juga, peramal (forecaster) harus memilih interval ramalan (forecast interval) atau bagaimana seringnya mengembangkan suatu ramalan. Alternatif yang umum dipilih adalah menggunakan interval waktu : harian, mingguan, bulanan, triwulan, semesteran, atau tahunan. Disamping itu, peramal harus memilih banyaknya periode dimasa mendatang yang akan diramalkan.






3.       OBJEK DAN METODE PENELITIAN
Permintaan kebutuhan bahan baku yang sulit diprediksikan pada suatu perusahaan manufaktur merupakan salah satu factor penting yang harus dicarikan solusinya pada suatu siklus produksi. Metodologi yang mendukung itu salah satunya adalah prototype, yaitu memberikan satu pola solusi untuk masalah peramalan bahan baku.
4.       HASIL PENELITIAN
Perancangan sistem merupakan bagian dari metodologi penbangunan suatu perangkat lunak yang dilakukan setelah melalui tahapan analisis, perancangan dimaksudkan untuk memberikan gambaran secara terinci bangimana suatu aplikasi yang akan dibangun. Pada tahap perancangan sistem ini pula, sebagai lanjutan dari analisis sistem, dimana pada saat perancangan digambarkan pancangan sistem yang akan dibangun sebelum dilakukannya pengkodean kedalam suatu bahasa pemograman. Dalam perancangan suatu sistem tidak lepas dari hasil analisa sistem karena dari hasil analisa baru dapat dibuat suatu rancangan sistem.

5.       KESIMPULAN
Dalam memenuhi kebutuhan pasar akan suatu produk, dibutuhkan suatu sistem yang dapat membantu, mengefektifkan dan mengefisiensikan semua sumber daya yang ada untuk selanjutnya dijadikan sebagai modal dasar dalam memenuhi kebutuhan yang beragam tersebut Dari hasil pembahasan dan pengembangan Simulasi Sistem Perencanaan dan Pengendalian Produksi pada Perusahaan Manufaktur ini dapat disimpulkan sebagai berikut :
1.      Simulasi Sistem Perencanaan dan Pengendalian Produksi pada Perusahaan Manufaktur lebih dapat meningkatkan keefektifan dan keefisiensian dalam menentukan jumlah produksi pada periode tahun berikutnya, dengan memperhatikan data-data pada periode sebelumnya.
2.      Simulasi Sistem Perencanaan dan Pengendalian Produksi pada Perusahaan Manufaktur yang telah dibuat lebih interaktif, dan telah terkomputerisasi sehingga lebih mudah dan cepat dalam mengolah dan menghasilkan suatu informasi.
3.      Dengan adanya perancangan Simulasi Sistem Perencanaan dan Pengendalian Produksi pada Perusahaan Manufaktur ini diharapkan dapat membantu mempercepat proses produksi, sehingga target-target dalam memenuhi kebutuhan pasar lebih baik.
4.      Pada Simulasi Perencanaan Produksi, pada nilai hasil peramalan akan bernilai handal jika, nilai pembagian antara RSFE (Running Sum of the Forecast Error) dengan nilai MAD (Mean Absolute Error) lebih kecil atau sama dengan, nilai periode dalam melakukan perhitungan Peramalan Permintaan. Artinya jika nilai yang dihasilkan tidak melebihi dari nilai periode maka nilai peramalan terdapat didalam pengendalian.

DAFTAR PUSTAKA

Andi. 2000. Pemrogrman Visual Basic 6.0. Andi Offset. Yogyakarta.
Azhar Susanto,2000. Sistem Informasi Manajemen.
Balai Pustaka, 2002. Kamus Besar Bahasa Indonesia.Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta.
Gaspensz, Dr. Vincent. D. Sc. CIQA, CFPIM. 2001. Production Planning and Inventory Control berdasarkan pendekatan sistem terintegrasi MRP II & JIT menuju manufacturing 21, PT. Gramedia. Jakarta.
Handoko, T. Hani. 2000. Dasar-dasar Manajemen Produksi dan Operasi, BPFE-Yogyakarta. Yogyakarta.
Herlambang, Soendoro. Tanuwijaya, Haryanto. 2005. Sistem Informasi; Konsep, Teknologi & 54

REVIEW JURNAL

Judul Penelitian:

MENINGKATKAN KNOWLEDGE SHARING DI ORGANISASI: STUDI LITERATUR TERHADAP FAKTOR–FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KNOWLEDGE SHARING

Nama Penulis

Aditya Andika, Program Studi Teknik Industri, Universitas Bina Nusantara. Email: aandika@binus.edu

Nama Jurnal
Vol 9 No 3 (2015) Jurnal PASTI http://publikasi.mercubuana.ac.id/index.php/pasti/issue/view/100

LATAR BELAKANG MASALAH
Banyak organisasi yang belum berhasil menerapkan konsep knowledge management. Salah satu penyebabnya adalah kurang berhasilnya organisasi untuk mendorong knowledge sharing.

MASALAH/PERTANYAAN PENELITIAN

Banyak organisasi yang belum menerapkan knowledge sharing.

TUJUAN PENELITIAN

Mengetahui manfaat dan factor-faktor yang mempengaruhi knowledge sharing.

METODE PENELITIAN  Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode studi literatur.

HASIL PENELITIAN

Hasil penelitian Akhbar & Musa (2012) menunjukkan bahwa proximity (kedekatan jarak) berpengaruh positif terhadap knowledge sharing. Organisasi dapat mengatur agar jarak antar meja kerja anggota organisasi berada dalam jarak yang cukup dekat tetapi tetap menghargai privasi masing-masing anggota organisasi. Akhbar & Musa (2012) mengusulkan agar organisasi membuat ruang–ruang diskusi yang cukup dekat dengan area kerja agar memungkinkan anggota organisasi dapat sewaktu-waktu dan secara spontan menggunakan ruang tersebut untuk melakukan knowledge sharing. Organization Culture (Budaya Organisasi) Hasil penelitian Borges (2013) menunjukkan bahwa budaya organisasi yang berpengaruh positif terhadap knowledge sharing adalah budaya organisasi yang suportif dan berorientasi pada tim. Organisasi dapat menciptakan budaya yang suportif dan berorientasi pada tim dengan menciptakan organization values (nilai-nilai organisasi) yang menghargai kerja sama tim dan sikap saling mendukung. Information Systems (Sistem Informasi).

Hasil penelitian Supar (2012) menunjukkan bahwa keberadaan teknologi informasi untuk knowledge sharing berpengaruh secara positif terhadap knowledge sharing. Organisasi perlu mengembangkan sistem informasi yang memiliki fitur khusus untuk knowledge sharing yang mudah diakses dan user-friendly. Dengan begitu, diharapkan anggota organisasi dapat melakukan knowledge sharing dengan mudah. Rewards (Penghargaan).

Hasil penelitian Al-Alawi (2007) menunjukkan bahwa rewards (penghargaan) memiliki pengaruh yang positif terhadap knowledge sharing. Organisasi dapat mengembangkan sistem rewards yang terkait dengan aktivitas knowledge sharing. Salah satu contohnya adalah dengan memberikan bonus bagi anggota organisasi yang aktif melakukan knowledge sharing. Organization Structure (Struktur Organisasi).

Hasil penelitian Al-Alawi (2007) menunjukkan bahwa organization structure (struktur organisasi) memiliki pengaruh yang positif terhadap knowledge sharing. Organisasi perlu mengembangkan struktur organisasi yang memungkinkan terjadinya pengambilan keputusan secara partisipatif. Knowledge sharing dapat terjadi didalam proses pengambilan keputusan secara partisipatif. Organizational Justice (Keadilan Organisasi).

Hasil penelitian Yesil & Dereli (2013) menunjukkan bahwa organizational justice (keadilan organisasi) berpengaruh secara positif terhadap knowledge sharing. Organisasi perlu memperlakukan setiap anggota organisasi secara adil. Contohnya adalah memberikan reward kepada anggota organisasi sesuai dengan kinerja dan kontribusinya kepada organisasi. Opportunity to Share Knowledge (Kesempatan untuk Berbagi Knowledge).

Hasil penelitian Abdul-Jalal dkk. (2013) menunjukkan bahwa opportunity to share knowledge (kesempatan untuk berbagi knowledge) berpengaruh secara positif terhadap knowledge sharing. Organisasi perlu memperluas kesempatan bagi para anggota organisasi untuk berbagi knowledge. Bentuk kesempatan untuk berbagi knowledge ini dapat berupa rapat, diskusi, sharing session, kesempatan menulis artikel di majalah perusahaan, dan lain-lain. Team Adequacy (Kecukupan Sumber Daya Tim) Jurnal PASTI Volume IX No 3, 230 – 237 235.

REVIEW/KOMENTAR JURNAL

Penulisan jurnal sudah baik. Materi sudah dijabarkan dengan lengkap beserta dengan refrensi. Kekurangan dari jurnal ini hanya terletak di latar belakang yang tidak dijelaskan dengan baik oleh penulis.


ABSTRACT
Knowledge sharing is the part central among knowledge management. This paper conducted a study of literature to factor that influences knowledge sharing in an organization. Based on the study of literature that done of the results of research on factor that influences knowledge sharing in an organization, found 21 of factors affect knowledge sharing. Factors are then analyzed and it is categorized based on the aspect of control organization. Factors that are in in control organization were 13 factors. Then this paper discuss further information about factors that is in in control organizations and steps can taken organization to increase knowledge sharing.
Keywords: Organization, Knowledge Management, Knowledge Sharing.

DAFTAR PUSTAKA

Abdul-Jalal H. & Toulson P. 2013. Knowledge Sharing Success for Sustaining Organizational Competitive Advantage. Procedia Economics and Finance. Vol. 7. 150-157.
Abdullah H.S., Hassim A.A. & Chik R. 2009. Knowledge Sharing in a Knowledge Intensive Organisation: Identifying the Enablers. International Journal of Business and Management, Vol. 4(4), 115-123.
Akhavan P., Hosseini S.M., Abbasi M., & Manteghi M. 2015. Knowledge-Sharing Determinants, Behaviors, and Innovative Work Behaviours, Aslib Journal of Information Management. Vol. 67(5). 562-591.
Akhbar A.R.N. & Musa M.F. 2012. Enhancing Human Interaction of Knowledge Sharing In Higher Learning Workplace Environment, Procedia–Social and Behavioral Sciences. Vol. 35, 137-145.
Al-Alawi A.I., Al-Marzooqi N.Y. & Mohammed Y.F. 2007. Organizational Culture and Knowledge Sharing: Critical Success Factors. Journal of Knowledge Management, Vol. 11(2), 22-42.
Bass B.M. 1997. Does the Transactional–Transformational Leadership Paradigm Transcend Organizational and National Boundaries? American Psychologist. Vol. 52(2). 130-139.
Borges R. 2013. Tacit Knowledge Sharing Between IT Workers. Management Research Review. Vol. 36(1). 89-108.
David Gurteen. 1999. Creating a Knowledge Sharing Culture Knowledge. Management Magazine. Volume 2. Issue 5. February. Filemon A. And Uriarte JR. 2008. Introduction to Knowledge Management. ASEAN Foundation. Jakarta. Indonesia.
Girard J. & Girard J. 2015. Defining Knowledge Management: Toward An Applied Compendium. Online Journal of Applied Knowledge Management. Vol. 3(1). 1-20.
Halawi L.A., McCarthy R.V. & Aronson J.E. 2006. Knowledge Management and the Competitive Strategy of the Firm. The Learning Organization. Vol. 13(4). 384-397.
Ibrahim S. & Heng L.H. 2015. The Roles of Learning in Stimulating Knowledge Sharing at Smes. Procedia–Social and Behavioral Sciences. Vol. 172. 230-237.
Javadi M.H.M., Zadeh N.D., Zandi M. & Yavarian J. 2012. Effect of Motivation & Trust on Knowledge Sharing and Effect of Knowledge Sharing on Employee’s Performance. International Journal of Human Resources Studies. Vol. 2(1). 210-221.
Kelloway E.K. & Barling J. 2000. What We Have Learned About Developing Transformational Leaders. Leadership & Organization Development Journal. Vol. 21(7), 355-362.
Jurnal PASTI Volume IX No 3, 230 – 237 237 Kuzu O.H. & Ozilhan D. 2014. The effect of employee relationships and knowledge sharing on employees’s performance: An empirical research on service industry. Procedia–Social and Behavioral Sciences. Vol. 109. 1370-1374.
Lin H. 2007. Knowledge sharing and firm innovation capability. International Journal of Manpower. Vol. 28(3/4). 315-332.
Ma Z., Qi. L. & Wang K. 2008. Knowledge Sharing In Chinese Construction Project Teams and Its Affecting Factors: An Empirical Study. Chinese Management Studies. Vol. 2(2). 97-108.
Sajeva S. 2014. Encouraging Knowledge Sharing Among Employees: How Reward Matters. Procedia–Social and Behavioral Sciences. Vol. 156. 130-134.
Sanchez J.H., Sanchez Y.H., Collado-Ruiz D. & Cebrian-Tarrason D. 2013. Knowledge Creating and Sharing Corporate Culture Framework. Procedia–Social and Behavioral Sciences. Vol. 74. 388-397.
Smith E.A. 2001. The Role of Tacit and Explicit Knowledge in the Workplace. Journal of Knowledge Management. Vol. 5(4). 311-321.
Solek-Borowska. C. 2015. Knowledge sharing practices in CEMS–Global Alliance of Management Education. Online Journal of Applied Knowledge Management. Vol. 3(2). 134-149. Supar N. 2012. Technological Factors Affecting Knowledge Sharing among Academic Staff in Selected Malaysian Higher Educational Institutions and the Effect on Performance. Journal of Education and Vocational Research. Vol. 3(7). 234-241.
Trivellas P., Akrivouli Z., Tsifora W. & Tsoutsa P. 2015. The Impact of Knowledge Sharing Culture on Job Satisfaction in Accounting Firms: The Mediating Effect of General Competencies. Procedia Economics and Finance. Vol. 19. 238-247.
Xia, L. & Ya, S. 2012. Study on Knowledge Sharing Behavior Engineering. Systems Engineering Procedia. Vol. 4. 468-476.
Yang J.T. 2007. The Impact of Knowledge Sharing on Organizational Learning And Effectiveness. Journal of Knowledge Management. Vol. 11(2). 83-90.
Yesil S. & Dereli S.F. 2013. An Empirical Investigation of The Organizational Justice, Knowledge Sharing And Innovation Capability. Procedia–Social and Behavioral Science. Vol. 75. 199-208.
Zaim H. 2006. Knowledge Management Implementation in IZGAZ. Journal of Economic and Social Research. Vol. 8(2). 1-25.