Tampilkan postingan dengan label @A05-AGNES. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label @A05-AGNES. Tampilkan semua postingan
Rabu, 04 Januari 2017
Jumat, 04 November 2016
Kamis, 03 November 2016
Leadership dan Change Management
Abstrak
Secara definisi, Change Management adalah sebuah
proses terstruktur dan sistematis untuk membantu transisi individu, tim kerja,
ataupun organisasi dari sebuah kondisi ke arah tujuan yang diinginkan.
Terdapat beberapa teknik-teknik
kepemimpinan. Dalam pelaksanaan kepemimpinan, seorang pemimpin harus berusaha
untuk meningkatkan kecakapan, kemampuan serta pengetahuan para pegawai,
sehingga pada akhirnya akan tercapai prestasi kerja yang optimal. Untuk
pencapaian tujuan kepemimpinan tersebut, maka seorang pemimpin harus
memperhatikan teknik-teknik kepemimpinan dalam pelaksanaan kepemimpinannya.
Teknik kepemimpinan sebagai
keterampilan teknis serta sosial pemimpin dalam menerapkan teori-teori
kepemimpinan pada praktek kehidupan serta organisasi tertentu dan melingkupi
konsep-konsep pemikiran, perilaku sehari-hari dan semua peralatan yang
dipakainya ( Kartono, 1985).
Berdasarkan penjelasan di atas
dapat dikatakan bahwa teknik kepemimpinan sangat perlu untuk di mengerti oleh
seorang pemimpin, karena dengan teknik kepemimpinan, pemimpin dapat mengerti
posisi dan peranannya di dalam organisasi.
Lebih jelas lagi S. Pamuji
dalam bukunya Kepemimpinan Pemerintahan di Indonesia, merinci teknik-teknik
kepemimpinan sebagai berikut:
- Teknik pematangan dan
penyiapan pengikut
- Teknik human relation
- Teknik menjadi teladan
- Teknik persuasi dan
pemberian perintah
- Teknik penggunaan sistem
komunikasi yang cocok
- Teknik penyediaan
fasilitas (Pamuji, 1995)
Pembahasan
Komponen yang harus ada di dalam
Change Management adalah :
1. Motivating
Change. Mendorong kesiapan untuk berubah dan mengatasi setiap penolakan
terhadapnya.
2. Creating a
Vision. Merumuskan arah perubahan yang diharapkan.
3. Developing
Political Support. Mempersiapkan para Agen Perubah (Change Agent),
termasuk para informal leader.
4. Managing the
Transition. Menyusun rencana aktivitas, membangun komitmen dan struktur
komite.
5. Sustaining
Momentum. Mempersiapkan infrastruktur perubahan, membangun sistem
pendukung bagi para Agen Perubah, membangun kompetensi dan keahlian baru, dan
mengapresiasi kemajuan sekecil apapun.
Michael Hammer dan James Champy
menuliskan bahwa ekonomi global berdampak terhadap 3 C, yaitu customer,
competition, dan change. ( Michael Hammer dan James Champy, Reengineering the
Corporation : A Manifesto for Business Revolution, 1994) Pelanggan menjadi
penentu, pesaing makin banyak, dan perubahan menjadi konstan.
Persoalan utama didalam melakukan
perubahan adalah Resistensi Individual,yang bisa timbul karena persoalan
kepribadian, persepsi, dan kebutuhan, maka individu punya potensi sebagai
sumber penolakan atas perubahan.
Coch dan French Jr. mengusulkan ada
enam taktik yang bisa dipakai untuk mengatasi resistensi perubahan ( L. Coch
dan J.R.P.French, Jr. “Overcoming Resistance to Change”, 1948)
1. Pendidikan dan
Komunikasi. Berikan penjelasan secara tuntas tentang latar belakang, tujuan,
akibat, dari diadakannya perubahan kepada semua pihak. Komunikasikan dalam
berbagai macam bentuk. Ceramah, diskusi, laporan, presentasi, dan bentuk-bentuk
lainnya.
2. Partisipasi. Ajak
serta semua pihak untuk mengambil keputusan. Pimpinan hanya bertindak sebagai
fasilitator dan motivator. Biarkan anggota organisasi yang mengambil keputusan.
3. Memberikan
kemudahan dan dukungan. Jika pegawai takut atau cemas, lakukan konsultasi atau
bahkan terapi. Beri pelatihan-pelatihan. Memang memakan waktu, namun akan
mengurangi tingkat penolakan.
4. Negosiasi. Cara
lain yang juga bisa dilakukan adalah melakukan negosiasi dengan pihak-pihak
yang menentang perubahan. Cara ini bisa dilakukan jika yang menentang mempunyai
kekuatan yang tidak kecil. Misalnya dengan serikat pekerja. Tawarkan alternatif
yang bisa memenuhi keinginan mereka.
5. Manipulasi dan
Kooptasi. Manipulasi adalah menutupi kondisi yang sesungguhnya. Misalnya
memlintir (twisting) fakta agar tampak lebih menarik, tidak mengutarakan hal
yang negatif, sebarkan rumor, dan lain sebagainya. Kooptasi dilakukan dengan
cara memberikan kedudukan penting kepada pimpinan penentang perubahan dalam
mengambil keputusan.
6. Paksaan. Taktik
terakhir adalah paksaan. Berikan ancaman dan jatuhkan hukuman bagi siapapun
yang menentang dilakukannya perubahan.
Change Management amat tergantung
dari pemimpinnya,Karena budaya pemimpin akan mewarnai arah perubahan
organisasi.Untuk itu faktor pemimpin menjadi kunci utama keberhasilan sebuah
perubahan. Seorang pemimpin yang mampu membawa perubahan organisasi menjadi
lebih baik adalah :
1. Punya Visi yang
Inspiring dan Mampu menjadi motivasi bagi seluruh anggota organisasi
2. Punya program
kerja yang Terperinci,terarah dan terukur.
3. Perubahan itu
dimulai dari diri seseorang pemimpin itu sendiri yang memberikan tauladan bagi
seluruh anggota organisasi
4. Membangun
kebijaksanaan,melalui kemampuan mendengarkan yang baik.Sebab dengan mengerti
orang lain anda mendapatkan kebijaksanaan, mengerti diri sendiri anda
mendapatkan pencerahan.
5. Fleksibelitas.Mampu
bergerak dan berubah pada situasi apapun.
6. Mampu melihat
keunikan para anggota organisasinya
7. Mampu menempatkan
orang yang tepat pada pekerjaan/jabatan yang tepat.
8. Selalu mempunyai
cara untuk menyelesaikan persoalan dengan berfikir dan bertindak diluar
kebiasaan.
9. Selalu menjadi
harapan bagi seluruh anggota organisasi
Ada
4 fitur kunci dari manajemen perubahan:
1. Perubahan adalah
hasil dari ketidakpuasan dengan strategi ini
2. Penting untuk
mengembangkan visi untuk alternatif yang lebih baik
3. manajemen harus
mengembangkan strategi untuk menerapkan perubahan
4. akan ada
resistensi terhadap perubahan
10
prinsip panduan untuk perubahan:
1. Lead with
the culture : Lou Gerstner, yang sebagai kepala eksekutif IBM memimpin
salah satu transformasi bisnis yang paling sukses dalam sejarah, mengatakan
pelajaran paling penting dia belajar dari pengalaman itu bahwa "budaya
adalah segalanya."
2. Start at the top : Meskipun
penting untuk melibatkan karyawan di setiap level awal, semua inisiatif change
management yang sukses mulai dari atas, dengan kelompok berkomitmen dan
baik-blok dari eksekutif sangat didukung oleh CEO.
3. Involve every layer
:
perencana strategis sering gagal untuk memperhitungkan sejauh mana orang
tingkat menengah dan garis depan dapat membuat atau menghancurkan sebuah
inisiatif perubahan. Jalur rolling perubahan adalah tak terkira halus jika
orang-orang ini disadap awal untuk masukan tentang isu-isu yang akan
mempengaruhi pekerjaan mereka.
4. Make the rational
and emotional case together : Pemimpin akan sering membuat kasus untuk
perubahan besar hanya atas dasar tujuan bisnis strategis seperti "kita
akan memasuki pasar baru" atau "kita akan tumbuh 20 persen per tahun
untuk tiga tahun ke depan." Tujuan tersebut baik-baik saja sejauh mereka
pergi, tapi mereka jarang mencapai orang-orang emosional dengan cara yang
menjamin komitmen tulus untuk penyebabnya.
5. Act your way into
new thinking : Banyak inisiatif perubahan tampaknya
berasumsi bahwa orang akan mulai bergeser perilaku mereka sekali elemen-elemen
formal seperti arahan dan insentif telah dimasukkan ke dalam tempat.
Orang-orang yang bekerja sama dalam tim lintas fungsional akan mulai
berkolaborasi karena garis-garis pada grafik menunjukkan mereka seharusnya
melakukannya. Manajer akan menjadi komunikator yang jelas karena mereka
memiliki mandat untuk menyampaikan pesan tentang strategi baru.
6. Engage : Pemimpin
sering membuat kesalahan dengan membayangkan bahwa jika mereka menyampaikan
pesan yang kuat dari perubahan pada awal inisiatif, orang akan mengerti apa
yang harus dilakukan. Tidak ada yang bisa lebih jauh dari kebenaran. perubahan
yang kuat dan berkelanjutan membutuhkan komunikasi yang konstan, tidak hanya di
seluruh peluncuran tapi setelah unsur-unsur utama dari rencana berada di
tempat. Semakin banyak jenis komunikasi yang digunakan, semakin efektif mereka,
itulah sebabnya mengapa robeknya HP turun pagar yang begitu penting: Simbol
memperkuat dampak kata-kata.
7. Lead outside the
lines
: Perubahan memiliki kesempatan terbaik cascading melalui organisasi ketika
semua orang dengan otoritas dan pengaruh yang terlibat. Selain mereka yang
memegang posisi formal dari pemimpin-ini diakui kelompok kekuatan-perusahaan
termasuk orang-orang yang daya lebih informal dan berhubungan dengan keahlian
mereka, dengan luasnya jaringan mereka, atau untuk kualitas pribadi yang
menimbulkan kepercayaan.
8. Leverage formal
solutions
: Membujuk orang untuk mengubah perilaku mereka tidak akan cukup untuk
transformasi kecuali elemen-seperti formal sebagai struktur, sistem reward,
cara operasi, pelatihan, dan pengembangan-yang didesain ulang untuk mendukung
mereka. Banyak perusahaan jatuh pendek di daerah ini.
9. Leverage informal
solutions
: Bahkan ketika elemen formal diperlukan untuk perubahan yang hadir, budaya
didirikan dapat merusak mereka jika orang kembali ke cara lama dipegang tapi
tidak sadar berperilaku. Inilah sebabnya mengapa solusi formal dan informal
harus bekerja sama.
10. Assess and adapt : Survei
Strategi & Katzenbach Pusat mengungkapkan bahwa banyak organisasi yang
terlibat dalam upaya transformasi gagal untuk mengukur keberhasilan mereka
sebelum pindah. Pemimpin begitu bersemangat untuk mengklaim kemenangan yang
mereka tidak mengambil waktu untuk mencari tahu apa yang bekerja dan apa yang
tidak, dan untuk menyesuaikan langkah-langkah berikutnya sesuai. Kegagalan ini
untuk menindaklanjuti hasil dalam inkonsistensi dan menghilangkan organisasi
informasi yang dibutuhkan tentang bagaimana untuk mendukung proses perubahan di
seluruh siklus hidupnya.
Kesimpulan
Change Management adalah sebuah
proses terstruktur dan sistematis untuk membantu transisi individu, tim kerja,
ataupun organisasi dari sebuah kondisi ke arah tujuan yang diinginkan.
S. Pamuji dalam bukunya
Kepemimpinan Pemerintahan di Indonesia, merinci teknik-teknik kepemimpinan
sebagai berikut:
1.
Teknik pematangan dan penyiapan pengikut
2.
Teknik human relation
3.
Teknik menjadi teladan
4.
Teknik persuasi dan pemberian perintah
5.
Teknik penggunaan sistem komunikasi yang cocok
6.
Teknik penyediaan fasilitas (Pamuji,
1995)
Michael
Hammer dan James Champy menuliskan bahwa ekonomi global berdampak terhadap 3 C,
yaitu customer, competition, dan change. ( Michael Hammer dan James Champy,
Reengineering the Corporation : A Manifesto for Business Revolution, 1994)
Pelanggan menjadi penentu, pesaing makin banyak, dan perubahan menjadi konstan.
Persoalan
utama didalam melakukan perubahan adalah Resistensi Individual,yang bisa timbul
karena persoalan kepribadian, persepsi, dan kebutuhan, maka individu punya
potensi sebagai sumber penolakan atas perubahan.
Sumber:
https://www.london.edu/education-and-development/topic/leadership-and-change-management#.V-JYM1dh658
http://www.e-jurnal.com/2013/09/teknik-teknik-kepemimpinan.html
Kamis, 29 September 2016
Resensi Jurnal: Penerapan peraturan pemerintah no. 50 tahun 2012 tentang sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja untuk meningkatkan kinerja industri tekstil
A. Judul Penelitian
Penerapan peraturan pemerintah no. 50 tahun
2012 tentang sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja untuk
meningkatkan kinerja industri tekstil
Rabu, 14 September 2016
Resensi Buku Pengantar Teknik Industri
Judul Buku : Pengantar Teknik Industri
Penulis : Amin Syukron dan Muhammad Kholil
Penerbit : Graha Ilmu
Tahun Terbit : 2014
Cetakan : I
No. ISBN : 978-602-262-193-5
Halaman : ix+315
• Pokok Bahasan
Aktivitas
produksi sebagai suatu bagian dari fungsi organisasi perusahaan
bertanggungjawab terhadap pengolahan bahan baku menjadi produk jadi yang dapat
dijual. Untuk melaksanakan fungsi produksi tersebut, diperlukan rangkaian
kegiatan yang akan membentuk suatu sistem produksi.
Output dari
suatu proses dalam sistem produksi dapat berbentuk barang atau jasa biasa
disebut dengan produk. Barang adalah benda-benda yang berwujud dari hasil
proses produksi, yang digunakan masyarakat untuk memenuhi kebutuhannya atau
untuk menghasilkan benda lain yang akan memenuhi kebutuhan masyarakat. Jasa
adalah suatu barang yang tidak berwujud dari hasil proses produksi, tetapi
dapat memberikan kepuasan dan memenuhi kebutuhan masyarakat.
1. Siklus Aktivitas Manufaktur
Berbeda
dengan sistem produksi, sistem manufaktur mempunyai cakupan yang lebih luas
dari sekedar input, proses, dan output meliputi serangkaian proses yang lebih
dari mulai konsumen sampai pemasok. Mulai dari:
- Pemasaran dan penjualan
- Perancangan produk
- Teknik industry
- Perencanaan dan pengendalian produksi
- Proses manufacturing
- Pengendalian kualitas
- Pengiriman dan pengendalian kualitas
2. JUST IN TIME (JIT)
Tujuan JIT
adalah meningkatkan keuntungan dengan mereduksi biaya dan meningkatkan kualitas.
Disamping itu prinsip-prinsip JIT adalah:
1) Simplification, merupakan salah satu
tools just in time dalam penyederhanaan proses yang ada,
2) Cleanliness dan Organization, merupakan
aturan dalam organisasi dan perusahaan,
3) Visibility, membuat agar kesalahan
terlihat,
4) Cycle time, waktu yang dibutuhkan untuk
menyelesaikan suatu produk,
5) Agility, kekuatan dalam pembuatan
produk,
6) Variability Reduction, kemampuan
mengurangi hal-hal yang tidak diperlukan,
7) Measurement, pengertian akan proses
keseluruhan.
3. PULL PRODUCTION SYSTEM
4. Sistem Produksi Berdasarkan Kanban
Kanban
berarti sinyal, yang merupakan sebuah konsep berhubungan dengan Lean
Manufacturingdan Just In Time (JIT). Menurut pencetusnya, Taiichi Ohno, kanban
merupakan salah satu cara untuk mencatat JIT. Kanban bukanlah sistem pengontrol
persediaan, namun merupakan sistem pengaturan yang membantu menentukan apa,
kapan, dan berapa banyak sebuah produk harus dibuat.
• Pemahaman
Efektivitas,
efisiensi dan produktivitas merupakan kunci utama dari keberhasilan suatu
proses produksi. Dari buku Pengantar Teknik Industri karangan Amin Syukron dan
Muhammad Kholil tersebut secara menyeluruh membahas metode-metode dalam
industri manufaktur. Banyak teori, konsep, proses dalam keilmuan teknik industri
yang dibahas dalam buku ini. Pembahasan mengenai kualitas dan kuantitas juga
banyak diungkap dan dijabarkan dalam buku ini.
• Kesimpulan
Buku ini
dapat dijadikan buku pembelajaran bagi Mahasiswa Teknik Industri, karena
benar-benar membahas tentang keilmuan Teknik industri mulai dari bidang
manufaktur, ergonomi, dan lain-lain. Didalamnya juga terdapat konsep, teori
dari para ilmuwan bidang teknik industri, alur-alur yang menunjukkan proses
barang mentah sampai menjadi barang jadi. Akan tetapi masih banyak terjadi
kesalahan pengetikan kata.
Kamis, 08 September 2016
Energi Alternatif Pengganti Nuklir
Seperti Uranium dan Plutonium,
Thorium ini juga cocok dijadikan bahan bakar nuklir. Isotop yang didapat di
dalam Thorium dapat digunakan untuk proses fisi. Namun, proses fisi yang
terjadi tidak menghasilkan neutron yang cukup untuk membelah inti atom secara
mandiri. Neutron harus selalu disediakan secara terus menerus dari luar untuk
menembak dan membelah inti atom, dengan kata lain jika menggunakan Thorium maka
tidak akan timbul reaksi berantai. Inilah mengapa Thorium disebut lebih aman
dibanding Uranium dan Plutonium.
Menteri Perindustrian (Menperin)
Saleh Husin mengatakan pentingnya pengembangan sumber energi baru untuk
memenuhi pasokan energi bagi industri dalam negeri. Salah satunya adalah
pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) berbasis thorium.
Menurut Saleh, tenaga nuklir memiliki
potensi menjadi salah satu penyuplai energi listrik di Indonesia, apalagi
sumber bahan baku thorium di Indonesia sangat berlimpah, terutama di Bangka
Belitung, Kepulauan Riau. “Sumber bahan baku thorium melimpah di Bangka
Belitung. Ini sangat diperlukan, mengingat ke depan kebutuhan energi untuk
industri sangat besar dan tentu dengan harga yang kompetitif,” ujarnya.
Kalkulasi yang ada, bahan baku
thorium di Bangka Belitung diperkirakan mencapai 170 ribu ton. Dengan
perhitungan 1 ton thorium mampu memproduksi 1.000 megawatt (MW) per tahun, maka
jumlah bahan baku tersebut bisa mengoperasikan 170 unit pembangkit listrik
selama 1.000 tahun. Dari sisi total biaya produksi, PLTN thorium juga lebih
murah karena biayanya hanya USD3 sen per kWh. Sedangkan menggunakan batu bara
harganya USD5,6 sen per kWh, gas USD4,8 sen per kWh, tenaga bayu USD18,4 sen
per kWh, dan tenaga surya USD23,5 sen per kWh.
Sementara itu, anggota Dewan Energi
Nasional (DEN), Tumiran mendukung usulan tersebut. Menurut dia, penyediaan
energi untuk industri sangat mutlak bagi kelangsungan perekonomian, lapangan
kerja, dan kemandirian ekonomi. “Teknologi penyediaan energi terus berkembang
dan kita dapat memanfaatkannya sesuai peta potensi energi nasional, termasuk
teknologi reaktor yang generasi kini sudah jauh berbeda dengan generasi
sebelumnya. PLTN thorium dapat menyediakan kebutuhan energi yang semakin
meninggi," kata dia.
Di negara-negara maju dewasa ini,
nuklir telah menjadi sumber energi penting guna menopang kehidupan umat
manusia. Salah satu manfaat energi nuklir yang dekat dengan kehidupan kita
sehari-hari adalah sebagai pembangkit listrik. Di Indonesia, Badan Pengkajian
dan Penerapan Teknologi (BPPT) tak ketinggalan mensosialisasikan manfaat energi
nuklir tersebut di berbagai media televisi nasional.
Tentu, sosialisasi soal Pembangkit
Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) ini untuk menjawab protes keras yang datang dari
para aktivis lingkungan, terutama yang soal limbah nuklir bila terjadi kondisi
bencana. Namun, kekhawatiran itu tampaknya perlu dipertimbangkan lagi. Masalah
limbah nuklir kini dapat teratasi dengan ditemukannya teknologi rancang bangun
kontainer atau penampungan limbah nuklir yang mampu menampung limbah berbahaya
tersebut hingga setidaknya 10.000 tahun di dalam tanah. Teknologi itu ditemukan
oleh anak bangsa, Dr. Yudi Utomo Imardjoko.
Konsep pembuatannya pun kerap kali
dipresentasikan di berbagai forum ilmiah, namun untuk detail perhitungan rinci
rancangan tersebut tidak pernah diungkapkan Yudi. Sebagai ilmuwan nuklir, Yudi
menyadari pentingnya energi yang dapat diperbaharui seperti energi nuklir
sebagai pembangkit listrik. Sementara itu, krisis listrik di Indonesia sudah
dianggap dalam kondisi bencana nasional. Energi nuklir ini sejatinya bisa
mengatasi krisis tersebut, namun program nuklir masih dalam pembahasan.
Meski demikian, Yudi juga memahami
potensi bahayanya memiliki reaktor nuklir, seperti kebocoran sejumlah reaktor
nuklir seperti di Ukraina, Amerika, dan Jepang. Kebocoran-kebocoran reaktor
nuklir itu memberikan kesan mengerikan bagi banyak orang, padahal hal tersebut
tidak benar. Limbah nuklirlah yang justru lebih menimbulkan masalah
dibandingkan pembangunan reaktor nuklir.
Untuk mengantisipasi limbah nuklir
yang dapat bertahan hingga puluhan ribu tahun, Yudi mengungkapkan bahwa saat
ini telah ada cara lain, yaitu dengan menggunakan bahan bakar thorium, bukan
uranium.
Mengacu pada program pembangunan
pembangkit listrik 35 ribu MW yang diagul-agulkan Presiden Jokowi, Yudi melihat
bahwa hal tersebut akan mudah direalisasikan jika menggunakan PLTN. “Kalau
pakai (PLTN) thorium bisa sampai 170 ribu MW,” tuturnya pada 2015 lalu. Selain
itu, limbah thorium juga hanya akan bertahan hingga 10–100 tahun dibandingkan
uranium yang bisa mencapai 10.000 tahun.
Padahal, Thorium menghasilkan
produk-produk limbah yang jauh lebih sedikit dibanding Uranium atau Plutonium
walau masih tetap radioaktif dan berbahaya. Thorium juga memberi jumlah energi
yang lebih besar dibanding Uranium.
Menurut Carlo Rubbia dari CERN
(sebuah organisasi riset nuklir dari Eropa) mengatakan, “Dua ratus ton uranium
dapat memberikan jumlah energi yang sama bisa Anda dapatkan dari satu ton
thorium,” ujarnya seperti dikutip dari BBC.
Sumber:
world-nuclear.org
en.wikipedia.org/wiki/Nuclear_power
Langganan:
Postingan (Atom)







