Tampilkan postingan dengan label @F29-Khairusy. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label @F29-Khairusy. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 23 Desember 2017
Jumat, 15 Desember 2017
Sabtu, 02 Desember 2017
Sabtu, 25 November 2017
Jumat, 24 November 2017
Jumat, 03 November 2017
Review Jurnal : Penerapan Konsep Green Manufacturing Pada Botol Minuman Kemasan Plastik
Judul jurnal : Penerapan Konsep Green Manufacturing Pada Botol Minuman Kemasan Plastik
Nama penulis : Wisma Soedarmadji, Surachman dan Eko Siswanto
Publisher : [ Teknik Mesin ] Universitas Brawijaya Malang
Link : http://download.portalgaruda.org/article.php?article=347534&val=7016&title=PENERAPAN%20KONSEP%20GREEN%20MANUFACTURING%20%20PADA%20BOTOL%20MINUMAN%20KEMASAN%20PLASTIK. http://download.portalgaruda.org/article.php?article=347534&val=7016&title=PENERAPAN%20KONSEP%20GREEN%20MANUFACTURING%20%20PADA%20BOTOL%20MINUMAN%20KEMASAN%20PLASTIK.
Nama penulis : Wisma Soedarmadji, Surachman dan Eko Siswanto
Publisher : [ Teknik Mesin ] Universitas Brawijaya Malang
Link : http://download.portalgaruda.org/article.php?article=347534&val=7016&title=PENERAPAN%20KONSEP%20GREEN%20MANUFACTURING%20%20PADA%20BOTOL%20MINUMAN%20KEMASAN%20PLASTIK. http://download.portalgaruda.org/article.php?article=347534&val=7016&title=PENERAPAN%20KONSEP%20GREEN%20MANUFACTURING%20%20PADA%20BOTOL%20MINUMAN%20KEMASAN%20PLASTIK.
A. Latar Belakang
Pada suatu proses produksi pasti banyak ditemui limbah sisa produksi. Limbah sisa produksi biasanya banyak tak digunakan dan dibuang begitu saja sehingga akan menimbulkan pencemaran lingkungan di masa yang akan datang. Salah satu limbah yang paling banyak ditemui yaitu limbah plastik, seperti bekas botol minuman maupun makanan ringan. Proses produksi yang melibatkan plastik sangat tinggi, contohnya pada Perusahaan botol minuman kemasan plastik di Pandaan Kabupaten Pasuruan yaitu PT. XYZ pada tahun 2011 berproduksi sebesar 1,65 juta ton. Dengan rincian 50% (8,25 juta ton) untuk kemasan air mineral, 30% (495 ribu ton) untuk kemasan air minum selain kemasan air, limbah botol minuman kemasan plastik yang dikirim ke pabrik untuk di daur ulang mencapai ± 2-3 ton dalam satu kali kirim setiap minggu. Dari data di atas dapat dibuktikan bahwa limbah yang dihasilkan pun sangat tinggi, dan itu pun baru berasal dari daerah Pasuruan, bagaimana jika seluruh Indonesia di gabungkan? Tentu tak terhitung banyaknya. Namun permasalahan berikut dapat di selesaikan apabila perusahaan menerapkan Green Manufacturing. Menurut Soedarmadji dkk(2015), Green Manufacturing merupakan suatu proses produksi yang menggunakan input dengan dampak lingkungan yang relatif rendah, sangat efisien, dan menghasilkan sedikit bahkan tidak ada limbah atau polusi.
B. Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk:
1. Mengetahui pengaruh positif antara pewarnaan dengan persiapan pembersihan
2. Mengetahui pengaruh positif antara persiapan pembersihan dengan perbaikan ramah lingkungan
3. Mengetahui pengaruh positif antara perbaikan ramah lingkungan dengan kondisi ramah lingkungan
4. Mengetahui pengaruh positif antara pewarnaan dengan kondisi ramah lingkungan.
C. Metode Penelitian
Metode yang digunakan untuk penelitian:
1. Deskripsi variabel, dimana ada beberapa variabel yang diteliti antara lain:
a. Variabel pewarnaan
Variabel ini dibentuk oleh 3 indikator dengan menggunakan pengukuran skala likert 5 poin. Indikator pada variabel ini mengacu pada hasil penelitian, yaitu: budaya ramah lingkungan, tingkatan limbah, dan dampak limbah.
Variabel ini dibentuk oleh 3 indikator dengan menggunakan pengukuran skala likert 5 poin. Indikator pada variabel ini mengacu pada hasil penelitian, yaitu: budaya ramah lingkungan, tingkatan limbah, dan dampak limbah.
b. Variabel persiapan pembersihan
Variabel ini dibentuk oleh 4 indikator dengan menggunakan pengukuran skala likert 5 poin. Indikator pada variabel ini mengacu pada hasil penelitian, yaitu: rencana perbaikan material, rencana perbaikan energi, rencana perbaikan proses, dan rencana perbaikan teknologi.
Variabel ini dibentuk oleh 4 indikator dengan menggunakan pengukuran skala likert 5 poin. Indikator pada variabel ini mengacu pada hasil penelitian, yaitu: rencana perbaikan material, rencana perbaikan energi, rencana perbaikan proses, dan rencana perbaikan teknologi.
c. Variabel perbaikan ramah lingkungan
Variabel ini dibentuk oleh 3 indikator dengan menggunakan pengukuran skala likert 5 poin. Indikator pada variabel ini mengacu pada hasil penelitian, yaitu: tingkatan mesin yang ramah lingkungan, tingkatan proses yang ramah lingkungan, dan tingkatan sistem yang ramah lingkungan.
Variabel ini dibentuk oleh 3 indikator dengan menggunakan pengukuran skala likert 5 poin. Indikator pada variabel ini mengacu pada hasil penelitian, yaitu: tingkatan mesin yang ramah lingkungan, tingkatan proses yang ramah lingkungan, dan tingkatan sistem yang ramah lingkungan.
d. Variabel kondisi ramah lingkungan
Variabel ini dibentuk oleh 3 indikator dengan menggunakan pengukuran skala likert 5 poin. Indikator pada variabel ini mengacu pada hasil penelitian, yaitu: kebijakan ramah lingkungan, pedoman ramah lingkungan, dan pengukuran ramah lingkungan.
Variabel ini dibentuk oleh 3 indikator dengan menggunakan pengukuran skala likert 5 poin. Indikator pada variabel ini mengacu pada hasil penelitian, yaitu: kebijakan ramah lingkungan, pedoman ramah lingkungan, dan pengukuran ramah lingkungan.
2. Pengumpulan Data
Dalam penelitian ini data yang dikumpulkan meliputi data primer dan data sekunder dari 7 perusahaan botol minuman kemasan plastik di Kabupaten Pasuruan. Data primer yang digunakan dalam penelitian ini bertujuan untuk menganalisa pengaruh variabel pewarnaan, variabel persiapan pembersihan, perbaikan ramah lingkungan, dan variabel kondisi ramah lingkungan dengan menggunakan pengukuran skala likert 5 poin. Sedangkan data sekunder digunakan untuk menggambarkan keadaan umum daerah penelitian dan menggambarkan kondisi perusahaan botol minuman kemasan plastik di kabupaten Pasuruan.
Dalam penelitian ini data yang dikumpulkan meliputi data primer dan data sekunder dari 7 perusahaan botol minuman kemasan plastik di Kabupaten Pasuruan. Data primer yang digunakan dalam penelitian ini bertujuan untuk menganalisa pengaruh variabel pewarnaan, variabel persiapan pembersihan, perbaikan ramah lingkungan, dan variabel kondisi ramah lingkungan dengan menggunakan pengukuran skala likert 5 poin. Sedangkan data sekunder digunakan untuk menggambarkan keadaan umum daerah penelitian dan menggambarkan kondisi perusahaan botol minuman kemasan plastik di kabupaten Pasuruan.
3. Analisa
Penelitian ini menggunakan metode survei dengan menggunakan analisis data Partial Least Square (PLS). Analisa Partial Least Square (PLS) dapat diterapkan pada semua skala data, tidak membutuhkan banyak asumsi dan ukuran sampelnya tidak harus besar, dapat digunakan sebagai konfirmasi teori juga dapat digunakan untuk menjelaskan hubungan antara variabel.
Penelitian ini menggunakan metode survei dengan menggunakan analisis data Partial Least Square (PLS). Analisa Partial Least Square (PLS) dapat diterapkan pada semua skala data, tidak membutuhkan banyak asumsi dan ukuran sampelnya tidak harus besar, dapat digunakan sebagai konfirmasi teori juga dapat digunakan untuk menjelaskan hubungan antara variabel.
4. Hipotesis
Hipotesis penelitian harus dibuktikan berdasarkan kesimpulan dari beberapa penelitian sebelumnya seperti yang telah dibahas sebelumnya.
D. Hasil Penelitian
Berdasarkan hasil pengolahan dan analisis data, maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:
1. Variabel pewarnaan berpengaruh positif dan tidak signifikan terhadap variabel persiapan pembersihan.
2. Variabel persiapan pembersihan berpengaruh positif dan signifikan terhadap perbaikan ramah lingkungan.
3. Variabel perbaikan ramah lingkungan berpengaruh positif dan signifikan terhadap kondisi ramah lingkungan. Variabel pewarnaan juga berpengaruh positif dan tidak signifikan terhadap kondisi ramah lingkungan.
E. Review dan Saran
Dilihat dari uraian penelitian di atas saya berpendapat bahwa jurnal ini terbukti secara ilmiah karena menggunakan perhitungan dan analisis yang sangat mendukung karena mempunyai dasar-dasar perumusan yang jelas. Walaupun begitu saya masih merasa kesulitan untuk mencerna perhitungan yang dilakukan karena angka-angka yang tidak begitu sayang mengerti sehingga saya merasa kesulitan sekaligus bingung. Secara keseluruhan saya rasa jurnal ini mampu menjelaskan secara lengkap mengapa suatu proses produksi perlu adanya pengurangan limbah, dasar penelitian dan sumbernya pun jelas sehingga dapat dijadikan satu acuan untuk melakukan penelitian yang serupa. Saran saya, lebih dijabarkan lagi perhitungan yang dilakukan sehingga angka-angka yang muncul dapat diketahui asalnya.
F. Daftar Pustaka
Soedarmaji. W, Surachman, dan Siswanto, E. 2015. Penerapan Konsep Green Manufacturing Pada Botol Minuman Kemasan Plastik. JEMIS Vol. 3 No. 2. Dalam : http://download.portalgaruda.org/article.php?article=347534&val=7016&title=PENERAPAN%20KONSEP%20GREEN%20MANUFACTURING%20%20PADA%20BOTOL%20MINUMAN%20KEMASAN%20PLASTIK. (Diakses pada tanggal 03 November 2017)
Jumat, 06 Oktober 2017
Rekayasa Nilai (Value Engineering)
Beberapa definisi yang menjelaskan tentang Value Engineering secara umum merupakan teknik perancangan sistem yang sistematis dengan menggunakan teknik-teknik untuk mengidentifikasi fungsi - fungsi yang diperlukan, menerapkan nilai-nilai dan mengembangkan alternatif-alternatif sehingga tercapai keseimbangan fungsional terbaik antara biaya keadaan dan performansi dari suatu sistem atau produk.
Menurut Tarore dkk(2013), definisi Rekayasa Nilai dari Society of American Value Engineers diartikan sebagai berikut:
Rekayasa Nilai adalah usaha yang terorganisasi secara sistematis dan mengaplikasikan suatu teknik yang telah diakui, yaitu teknik mengaplikasikan suatu produk atau jasa yang bertujuan memenuhi fungsi yang diperlukan dengan harga yang terendah (paling ekonomis).
Dengan kata lain, Rekayasa Nilai bermaksud memberikan suatu yang optimal bagi sejumlah uang yang dikeluarkan, dengan memakai teknik yang sistematis untuk menganalisis dan mengendalikan total biaya produk. Rekayasa Nilai akan membantu membedakan dan memisahkan antara yang diperlukan dan tidak diperlukan, dimana dapat dikembangkan alternatif yang memenuhi keperluan (dan meninggalkan yang tidak perlu) dengan biaya terendah.
Setiap orang tertarik untuk menghemat biaya, setiap orang berusaha untuk mencari suatu investasi yang dapat menghasilkan pengembalian investasi yang sebesar-besarnya. Ketika pertama kali VE studi diperkenalkan, tidak ada orang menduga bahwa penghematannya demikian besar, sehingga konsep dari VE ini menyebar demikian pesatnya. Program VE adalah “ Proven Technique ” yang dipakai untuk mengatasi biaya yang tidak diperlukan.
Arti nilai ( Value ) sulit dibedakan dengan biaya ( Cost ) atau harga ( Price ). Nilai mengandung arti subyektif apalagi bila dihubungkan dengan moral, estetika, sosial, ekonomi. Pengertian nilai dibedakan dengan biaya karena hal-hal sebagai berikut (Soeharto,2001) : 1. Ukuran nilai ditentukan oleh fungsi atau kegunaannya sedangkan harga atau biaya ditentukan oleh substansi barangnya atau harga komponen-komponen yang membentuk barang tersebut. 2. Ukuran nilai cenderung kearah subyektif sedangkan biaya tergantung pada ( Monetary Vaue ) pengeluaran yang telah dilakukan untuk mewujudkan barang tersebut.
Biaya adalah jumlah segala usaha dan pengeluaran yang dilakukan dalam mengem-bangkan, memproduksi dan aplikasi produk. Penghasil produk selalu memikirkan akibat dari adanya biaya terhadap kualitas, realibilitas, dan main tainability karena ini akan berpengaruh terhadap biaya bagi pemakai. Biaya pengem-bangan merupakan komponen yang cukup besar dari total biaya. Sedangkan perhatian terhadap biaya produksi amat diperlukan karena mengandung sejumlah biaya yang tidak perlu ( Unnecessary Cost ).
Menurut Thoengsal (2014), dalam melakukan suatu proses rekayasa nilai sebaiknya dilakukan pada tahap perencanaan (Planning) agar kita dapat mengatahui secara dini elemen-elemen biaya yang dapat kita optimalkan. Hal ini dilakukan karena jika kita melakukan suatu analisis value engineering pada saat proses konstruksi berlangsung tentunya akan menyita waktu pekerjaan, biaya konsultasi tambahan, sehingga banyak kehilangan (Loss) yang terjadi jika dilakukan pada phase pelaksanaan/ konstruksi. Pengertian tersebut dapat diilustrasikan pada gambar di bawah ini. Ada beberapa alasan mengapa konsep value engineering (VE) dirasa perlu dan penting untuk diterapkan dalam suatu proyek konstruksi antara lain:
•Keterbatasan Anggaran Proyek, masalah keterbatasan anggaran dalam proyek menjadi unsur yang dapat berisiko terhadap kelangsungan pelaksanaan suatu proyek konstruksi dikarenakan biaya merupakan unsur yang penting untuk mengwujudkan suatu proyek. Dengan kendala keterbatasan biaya yang sering ditemukan dalam proyek maka konsep VE dapat menjadi salah satu solusi yang efektif dan efisien untuk diterapkan sehingga dapat berpotensi dalam mereduksi biaya yang tidak perlu (Safe Potential).
•Harga Sumber Daya Proyek Yang Terus Meningkat, hal ini yang dimaksudkan yaitu sumber daya berupa material, peralatan/machine, gaji pekerja (man power) dan metode kerja yang realitanya cenderung mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Melihat permasalahan ini maka penerapan konsep VE dapat menjadi suatu pilihan dalam memecahkan permasalahan tersebut.
•Tingkat Inflasi dan Suku Bunga Yang Terus Meningkat, hal ini juga dapat menjadi suatu hambatan dalam melaksanakan suatu proyek konstruksi dikarenakan tingkat inflasi yang terus meningkat dapat berpotensi dalam meningkatkan anggaran suatu proyek dari tahun ke tahun baik untuk proyek swasta maupun pemerintah yang tentunya juga berbanding lurus terhadap peningkatan nilai suku bunga.
•Teknologi Yang Mengalami Kemajuan, dengan perkembangan kemajuan teknologi baik dari aspek teknologi material, metode kerja, mesin, peralatan dsb, maka hal ini dapat menjadi sumber peluang munculnya inovasi dan kreatifitas bagi para VE team dalam mengwujudkan penerapan suatu konsep value engineering (VE) pada proyek-proyek konstruksi.
Rekayasa mempunyai karakteristik (Zimerman, L.W and Hart, 1982) sebagai berikut:
a. Berorientasi fungsi, perancangan dimulai dengan identifikasi fungsi-¬fungsi yang dibutuhkan.
b. Pendekatan sistematis, perancangan harus dilakukan dengan mempertimbangkan seluruh dimensi permasalahan.
c. Multi disiplin, perancangan melibatkan berbagai keahlian.
d. Berorientasi pada siklus hidup produk, analisa mencakup keseluruhan siklus hidup produk.
e. Pola pikir kreatif, proses perancangan harus dapat mengidentifikasi alternatif-alternatif pemecahan masalah kreatif.
Menurut Pristianti (2015), penerapan rekayasa nilai harus diusahakan pada tahap konsep perencanaan. Sebab mempunyai fleksibilitas yang maksimal untuk mengadakan perubahan-perubahan tanpa menimbulkan biaya tambahan untuk perencanaan ulang. Dengan berkembangnya proses perencanaan, biaya untuk mengadakan perubahanperubahan akan bertambah, sampai akhirnya sampai pada suatu titik yang tidak mempunyai penghemtan yang dapat dicapai.
Dalam rekayasa nilai, yang diperhitungkan hanya nilai ekonomisnya saja yaitu meliputi :
a. Nilai guna
Menunjukkan tingkat kegunaan dan pelayanan atau fungsi yang dapat diberikan oleh sistem.
b. Nilai prestise
Sesuatu yang membuat produk tersebut diinginkan konsumen disamping nilai gunanya
c. Nilai Tukar (Exchange Vane)
Menunjuikkan ukuran pengeluaran keuangan yang dipakai konsumen untuk memiliki produk tersebut.
d. Nilai Biaya (Cost Value)
Merupakan jumlah uang yang digunakan produsen untuk membuat produk tersebut.
Menurut Thoengsel(2014), dalam penerapan VE khusunya pada industri konstruksi manfaat secara umum yang dapat diberikan yaitu:
1. Dapat mencegah dan mereduksi timbulnya potensi biaya yang tidak perlu (Loss Cost) pada item pekerjaan konstruksi.
2. Dapat mencegah terjadinya pemebengkakan biaya pada akhir pelaksanaan proyek konstruksi.
3. Dapat menciptakan peningkatan budaya, daya inovasi dan kreatifitas bagi para insinyur penyelenggara konstruksi baik dari lembaga konsultan, kontraktor maupun pihak pemilik proyek/owner.
4. Dapat melahirkan para pakar-pakar Value Engineers Specialist sebagai suatu cabang ilmu keteknikan yang berorientasi kepada kinerja tim dari beberapa disiplin bidang keinsinyuran.
5. Dapat menjadi suatu pembelajaran bagi pihak penyelenggara konstruksi bahwa proses perencanaan dan perancangan suatu proyek konstruksi harus dilakukan secara matang dan optimal dalam hal ini konsep penerapan VE dapat dilakukan pada tahap ini dikarenakan tingkat kompleksitas yang tinggi jika proses VE dilakukan pada tahap pelaksanaan konsruksi.
Daftar Pustaka:
Tarore. H, dkk. 2013. Aplikasi Rekayasa Nilai Pada Proyek Kontruksi Perumahan (Studi Kasus Perumahan Taman Sari Metropolitan Manado PT. Wika ). Jurnal Sipil Statik. Volume 1. No.5. Dalam :http://download.portalgaruda.org/article.php?article=108076&val=1013. (diakses pada tanggal 5 Oktober).
Azis. S, dkk. 2016. Penerapan Rekayasa Nilai (Value Engineering) pada Pekerjaan Struktur Balok dan Kolom Gedung Poliklinik Universitas Brawijaya Malang. temuilmiah iplbi. Dalam: http://temuilmiah.iplbi.or.id/wp-content/uploads/2016/12/IPLBI2016-H-121-128-Penerapan-Rekayasa-Nilai-Value-Engineering-Pada-Pekerjaan-Struktur-Balok-Dan-Kolom.pdf. (diakses pada tanggal 6 Oktober).
Thoengsel. J,. 2014. Value Engineering (Rekayasa Nilai). blogspot. Dalam:http://jamesthoengsal.blogspot.co.id/p/blog-page_22.html. (diakses pada tanggal 6 Oktober).
Pristianti. U.H,. Penerapan Rekayasa Nilai Pada Pembangunan Gedung RSUD Gambiran Tahap II Kota Kediri. its. Dalam: http://digilib.its.ac.id/public/ITS-Undergraduate-10728-Paper.pdf. (diakses pada tanggal 6 Oktober).
Anonim. 2010. Rekayasa Nilai : Sebuah Definisi. blogspot. Dalam:http://sangpenyampai.blogspot.co.id/2010/04/rekayasa-nilai-sebuah-definisi.html. (diakses pada tanggal 6 Oktober).
Menurut Tarore dkk(2013), definisi Rekayasa Nilai dari Society of American Value Engineers diartikan sebagai berikut:
Rekayasa Nilai adalah usaha yang terorganisasi secara sistematis dan mengaplikasikan suatu teknik yang telah diakui, yaitu teknik mengaplikasikan suatu produk atau jasa yang bertujuan memenuhi fungsi yang diperlukan dengan harga yang terendah (paling ekonomis).
Dengan kata lain, Rekayasa Nilai bermaksud memberikan suatu yang optimal bagi sejumlah uang yang dikeluarkan, dengan memakai teknik yang sistematis untuk menganalisis dan mengendalikan total biaya produk. Rekayasa Nilai akan membantu membedakan dan memisahkan antara yang diperlukan dan tidak diperlukan, dimana dapat dikembangkan alternatif yang memenuhi keperluan (dan meninggalkan yang tidak perlu) dengan biaya terendah.
Setiap orang tertarik untuk menghemat biaya, setiap orang berusaha untuk mencari suatu investasi yang dapat menghasilkan pengembalian investasi yang sebesar-besarnya. Ketika pertama kali VE studi diperkenalkan, tidak ada orang menduga bahwa penghematannya demikian besar, sehingga konsep dari VE ini menyebar demikian pesatnya. Program VE adalah “ Proven Technique ” yang dipakai untuk mengatasi biaya yang tidak diperlukan.
Arti nilai ( Value ) sulit dibedakan dengan biaya ( Cost ) atau harga ( Price ). Nilai mengandung arti subyektif apalagi bila dihubungkan dengan moral, estetika, sosial, ekonomi. Pengertian nilai dibedakan dengan biaya karena hal-hal sebagai berikut (Soeharto,2001) : 1. Ukuran nilai ditentukan oleh fungsi atau kegunaannya sedangkan harga atau biaya ditentukan oleh substansi barangnya atau harga komponen-komponen yang membentuk barang tersebut. 2. Ukuran nilai cenderung kearah subyektif sedangkan biaya tergantung pada ( Monetary Vaue ) pengeluaran yang telah dilakukan untuk mewujudkan barang tersebut.
Biaya adalah jumlah segala usaha dan pengeluaran yang dilakukan dalam mengem-bangkan, memproduksi dan aplikasi produk. Penghasil produk selalu memikirkan akibat dari adanya biaya terhadap kualitas, realibilitas, dan main tainability karena ini akan berpengaruh terhadap biaya bagi pemakai. Biaya pengem-bangan merupakan komponen yang cukup besar dari total biaya. Sedangkan perhatian terhadap biaya produksi amat diperlukan karena mengandung sejumlah biaya yang tidak perlu ( Unnecessary Cost ).
Menurut Thoengsal (2014), dalam melakukan suatu proses rekayasa nilai sebaiknya dilakukan pada tahap perencanaan (Planning) agar kita dapat mengatahui secara dini elemen-elemen biaya yang dapat kita optimalkan. Hal ini dilakukan karena jika kita melakukan suatu analisis value engineering pada saat proses konstruksi berlangsung tentunya akan menyita waktu pekerjaan, biaya konsultasi tambahan, sehingga banyak kehilangan (Loss) yang terjadi jika dilakukan pada phase pelaksanaan/ konstruksi. Pengertian tersebut dapat diilustrasikan pada gambar di bawah ini. Ada beberapa alasan mengapa konsep value engineering (VE) dirasa perlu dan penting untuk diterapkan dalam suatu proyek konstruksi antara lain:
•Keterbatasan Anggaran Proyek, masalah keterbatasan anggaran dalam proyek menjadi unsur yang dapat berisiko terhadap kelangsungan pelaksanaan suatu proyek konstruksi dikarenakan biaya merupakan unsur yang penting untuk mengwujudkan suatu proyek. Dengan kendala keterbatasan biaya yang sering ditemukan dalam proyek maka konsep VE dapat menjadi salah satu solusi yang efektif dan efisien untuk diterapkan sehingga dapat berpotensi dalam mereduksi biaya yang tidak perlu (Safe Potential).
•Harga Sumber Daya Proyek Yang Terus Meningkat, hal ini yang dimaksudkan yaitu sumber daya berupa material, peralatan/machine, gaji pekerja (man power) dan metode kerja yang realitanya cenderung mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Melihat permasalahan ini maka penerapan konsep VE dapat menjadi suatu pilihan dalam memecahkan permasalahan tersebut.
•Tingkat Inflasi dan Suku Bunga Yang Terus Meningkat, hal ini juga dapat menjadi suatu hambatan dalam melaksanakan suatu proyek konstruksi dikarenakan tingkat inflasi yang terus meningkat dapat berpotensi dalam meningkatkan anggaran suatu proyek dari tahun ke tahun baik untuk proyek swasta maupun pemerintah yang tentunya juga berbanding lurus terhadap peningkatan nilai suku bunga.
•Teknologi Yang Mengalami Kemajuan, dengan perkembangan kemajuan teknologi baik dari aspek teknologi material, metode kerja, mesin, peralatan dsb, maka hal ini dapat menjadi sumber peluang munculnya inovasi dan kreatifitas bagi para VE team dalam mengwujudkan penerapan suatu konsep value engineering (VE) pada proyek-proyek konstruksi.
Rekayasa mempunyai karakteristik (Zimerman, L.W and Hart, 1982) sebagai berikut:
a. Berorientasi fungsi, perancangan dimulai dengan identifikasi fungsi-¬fungsi yang dibutuhkan.
b. Pendekatan sistematis, perancangan harus dilakukan dengan mempertimbangkan seluruh dimensi permasalahan.
c. Multi disiplin, perancangan melibatkan berbagai keahlian.
d. Berorientasi pada siklus hidup produk, analisa mencakup keseluruhan siklus hidup produk.
e. Pola pikir kreatif, proses perancangan harus dapat mengidentifikasi alternatif-alternatif pemecahan masalah kreatif.
Menurut Pristianti (2015), penerapan rekayasa nilai harus diusahakan pada tahap konsep perencanaan. Sebab mempunyai fleksibilitas yang maksimal untuk mengadakan perubahan-perubahan tanpa menimbulkan biaya tambahan untuk perencanaan ulang. Dengan berkembangnya proses perencanaan, biaya untuk mengadakan perubahanperubahan akan bertambah, sampai akhirnya sampai pada suatu titik yang tidak mempunyai penghemtan yang dapat dicapai.
Dalam rekayasa nilai, yang diperhitungkan hanya nilai ekonomisnya saja yaitu meliputi :
a. Nilai guna
Menunjukkan tingkat kegunaan dan pelayanan atau fungsi yang dapat diberikan oleh sistem.
b. Nilai prestise
Sesuatu yang membuat produk tersebut diinginkan konsumen disamping nilai gunanya
c. Nilai Tukar (Exchange Vane)
Menunjuikkan ukuran pengeluaran keuangan yang dipakai konsumen untuk memiliki produk tersebut.
d. Nilai Biaya (Cost Value)
Merupakan jumlah uang yang digunakan produsen untuk membuat produk tersebut.
Menurut Thoengsel(2014), dalam penerapan VE khusunya pada industri konstruksi manfaat secara umum yang dapat diberikan yaitu:
1. Dapat mencegah dan mereduksi timbulnya potensi biaya yang tidak perlu (Loss Cost) pada item pekerjaan konstruksi.
2. Dapat mencegah terjadinya pemebengkakan biaya pada akhir pelaksanaan proyek konstruksi.
3. Dapat menciptakan peningkatan budaya, daya inovasi dan kreatifitas bagi para insinyur penyelenggara konstruksi baik dari lembaga konsultan, kontraktor maupun pihak pemilik proyek/owner.
4. Dapat melahirkan para pakar-pakar Value Engineers Specialist sebagai suatu cabang ilmu keteknikan yang berorientasi kepada kinerja tim dari beberapa disiplin bidang keinsinyuran.
5. Dapat menjadi suatu pembelajaran bagi pihak penyelenggara konstruksi bahwa proses perencanaan dan perancangan suatu proyek konstruksi harus dilakukan secara matang dan optimal dalam hal ini konsep penerapan VE dapat dilakukan pada tahap ini dikarenakan tingkat kompleksitas yang tinggi jika proses VE dilakukan pada tahap pelaksanaan konsruksi.
Daftar Pustaka:
Tarore. H, dkk. 2013. Aplikasi Rekayasa Nilai Pada Proyek Kontruksi Perumahan (Studi Kasus Perumahan Taman Sari Metropolitan Manado PT. Wika ). Jurnal Sipil Statik. Volume 1. No.5. Dalam :http://download.portalgaruda.org/article.php?article=108076&val=1013. (diakses pada tanggal 5 Oktober).
Azis. S, dkk. 2016. Penerapan Rekayasa Nilai (Value Engineering) pada Pekerjaan Struktur Balok dan Kolom Gedung Poliklinik Universitas Brawijaya Malang. temuilmiah iplbi. Dalam: http://temuilmiah.iplbi.or.id/wp-content/uploads/2016/12/IPLBI2016-H-121-128-Penerapan-Rekayasa-Nilai-Value-Engineering-Pada-Pekerjaan-Struktur-Balok-Dan-Kolom.pdf. (diakses pada tanggal 6 Oktober).
Thoengsel. J,. 2014. Value Engineering (Rekayasa Nilai). blogspot. Dalam:http://jamesthoengsal.blogspot.co.id/p/blog-page_22.html. (diakses pada tanggal 6 Oktober).
Pristianti. U.H,. Penerapan Rekayasa Nilai Pada Pembangunan Gedung RSUD Gambiran Tahap II Kota Kediri. its. Dalam: http://digilib.its.ac.id/public/ITS-Undergraduate-10728-Paper.pdf. (diakses pada tanggal 6 Oktober).
Anonim. 2010. Rekayasa Nilai : Sebuah Definisi. blogspot. Dalam:http://sangpenyampai.blogspot.co.id/2010/04/rekayasa-nilai-sebuah-definisi.html. (diakses pada tanggal 6 Oktober).
Jumat, 29 September 2017
IYIA 2017 : JackPack ( Jaket 2 fungsi )

Pada hari Sabtu pekan kemarin tanggal 22 September 2017 berlokasi di Universitas Mercu Buana diadakan The International Exhibition of The 4th International Young Invention Award yang dalam pameran tersebut diikuti oleh penemu / inovator teknologi dari 12 negara. Acara yang diadakan oleh Universitas Mercubuana ini dilangsungkan selama 2 hari, yaitu pada hari jumat tanggal 21 dan sabtu tanggal 22 September 2017 yang tepatnya berlokasi di lantai 2 Aula Rektorat UMB.
Jumat, 22 September 2017
Pengolahan Besi dan Baja
Judul : Pengolahan Besi dan Baja
Penulis : Soedjono dan H. Hartanto
Penerbit : Titian Ilmu
Tempat Terbit : Bandung
Tahun Terbit : 2013
Cetakan : Pertama
Ukuran : 14,8 x 21cm
Tebal : 72 halaman
ISBN : 978-979-027-275-0
Penulis : Soedjono dan H. Hartanto
Penerbit : Titian Ilmu
Tempat Terbit : Bandung
Tahun Terbit : 2013
Cetakan : Pertama
Ukuran : 14,8 x 21cm
Tebal : 72 halaman
ISBN : 978-979-027-275-0
Dalam dunia
teknik pengolahan besi dan baja, sudah menjadi hal yang umum karena menurut
buku yang di tulis oleh Soedjono dan H. Hartanto sejak manusia beralih dari
dari zaman batu ke zaman besi manusia telah menggunakan logam besi untuk
pembuatan alat alat berburu dan alat alat senjata lainnya.Kemudian dengan
perkembangan zaman manusia telah menggunakan hampir 90% bahan bahan yang
terbuat dari besi dan baja contohnya seperti alat alat yang paling sederhana
seperti jarum sampai pada alat alat yang sangat besar seperti kapal induk dan
pesawat ruang angkasa dan masih banyak lagi. Besi dan baja yang beredar dalam
perdagangan baik dalam bentuk bahan perkakas atau mesin-mesin, telah melalui beberapa
proses pembuatannya. Dimulai dari bahan asal dari dalam tanah sampai menjadi
besi-baja untuk profil-profil, peralatan-peralatan atau mesin-mesin yang banyak
dibutuhkan masyarakat.
Dalam buku
pengolahan besi dan baja yang ditulis oleh Soedjono dan H. Hartanto memiliki 12
bagian yang di mana pada bagian 1 menjelaskan pengertian besi dan baja dari
zaman batu hingga ke zaman modern serta pada bagian ke 2 menjelaskan kita dapat
mempelajari tentang bagaimana cara pengolahan besi kasar dengan benar.
Setelah itu
pada bagian 3 sampai dengan 7 pada buku ini menjelaskan tentang mengenai dapur
tinggi dimulai dari pengertian dapur tinggi itu sendiri, bagaimana
pengolahannya, hasil dari dapur tinggi sampai dengan dapur tinggi listrik yang
menurut saya pribadi pada bagian 3 sampai dengan 7 memiliki penjelasan yang
cukup mudah dipahami.
Kemudian pada
bagian ke 8 sampai dengan bagian ke 12 yang berisi dari bagaimana cara
pengolahan baja, aplikasi dari penggunaan baja untuk perdagangan, bagaimana
cara melakukan penuangan besi, penggunaan dapur kubah hingga bagian bagaimana
penuangan baja yang dimana pada bagian-bagian tersebut menurut saya cukup
menarik dan sangat mudah dipahami dikarenakan pada buku pengolahan besi dan baja
karya Soedjono dan H. Hartanto ini menyertakan banyak gambar mulai dari
pengolahan, pengaplikasian, hingga sampai penuangan baja.
Keunggulan dari
buku ini adalah adalah penulisan kalimat dan penggunaan bahasa yang disajikan mudah
dipahami dan sangat menarik sehingga pembaca dapat memahami isi buku,
penjelasannya sangat lengkap karena disertakan gambar-gambar yang mudah
dipahami, pada akhir buku terdapat glosarium sehingga para pembaca dapat mengetahui
kata-kata yang rumit dipahami pada isi buku.
Sedangkan
kekurangan dari buku ini sendiri ialah gambar-gambar yang disajikan tidak
berwarna sehingga menyebabkan beberapa gambar tidak terlalu jelas, tidak adanya
ebook online sehingga untuk mencari dan menggali lebih dalam mengenai
pengolahan besi dan baja menjadi sulit.
Dalam buku ini
terdapat banyak pelajaran yang didapatkan di setiap babnya seperti pengertian
besi dan baja, bagaimana cara pengolahannya, bagaimana bentuk dan susunan dapur
tinggi hingga penuangan besi dan baja. Dengan begitu menurut saya buku ini
sangat cocok di pelajari untuk mempelajari ilmu pengolahan besi dan baja bagi
orang awam atau yang belum mengerti tentang ilmu pengolahan besi dan baja.
Jumat, 15 September 2017
Mengenal Teknologi Virtual Reality
Bagi kalian yang sering membaca artikel-artikel tentang teknologi,
pasti kamu pernah menjumpai istilah teknologi Virtual Reality. Biasanya istilah
ini sering muncul saat kita sedang membaca artikel yang membahas tentang dunia
game. Namun, kalian pasti bertanya-tanya apa itu teknologi Virtual Reality??
Nah, pada artikel kali ini saya akan mengajak kalian untuk mengenal lebih dekat tentang pengertian teknologi Virtual Reality itu dan juga beserta kegunaanya.
Nah, pada artikel kali ini saya akan mengajak kalian untuk mengenal lebih dekat tentang pengertian teknologi Virtual Reality itu dan juga beserta kegunaanya.
Apa Itu Teknologi Virtual Reality??
Menurut Indra (2015), virtual reality
merupakan sebuah inovasi teknologi terbaru yang dikembangkan untuk memungkinkan
seseorang melakukan suatu interaksi terhadap suatu objek grafis dengan
visualisasi 3D atau gambar berhologram. Teknologi ini mampu memberikan sebuah
pengalaman baru bagi penggunanya, karena pengguna seolah-olah bisa menyentuh
objek tersebut secara langsung. Jadi sederhananya, virtual reality adalah
tampilan gambar tiga dimensi yang terlihat seperti nyata yang diciptakan dengan
bantuan perangkat komputer ataupun juga beberapa perangkat tertentu.
Sejarah Awalnya Virtual Reality
Menurut Mu'thiana, pada tahun 1966,
Ivan Sutherland menemukan Head Mounted Display yang merupakan jendela ke dunia
virtual. Seorang ilmuwan bernama Myron Krueger(1975) menemukan Videoplace yang
memungkinkan penggunanya dapat berinteraksi dengan objek virtual untuk pertama
kalinya. Jaron Lanier (1989) memperkenalkan Virtual Reality dan menciptakan
bisnis komersial pertama kali di dunia maya. LB Rosenberg (1992) mengembangkan
Augmented Reality untuk melakukan perbaikan pada pesawat boeing dan
mengembangkan salah satu fungsi sistem AR yang disebut Virtual Fixtures, yang
digunakan di Angkatan Udara AS Armstrong Labs dan menunjukan manfaatnya pada
manusia. Steven Feiner, Blair Maclntyre dan dorée Seligmann(1992)
memperkenalkan untuk pertama kalinya Major Paper untuk perkembangan Prototype
AR. Hirokazu Kato (1999) mengembangkan ArToolkit di HITLab dan didemonstrasikan
di SIGGRAPH. Bruce.H.Thomas (2000) mengembangkan ARQuake sebuah Mobile Game AR
yang ditunjukan di International Symposium on Wearable Computers. Pada tahun
2008 Wikitude AR Travel Guide, memperkenalkan Android G1 Telephone yang
berteknologi AR. Saqoosha (2009) memperkenalkan FLARToolkit yang merupakan
perkembangan dari ArToolkit. FLARToolkit memungkinkan kita memasang teknologi
AR di sebuah website, karena output yang dihasilkan berbentuk Flash. Wikitude
Drive (2009) meluncurkan sistem navigasi berteknologi AR di Platform
Android. Tahun 2010 Acrossair menggunakan teknologi AR pada I-Phone 3GS.
Cara Kerja Virtual Reality
Menurut Idrus (2009), cara kerja
sistem virtual reality pada prinsipnya adalah seperti berikut. Pemakai melihat
suatu dunia semu, yang sebenarnya berupa gambar-gambar yang bersifat dinamis.
Melalui perangkat headphone atau speaker, pemakai dapat mendengar suara yang
realistis. Melalui headset, glove dan walker, semua gerakan pemakai dipantau
oleh sistem dan sistem memberikan reaksi yang sesuai sehingga pemakai seolah
merasakan sedang berada pada situasi yang nyata, baik secara fisik maupun
secara psikologis. Pengembangan virtual reality dilakukan menggunakan metode
penelitian pengembangan.
Penggunaan virtual reality
Virtual reality ini bisa digunakan
untuk berbagai keperluan dan berbagai bidang industri, diantaranya:
-
Kontrol presisi untuk eksplorasi ruang
angkasa
-
Eksplorasi tubuh manusia dari dalam
-
Latihan militer
-
Pendidikan
-
Arsitektur
-
Pembuatan sosial media
Efek Negatif Virtual Reality
Efek yang kerap ditimbulkan adalah
pemakai kerap mengalami gangguan yang disebut cybersickness. Penderita gangguan
ini akan merasa ketegangan mata dan bahkan disertai rasa pusing. Tekadang
penderita secara psikologis masih terbawa pada suasana semu walaupun sebenernya
penderita sudah kembali ke dunia nyata.
4 elemen penting dalam VR, yaitu :
1. Virtual World, sebuah konten yang
menciptakan dunia virtual dalam bentuk screenplay maupun script.
2. Immersion, sebuah sensasi yang
membawa pengguna teknologi virtual reality merasakan ada di sebuah lingkungan
nyata yang padahal fiktif.
3. Sensory Feedback, berfungsi
untuk menyampaikan informasi dari virtual world ke indera penggunanya.
4. Interactivity yang bertugas untuk
merespon aksi dari pengguna, sehingga pengguna dapat berinteraksi langsung
dalam medan fiktif atau virtual world.
Sebuah teknologi juga dikatakan
sebagai VR, jika sudah memnuhi syarat berikut
Tampilan gambar / grafis / visualisasi
3D tampak nyata dan sesuai dengan perspektif dari penggunanya
Mampu mendeteksi semua gerakan dan
respon dari pengguna, seperti gerakan kepala atau bola mata pengguna. Ini
dibutuhkan agar tampilan grafis dapat sesuai dengan perubahan dunia 3D dari
pengguna itu sendiri
Daftar
Pustaka:
Indra, DP. 2015. Mengenal Pengertian
Teknologi Virtual Reality Beserta Kegunaannya. Dalam :
http://www.indradp.com/2015/11/mengenal-pengertian-teknologi-virtual-reality-beserta-kegunaannya.html.
(diakses pada tanggal 15 September 2017)
Ramadius, I. 2009. Makalah : Virtual
Reality dan Multimedia. blogspot. Dalam :
http://idruser.blogspot.co.id/2009/06/makalah-virtual-realiti-dan-multimedia.html.
(diakses pada tanggal 15 September 2017)
Anonim. 2016. Sekilas Tentang Virtual
Reality dan Masa Depannya. Dalam :
https://www.jurnalweb.com/sekilas-tentang-virtual-reality/. (diakses pada
tanggal 15 September 2017)
Gusnam, M. 2013. Virtual Reality.
wordpress. Dalam : https://hurahara96.wordpress.com/2013/10/30/virtual-reality/.
(diakses pada tanggal 15 September 2017)
Anonim. 2012. Virtual Reality.
wordpress. Dalam :
https://kevinkarundeng.wordpress.com/2012/04/10/virtual-reality/. (diakses pada
tanggal 15 September 2017)
Anonim. 2016. Elemen - Elemen VR.
blogspot. Dalam :
http://gameconsolemasadepan.blogspot.co.id/2016/07/elemen-elemen-vr.html.
(diakses pada tanggal 15 September 2017)
Kamis, 07 September 2017
TEKNOLOGI 4G LTE
TEKNOLOGI 4G LTE
Perkembangan
teknologi informasi pada saat ini berkembang seiring dengan revolusi teknologi
informasi. Hal ini terlihat pula dalam perkembangan teknologi dibidang telekomunikasi yang berkembang pesat
teknologinya dan layanan komunikasi bergerak di dunia(mobile
evolutions).Perkembangan teknologi telekomunikasi di dunia terjadi dengan
sangat pesat dikarenakan kebutuhan untuk berkomunikasi dan bertukar data dengan
cepat, mudah dan mobile. Salah satu teknologi komunikasi yang sedang mulai banyak
di implementasikan, khususnya di Indonesia adalah teknologi 4G LTE untuk
komunikasi selular
Definisi
LTE
Menurut
Gemiharto (2015), Long Term Evolution atau yang biasa disingkat LTE adalah
sebuah standar komunikasi akses data nirkabel tingkat tinggi yang berbasis pada
jaringan GSM/EDGE dan UMTS/HSPA namun harus dioperasikan melalui spektrum
nirkabel yang terpisah. Teknologi ini mampu mengunduh (download) hingga
kecepatan 300 Mbps dan mengunggah (upload) hingga kecepatan 75 Mbps. LTE
kemudian dipasarkan dengan nama 4G LTE sebagai penerus jaringan 3G. LTE bahkan
diklaim sebagai jaringan nirkabel yang paling cepat pertumbuhannya. LTE adalah
teknologi yang didaulat akan menggantikan UMTS/HSDPA (3.5G). LTE diperkirakan
akan menjadi standarisasi telepon selular secara global yang pertama. Walaupun
dipasarkan sebagai teknologi 4G, LTE yang dipasarkan sekarang belum dapat
disebut sebagai teknologi 4G sepenuhnya. Di Indonesia, operator pertama yang
menggunakan teknologi 4G ini adalah Bolt yang diluncurkan oleh PT. Internux
pada tanggal 14 November 2013.
Dikutip
dari Gunawan (2017), 4G adalah singkatan
atau kepanjangan dari Fourth Generation
alias generasi keempat dari
standar teknologi informasi dan komunikasi. Jaringan 4G, diyakini memberikan
banyak fitur dan nilai tambah daripada 3G.
Selain memiliki semua fasilitas 3G,
transmisi data 4G diyakini mempunyai standar kecepatan transmisi berkisar
antara 100 Mbps–1 Gbps. Percakapan, internet, chatting, jejaring, permainan,
video atau apa pun fitur yang ada di dalamnya dapat dinikmati lebih baik dari
3G.
Menjadi jaringan tercepat, teknologi
4G dapat menyediakan sarana kecepatan download 4 sampai 5 kali lebih cepat
daripada 3G, bahkan hingga 10 kali lipatnya. Secara nyata konsumen dapat
mengakses internet dimanapun dan kapanpun selama berada pada cakupan wilayah
dengan perangkat 4G, termasuk handphone atau smartphone, tablet, dan hotspot.
Dikutip
dari Gunawan (2017), 4G adalah singkatan
atau kepanjangan dari Fourth Generation
alias generasi keempat dari
standar teknologi informasi dan komunikasi. Jaringan 4G, diyakini memberikan
banyak fitur dan nilai tambah daripada 3G.
Selain memiliki semua fasilitas 3G,
transmisi data 4G diyakini mempunyai standar kecepatan transmisi berkisar
antara 100 Mbps–1 Gbps. Percakapan, internet, chatting, jejaring, permainan,
video atau apa pun fitur yang ada di dalamnya dapat dinikmati lebih baik dari
3G.
Menjadi jaringan tercepat, teknologi
4G dapat menyediakan sarana kecepatan download 4 sampai 5 kali lebih cepat
daripada 3G, bahkan hingga 10 kali lipatnya. Secara nyata konsumen dapat
mengakses internet dimanapun dan kapanpun selama berada pada cakupan wilayah dengan
perangkat 4G, termasuk handphone atau smartphone, tablet, dan hotspot.
Menurut
plimbi, peningkatan kecepatan yang mengesankan dari jaringan 4G ini akibat
penggunaan OFDM (Orthogonal Frequency Division Multiplexing), teknologi
transmisi yang digunakan oleh ADSL, Wi-Fi, DVB-T, DVB-H dan DAB.
Tidak
hanya mengurangi latency (jumlah waktu yang dibutuhkan untuk bufferdan
terhubung ke halaman web), tetapi juga meminimalkan gangguan dan mampu
menjejalkan jumlah data yang lebih besar ke dalam bandwidth.
Sederhananya,
ini memungkinkan ponsel dan tablet 4G/LTE untuk streaming video dan bermain
game online tidak seperti sebelumnya, terutama karena 4G telah dirancang
sebagai jaringan data, bukan menjadi satu dan menggunakan protokol TCP / IP
yang sama yang mendukung internet.
Teknologi Sebelum 4G:
- Teknologi
Generasi Awal (0G)
- Teknologi
Generasi Pertama (1G)
- Teknologi
Generasi Kedua (2G)
- Teknologi
Generasi Dua Setengah (2,5 G)
- Teknologi
Generasi (3G)
Motivasi Teknologi 4G :
1. Mendukung service multimedia
Interaktif.
2. Telekonfrensi, Wireless Intenet.
3. Bandwidth yang lebar, bit rates
lebih besar dari 3G.
4. Global mobility, Service
Portability, Low-cost service.
5. Skalabilitas untuk jaringan mobile.
Teknologi yang baru dalam 4G :
1. Sepenuhnya untuk jaringan
packet-switched.
2. Semua komponen jaringan digital.
3. Bandwidth yang besar untuk
mendukung multimedia service dengan Biaya yang murah ( Sampai 100 Mbps).
4. Jaringan keamanan data yang kuat.
Kelemahan
teknologi 4G
Harga
memang menjadi salah satu pertimbangan. Smartphone berteknologi 4G hingga kini
masih di kisaran harga yang cukup fantastis. Masalah berikutnya adalah
jangkauan area. Bahkan di AS sendiri, banyak area yang belum ter-cover oleh
sinyal 4G.
Masalah
terakhir adalah dalam hal baterai. 4G memang cepat, tapi memerlukan sinyal yang
kuat untuk bekerja, dan ini memakan banyak tenaga. Saat ini di wilayah-wilayah
dimana 4G bisa digunakan, smartphone dengan teknologi tersebut ‘berjuang’ untuk
bisa bertahan menyala selama sehari dalam area 4G. Akan tetapi untunglah
beberapa smartphone memiliki teknologi untuk menjadikan ponsel tersebut tetap
berjalan hanya menggunakan sinyal 3G saja.
Apa
saja yang dibutuhkan untuk dapat mengakses layanan ini?
Telah disinggung di awal, pertama yang anda butuhkan adalah sinyal 4G LTE di tempat anda. Jadi anda harus mencari informasi ini kepada operator seluler yang ingin anda gunakan.
Device atau alat yang support teknologi 4G LTE. Apabila anda ingin mengakses internet menggunakan smartphone, tablet, laptop, dll maka alat – alat tersebut mesti support teknologi 4G LTE.
Telah disinggung di awal, pertama yang anda butuhkan adalah sinyal 4G LTE di tempat anda. Jadi anda harus mencari informasi ini kepada operator seluler yang ingin anda gunakan.
Device atau alat yang support teknologi 4G LTE. Apabila anda ingin mengakses internet menggunakan smartphone, tablet, laptop, dll maka alat – alat tersebut mesti support teknologi 4G LTE.
Kesimpulan
akhirnya, teknologi 4G memang menjanjikan kecepatan download dan upload yang
lebih baik untuk kamu yang menggilai aktivitas berinternet menggunakan
smartphone. Tapi hal itu akan mengorbankan baterai dan juga tidak menjamin kamu
akan mendapatkan sinyal yang sama di lokasi berbeda.
Daftar Pustaka:
Gunawan.
2017. Apa Pengertian 4G LTE, 4G, LTE?. haiwiki. Dalam:
https://haiwiki.info/teknologi/pengertian-teknologi-jaringan-4g-lte. (diakses
pada tanggal 6 September 2017)
Perdana,
A. 2012. Pengertian 4G dan Kegunaanya. Dalam:
https://dunarpan.blogspot.co.id/2012/11/pengertian-4g-dan-kegunaanya.html?m=0.
(diakses pada tanggal 7 September 2017)
Gala,
L., dkk. 2012. TEKNOLOGI 4G. wordpres. Dalam: https://ikabuh.files.wordpress.com/2012/06/makalah-sendig-kelompok-4g.pdf.
(diakses pada tanggal 7 September 2017)
Gemiharto,
I. 2015.TEKNOLOGI 4G-LTE DAN TANTANGAN
KONVERGENSI MEDIA DI INDONESIA. Jurnal Kajian Komunikasi. Volume 3. No.
2. Dalam: http://jurnal.unpad.ac.id/jkk/article/view/7409/3411. (diakses pada
tanggal 6 September)
Anonim.
2013. Kenali Lebih Dekat Jaringan 4G LTE di Indonesia Sebelum Anda
Mencicipinya. plimbi. Dalam:http://www.plimbi.com/news/139122/jaringan-4g-lte.
(diakses pada tanggal 7 September 2017)
Langganan:
Postingan (Atom)









