.

Kamis, 06 April 2017

Review Jurnal : OPTIMALISASI TATA LETAK GUDANG

@D07-Akhmad


A.Judul Penelitian
OPTIMALISASI TATA LETAK GUDANG – AREA SIMPAN:  STUDI KASUS DI PT.GMS

B.Nama Penulis
Agung Chandra Program Studi Teknik Industri, Fakultas Teknologi Industri, Universitas Mercu Buana Jakarta

C. Nama Jurnal
Jurnal Pasti
Volume X No 1, halaman 108-117
Tahun terbit 2016
Fakultas Teknik Universitas Mercu Buana
Jl. Raya Meruya Selatan, Kembangan, Jakarta 11650
Tlp./Fax: +62215871335

Review Jurnal : USULAN PENERAPAN RELIABILITY CENTERED MAINTENANCE PADA FASILITAS POWER PT. H3I UNTUK PENINGKATAN KETERSEDIAAN JARINGAN

Create By : @D16-Riswandi













Judul Penelitian : USULAN PENERAPAN RELIABILITY CENTERED MAINTENANCE PADA
FASILITAS POWER PT. H3I UNTUK PENINGKATAN KETERSEDIAAN JARINGAN

Nama Penulis :
  • Rizqon Robie ( Program Studi Teknik Industri, Universitas Islam Batik, Jawa Tengah
Nama Jurnal :
Jurnal PASTI
Volume VIII No 2, 251 - 265
Tahun terbit 2015
Fakultas Teknik Universitas Mercu Buana
Jl. Raya Meruya Selatan, Kembangan, Jakarta 11650
Tlp./Fax: +62215871335
p-ISSN: 2085-5869
http://journal.mercubuana.ac.id/index.


LATAR BELAKANG MASALAH
      Persaingan layanan telekomunikasi dalam memberikan layanan terbaik, dimana hal ini hanya dapat diberikan jika ketersediaan jaringan adalah maksimal namun kualitas listrik di beberapa daerah belum stabil dan sering mengalami gangguan. Agar ketersediaan jaringan bisa maksimal, maka untuk menangani masalahgangguan listrik pada lokasi jaringan tertentu diberikan fasilitas perangkat Back up Power. Namun perangkat Back up Power/ kelistrikan juga sering menemui kegagalan ketika mengambil alih fungsi power dari listrik utama PLN. Kegagalan tersebut masih menjadi kontributor besar bagi terganggunya ketersediaan jaringan. Hal ini menyebabkan HTI harus menanggung biaya penalty akibat tidak tercapainya ketersediaan jaringan sesuai level yang ditentukan oleh customer (H3I).

TUJUAN PENELITIAN
      Reliability Centered Maintenance (RCM) adalah teknik awalnya dikembangkan oleh maskapai penerbangan industri yang berfokus pada pencegahan kegagalan yang konsekuensinya yang paling mungkin untuk menjadi serius. RCM dikembangkan pada akhir 1960-an ketika jet berbadan lebar sedang diperkenalkan ke layanan. Karena peningkatan ukuran dan kompleksitas pesawat ini, penerbangan yang khawatir bahwa penggunaan terus metode perawatan tradisional akan membuat baru Pesawat tidak ekonomis. Sebelumnya, pemeliharaan preventif terutama berbasis waktu (misalnya, overhaul peralatan setelah sejumlah jam waktu terbang). Sebaliknya RCM adalah kondisi berbasis, dengan interval perawatan berdasarkan pada peralatan kekritisan dan kinerja data aktual. Setelah mengadopsi pendekatan ini, penerbangan menemukan bahwa biaya pemeliharaan tetap sekitar konstan, tetapi bahwa ketersediaan dan keandalan pesawat mereka meningkat karena upaya telah dihabiskan untuk pemeliharaan peralatan paling mungkin menyebabkan masalah serius. Akibatnya, RCM sekarang digunakan oleh sebagian besar penerbangan di dunia (IAEA, 2007). Proses analisis RCM berpusat pada fungsi pabrik dan peralatan, konsekuensi kegagalan dan langkah-langkah untuk mencegah atau mengatasi kegagalan fungsional (IAEA, 2007) Adapun proses tersebut harus mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut seperti Apa fungsi dan standar kinerja, dengan cara apa hal itu gagal memenuhi fungsinya?, apa yang menyebabkan setiap kegagalan fungsional?, apa yang terjadi ketika setiap kegagalan terjadi?, cara apa yang dilakukan setiap ada kegagalan?, apa yang bisa dilakukan untuk memprediksi atau mencegah setiap kegagalan untuk terjadi?, dan apa yang harus dilakukan jika tugas proaktif sesuai tidak dapat ditemukan. Pengenalan proses RCM akan melibatkan perubahan sesuai dengan working process yang telah dibentuk. Menurut IAIA (2007), keberhasilan RCM perubahan tersebut penting adanya bahwa manajemen menunjukkan komitmen mereka untuk perubahan, mungkin dalam bentuk pernyataan kebijakan dan keterlibatan pribadi dan memastikan bahwa orang-orang yanga akan terpengaruh oleh perubahan tersebut bersedia untuk komit mengikuti peraturan dan prosedur yang ada. RCM akan berfungsi dengan baik bila dilakukan sebagai proses bottom up, melibatkan mereka yang bekerja langsung di operasi pemeliharaan pabrik dan peralatan. Adapun langkah RCM adalah Persiapan, analisi, pemilihan Task, perbandingan task (task comparison), meninjau ulang perbandingan task (task comparison review), dan dokumentasi (record).

METODE PENELITIAN
      Langkah-langkah penelitian yang dilakukan adalah membuat langkah-langkah analisa RCM untuk menentukan komponenkomponen kritis dan tindakan perawatan yang optimal yang diperlukan agar kegiatan operasional tidak terus menerus terganggu karena gangguan yang sama (repetitive disturbance).






Langkah Implementasi RCM
1. MULAI
2. PEMBUATAN HIRARKI FUNGSI SISTEM PERALATAN
3. ANALISA KEGAGALAN FUNGSI
4. PENENTUAN ITEM SIGNIFIKAN
5. PENENTUAN MODUS KEGAGALAN DAN EFEK NYA (FMEA)
6. PEMBUATAN IDT
7. PENYUSUNAN LOGIC TREE ANALYSIS (LTA)
8. PENENTUAN PROPOSED MAINTENANCE TASK DAN PROACTIVE TASK
9. SELESAI

HASIL PENELITIAN
      Langkah 1, pembuatan Hirarki Fungsional subsistem ATS/ AMF yang dipakai di dalam sistem Genset Back up di jaringan telekomunikasi H3I agar memahami fungsi dari masing-masing komponen dalam sub-sistem ATS/ AMF. Langkah 2, yaitu pembuatan Analisis Kegagalan fungsi berdasarkan studi literature mengenai fungsi-fungsi komponen ATS dan observasi lapangan mengenai kemungkinankemungkinan kegagalan komponen-komponen ATS, Dari analisa FMEA ada beberapa komponen yang menjadi komponen signifikan yaitu komponen yang apabila terjadi kegagalan akan mengakibatkan dampak sistemik yang besar, yaitu komponen: Contactor, AMF Module dan Lighnting Arrester. Langkah 4, Pembuatan Intermediate Decision Tree (IDT) yaitu analisa untuk mengetahui kegagalan yang nampak atau tersembunyi. Dengan intermediate decision tree ini, tiap mode kegagalan yang telah dianalisa dikategorikan kedalam, kategori A (masalah keselamatan) yang merupakan prioritas tertinggi, kategori B (masalah sistem berhenti/ berpengaruh kepada operasi) yang merupakan prioritas kedua, kategori C (masalah minor/ tidak berpengaruh terhadap operasi) yang diklasifikasikan menjadi RTF, dan kategori D (masalah kegagalan tersembunyi). Dari hasil penilaian menggunakan alur pemikiran IDT, maka beberapa komponen memiliki Dampak Tersembunyi karena tidak dapat terdeteksi oleh operator saat sistem sedang beroperasi. Langkah 5, yaitu pembuatan Logic Tree Analysis Subsistem ATS dan Pemilihan Maintenance Task, LTA terdiri dari sekelompok urutan pertanyaan yang memiliki jawaban Ya atau Tidak berdasarkan pertanyaan-pertanyaaan hasil pemikiran IDT, ini bertujuan untuk mengklasifikasikan sesuatu. Sesuatu ini bisa berupa fakta atau kejadian, jawaban dari pertanyaan-pertanyaan ini akan memberikan gambaran nyata tentang kekritisan dari suatu kegagalan, yang mungkin berbeda dengan masing-masing mode kegagalan dan apakah ada tugas-tugas perawatan yang applicable dan effective.

Review Jurnal : PERBAIKAN SISTEM KERJA UNTUK MENINGKATKAN PRODUKSIVITAS KARYAWAN

@E01-Pazrin
Oleh : Pazrin Salsabila






JUDUL PENELITIAN
PERBAIKAN SISTEM KERJA UNTUK MENINGKATAKAN PRODUKTIVITAS KARYAWAN

APAKAH BENDA KERAS AKAN MEMPENGARUHI PAHAT PADA PROSES PEMBUBUTAN ??????


Ninuk Jonoadji
Dosen Fakultas Teknik, Jurusan Teknik Mesin – Universitas Kristen Petra
Joni Dewanto
Dosen Fakultas Teknik, Jurusan Teknik Mesin – Universitas Kristen Petra

Pengaruh Parameter Potong dan Geometri Pahat Terhadap Kekasaran Permukaan Pada Proses Bubut  ҆ ҆




JURNAL TEKNIK MESIN Vol. 1, No. 1, April 1999 : 82 – 88

Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknologi Industri, Universitas Kristen Petra


Latar Belakang Masalah.

            
       Untuk memperoleh produk bermutu berupa tingkat kepresisian yang tinggi serta kekasaran permukaan perlu didukung oleh proses permesinan yang gerakannya dikontrol secara otomatis/elektris. Proses pemesinan dilakukan pada suatu material baja S45C dengan menggunakan pahat Coated Carbide. Karakteristik kekasaran permukaan dipengaruhi oleh faktor kondisi pemotongan dan geometri pahat. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh faktor kecepatan potong, gerak pemakanan dan nose radius pahat terhadap kekasaran permukaan benda kerja, menentukan parameter potong terbesar pengaruhnya terhadap kekasaran dan menentukan model persamaan kekasaran permukaan. Kondisi pemotongan divariasi dengan jumlah tertentu dan kecepatan potong adalah konstan


         Kondisi pemotongan divariasi dengan jumlah tertentu dan kecepatan potong adalah konstan. Benda kerja hasil pemesinan diukur kekasarannya dan pengolahan data dengan metode statistik.

Metode .

          
Dengan melakukan penelitian ini, tujuan pertama yang hendak dicapai adalah untuk mendapatkan data dari variasi


kondisi pemesinan, namun  perlu dilakukan langkahlangkah
sebagai berikut:

1. Mempersiapkan dimensi benda kerja
2. Menguji kekuatan tarik dan kekerasan material uji
3. Menentukan kondisi pemesinan:
- Kecepatan potong: Vc1 = 150 m/mnt
Vc2 = 175 m/mnt
Vc3 = 200 m/mnt
- Gerak makan: f1 = 0,1 mm/rev
f2 = 0,15 mm/rev
f3 = 0,12 mm/rev
- Radius pahat: nr1 = 0,4 mm
nr2 = 0,8 mm
nr3 = 1,2 mm
- Kedalaman potong: 1 mm (konstan)
4. Membuat tabel disain eksperimen dan memvariasikan tiap tingkatan pada
    tiap faktor.
5. Melakukan proses pemesinan 54 kali
 
  - Dilakukan proses pemesinan dari diameter awal 25,4 mm menjadi 24 mm 
       sepanjang
      55 mm dengan kecepatan potong 175 mm/mnt dan gerak pemakanan 0,2
      mm/rev.
- Dilakukan proses pemesinan sesuai dengan desain eksperimen yang
     diinginkan  dengan  kedalaman potong 1 mm


Hasil penelitian .

    
Pada penelitian ini data kekasaran permukaan didapatkan model persamaan regresi sebagai 


berikut : Ra = 249,6640435 nr-0,503546 f0,930102 Vc-0,758043
Faktor yang paling besar pengaruhnya adalah gerak makan dan yang paling kecil pengaruhnya
adalah kecepatan potong. Gerak makan bertambah besar maka akan menaikkan nilai Ra sedangkan radius pahat (nose radius) dan kecepatan potong yang bertambah besar akan menurunkan nilai Ra


Reaview/Komentar

    
Pada penelitian jurnal ini bisa di simpulkan bahwa untuk mendapatkan hasil produk yang efisien, berkualitas & produktif pada mesin bubut bahwa Faktor yang paling besar pengaruhnya adalah gerak makan dan yang paling kecil pengaruhnya 


adalah kecepatan potong. Gerak makan bertambah besar maka akan menaikkan nilai Ra sedangkan radius pahat (nose radius) dan kecepatan potong yang bertambah besar akan menurunkan nilai Ra.

Abstrak Jurnal
ABSTRAK

    
       Produk berkualitas diperoleh dari adanya proses pemesinan yang baik. Kekasaran permukaan adalah salah satu penyimpangan yang disebabkan oleh kondisi pemotongan dari proses pemesinan. Untuk itu perlu dilakukan percobaan untuk menganalisa pengaruh radius pahat, gerak pemakanan dan kecepatan potong terhadap kekasaran permukaan. Percobaan dilakukan berdasarkan disain eksperimen dan analisis regresi. Gerak pemakanan memberikan pengaruh paling besar dan kecepatan potong memberikan pengaruh paling kecil terhadap kekasaran permukaan.






DAFTAR PUSTAKA

1.Boothroyd, G., Fundamental of Metal machining and Machine Tool,  
    Hemisphere Publishing Co, 1975

2. Montgomery, D.C., and Peck, E.A., Introduction to Linear Regression Analysis,
    New York, 1982.

3. Rochim, T. Teori dan Teknologi Proses Pemesinan , Laboratorium Teknik  
    Produksi dan Metrologi Industri, Jurusan Teknik Mesin, FTI, ITB, Bandung,
    1993.

4. William, W.H., and Montgomery, D.C., Probabilitas dan Statistik dalam Ilmu
    Rekayasa dan Manajemen, edisi kedua

5. Apora Indusma, Katalog Tool, Mitsubishi Carbide

6. Rochim, T., dan Wirjomartono, S.H.,Spesifikasi Geometris Metrologi 
Industri dan Kontrol Kualitas , Laboratorium Teknik Industri dan Metrologi Industri, Jurusan Teknik Mesin, FTI, ITB, bandung, 1985.





















Rabu, 05 April 2017

apakah mendapatkan permukaan halus pada produk di mesin milling frais harus memperlambat pergeseran X/Y nya?

The Jaya Suteja, Susila Candra, Yudistira Aquarista
Teknik Manufaktur, Universitas Surabaya
“Optimasi Proses Pemesinan Milling Fitur Pocket Material Baja Karbon Rendah Menggunakan Response Surface Methodology”
JURNAL TEKNIK MESIN Vol. 10, No. 1, April 2008: 1–7
Penerbit.,Institute Of Research And Community Outreach - Petra Christian University

Latar belakang masalah.
            Dalam proses pemesinan milling waktu yang dibutuhkan
untuk membuat komponen harus seminimal mungkin agar tercapai kapasitas produksi yang tinggi. Parameter proses pemotongan yang maksimum akan menghasilkan laju pemakanan material (MRR) yang tinggi namun juga mengakibatkan kekasaran permukaan (Ra) yang tinggi pula. Oleh karena itu, parameter proses pemesinan milling yang optimum perlu untuk diketahui. Dewasa ini, beberapa segmen konsumen tertentu membutuhkan komponen yang mempunyai kehalusan permukaan tertentu dan menuntut agar komponen tersebut diproses dalam waktu yang cepat. Sebagai contoh untuk membuat cetakan plastik, kekasaran permukaan dari cetakan harus sekecil mungkin tapi dituntut untuk selesai dalam waktu yang cepat. Untuk itu optimasi parameter proses pemesinan pada mesin milling perlu dilakukan agar kekasaran permukaan yang diinginkan dapat dicapai dalam waktu yang paling singkat.

A.M. Ramos, et.al. melakukan studi dan analisa kekasaran permukaan yang dihasilkan dengan tiga macam strategi pemesinan milling yang berbeda yaitu tipe radial, raster dan 3D offset untuk komponen yang mengandung geometri kompleks seperti bentuk cembung dan cekung [1]. Dari penelitian yang dilakukan, Ramos menyimpulkan bahwa ketiga strategi pemesinan menghasilkan kekasaran permukaan yang berbeda dan tipe 3D offset adalah yang paling cocok untuk pemesinan komponen yang mengandung geometri kompleks.

Wang M.Y., et.al. menganalisa pengaruh kecepatanpotong, kecepatan makan, kedalaman potong dan geometri pahat terhadap kekasaran permukaan ketika melakukan slot end milling pada AL2014-T6 [2]. Selain itu Wang M.Y., et.al. juga menyelidiki pengaruh pemberian cairan pendingin pada kekasaran permukaan. Hasil penelitian yang dilakukan menunjukkan bahwa untuk kondisi tanpa cairan pendingin, kekasaran permukaan sangat dipengaruhi oleh kecepatan potong, kecepatan makan, dan geometri pahat. Sedangkan untuk kondisi dengan cairan pendingin, faktor yang sangat berpengaruh terhadap kekasaran permukaan adalah kecepatan makan dan geometri pahat. Lebih jauh lagi, proses dengan menggunakan cairan pendingin menghasilkan kekasaran permukaan yang lebih halus dibandingkan tanpa cairan pendingin.

Sabtu, 01 April 2017

Aplikasi Percobaan Teknologi Untuk Mengontrol Keinginan

Saat ini di Amerika orang-orang sudah menggunakan teknologi untuk mengontrol hasrat atau keinginan mereka.
Teknologi ini cocok bagi siapa saja yang sedang dalam pekerjaan untuk menyelesaikan sesuatu tapi selalu diganggu oleh impuls-impuls untuk melakukan hal-hal lain.

Kesehatan dan Keselamatan Lingkungan Kerja



Judul Buku:
Kesehatan dan Keselamatan Lingkungan Kerja
Pengarang:
Indah Rachmatiah Siti Salami

Resensi Buku Aljabar Linear Dasar

Oleh : Efif permadi S.H

@E21-Efif permadi @tugas B03
















Judul
Aljabar Linear Dasar - Edisi Kedua 1  
No. ISBN
9786022411550
Penerbit

Pengetahuan Dasar Teknik Mesin

Judul : PDTM ( Pengetahuan Dasar Teknik Mesin )
Pengarang : Umaryadi
Penerbit : Yudhistira
Tahun Terbit : 2007
Halaman : i-ix + 74 halaman
Setiap orang yang akan belajar mengenai sesuatu hal tentu membutuhkan dasar ilmu yang sesuai dengan kebutuhanya.

Mesin dan Listrik

@D03-fajar

Oleh : Fajar Harjanto

Judul Buku : Mesin dan Listrik
Pengarang : Drs.Sumanto, MA
Tahun Terbit : 2005
Kota Penerbit : Yogyakarta
Dimensi : 16 x 23 cm
ISBN : 979-731-630-1
Tebal : 166 halaman



 Setiap orang yang  berkecibung dalam lapangan keteknikan,misal tukang,ahli tekni,maupun ahli desain,seharusnya mempunyai pengetahuan mengenai bahan-bahan yang berhubungan dengan bahan-bahan dengan kerjaan sehari-hari.