.

Senin, 04 Mei 2020

Memaksimalkan Pendidikan pada Sumber Daya Manusia dan Sumber Daya Alam dalam Bersaing di Kancah Dunia


Memaksimalkan Pendidikan pada Sumber Daya Manusia dan Sumber Daya Alam dalam Bersaing di Kancah Dunia

Oleh : Thoriq Muhammad Hafidz


ABSTRAK

Pendidikan merupakan penentu apakah suatu negara mempunyai daya saing atau tidak. Sumber daya manusia dan alam adalah faktor penting dalam membangun daya saing suatu negara. Sumber daya manusia dapat dididik dengan mengembangkan tiga aspek, yaitu afektif, kognitif, dan psikomotorik. Sedangkan sumber daya alam dapat dikelola dengan cara menerapkan program pembangunan berkelanjutan. Maka sangat penting sekali membangun pendidikan terkait hal-hal tersebut.
Kata kunci : Pendidikan, Sumber Daya Manusia, Sumber Daya Alam, Pembangunan Berkelanjutan


PENDAHULUAN

Pendidikan adalah bagian penting dari kehidupan manusia karena pendidikan merupakan suatu usaha untuk mengembangkan kualitas manusia dengan aspek keterampilan, kemampuan, serta loyalitasnya. Pendidikan juga merupakan unsur yang sangat bertanggung jawab dalam membentuk Sumber Daya Manusia (SDM) yang dapat bersaing di kancah dunia. Ketika SDM telah terbentuk maka yang diperlukan adalah memaksimalkan Sumber Daya Alam (SDA) yang begitu melimpah di Indonesia. Dengan begitu, Indonesia mempunyai daya saing tinggi untuk menyaingi negara-negara di dunia.


RUMUSAN MASALAH

Adapun hal-hal yang akan dibahas pada artikel ini adalah :
1.      Mengapa harus membangun sumber daya manusia?
2.      Apa saja elemen yang harus di bangun pada sumber daya manusia?
3.      Bagaimana sumber daya alam di Indonesia?
4.      Bagaimana cara mengelola sumber daya alam ?
5.      Apa kaitan sumber daya manusia dan alam dalam bersaing di kancah dunia?


PEMBAHASAN

Sumber daya manusia adalah sebuah unsur penting yang harus dibangun pada setiap negara karena hal tersebut menentukan apakah sebuah negara mempunyai daya saing dengan negara lain atau tidak. Dampak yang di timbulkan dari pembangungan SDM adalah ekonomi yang dianggap sangat penting pada suatu negara karena dapat mennyejahterakan rakyat dalam melawan kemisikinan. SDM yang berhasil dibangun dapat meningkatkan ekonomi negara dengan cara membuat lapangan penkerjaan dan mengurangi pengangguran, sehingga menurunkan angka kemiskinan di Indonesia.

Dalam membangun SDM maka diperlukan elemen-elemen yang dianggap perlu dididik, yaitu afektif, kognitif, dan psikomotorik. Afektif adalah sebuah elemen untuk membentuk akhlak pada suatu SDM. Ini dianggap penting karena sumber daya manusia yang berakhlak baik dapat bekerja serius tanpa harus diawasi, tidak korupsi, dan bisa menjadi teladan bagi SDM lain. Kognitif adalah kualitas berpikir atau wawasan yang luas pada SDM. Hal tersebut dibutuhkan bagi SDM untuk mengasah pemikiran SDM untuk mampu mengenal, mengidentifikasi masalah, menilai, inovatif, kreatif, serta terus berkembang. Psikomotorik adalah  kualitas SDM dalam mengerjakan sesuatu. Tidak hanya teori dan wawasan SDM harus bisa turun lapangan karena terkadangantara  teori dan praktis ada penyimpangan.

Sumber daya alam di Indonesia yang melimpah ruah adalah faktor yang sangat menguntungkan bagi Indonesia karena memegang peranan sangat penting dalam membangun ekonomi negara. Kekayaan SDA di Indonesia meliputi dua sisi, antara lain:
·        Dari sisi astronomi, Indonesia terletak pada daerah tropis yang memiliki jumlah curah hujan tinggi sehingga banyak jenis tumbuhan yang dapat hidup.
·        Dari sisi geologi, Indonesia terletak pada titik pergerakan lempeng tektonik, sehingga banyak terbentuk pegunungan yang kaya akan mineral.

Memiliki sumber daya alam yang melimpah ruah akan menjadi sia-sia jika tidak dikelola dengan baik karena sumber daya alam bisa habis. Salah satu cara dalam mengelola SDA dengan baik adalah dengan menerapkan program pembangunan berkelanjutan. Ide dari program tersebut adalah mengelola hutan, perikanan, atau sumber daya alam lainnya dikelola sedemikian rupa tidak melebihi tingkat regenerasi, sehingga sumber daya alam tidak akan habis atau dipertahankan. Untuk mendukung hal tersebut maka diterapkan prinsip ekoefisiensi, yaitu;
·        Meminimalkan penggunaan bahan baku dan energi.
·        Meminimalkan pelepasan limbah beracun ke lingkungan.
·        Menghasilkan dan menggunakan produk yang dapat didaur ulang.
·        Pemanfaatan sumber daya alam yang dapat diperbarui.
·    Mampu menghasilkan dan menggunakan produk tahan lama, sehingga tidak perlu sering membeli.

Sumber daya manusia dan alam adalah dua faktor paling penting dalam membangun suatu negara untuk mempunyai daya saing dengan negara lain. Tanpa sumber daya manusia maka sumber daya alam yang melimpah ruah tidak akan dapat dikelola dengan baik. begitupula sebaliknya, tanpa sumber daya alam maka sumber daya manusia sama sekali tidak berguna.


KESIMPULAN

Pendidikan terhadap sumber daya manusia dan alam sangat penting bagi setiap negara untuk meningkatkan daya saing di kancah dunia. Pendidikan sumber daya manusia dapat dikembangkan melalui tiga aspek, yaitu afektif, kognitif, dan psikomotorik, sedangkan Pendidikan sumber daya alam dapat dikembangkan dengan menggunakan program pembangunan berkelanjutan yang menggunakan prinsip ekoefisiensi.



DAFTAR PUSTAKA


Adawiyah, R. (2017). Pendidikan yang Berdaya Saing. Banten: Univeristas Sultan Ageng Tirtayasa.
Diwnanda, R. (2015, Januari 14). pelatihan dan Pengembangan. Diambil dari https://ratudwinandamasdar.wordpress.com/.
Kharti, I. S. (2018, Juni 7). Berbagai Cara yang Bisa Kamu Lakukan Agar Sumber Daya Alam Tidak Habis. Diambil dari blog.ruangguru.com.




Sabtu, 02 Mei 2020

Sejarah dan Perkembangan Kopi di Indonesia


Sejarah dan Perkembangan Kopi di Indonesia

Kopi merupakan minuman yang banyak diminati oleh sebagian orang. Oleh karena itu, permintaan terhadap kopi akan selalu ada. Menurut sejarah, tanaman kopi mulai dikenal dibenua Afrika dan awalnya tanaman kopi tumbuh liar di hutan-hutan dataran tinggi. Penyebaran awal kopi ke berbagai wilayah cukup lambat karena tanaman kopi hanya berkhasiat sebagai penghangat badan, tetapi dengan adanya perkembangan pengolahan kopi, tanaman kopi menjadi terkenal hingga tersebar ke berbagai wilayah di Eropa, Asia, dan Amerika (Suwarto et al., 2014).Di Indonesia tanaman kopi diperkenalkan pertama kali oleh VOC pada periode antara tahun 1696-1699. Tanaman kopi mula-mula hanya bersifat coba-coba, tetapi karena hasilnya memuaskan dan dipandang oleh VOC cukup menguntungkan sebagai komoditi perdagangan, maka VOC menyebarkan ke berbagai daerah agar penduduk menanamnya (Suwarto et al., 2014).
Sejarah perkembangan kopi di Indonesia pernah mengalami goncangan yaitu pada tahun terjadi ledakan penyakit Hemileia vastatrix(HV) yang menyerang daun tanaman kopi dan sangat membahayakan. Untuk mengatasi kerusakan terhadap serangan penyakit Hemileia vastatrix (HV) tersebut pada tahun 1875 didatangkan jenis Liberika yang berasal dari Afrika Barat yang diduga lebih tahan terhadap penyakit Hemileia vastatrix (HV) tetapi kenyataannya juga tidak tahan (Rahardjo, 2012). Pada tahun 1900, didatangkan kopi Robusta dari Brussel yang dapat tumbuh baik dan lebih tahan penyakit Hemileia vastatrix (HV) walaupun tidak 100%. Akhirnya banyak pengusaha yang menggantikan kopi Liberika dan Arabika dengan kopi Robusta. Hal tersebut sesuai dengan pernyataan Rahardjo (2012) bahwa kopi Robusta bukan hanya tahan terhadap serangan penyakit HV tetapi juga relatif mudah ditanam serta memiliki daya produksi lebih tinggi dibandingkan dengan kopi Arabika. Pada saat ini tanaman kopi Robusta di Indonesia lebih dari 95%, sedangkan selebihnya adalah kopi Arabika dan jenis lain. Meskipun kopi Robusta ini semula ditanam dan diusahakan oleh perkebunan besar, namun dalam perkembangannya tanaman ini telah lebih banyak menjadi tanaman rakyat.
2.2 Tanaman Kopi
Menurut Suwarto et al.,(2014), kopi  termasuk dalam kingdom Plantae, divisi Spermatophyta dengan sub divisi Angiospermae. Kopi juga tergolong dalam kelas Dicotyledonae yang memiliki ordo Rubiales; famili Rubiaceae; genus Coffea dan spesies Coffea sp.
Perakaran tanaman kopi adalah akar tunggang sehingga tidak mudah rebah dimana akar tunggang tersebut hanya dimiliki oleh tanaman kopi yang berasal dari bibit semai atau bibit sambung (okulasi) (Suwarto et al., 2014). Tanaman kopi memiliki dua tipe pertumbuhan cabang, yaitu cabang ortotrop tumbuh ke arah vertikal dan cabang plagiotrop tumbuh ke arah horizontal serta memiliki daun berbentuk lonjong dengan tulang daun yang tegas dan berwarna hijau mengkilap yang tumbuh berpasangan dengan berlawanan arah (Rahardjo, 2012). Tanaman kopi membutuhkan waktu 3 tahun dari saat perkecambahan sampai menjadi tanaman berbunga dan menghasilkan buah kopi. Semua spesies kopi berbunga berwarna putih dan beraroma wangi yang muncul pada ketiak daunnya. Rahardjo (2012) menyatakan bahwa buah kopi tersusun dari kulit buah (epicarp), daging buah (mesocarp) dikenal dengan sebutan pulp, dan kulit tanduk (endocarp). Buah yang terbentuk akan matang selama 7-12 bulan. Setiap buah kopi memiliki dua biji kopi.
Di Indonesia sudah lama dikenal ada beberapa jenis kopi. Berikut adalah jenis-jenis kopi menurut Prastowo et al., (2010):
1. Kopi Arabika
Kopi ini merupakan kopi yang paling banyak dan paling dahulu perkembangannya di dunia maupun di Indonesia. Namun, kopi ini sangat tidak tahan terhadap penyakit Hemileia vastatrix, sehingga jenis tersebut banyak digantikan dengan jenis lain yang tahan terhadap penyakit tersebut. Jenis Arabika mempunyai ciri-ciri dan sifat-sifat sebagai berikut :
a.    Daun kecil, halus dan mengkilat, panjang daun + 12-15 cm dan lebar + 6 cm
b.    Biji buah lebih besar, berbau harum dan rasanya lebih enak.
c.    Di Indonesia, kopi ini dapat berproduksi baik pada ketinggian 1.000-1.750 m dari permukaan laut.
d.    Curah hujan yang optimal sekitar 1.500-2.250 mm/tahun
e.    Memerlukan angin yang tenang.
Karena terjadinya mutasi, maka banyak kopi yang termasuk golongan Arabika. Jenis-jenis kopi tersebut adalah kopi Arabika varietas Bourbon, jenis Catura, jenis Marago, jenis Pasumah, terdapat di Sumatera, dan jenis Congensis, asal dari Congo.
2. Kopi Robusta
Kopi jenis ini berasal dari hutan khatulistiwa di Afrika, dari pantai barat sampai Uganda, dan dapat tumbuh dari permukaan laut sampai ketinggian 1.700 m. Ketinggian yang optimal sekitar 300-800 m dengan curah hujan 1.250-2.500 mm/tahun. Sifat khusus dari jenis Robusta adalah :
A.Bentuk yang tumbuh tegak ke atas atau bentuk Robusta
B.Bentuk melebar. Bila tidak dipangkas, bentuk tanaman ini akanmenjadi perdu dan daunnya tumbuh lebih kecil
C.   Bau dan rasanya tidak seenak kopi Arabika, namun produksinya lebih tinggi
D.   Pemeliharaannya lebih mudah dan hemat.
E.Daun lebih kecil dengan permukaan berombak dan dari batangnya banyak tumbuh cabang
F. Tahan terhadap Hemileia vastatri

DAFTAR PUSTAKA
Setyaningrum.2015.Cerita Dibalik Secangkir Kopi Liberika Ibu (online). http://www.kompasiana.com/setyaningrum/cerita-dibalik-secangkir-kopi-liberika-ibu_55619d13719373dd35284aa9. Diakses pada 30 April 2020
Prastowo B., Elna K., Rubijo, Siswanto, Chandra I., Joni, M. 2010. Budidaya dan Pascapanen Kopi. Bogor: Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan.
Suwarto et al. 2014. Top 15 Tanaman Perkebunan. Jakarta: Penebar Swadaya
Rahardjo, Pudji. 2012. Kopi. Bogor: Penebar Swadaya

Pendidikan Nasional dan Daya Saing Bangsa (kuis 09)


Pendidikan Nasional dan Daya Saing Bangsa
Muhammad Naufal Graziani
Universitas Mercu Buana, Jakarta Meruya
@J41-NAUFAL




Abstrak
Artikel mencoba menjelaskan pendidikan nasional dan daya saing bangsa.
Kata kunci : Pendidikan

Pendahuluan
Pendidikan merupakan suatu pondasi dalam hidup yang harus dibangun dengan sebaik mungkin. Secara umum pendidikan adalah proses pembelajaran pengetahuan, keterampilan serta kebiasaan yang dilakukan suatu individu dari satu generasi ke generasi lainnya. Proses pembelajaran ini dilakukan melalui pengajaran, pelatihan dan penelitian. Dengan adanya pendidikan yang baik maka suatu bangsa akan berdaya saing tinggi bila bangsa tersebut MANDIRI, baik secara ekonomi maupun budaya. Artinya, segala pemenuhan kebutuhan ekonominya mampu dipenuhi oleh sumber-sumber ekonominya sendiri. Demikian juga budayanya, dimana bangsa tersebut menganut budaya-budaya berdasarkan nilai-nilai anutan yang tidak terinfiltrasi budaya negatif asing.
Maka dari itu pendidikan merupakan hal yang paling penting dan mendasar dalam suatu bangsa agar bangsa tersebut memiliki daya saing. Dalam artikel kali ini saya ingin membahas tema Pendidikan nasional dan Daya saing bangsa.

Pembahasan
Sistem Pendidikan Nasional ialah keseluruhan unsur komponen pendidikan yang saling terkait secara terpadu untuk mencapai tujuan pendidikan nasional. Pendidikan nasional merupakan pendidikan yang didasarkan pada Pancasila & UUD 1945 yang besumber pada nilai-nilai agama, kebudayaan nasional Indonesia & tanggap terhadap tuntutan perubahan zaman. Pendidikan nasional yang berdasarkan Pancasila dan Undang-undang
Dasar Republik Indonesia Tahun 1945 berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Untuk mengemban fungsi tersebut pemerintah menyelenggarakan suatu sistem pendidikan nasional sebagaimana tercantum dalam Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.
Sistem Pendidikan di Indonesia telah dibangun dari dulu hingga saat ini, tetapi nyatanya sistem pendidikan kita masih belum mampu sepenuhnya menjawab tantangan global untuk di masa yang akan datang. Program pemerataan dan peningkatan kualitas pendidikan yang selama ini menjadi fokus pembinaan masih menjadi masalah yang menonjol dalam dunia pendidikan di Indonesia ini.
Sementara itu jumlah penduduk usia pendidikan usia pendidikan dasar yang berada di luar sistem pendidikan nasional terus menambah banyak jumlahnya, dunia pendidikan kita masih berhadapan dengan bergbagai masalah internal yang mendasar dan bersifat kompleks, selain itu pula bangsa Indonesia ini masih menghadapi sejumlah problematika yang sifatnya berantai sejak jenjang pendidikan mendasar sampai pendidikan tinggi.
Bicara mengenai Daya saing bangsa, kita harus memiliki pondasi yang terstruktur dengan baik, dimulai dari pendidikan, jika pendidikan nasional kita telah merata dan berajalan baik maka aset dan sumber daya manusianya pun akan dapat bersaing. Daya saing bangsa kita saat ini terbilang masih kurang, sehingga hal ini menjadi tugas bagi kita bersama sebagai warga negara Indonesia untuk ikut turut membantu memajukan inovasi daya saing bangsa kita ini.
Indonesia, seperti  halnya kelemahan negara-negara berkembang lainnya, disebutkan masih memiliki tantangan yang sama yakni pada infrastruktur, penerapan teknologi informasi dan komunikasi, pendidikan dan keterampilan, pengembangan sistem finansial, dan kemampuan berinovasi. Inilah Pekerjaan rumah besar yang harus kita hadapi sebagai bangsa, untuk meningkatkan global competitiveness kita.

Kesimpulan
Semoga negara kita kedepannya memiliki pemimpin dan pemerintah yang tentunya berintelektual serta up to date agar sistem pendidikan kita menjadi lebih baik dan tentunya diharapkan bisa maju, ketika pendidikan sudah merata dan terstruktur dengan baik maka seiring berjalannya waktu daya saing negara kita pun akan menjadi semakin kuat dan juga generasi millenial di Indonesia diharapkan mampu mengangkat daya saing negara kita.

Daftar Pustaka






Jumat, 01 Mei 2020

Pohon Keputusan

Pohon keputusan dalam aturan keputusan (decision rule)
merupakan metodologi data mining yang banyak diterapkan sebagai solusi untuk
klasifikasi. Decision tree merupakan suatu metode klasifikasi yang
menggunakan struktur pohon, dimana setiap node merepresentasikan
atribut dan cabangnya merepresentasikan nilai dari atribut, sedangkan daunnya
digunakan untuk merepresentasikan kelas. Node teratas dari decision
tree ini disebut dengan root.
Breiman et al. (1984) menyatakan bahwa metode ini
merupakan metode yang sangat populer untuk digunakan karena hasil dari model
yang terbentuk mudah untuk dipahami. Dinamakan pohon keputusan karena aturan
yang terbentuk mirip dengan bentuk pohon. Pohon terbentuk dari proses pemilahan
rekursif biner pada suatu gugus data sehingga nilai variabel respon pada setiap
gugus data hasil pemilahan akan lebih homogen. Pada pohon keputusan terdapat
tiga jenis node, antara lain :
1. Akar

Merupakan node teratas, pada node ini tidak ada input dan
dapat tidak mempunyai output atau dapat mempunyai output lebih dari satu.

2. Internal node

Merupakan node percabangan, pada node ini hanya terdapat
satu input dan mempunyai output minimal dua.

3. Daun

Merupakan node akhir atau terminal node, pada node ini
hanya terdapat satu input dan tidak mempunyai output (simpul terminal).
Sebagai contoh suatu pohon disusun oleh simpul t1, t2,
…, t4 dengan rincian terdapat 3 daun, 1 akar, dan 1 internal node.
Setiap pemilah (split) memilah simpul nonterminal menjadi dua simpul yang
saling lepas. Hasil prediksi respon suatu amatan terdapat pada simpul terminal
(daun).

Konsep dari pohon keputusan adalah mengubah data menjadi
pohon keputusan dan aturan-aturan keputusan. Pohon keputusan merupakan himpunan
aturan if — then, dimana setiap path dalam pohon dihubungkan
dengan sebuah aturan dimana premis terdiri atas sekumpulan node yang
ditemui dan kesimpulan dari aturan terdiri atas kelas yang dihubungkan dengan
daun dari path. Pembentukan pohon keputusan terdiri dari beberapa tahap :
1. Konstruksi pohon diawali dengan pembentukan akar
(terletak paling atas). Kemudian data dibagi berdasarkan atribut-atribut yang
cocok untuk dijadikan daun.
2. Pemangkasan pohon (tree pruning) yaitu mengidentifikasikan
dan membuang cabang yang tidak diperlukan pada pohon yang telah terbentuk. Hal
ini dikarenakan pohon keputusan yang dikontruksi dapat berukuran besar, maka
dapat disederhanakan dengan melakukan pemangkasan berdasarkan nilai kepercayaan
(confident level). Pemangkasan pohon dilakukan selain untuk pengurangan ukuran
pohon juga bertujuan untuk mengurangi tingkat kesalahan prediksi pada kasus
baru dari hasil pemecahan yang dilakukan dengan divide and conquer. Pruning ada
dua pendekatan yaitu :
a. Pre-pruning yaitu menghentikan pembangunan
suatu subtree lebih awal (dengan memutuskan untuk tidak lebih jauh
mempartisi data training). Saat seketika berhenti, maka node berubah
menjadi leaf (node akhir). Node akhir ini menjadi kelas
yang paling sering muncul di antara subset sampel.
b. Post-pruning yaitu menyederhanakan tree dengan
cara membuang beberapa cabang subtree setelah tree selesai
dibangun. Node yang jarang dipotong akan menjadi leaf (node
akhir) dengan kelas yang paling sering muncul.
3. Pembentukan aturan keputusan yaitu membuat
aturan keputusan dari pohon yang telah dibentuk. Aturan tersebut dapat dalam
bentuk if — then diturunkan dari pohon keputusan dengan melakukan
penelusuran dari akar sampai ke daun. Untuk setiap simpul dan percabangannya
akan diberikan di if, sedangkan nilai pada daun akan ditulis di then.
Setelah semua aturan dibuat maka aturan dapat disederhanakan atau digabung.
Decision tree adalah suatu model klasifikasi yang
paling populer karena mudah diinterpretasikan oleh manusia. Banyak algoritma
yang dapat digunakan dalam pembentukan pohon keputusan seperti ID3, C4.5, CART,
dan GUIDE. Algoritma decision tree banyak digunakan dalam proses data
mining karena memiliki beberapa kelebihan :
1. Mudah mengintegrasikan dengan sistem basis data.

2. Memiliki ketelitian yang baik.

3. Dapat menemukan gabungan tak terduga dari suatu data.

4. Daerah pengambilan keputusan yang sebelumnya kompleks dan sangat global
dapat diubah menjadi lebih sederhana dan spesifik.

5. Dapat melakukan eliminasi untuk perhitungan-perhitungan yang tidak
diperlukan. Karena ketika menggunakan metode ini maka sampel hanya diuji
berdasarkan kriteria atau kelas tertentu.

6. Fleksibel untuk memilih fitur dari internal node yang
berbeda, fitur yang terpilih akan membedakan suatu kriteria dibandingkan
kriteria yang lain dalam node yang sama.

Kekurangan pohon keputusan adalah.
1. Terjadi overlap terutama ketika kelas-kelas dan
kriteria yang digunakan jumlahnya sangat banyak. Hal tersebut juga dapat
menyebabkan meningkatnya waktu pengambilan keputusan dan jumlah memori yang
diperlukan.

2. Pengakumulasian jumlah error dari setiap tingkat dalam sebuah pohon
keputusan yang besar.

3. Kesulitan dalam mendesain pohon keputusan yang optimal.

4. Hasil kualitas keputusan yang didapatkan dari metode pohon keputusan
sangat bergantung pada bagaimana pohon tersebut didesain.



DAFTAR
PUSTAKA
Breiman, L., Friedman, JH., Olshen, RA., Stone, CJ.,
1984, Classification and Regression Trees, Chapman &Hall/CRC, New
York.

Mubarok, Muhammad I., 2018, Pohon Regresi dengan
Pendekatan Generalized Unbiased Interaction Detection Estimation (Guide) untuk
Data Multirespon, Skripsi, Program Studi Statistika FMIPA UGM, Yogyakarta.

Firmani, Alfina N., 2016, Penyelesaian Regresi
Semiparametrik dengan Menggunakan Regresi Random Forest, Skripsi, Program Studi
Statistika FMIPA UGM, Yogyakarta.

PENGUJIAN CBR LAPANGAN PADA PERENCANAAN JALAN


PENGUJIAN CBR LAPANGAN PADA PERENCANAAN JALAN
Oleh Febi Afifa Ajengsari (@J03-FEBI)



Sumber: Penulis


Abstrak

Kegiatan konstruksi jalan raya adalah suatu pekerjaan yang memerlukan banyak persiapan seperti melakukan peninjauan terhadap jenis tanah yang akan dibangung, menguji karakteristik butiran tanah pada tanah tersebut serta menguji nilai pemadatan tanah guna menghasilkan nilai CBR yang baik. Seperti pada tanah ekspansif kita harus mengetahui nilai pemadatan yang baik karena kalau tidak akan mengalami kerusakan yang ditimbulkan pada tanah tersebut. Tujuan dari pengujian CBR lapangan adalah untuk mengetahui daya dukung tanah yang dinyatakan dalam nilai CBR dengan satuan persen (Atadreo88,2011). Sebelum melakukan CBR lapangan kita sebaiknya melakukan pengujian compaction di laboratrorium  guna mengetahui nilai kepadatan tanah yang dimana hasil grafik dari compaction akan digabung untuk mendapat nilai CBR di lapangan.
Kata kunci : Pengujian CBR lapangan, Kepadatan Tanah



Penduhuluan

Pada kegiatan konstruksi seperti perencanaan jalan raya, mendirikan rumah atau sebagainya banyak yang perlu diperhatikan. Hal yang paling penting ketika ingin melakukan  perencanaan jalan adalah dengan menguji keseluruhan metode baik yang terdapat di laboratorium atau di lapangan langsung. Beberapa metode yang bisa kita lakukan untuk melakukan pengujian di laboratorium adalah seperti pengujian kadar air, berat isi, berat jenis, batas cair, batas susut, batas plastis, analisis saringan, hidrolisis, compaction, konsolidasi, direct shear dan UCS. Selain melakukan pengujian di laboratorium tetapi kita juga harus melakukan pengujian langsung di lapangan. Beberapa metode pengujian yang dapat kita lakukan di lapangan adalah seperti handboring, CBR lapangan dan DCP.
Pelaksanaan pengujian yang akan dibahas sesuai dengan judul artikel ini adalah CBR lapangan. Pengertian CBR adalah suatu metode pengujian mekanika tanah dimana melihat perbandungan antara beban penetrasi beban penetrasi suatu lapisan tanah atau perkerasan terhadap bahan standar dengan kedalaman dan kecepatan penetrasi yang sama (Lauw Tjun Nji). Data CBR digunakan sebagai salah satu proses perencaan jalan yaitu untuk :
1.      Penentuan  tebal perkerasan untuk bagian jalan yang direncanakan akan mendapatkan penanganan pelebaran jalan
2.      Penentuan tebal lapis ulang di atas aspal apabila tidak dapat disediakan
3.      Penentuan tebal perkerasan untuk bagian jalan yang harus direkonstruksi
4.      Penentuan tebal perkerasan jalan baru
Untuk melakukan pengujian apapun itu harus sesuai dengan standar yang sudah ada tujuannya sebagai  acuan kualitas yang akan kita rencanakan pada pengujian CBR lapangan diatur dalam SNI 1738-2011 (Cara Uji CBR Lapangan). Dalam melakukan pengujian kita membutuhkan peralatan pengujian CBR lapangan diantaranya sebagai berikut:
1.      Dongkrak CBR dengan kapasitas 10 ton
2.      Cincin penguji dengan kapasitas 1,5 ton, 3 ton, 5 ton, atau sesuai dengan kebutuhan
3.      Piston penetrasi dan pipa penyambung
4.      Arloji penunjuk penetrasi
5.      Keping beban yang bergaris tengah
6.      Sebuah truck yang dibebani dengan kebutuhan alat berat lainnya
7.      Dua dongkrak truck
Langkah kerja dari persiapan lokasi pengujian CBR lapangan diantaranya sebagai berikut :
1.      Menyiapkan semua alat yang dibutuhkan
2.      Gali permukaan tanah sampai lapisan yang akan diujikan
3.      Permukaan tanah yang akan diujikan harus rata dan tidak boleh ada kemiringan dapat di cek dengan waterpass
4.      Permukaan yang akan diuji harus dibersihkan dari semua debu, pasir, atau kerikil yang berserakan
5.      Untuk tanah dasar yang belum ada perkerasan dan pemadatan cukup dibersihkan akar rumput dan bahan organik lainnya
6.      Selama pemasangan alat, permukaan yang sudah dibersihkan harus dijaga supaya kelembabannya tidak berubah dari kondisi awal
7.      Pemeriksaan dilakukan secepat mungkin sesudah persiapan selesai
Langkah kerja dari pembacaan waktu dan penetrasi :
1.      Piston penetrasi diturunkan sehingga memberikan beban permulaan sebesar 5 kg dan dapat digunakan beben tambahan jika diperlukan
2.      Arloji cincin penguji dan arloji penunjuk penetrasi diatur sehingga menunjuk pada angka nol
3.      Pembebanan ditambah dengan teratur agar kecepatan penetrasinya mendekati kecepatan tetap 1,25 mm per menit


4.      Pembacaan beban dan dicatat pada penetrasi:
-          0.32 mm (15 detik)
-          0.64 mm ( 30 detik)
-          1.27 mm ( 1 menit)
-          1.91 mm ( 1 menit 30 detik)
-          2.54 mm ( 2 menit)
-          3.81 mm ( 3 menit)
-          5.08 mm ( 4 menit)
-          7.62 mm ( 6 menit)
-          10.16 mm ( 8 menit)
-          12.70 mm ( 10 menit)
Langkah kerja untuk perhitungan nilai CBR lapangan :
1.      Menentukan beban yang bekerja
2.      Hitung tegangan di tiap kenaikan penetrasi
3.      Masukkan hasil pada grafik dan buat kurvanya
4.      Cek kurva apakah perlu dikoreksi atau tidak
5.      Gunakan hasil tegangan yang terkoreksi untuk perhitungan berikutnya
6.      Ambil nilai tegangan pada penetrasi : 0.1 inchi dan 0.2 inchi
7.      Hitung CBR dengan pembagian terhadap tegangan standar. Jika nilai CBR pada penetrasi 0.2 inci lebih besar daripada nilai CBR pada penetrasi 0.2 inchi maka pengujian harus dilakukan kembali sebanyak 3 kali pada lokasi yang berdekatan dan jika nilai CBR menunjukkan pada penetrasi 0.2 inchi lebih besar maka ditetapkan nilai CBR adalah pada penetrasi 0.2 inchi.


Sumber: SNI 1738-2011, Formulir Penentuan Nilai CBR


 Sumber: SNI 1738-2011, Grafik Pembebanan dan Koreksi



Kesimpulan

Sebuah pengujian dalam perencaan jalan dapat menggunakan metode CBR lapangan dan hasil output dari pengujian tersebut adalah nilai CBR berupa dengan satuan persen. Dengan nilai CBR ini kita akan mengetahui berapa besar kepadatan tanah yang akan dilakukan oleh alat berat di lapangan serta mengetahui apakah dengan nilai CBR tersebut perencanaan jalan akan sesuai dengan standar yang ada atau belum.
Saat melakukan perhitungann CBR lapangan hal yang perlu diperhatikan adalah  jika nilai CBR pada penetrasi 0.2 inci lebih besar daripada nilai CBR pada penetrasi 0.2 inchi maka pengujian harus dilakukan kembali sebanyak 3 kali pada lokasi yang berdekatan dan jika nilai CBR menunjukkan pada penetrasi 0.2 inchi lebih besar maka ditetapkan nilai CBR adalah pada penetrasi 0.2 inchi.


Daftar isi

Lauw Tjun Nji, Pengujian CBR Lapangan, https://lauwtjunnji.weebly.com/cbr-lapangan.html, diaskses pukul 5:34 PM

Modul praktikum, 2019, Modul Praktikum Mekanika Tanah I, diakses pukul 3:30 PM

SNI 1738-2011, Cara Uji CBR (California Bearing Ratio) Lapangan, https://lauwtjunnji.weebly.com/uploads/1/0/1/7/10171621/sni_1738-2011_cara_uji_cbr_lapangan.pdf, diaskses pukul 5:34 PM

FMEA (Failure Mode and Effect Analysis)

FMEA merupakan sebuah metodologi yang digunakan untuk mengevaluasi kegagalan terjadi dalam sebuah sistem, desain, proses, atau pelayanan (service). Identifikasi kegagalan potensial dilakukan dengan cara pemberian nilai atau skor masing – masing moda kegagalan berdasarkan atas tingkat kejadian (occurrence), tingkat keparahan (severity), dan tingkat deteksi (detection) (Stamatis, 1995).

FMEA terdiri dari 2 tipe, FMEA desain dan FMEA proses.

FMEA desain berfungsi untuk mendifinisikan akibat-akibat kegagalan yang terkait dengan kegagalan pada tahap mendesain produk, kemudian membuat prioritas penangulangannya agar rancangan produk yang akan didesain dapat memenuhi keinginan pelanggan. Manfaat yang akan diperoleh apabila organisasi menggunakan FMEA desain adalah :
  1. Organisasi dapat meringkas waktu dari rencana pembuatan /perancangan produk, karena sudah diantisipasi dengan mempertimbangkan masukan pelanggan, sehingga dapat meminimalisir rework,
  2. Organisasi dapat menghemat bahan baku yang dikeluarkan untuk perencanaan dan perancangan, karena dampak atas kegagalan desain sudah diminimalisir,
  3. Meningkatkan reputasi organisasi, karena terpenuhinya kepuasan pelanggan.

FMEA proses berfungsi untuk mendefinisikn akibat-akibat kegagalan yang terkait dengan kegagalan pada tahap proses, kemudian membuat prioritas penanggulangannya, agar rancangan dari produk yang akan diproduksi dapat memenuhi keinginan dari pelanggan. Manfaat yang akan diperoleh apabila organisasi menggunakan FMEA proses adalah :

  1. Dapat meminimumkan scrap, karena kegagalan pada proses sudah dapat sedini mungkin dicegah,
  2. Apabila scrap menjadi minim, artinya kegiatan rework pun berkurang atau dapat dihindari,
  3. Mencegah jumlah cacat produk, baik saat produk masih di area internal perusahaan maupun di area eksternal,
  4. Berkurangnya cacat produk yang diterima pelanggan atau malah zero defect yang akan mingkatkan kepuasan pelanggan dan menumbuhkan loyalitas pelanggan.

Daftar Pustaka

Nia, B.P. &  Arif, M. (2014). Penggunaan FMEA dalam Mengidentifikasi Resiko Kegagalan Proses Produksi Sarung ATM  (Alat Tenun Mesin) di PT. Asaputex Jaya Tegal. Jurnal Teknik Industri Universitas Diponegoro, Vol. 9 No. 2, 93-98.

Tannady, Hendy. 2015. Pengendalian Kualitas. Yogyakarta : Graha Ilmu.