.

Jumat, 30 September 2016

Review Jurnal : Perbaikan Sistem Kerja Untuk Meningkatkan Produktivitas Karyawan



A.     JUDUL PENELITIAN
PERBAIKAN SISTEM KERJA UNTUK MENINGKATAKAN PRODUKTIVITAS KARYAWAN

B.     NAMA PENULIS
v  Iva Mindhayani (Jurusan Teknik Industri, Universitas Widya Mataram Yogyakarta)
v  Hari Purnomo (Jurusan Teknik Industri, Universitas Islam Indonesia Yogyakarta)

C.     NAMA JURNAL
JURNAL PASTI
Volume X No 1, halaman 98-107
Tahun terbit 2016
Fakultas Teknik Universitas Mercu Buana
Jl. Raya Meruya Selatan, Kembangan, Jakarta 11650
Tlp./Fax: +62215871335
p-ISSN: 2085-5869
http://journal.mercubuana.ac.id/index.

D.     LATAR BELAKANG MASALAH
Persaingan industri mebel yang semakin ketat menuntut perusahaan untuk melakukan perbaikan secara berkelanjutan agar bisa bertahan disituasi yang semakin kompleks dan tidak menentu. Salah satu tindakan yang bisa dilakukan perusahaan  dengan membuat sistem kerja baru yang lebih baik dan ergonomis. Sistem kerja yang baik merupakan salah satu faktor penting dalam kemajuan sebuah perusahaan dan merupakan kunci utama keberhasilan dalam rangka meningkatkan produktivitas, meminimalisir terjadinya kecelakaan kerja, penyakit akibat kerja dan efisiensi perusahaan. Rancangan sistem kerja yang dibuat harus disesuaikan dengan kebutuhan pekerja dan perusahaan agar tercipta sistem kerja yang aman, nyaman dan mampu meningkatkan  produktivitas  kerja (Purnomo, 2012). Robertson, (2001) menjelaskan bahwa sistem yang efektif dan optimal dapat meningkatkan produktivitas, keselamatan dan kesehatan pekerja, kenyamanan psikologis, motivasi, dan kualitas hidup.

E.      MASALAH/ PERTANYAAN PENELITIAN
PT. Zamrud Java Teak merupakan perusahaan yang bergerak dibidang mebel dan aktivitas pekerjaan pada bagian produksi membutuhkan tenaga otot selama melakukan pekerjaannya. Pekerja bagian produksi di PT Zamrud Java Teak membutuhkan konsentrasi dan ketelitian yang tinggi. Kondisi yang ada menunjukkan sikap kerja masih kurang ergonomis. Sikap kerja yang kurang ergonomis seperti bekerja dengan posisi berdiri berlebihan, jongkok, membungkuk, serta adanya getaran dari mesin dan peralatan yang digunakan dapat menimbulkan keluhan muskuloskeletal yang bisa berdampak pada performansi pekerja menurun (Nugraha et al., 2013). Disamping itu penggunaan tenaga otot secara terus menerus  bisa menimbulkan keluhan otot atau keluhan muskuloskeletal (Aprianto, 2012; Ilman et al., 2012). Hal itu tentunya dapat mengganggu keberlangsungan dalam bekerja. Di satu sisi pekerja menjadi tidak optimal dalam bekerja karena merasakan sakit dan nyeri di beberapa anggota tubuh, disisi lain perusahaan juga rugi karena efektivitas, efisiensi dan produktivitas pekerja turun. Permasalahan tersebut menjadikan target produksi tidak dapat dipenuhi dan  tingkat produktivitas rendah. 


F.      TUJUAN PENELITIAN
Berdasarkan permasalahan diatas perlu dilakukan perbaikan sistem kerja dengan melakukan perbaikan beberapa aspek. Perbaikan dilakukan dengan melibatkan secara aktif pekerja dengan konsep partisipatori. Konsep partisipatori yang masuk dalam lingkup makro ergonomi ditujukan agar pengguna merasa memiliki rancangan yang dibuat dan karyawan bisa bekerja dengan nyaman serta perusahaan akan mendapatkan keuntungan baik jangka pendek maupun jangka panjang. Perancangan ergonomi yang baik mencakup makro dan mikro ergonomi dapat  memberikan keuntungan ekonomi (Hendrick, 2002a). Makro ergonomi merupakan pendekatan secara sistemik dalam menyelesaikan masalah dengan mempertimbangkan aneka sudut pandang keilmuan lain (Manuaba, 2007). Pendekatan makro ergonomi menekankan konsep analisis sistem kerja pada semua level organisasi dalam hal ini termasuk partisipasi individu unit di setiap level sistem kerja (Hendrick (2002b)

G.     METODE PENELITIAN

1. Rancangan Penelitian

2. Variabel Penelitian

3. Metode Pengumpulan Data

4. Prosedur Penelitian

Prosedur penelitian yang akan dilakukan dalam penelitian ini antara lain :

a. Tahap Persiapan     

b. Tahap Pengumpulan Data

c. Tahap penelitian


H.     HASIL PENELITIAN
Berdasarkan aspek ergonomi beberapa kondisi sistem kerja yang belum mengikuti kaidah ergonomi pada proses produksi adalah: (a) suhu udara yang cukup tinggi mencapai 32,50C ; (b) tingkat kebisingan yang mencapai ± 95 dB ; (c) pencemaran udara oleh debu yang dihasilkan dari proses produksi ; (d) kondisi organisasi kerja yang kurang baik ; (e) penggunaan tenaga otot yang cukup besar ; (f) beban kerja yang cukup berat dan adanya keluhan muskuloskeletal; (g) layout kerja yang tidak ergonomis. Pekerjaan yang banyak melibatkan aktivitas fisik mempunyai potensi mengalami kelelahan, gangguan muskuloskeletal dan risiko cidera. Berdasarkan permasalahan tersebut maka perlu dilakukan perbaikan sistem kerja dengan pendekatan makro ergonomi yang melibatkan partisipan dalam pengambilan keputusan. Ergonomi partisipatori merupakan salah satu metode dasar makro ergonomi yang mengikutsertakan pekerja dalam mendesain (Robertson, 2001).

I.        REVIEW/ KOMENTAR
Sistem kerja yang ergonomis akan menghasilkan produktivitas yang baik. Karena itu perlu dicari system kerja yang benar itu. Dan dalam penelitian ini telah membuktikan bahwa system yang baik akan menghasilkan hasil yang baik.

J.       ABSTRAK JURNAL
Karyawan perusahaan mebel khususnya dibagian produksi banyak melibatkan kegiatan fisik, yang dapat menimbulkan kelelahan, gangguan muskuloskeletal dan risiko cidera. Kelelahan pada pekerja menyebabkan menurunnya performansi dan berdampak pada menurun produktivitas. Pengamatan awal pekerja bagian produksi di perusahaan mebel di Yogyakarta, merasakan pegal–pegal dan sakit di beberapa bagian tubuh seperti pergelangan tangan, punggung,  leher dan kaki setelah selesai bekerja. Untuk itu, perlu dicari solusi yang tepat untuk mengatasi hal tersebut agar pekerja merasa nyaman dalam beraktivitas. Pada pembahasan ini dilakukan perbaikan sistem kerja  dengan pendekatan makro ergonomi untuk menurunkan kelelahan, keluhan muskuloskeletal, risiko cidera dan meningkatkan produktivitas karyawan. Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan sama subjek (treatment by subject). Hasil penelitian dengan uji beda  menunjukkan bahwa kelelahan, keluhan muskuloskeletal dan risiko cidera terjadi penurunan secara signifikan dengan nilai probabilitas 0,000 dan 0,008 (p < 0,05) dengan tingkat penurunan kelelahan  sebesar 25,07 %, keluhan muskuloskeletal sebesar 10,91 %, risiko cedera sebesar 7,27%. Sedangkan untuk produktivitas terjadi peningkatan secara signifikan dengan nilai probabilitas sebesar 0,000 (p<0,05) dengan tingkat peningkatan produktivitas sebesar 36,96 %.

K.     DAFTAR PUSTAKA
Aprianto. H. 2012. Analisis Faktor Penyebab Cumulative Trauma Disorders menggunakan
Metode Quick Exposure Checklist Pada Profesi penjahit. Di akses tanggal 29 Juli 2013. Tersedia di http://publication.gunadarma.ac.id.
Gregory, D.E., Milosavljevic, S., Callaghan, J.P. 2006. Quantifying Low Back Peak and Cumulativr Loads in Open and Senior Sheep Shearers in New Zealand: Examining the Effects of a Trunk Harness. Ergonomics. 49,968-981.
Hadi, S. 1982. Metodologi Research. Jilid IV Cetakan Pertama. Yogyakarta. Yayasan Penerbitan Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada. 
Haskari, A.F., Herdoin, S dan Saulia, L. 2008. Perancangan Model Faktor Ergonomi Makro Terhadap Produktivitas Sistem Kerja Pada Pabrik Gula. IPB. Bogor.
Hendrick, H.W. 2002a. Good Ergonomic is Economics. Prosiding International Seminar on Ergonomics and Sport Physiology; Denpasar, 14-17 Oktober. PP 16-27.
Hendrick, H.W. 2002b. Macroergonomics : A Systems Approach to Improving Organizational Effectiveness. Proceeding, Kongres Nasional XI dan Seminar Ilmiah XIII Ikatan Ahli Ilmu Faal Indonesia dan International Seminar on Ergonomics and Sports Physiology. PP 27-41.
Ilman, A., Yuniar., Helianty, Y. 2012. Rancangan Perbaikan Sistem Kerja dengan Metode Quick Exposure Check (QEC) di bengkel Sepatu X Cibaduyut. Reka Integra Jurnal Online Institut Teknologi Nasional. No.2 Vol.1. Desember.
Irawan, I. 2010. Definisi Sistem Kerja. Di akses tanggal 05 september 2015. Tersedia di http://iwanirawanumc2009.blogspot.co.id.
Josephus, J. 2009. Intervensi Ergonomi Pada Proses Penangkapan Ikan Dengan Pukat Cincin Meningkatkan Kinerja dan Kesejahteraan Nelayan Di Amurang kabupaten Minahasa  Selatan Propinsi Sulawesi Utara. (Disertasi) Program Doktor Ilmu kedokteran Universitas Udayana. Diakses tanggal 03 September 2013. Tersedia di http://www.pps.unad.ac.id.
Karsh, B.T., Brown, R. 2010. Macroergonomics and Patient Safety: The Impact Of level On Theory, measurement, Analysis and Intervention In Patient Safety Research. Applied Ergonomics xxx, 1-8.
Khandan, M., Vosoughi, S., dan Maghsoudipour, M. 2012. Evaluation of Safety Factors – a Macroergonomics Approach : a Case Study in Iran. Iranian Rehabilitation Journal. Vol 10, February 2012.
Kleiner, B.M. 2006. Macroergonomics: Analysis and Design of Work System Design, Aplied Ergonomics, 37, 81-89.
Manuaba, A. 2007. A Total Approach In Ergonomics Is A Must To Attain Humane, Competitive And Sustainable Work Systems And Products. J. Human Ergol., 36: 2330.
Mindhayani, I dan Purnomo, H. 2013. Identifikasi Faktor – Faktor Yang Berpengaruh Dalam Peningkatan Produktivitas. Seminar Teknologi Simulasi, TEKNOSIM. ISBN : 978-979-97986-8-8, D-31–D-36.
Mustafa, S.A., Kamaruddin, S., Othman, Z., Mokhtar, M. 2009. Ergonomics Awareness andidentifying Frequently Used Ergonomics programs in Manufacturing Industries Using Quality Function Deployment. American Journal of Scientific Research. ISSN 1450-223X Issue 3, pp.51-66.
Moody, H., Esau, C. 2011. Cultural Change Through Ergonomics – a Case Study Of Participation In a Manufacturing Environment. HFESA 47th Annual Converance. Ergonomics Australia-Special Edition.
Nasution, S. 2012. Metode Research (Penelitian Ilmiah). Cetakan Ke-13. Jakarta: Bumi Aksara.
Nugraha, H.A., Astuti, M., Rahman, A. 2013. Analisis Perbaikan Kerja Operator Menggunakan Metode RULA Untuk Mengurangi Risiko Musculoskeletal Disorders (Studi Kasus pada Bagian Bad Stock Warehouse PT. X Surabaya). Jurnal Rekayasa dan Manajemen Industri. Vol 1, No 2. P.229-240.
Purnomo, H. 2012. Perancangan Sistem Kerja Berkelanjutan: Pendekatan Holistik Untuk Meningkatkan Produktivitas Pekerja. Pidato Pengukuhan Guru Besar Teknik Industri Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta, 11 April.
Purnomo, H., Manuaba, A., Adiputra, N. 2007. Sistem Kerja Dengan Pendekatan Ergonomi total Mengurangi Keluhan Muskuloskeletal, kelelahan Dan beban kerja Serta meningkatkan Produktivitas Pekerja Industri Gerabah Di Kasongan, Bantul. Artikel. Universitas Udayana Denpasar, Bali.
Robertson, M.M., 2001. Macroergonomics: A Work System Design Perspective. Proceeding of The SELF-ACE Conference – Ergonomic For Changing Work, 1, 6777.
Sukapto, P. 2008. Penerapan Model Participatory Ergonomics dengan Model Amell dalam menurunkan Kecelakaan Kerja (Studi Kasus di Pabrik Pembuatan Outsole di Banjaran, Bandung). Proceeding. National Conference On Applied Ergonomics 2008. Yogyakarta, 29 Juli. PP 117-122.
Surya, R., Z. 2012. Perbaikan Sistem Kerja Berbasis Ergonomi Partisipatori Untuk Meningkatkan Kesejahteraan Karyawan (Studi Kasus pada UMKM Aneka Bambu di Sentra Kerajinan Bambu Desa Tirtoadi, Kecamatan Mlati, Kabupaten Sleman). (Tesis) Magister Teknik Industri UII.  
Tirtayasa, K., Adiputra, I.N., Djestawana, IG.G., 2003. The Change of Working Posture in Manggur Decrease Cardiovascular Load and Muskuloskeletal Complaint Among Baliness Gamelan Craftsmen. Journal Human Ergol, 32, 71-76.
Wade, C., Davis, J., Marzilli, T.S., Weimar, W.H., 2006. Information processing Capacity While Wearing Personal Protective Eyewear. Ergonomics, 49, 921-933.








Review Jurnal - Peningkatan Efektifitas dan Efisiensi Biaya Kualitas Melalui Pendekatan Simulasi

Judul Penelitian : Peningkatan Efektifitas dan Efisiensi Biaya Kualitas Melalui Pendekatan Simulasi
Nama Penulis : I Gede Agus Widyadana, Elsie  (Universitas Kristen Petra)
Nama Jurnal : Jurnal Teknik Industri. Volume 5, No 1 (Juni 2003). Universitas Kristen Petra.
http://jurnalindustri.petra.ac.id/index.php/ind/search/results

Resensi Jurnal : Analisis Frekuensi Kedatangan Bus Transjakarta di Waktu Sibuk & Tidak Sibuk



A. Judul Penelitian : 


Analisis Frekuensi Kedatangan Bus Transjakarta di Waktu Sibuk & Tidak Sibuk

B. Nama Penulis :


- Tanjasi, Wizi Dewi     ( Binus University )
- Wijaya, Hartono         ( Binus University )
- Rackman, Susanto      ( Binus University )
- Gunawan, Fergyanto  ( Binus University )

C. Nama Jurnal :


Industrial and Systems Engineering Assessment Journal (INASEA) Vol 13, No 2 (2012): INASEA Vol. 13 No. 2

D. Latar Belakang Masalah :


     Kemacetan yang terjadi di Ibu kota Jakarta disebabkan oleh peningkatan jumlah volume kendaran yang tidak diimbangi dengan peningkatan volume jalan. Laju rata rata pembangunan jalan di Jakarta hanya berkembang sekitar 0,01 persen setiap tahunnya dibandingkan dengan jumlah penambahan kendaraan yang mencapai 11 persen setiap tahunnya (Yudiatna, 2010). Menurut Departemen Perhubungan kemacetan di Jakarta menghabiskan biaya minimal 28,1 Triliun rupiah setiap tahunnya (Traffic Jams Cost, 2011) Ia menambahkan, sektor bahan bakar merupakan bagian yang paling banyak menghabiskan biaya (10,7 triliun rupiah), diikuti oleh sektor perekonomian (9,7 triliun rupiah), sektor kesehatan (5,8 triliun rupiah) dan kerugian pemilik angkutan umum (1,9 triliun rupiah). Tingginya angka persentase penambahan kendaraan pada setiap tahunnya menandakan bahwa masyarakat lebih suka menggunakan kendaraan pribadi dibandingkan dengan angkutan umum (Yudiatna, 2010). Hal ini dikarenakan angkutan umum yang ada sekarang ini belum mampu memberikan keamanan dan kenyamanan bagi masyarakat.
    Pemerintah berharap dengan adanya TransJakarta, pengguna kendaraan pribadi akan beralih menggunakan TransJakarta sebagai alat transportasinya sehingga pada akhirnya tingkat kemacetan lalu lintas pun akan ikut berkurang dikarenakan berkurangnya jumlah penggunaan kendaraan pribadi di jalan raya. Namun seiring berjalannya TransJakarta, sering terdengar keluhan dari pengguna moda transportasi ini bahwa waktu kedatangan bus TransJakarta sangat lama, sehingga mereka perlu memiliki tingkat kesabaran yang tinggi untuk menunggu kedatangan bus tersebut (Wresti & Suprihadi, 2011).

E. Masalah / Pertanyaan Penelitian


    Mengetahui tingkat frekuensi secara aktual kedatangan bus TransJakarta pada jam sibuk maupun tidak sibuk di semua koridor TransJakarta.

F. Tujuan Penelitian


   Mengetahui kedatangan bus TransJakarta secara realtime pada semua koridor Transjakarta pada waktu sibuk / peak period frequency (07.00 - 10.00) dan tidak sibuk / off peak period frequency (10.00 - 12.00)

G. Metode Penelitian


   Ada 2 Metode Penelitian yang dilakukan untuk mencapai tujuan penelitian, diantaranya :
- Melakukan studi kepustakaan dari standar sistem Bus Rapid Transit oleh Institute for Transportation and Development Policy (ITDP).
- Langkah kedua yang dilakukan adalah dengan mengumpulkan data frekuensi kedatangan bus TransJakarta pada waktu sibuk (07. 00-10. 00 WIB) dan tidak sibuk (10. 00-12. 00 WIB). Pengumpulan data ini dilakukan di salah satu stasiun pada setiap koridor dari bulan Februari-Maret 2012.

H. Hasil Penelitan


   Pada Waktu Sibuk : Pada waktu sibuk penumpang TransJakarta lebih banyak dibandingkan dengan waktu non sibuk, namun hal ini tidak diseimbangi dengan jumlah armada TransJakarta yang mengakibatkan penumpukan penumpang. Bus TransJakarta yang datang pun bervariasi sesuai dengan koridornya, ada yang 3 menit, 3-5 menit, 5-7 menit, dan 7-10 menit. Jika melihat garis titik-titik pada waktu kedatangan 3 menit terdapat 2 koridor yang memiliki nilai median di bawah 3 menit, yaitu pada koridor 1 dan 3. Sedangkan pada koridor 2, 4, 5, 6, 7, 8, dan 9 memiliki rentang waktu kedatangan bus TransJakarta antara 3-5 menit. Namun di sisi lain, terdapat beberapa koridor yang memiliki frekuensi waktu kedatangan yang cukup lama di jam sibuk, yaitu pada koridor 10 dan 11. Kedua koridor tersebut memiliki rentang waktu kedatangan bus TransJakarta 7-10 menit. Hal tersebut tentu menjadi suatu permasalahan bagi penumpang yang menunggu di jam sibuk. Menurut hasil pengamatan, pada koridor 11 memang masih terbilang baru mengoperasikan TransJakarta, sehingga belum banyak masyarakat yang menggunakan TransJakarta sebagai moda transportasi mereka. Ditambah lagi kondisi daerah pada koridor 11 tidak terlalu padat bila dibandingkan dengan koridor yang lain.
   Pada Waktu Non Sibuk : Pada waktu non sibuk penumpang TransJakarta jauh lebih sedikit dibandingkan waktu sibuk. Hal ini juga menyebabkan kedatangan bus TransJakarta lebih lama dari waktu sibuk. Waktunya bervarian mulai dari 7 menit, 7-15 menit,, tergantung koridornya. Koridor yang datang pada non sibuk pada waktu 7 menit dari hasil penelitian cukup banyak, diantaranya koridor 1, 2, 3, 4, 6, 7, 8 dan 9. Sedangkan koridor 5, 10, dan 11 memiliki frekuensi kedatangan 7-15 menit. Hal ini dipengaruhi oeh beberapa faktor diantaranya kondisi lalu lintas yang tidak dapat diperidiksi, kondisi kendaraan lain yang memasuki jalur khsus Bus TransJakarta ini, dan kondisi fisik bus TransJakartanya itu sendiri. 

I. Kesimpulan


   TransJakarta yang merupakan penerapan sistem BRT di Jakarta memiliki tujuan untuk mengurangi angka kemacetan dengan membuat para pengguna kendaraan pribadi beralih menggunakan TransJakarta sebagai moda transportasi mereka. Untuk mewujudkan hal tersebut, tentu diperlukan improvisasi terus menerus terhadap perbaikan pelayanan baik dari segi infrastruktur maupun waktu kedatangan bus TransJakarta sendiri. Dari hasil pengumpulan data terlihat bahwa hampir semua koridor mendapatkan peringkat tertinggi, yaitu 3 dan 4 pada frekuensi waktu sibuk walaupun terdapat 2 koridor yang mendapatkan peringkat terendah. Sama halnya dengan frekuensi pada waktu tidak sibuk, semua koridor tidak ada yang mendapatkan peringkat terendah, walaupun ada beberapa koridor yang masih bisa ditingkatkan lagi performa kedatangannya. Walaupun terlihat frekuensi kedatangan bus TransJakarta di waktu sibuk dan tidak sibuk sudah terlihat memenuhi standar yang cukup tinggi, namun masih banyaknya variansi waktu kedatangan bus serta adanya outlier dari waktu kedatangan membuat TransJakarta masih perlu peningkatan lagi agar semakin cepat dan konsisten sehingga penumpang pun tidak perlu menunggu lama untuk menggunakan TransJakarta yang tentu saja akan meningkatkan kepuasan penumpang sendiri.

J. Abstrak 


   Tingginya lalu lintas di Jakarta membuat masalah kemacetan lalu lintas menjadi suatu hal yang tidak dapat terhindarkan. Masalah tersebut muncul karena peningkatan volume kendaraan yang tidak disertai dengan peningkatan volume jalan. Untuk mengatasi masalah kemacetan lalu lintas tersebut, Pemerintah Daerah Jakarta menerapkan sistem Bus Rapid Transit di Jakarta, yang dikenal dengan nama TransJakarta, pada tahun 2004,diharapkan pengguna kendaraan pribadi akan beralih ke TransJakarta, sehingga bisa mengurangi kemacetan lalu lintas. Namun sampai saat ini, TransJakarta masih memiliki jumlah penumpang yang rendah dan belum memenuhi harapan tersebut,

K. Daftar Pustaka


- Alvinsyah, & Zulkati, A. (2005). Impact on The Existing Corridor Due to Implementation of New Public Transport Corridor: Case Study Jakarta BRT Systems. Journal of the Eastern Asia Society for Transportation Studies, 6, 467-469 .
- Alvinsyah, Soehodho, S. , & Nainggolan, P. J. (2005). Public Transport User Attitude Based on Choice Model Parameter Characteristics: Case Study Jakarta Busway System. Journal of the Eastern Asia Society for Transportation Studies, 6, 480-491.
- Campo, C. (2010). Bus Rapid Transit: Theory and Practice in the United States and Abroad. Tesis master S2 tidak dipublikasikan. School of Civil and Environmental Engineering, George Institute of Technology, Georgia, USA.
- Cybriwsky, R. , & Ford, L. R. (2001). City Profile: Jakarta. Cities, 18(3), 199-201.
- Mochtar, M. Z. , & Hino, Y. (2006). Pricipal issues to Improve the Urban Transport Problems. Mem. Fac Eng. , Osaka City Univ, 47, 31-38.
- Soehodho, S. , Hyodo, T. , Fujiwara, A. , & Montalbo, C. J. (2005). Transportation Issues and Future Condition in Tokyo, Jakarta, Manila and Hiroshima. Proceedings of the Eastern Asia Society for Transportation Studies, 5, 2391-2404.
- The Jakarta Post. (2011, Oktober). Traffic Jams Cost Jakarta $3b annually. The Jakarta Post. Diakses dari http://www.thejakartapost.com/news/2011/02/10/traffic-jams-cost-jakarta-3bannually.htm
- Weinstock, A. , Hook, W. , Replogle, M. , & Cruz, R. (2011). Recapturing Global Leadership In Bus Rapid Transit: A Survey of Select US Cities. New York: Institute for Transportation and Development Policy (ITDP)
- Wresti, M. C. , & Suprihadi, M. (2011, Oktober 27). Inilah tujuh Keluhan terhadap Busway. KOMPAS. com. Diakses dari http://megapolitan.kompas.com/read/2011/10/27/09485725/Inilah. Tujuh. Keluhan. terhadap. Bisway
- Yudiatna, D. T. (2010). Balanced scorecard (BSC) for public transport performance measurement based on service dominant logic (S-D logic) framework: Case study Jakarta public transport authority and Värmlandstraffik AB (Tesis master S2 tidak dipublikasikan). Faculty of Engineering of Gadjah Mada University and Master of Service Science Program in Karlstad University

POTENSI ENERGI ARUS LSTRIK DARI ARUS LAUT DI KAWASAN PESISIR FLORES TIMUR, NTT

 

Nama penulis/Institusi :


Ai Yuningsih dan Achmad Masduki
Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan, FPIK-IPB
Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan
Jl. Dr. Junjunan No. 236 Bandung 40174, Fax. 022-601788
e-mail: yuningsih_ai@yahoo.com
Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis, Vol.3, No.1, Hal.13-25,Juni 2011
Link : http://www.itk.fpik.ipb.ac.id/ej_itkt31/jurnal/Juni_2_final.pdf

Latar belakang : 


Permintaan energi di Indonesia cenderung meningkat pesat sejalan dengan pertumbuhan ekonomi dan pertambahan penduduk. Berdasarkan data dari PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) permintaan akan energi listrik terus meningkat dari tahun ke tahun. Pada tahun 2001, terjadi kenaikan permintaan listrik sebesar 6,4%, disusul tahun 2002 menjadi 12,8%. Diprediksikan sepuluh tahun kedepan, kenaikan permintaan menjadi 9% setiap tahunya . Ironisnya, sumber energi konvensional berupa energi fosil yang merupakan sumber energi utama di Indonesia semakin terbatas cadangannya. 

Tujuan penelitian :


untuk  mengetahui morfologi dasar laut dan sifat-sifat hidro-oseanografi sehingga dari data tersebut dapat diketahui nilai energi kinetik arus laut yang dikonversikan ke dalam energi listrik dan referensi lokasi yang memenuhi syarat yang dibutuhkan sebagai data masukan dasar dalam pemanfaatan energi arus laut untuk pembangkit listrik di kawasan pesisir Flores Timur, NTT.

Metode penelitian : 


Studi data sekunder diperlukan untuk  pemahaman tentang kondisi daerah penelitian secara regional untuk selanjutnya menjadi acuan dalam kegiatan lapangan. Data sekunder yang diperlukan berupa data batimetri regional, geologi regional, arus  regional dan data prediksi pasang surut dari  stasiun terdekat.Untuk mengetahui posisi pengambilan data pada saat sounding, pengukuran arus, pengukuran pasang surut, pengukuran paramater klimatologi dan pemetaan karakteristik pantai dilakukan metode penentuan posisi menggunakanperalatan Global Positioning System(GPS Receiver)tipe Trimble DSM132.

Pengukuran untuk mengetahui pola arus yang terjadi di daerah penelitian yang sangat erat kaitannya dengan data potensi energi listrik yang dapat dibangkitkan dari energi arus. Area yang paling potensial untuk pengembangan pembangkit listrik tenaga arus laut yang disarankan  Marine Current Turbine Ltd. adalah yang mempunyai nilai kecepatan minimum 2m/detik -2,5 m/detik (Fraenkel, 1999).
Metoda pengukuran dilakukan dengan  dua metode yaitu pengukuran arus bergerak menggunakan ADCP (Acoutic Doppler Current Profiler)mobile untuk mendapatkan jangkauan lokasi yang luas untuk mengetahui lokasi potensial dengan kecepatan arus yang memenuhi syarat,

Sedangkan metode pengukuran arus stasioner menggunakan ADCP (Acoutic Doppler Current Profiler) statis merk Nortek Continental di satu titik dimaksudkan untuk mendapatkan data arah dan kecepatan arus absolut baik saat kondisi air tunggang kecil mauapun saat kondisi air tunggang besar pada berbagai kedalaman.


Review : 

disini jurnalnya hanya membahas syarat-syarat tempat yang dipakai dan terantung pada pasang surut air laut tidak membahas proses arus laut menjadi arus listrik 

Abstrak :

Energi listrik merupakan salah satu kebutuhan penting dalam masyarakat pesisir terutama di wilayah pulau-pulau kecil yang tidak terjangkau jaringan listrik nasional. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut dilakukan berbagai upaya diversifikasi energi, seperti pemanfaatan potensi energi arus laut. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui morfologi dasar laut dan sifat - sifat hidro - oseanografi sebagai referensi lokasi yang tepat dalam pemanfaatan energi arus laut. Lokasi penelitian di Selat Larantuka antara Pulau Flores dan Pulau Adonara –Propinsi Nusa Tenggara Timur. Metode penelitian berupa pengukuran arus, pengamatan pasang surut, pengamatan parameter meteorologi dan kondisi morfologi pesisir dan dasar laut daerah penelitian. Penelitian menunjukkan lokasi penempatan turbin arus laut cukup memenuhi syarat dengan morfologi relatif landai pada kedalaman ± 20 meter dan dekat dari pemukiman penduduk. Berdasarkan hasil analisis pengukuran arus dengan ADCP bergerak diperoleh distribusi kecepatan arus yang terendah adalah 0.004 m/det dan tertinggi 3.68 m/det .Sedangkandari hasil pengukuran arus dengan ADCP stasioner diperoleh harga kecepatan arus terendah adalah 0.002 m/det dan tertinggi sekitar 2.83 m/det .Kondisi ini erat kaitannya dengan tipe pasang surut di daerah penelitian, yaitu tipe semi diurnal dengan dua kali kejadian pasang dan dua kali kejadian surut dalam waktu 24 jam. Jadi, hasil analisis energi arus ini sangat potensial untuk dimanfaatkan sebagai pembangkit tenaga listrik


Kata kunci:
potensi energi arus laut, pembangkit tenaga listrik, diversifikasi energi, Selat Larantuka, Flores Timur

Daftar Pustaka :

ESDM. 2005. Diversifikasi Energi. ”Energi Kelautan sebagai Alternatif Baru”. DESDM disampaikan padaSeminar Pembangunan Ekonomi Kemaritiman 15 Maret Jakarta. 
Erwandi.2006.Sumber Energi Arus:Alternatif Pengganti BBM, RamahLingkungan, dan Terbarukan”.Laboratorium Hidrodi-namika Indonesia, BPP Teknologi