.

Kamis, 05 Oktober 2017

Stress Akibat Kerja




Seiring dengan banyaknya perusahaan dan ketatnya persaingan di dunia bisnis sering kali perusahaan menuntut para karyawannya untuk meningkatkan kemampuan dan keahliannya dalam melaksanakan suatu pekerjaan sehingga  tanpa disadari, hal ini dapat menyebabkan tekanan pekerjaan yang berujung pada stress bagi karyawan, sehingga merasa terbebani dengan tuntutan dan beban kerja yang terlalu berat.

Dalam artikel Harvard Business School Working Knowledge menyebutkan bahwa sebanyak 30.000 kematian di sebabkan oleh tuntutan kerja yang tinggi, kemudia menurut data Statistic Brain 76% pekerja di amerika mengalami stres yang berasal dari atasan dan beban kerja yang tinggi, sedangkan di indonesia pada tahun 2013 satu kasus tekanan kerja yang berujung meninggal dunia di sebabkan karna Tekanan pekerjaan yang tinggi “Mita Diran meninggal dunia setelah bekerja selama 30 jam tanpa istirahat. Tekanan kerja dengan tenggat waktu penyelesaian kerja yang ketat dan permintaan klien yang kerap membuat kewalahan. Sehingga untuk dapat mengejar waktu penyelesaian kerja, karyawan memilih kerja terus menerus (tirto.id)
” Tekanan mental atau Stres akibat kerja merupakan istilah umum yang diartikan sebagai tekanan hidup yang dirasakan terlalu sulit bagi seseorang. Stres akan terjadi jika seorang individu tidak mampu memahami keterbatasannya akan suatu hal. Dan ketidak mampuan ini nantinya akan menimbulkan rasa frustasi, gelisah, serta rasa bersalah yang merupakan awal dari permulaan stres tersebut.


Difinisi Stress kerja
Robbins and Judge (2008:377) menjelaskan bahwa salah satu dampak stres secara psikologis adalah dapat menurunkan kepuasan kerja karyawan dimana kepuasan kerja merupakan sikap emosional yang menyenangkan dan mencintai pekerjaannya.
Husein (2004:36) mengemukakan bahwa dampak dari kepuasan kerja nantinya akan dikaitkan dengan beberapa output yang dihasilkan, salah satunya adalah dengan kinerja (prestasi kerja) dimana kinerja merupakan hasil kerja yang dicapai oleh seseorang/sekelompok orang dalam organisasi sesuai dengan tanggung jawab masing-masing guna mencapai suatu tujuan.
Mangkunegara (2009:179), stres merupakan perasaan tertekan yang dialami karyawan saat menghadapi pekerjaan. Hal ini dapat terlihat dari emosi yang tidak stabil, perasaan tidak tenang, tekanan darah meningkat serta mengalami gangguan pencernaan.
tarwaka (2004:146) Dalam e-book nya stress secara umum merupakan tekanan psikologis yang dapat menyebabkan berbagai bentuk penyakit baik penyakit secara fisik maupun mental (kejiwaan). Dan secara konsep stress dapat didefinisikan menurut variable kajian:
  1. Stress sebagai stimulus. Stress sebagai variable bebas (independent variable) menitikberatkan pada lingkungan sekitarnya sebagai stressor. Sebagai contoh: petugas air traffics control merasa lingkungan pekerjaanya penuh resiko tinggi, sehingga mereka sering mengalami stress akibat lingkungan pekerjaanya tersebut.
  2. Stress sebagai respon. Stress sebagai variable tergantung (dependent variable) memfokuskan pada reaksi tubuh terhadap stressor. Sebagai contoh: seseorang mengalami stress apabila akan menjalani ujian berat. Respon tubuh (strain) yang dialami dapat berupa respon psikologis (perilaku, pola pikir, emosi dan perasaan stress itu sendiri) dan respon fisiologis (jantung berdebar, perut mulas-mulas, badan berkeringat dll).
  3. Stress sebagai interaksi antara individu dan lingkungannya. Stress di sini merupakan suatu proses penghubung antara stressor dan strain dengan reaksi stress yang berbeda pada stressor yang sama.

Faktor penyebab stress
Untuk dapat mengetahui secara pasti, faktor apa saja yang dapat menyebabkan terjadinya stress sangatlah sulit, oleh karena sangat tergantung dengan sifat dan kepribadian seseorang. Suatu keadaan yang dapat menimbulkan stress pada seseorang tetapi belum tentu akan menimbulkan hal yang sama terhadap orang lain
Kaitannya dengan tugas-tugas dan pekerjaan di tempat kerja, faktor yang menjadi penyebab stress kemungkinan besar lebih spesifik. Clark (1995) dan Wantoro (1999) mengelompokkan penyebab stress (stressor) di tempat kerja menjadi tiga kategori yaitu stressor fisik, psikofisik dan psikologis. Selanjutnya Cartwright et. al. (1995) mencoba memilah-milah penyebab stress akibat kerja menjadi 6 kelompok penyebab yaitu:
  1. Faktor intrinsik pekerjaan. Ada beberapa faktor intrinsik dalam pekerjaan di mana sangat potensial menjadi penyebab terjadinya stress dan dapat mengakibatkan keadaan yang buruk pada mental. Faktor tersebut meliputi keadaan fisik lingkungan kerja yang tidak nyaman (bising , berdebu, bau, suhu panas dan lembab dll), stasiun kerja yang tidak ergonomis, kerja shift, jam kerja yang panjang, perjalanan ke dan dari tempat kerja yang semakin macet, pekerjaan beresiko tinggi dan berbahaya, pemakaian tehnologi baru, pembebanan berlebih, adaptasi pada jenis pekerjaan baru dll.
  2. Faktor peran individu dalam organisasi kerja. Beban tugas yang bersifat mental dan tanggung jawab dari suatu pekerjaan lebih memberikan stress yang tinggi dibandingkan dengan beban kerja fisik. Karasek et al (1988) dalam suatu penelitian tentang stress akibat kerja menemukan bahwa karyawan yang mempunyai beban psikologis lebih tinggi dan ditambah dengan keterbatasan wewenang untuk mengambil keputusan mempunyai resiko terkena penyakit jantung koroner dan tekanan darah yang lebih tinggi serta mempunyai kecenderungan merokok yang lebih banyak dari karyawan yang lain.
  3. Faktor hubungan kerja. Hubungan baik antara karyawan di tempat kerja adalah faktor yang potensial sebagai penyebab terjadinya stress. Kecurigaan antara pekerja, kurangnya komunikasi, ketidak nyamanan dalam melakukan pekerjaan merupakan tanda-tanda adanya stress akibat kerja (Cooper & Payne, 1988). Tuntutan tugas yang mengharuskan seorang tenaga kerja berkerja dalam tempat terisolasi, sehingga tidak dapat berkomunikasi dengan pekerja lain (seperti; operator telepon, penjaga mercu suar, dll) juga merupakan pembangkit terjadinya stress.
  4. Faktor pengembangan karier. Perasaan tidak aman dalam pekerjaan, posisi dan pengembangan karier mempunyai dampak cukup penting sebagai penyebab terjadinya stress. Menurut Wantoro (1999) faktor pengembangan karier yang dapat menjadi pemicu stress adalah a) ketidakpastian pekerjaan seperti adanya reorganisasi perusahaan dan mutasi kerja dll. b) promosi berlebihan atau kurang: promosi yang terlalu cepat atau tidak sesuai dengan kemampuan individu akan menyebabkan stress bagi yang bersangkutan atau sebaliknya bahwa seseorang merasa tidak pernah dipromosikan sesuai dengan kemampuannya juga menjadi penyebab stress.
  5. Faktor struktur organisasi dan suasana kerja. Penyebab stress yang berhubungan dengan struktur organisasi dan suasana kerja biasanya berawal dari budaya organisasi dan model manajemen yang dipergunakan. Beberapa faktor penyebabnya antara lain, kurangnya pendekatan partisipatoris, konsultasi yang tidak efektif, kurangnya komunikasi dan kebijaksanaan kantor. Selain itu seringkali pemilihan dan penempatan karyawan pada posisi yang tidak tepat juga dapat menyebabkan stress.
  6. Faktor di luar pekerjaan. Faktor kepribadian seseorang (ekstrovert atau intro-vert) sangat berpengaruh terhadap stressor yang diterima. Konflik yang diterima oleh dua orang dapat mengakibatkan reaksi yang berbeda satu sama lain. Perselisihan antar anggota keluarga, lingkungan tetangga dan komunitas juga merupakan faktor penyebab timbulnya stress yang kemungkinan besar masih akan terbawa dalam lingkungan kerja.
Menurut Luthans (2006:442), beberapa faktor penyebab stres adalah Stressor ekstra organisasi (stres yang berasal dari luar organisasi), stressor organisasi (stres yang berasal dari organisasi), Stressor kelompok, serta stressor individual. Nasrudin (2010:86) mengungkapkan penyebab stress antara lain lingkungan kerja, kondisi lingkungan yang tidak nyaman, serta individu itu sendiri.
Akibat stress
Akibat stres yang dialami seseorang tergantung dari seberapa lama stres yang dialaminya. Menurut  Mumpuni  dan Wulandari (2010:103) beberapa akibat yang Nampak jika seseorang sedang mengalami stress antara lain: kelelahan dalam bekerja, psikomatis (terganggunya mental dan fisik seseorang), trauma serta kelelahan kepedulian. Sementara Cox dalamPangewa (2005: 236) mengungkapkan bahwa stress dapat mengakibatkan beberapa hal, yakni: akibat subjektif (kegelisahan, kebosanan), akibat perilaku (emositidak stabil), akibat kognitif (kurang konsentrasi, kurang bisa mengambil keputusan), akibat fisiologis (naiknya tekanan darah), serta akibat keorganisasian (menyebabkan kinerja menjadi rendah).
Dapat diambil kesimpulan stres yang dialami seseorang dapat mengakibatkan tingkat kinerja menurun karena kurangnya konsentrasi dalam bekerja, perasaan kecewa dan mudah marah serta mudah terserang penyakit.

Pengaruh stress
reaksi tubuh terhadap stressor pada seseorang sangat bervariasi dan berbeda dari masing-masing orang yang menerimanya. Perbedaan reaksi tersebut disebabkan oleh beberapa faktor antara lain faktor psikologis dan faktor sosial-budaya seseorang.
pengaruh stress di tempat kerja menurut model Cartwright et all (1995) dikutip dari Cooper dan Marrshall (1978)) reaksi stress di kelompokkan menjadi dua yaitu pengaruhnya kepada individu dan organisasi kerja.
  • Pengaruhnya terhadap individu seseorang
    • Reaksi emosional. Dalam keadaan stress tingkat emosi seseorang sangat tidak stabil di mana sering kita lihat orang tersebut mudah marah, emosi yang tidak terkontrol, curiga yang berlebihan, perasaan tidak aman dll (Mendelson, 1990).
    • Reaksi perubahan kebiasaan. Dalam keadaan stress atau tertekan seseorang dengan tanpa sadar mencari pelarian dari permasalahan yang diterima yang terkadang mempengaruhi kebiasaan seseorang. Sebagai contoh perubahan kebisaan untuk merokok, minum-minuman keras dan pengunaan obat-obat terlarang.
    • Perubahan fisiologis. Dalam keadaan stress otot-otot kepala dan leher menjadi tegang yang menyebabkan sakit kepala, susah tidur (insomnia), gangguan fisiologis lainnya dapat berupa hipertensi, sakit ginjal, serangan jantung, maag, menurunnya daya tahan tubuh dll.
  • Pengaruhnya terhadap Organisasi.
Akibat stress pada organisasi kerja akan memberikan pengaruh yang kurang baik. Pengaruhnya dapat berupa tingginya angka tidak masuk kerja, turnover, hubungan kerja menjadi tegang dan rendahnya kualitas pekerjaan dll. Apapun bentuk reaksi tubuh terhadap stressor yang diterimanya akan menimbulkan dampak negatif berupa stress yang dapat merugikan. Dan secara pasti bahwa hampir semua orang telah mengalami stress dalam kehidupannya. Hal terpenting adalah bagaimana kita dapat mengenali, mencegah, mengelola dan mengendalikan stress agar kita tetap dapat berpenampilan dan berprestasi dengan baik dalam setiap aktivitas yang kita lakukan
Pencegahan dan Pengendalian Stress Akibat Kerja
Sauter, et a.l (1990) dikutip dari National Institute for Occupational Safety and Health (NIOSH) memberikan rekomendasi tentang bagaimana cara untuk mengurangi atau meminimalisasi stress akibat kerja sebagai berikut:
  1. Beban kerja baik fisik maupun mental harus disesuaiakan dengan kemampuan atau kapasitas kerja pekerja yanag bersangkutan dengan menghindarkan adanya beban berlebih maupun beban yang terlalau ringan.
  2. Jam kerja harus disesuaikan baik terhadap tuntutan tugas maupun tanggung jawab di luar pekerjaan.
  3. Setiap pekerja harus diberikan kesempatan untuk mengembangkan karier, mendapatkan promosi dan pengembangan kemampuan keahlian.
  4. Membentuk lingkungan sosial yang sehat, hubungan antara tenaga kerja yang satu dengan yang lain, tenaga kerja-supervisor yang baik dan sehat dalam organisasi akan membuat situasi yang nyaman
  5. Tugas-tugas pekerjaan harus didesain untuk dapat menyediakan stimulasi dan kesempatan agar pekerja dapat menggunakan keterampilannya. Rotasi tugas dapat dilakukan untuk meningkatkan karier dan pengembangan usaha.
Menurut tarwaka (2004:151) langkah-langkah yang harus dilakukan untuk mengurangi terjadinya stress adalah sebagai berikut;
  1. Menghilangkan faktor penyebab stress, khususnya yang berasal dari tasks, organisasi kerja dan lingkungan kerja.
  2. Memposisikan pekerja pada posisi yang seharusnya (The right man on the right place).
  3. Mengembangkan struktur organisasi sesuai dengan kultur dan tradisi masyarakat pekerjanya.
  4. Menjamin perasaan aman setiap pekerja.
Kesimpulan
stress akibat kerja dapat terjadi kapan saja dalam lingkungan organisasi kerja dan dapat menimpa siapa saja dengan berbagai resiko dari stress yang paling sederhana seperti kejenuhan dan kepenatan sampai terjadinya gangguan kesehatan secara fisik dan mental. Selanjutnya tulisan ini diharapkan dapat memberikan gambaran kepada kita tentang apa yang dimaksud dengan stress khususnya stress yang timbul akibat pekerjaan, penyebab stress yang ada di tempat kerja dan bagaimana strategi pencegahan stress dalam upaya meningkatkan kualitas hidup tenaga kerja, meningkatkan produktivitas perusahaan serta meningkatkan kesejahteraan tenaga kerja

daftar pustaka 



Blanding Michael, 2015. “National Health Costs Could Decrease if Managers Reduce Work Stress” http://hbswk.hbs.edu/item/national-health-costs-could-decrease-if-managers-reduce-work-stress.(di akses 5 oktober 2017. 13:00)
Brain Statistics, 2017. “Stress Statistics” http://www.statisticbrain.com/stress-statistics/. (di akses 5 oktober 2017, 12:00)
Clark, D.R. 1996. Workstation Evaluation and Design. Dalam: Battacharya, A. & McGlothlin, J.D. eds. Occupational Ergonomic. Marcel Dekker Inc. USA: 279-302.
Cartwright, S., Cooper, C.L., and Murphy, L.R. 1995. Diagnosing a Healhty Organisation A Protective Approach to Stress in The Workplace. American Psychological Assosiation. Wasington. 15: 217-229.
Husein, Umar. 2005. Riset Sumber Daya Manusia. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama
Luthans, Fred. 2006. Perilaku Organisasi Edisi Kesepuluh.Yogyakarta: Andi
Mangkunegara, AP. 2009. Manejemen Sumber Daya Manusia Perusahaan. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya
Mumpuni, Yekti dan Ari Wulandari. 2010. Cara Jitu Mengatasi Stres. Yogyakarta: Andi
Pangewa, Maharuddin. 2005. Perilaku Keorganisasian.  Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional
Robbins, S.P. 2007. Perilaku Organisasi. Jakarta: PT. Macanan Jaya Cemerlang
Sauter, S.L., Murphy, L.R. and Hurrell, J.J., 1990. A National Strategy for The Prevention of Work-Related Psychological Disorders. American Psychologist. 45:146-1158
Tarwaka, Solichul H.A. Bakri , Lilik S. 2004. “Ergonomi Untuk Keselamatan, Kesehatan kerja dan Produktivitas” http://shadibakri.uniba.ac.id/wp-content/uploads/2016/03/Buku-Ergonomi.pdf . (di akses dan di download 8 septermber 2017. 17:00) 
Wantoro, B. 1999. Stress Kerja. Majalah Hiperkes dan Keselamatan Kerja. Jakarta.Vol XXXII (3): 3-9.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.