.

Sabtu, 26 Maret 2016

Resensi Buku : Selamatkan Bumi Melalui Konstruksi Hijau

Oleh : Taqiyah Rahma Dinna


Judul : “Selamatkan Bumi Melalui Konstruksi Hijau”
Penulis : Wulfram I. Errianto
Penerbit : Andi
Kota : Yogyakarta
Tahun : 2012
Cetakan : Pertama
Tebal : 214 halaman
ISBN : 978-979-29-3245-4

Buku yang ditulis oleh Wulfram I. Errianto dengan judul Selamatkan Bumi Melalui Konstruksi Hijau ini banyak memaparkan tentang lingkungan kita saat ini. Kita bisa melihat bagaimana kepedulian dunia terhadap lingkungan ini bermula. Disebutkan bahwa kepedulian umat manusia terhadap lingkungan ini sudah tampak sejak tahun 1962, yang mana sejak diterbitkannya buku Silent Spring karya Rachel Carson yang akhirnya berhasil mempengaruhi Presiden Kennedy untuk melakukan pengujian terhadap bahan-bahan kimia yang tercantum dalam bukunya. Lalu berkembang ke aksi demonstrasi yang digagas oleh Gaylord Nelson mengenai isu lingkungan hidup pada tahun 1969, hingga berhasil menggelar peringatan Hari Bumi pada tanggal 22 April 1970.
Lalu pembahasan berlanjut ke fenomena pemanasan global. Disebutkan bahwa fenomena pemanasan global disebabkan karena meningkatnya konsentrasi gas rumah kaca dan terjadinya proses umpan balik. Terdapat dua cara untuk mengendalikan pemanasan global. Pertama, dengan menghilangkan karbon (carbon sequestration), yaitu mencegah karbondioksida dilepas ke atmosfer  dengan cara menyimpan gas tersebut, cara terbaik yaitu dengan banyak menanam dan memelihara pepohonan. Kedua, dengan cara mengurangi produksi gas rumah kaca.
 Saat ini banyak sekali permasalahan lingkungan yang dijumpai di berbagai belahan bumi. Dalam buku ini disebutkan bahwa permasalahan lingkungan tersebut diantaranya populasi manusia yang terus bertambah. Overpopulasi disini merupakan perbandingan antara jumlah manusia dengan ketersediaan sumber daya yang dibutuhkan, misalnya air bersih, makanan, rumah dan tanah pertanian. Seperti yang kita ketahui bahwa jumlah penduduk Indonesia semakin bertambah. Tahun 2010 jumlah penduduk Indonesia sebanyak 235 juta jiwa. Diperkirakan bahwa pertumbuhan penduduk Indonesia mencapai 1,2 % per tahun. Lalu permasalahan selanjutnya adalah overkonsumsi. FAO memprediksi bahwa rentan tahun 2010 hingga 2050, konsumsi daging dan susu secara global akan mengalami peningkatan sekitar 2 kali lipat. Selanjutnya permasalahan mengenai penyebaran penduduk yang tidak merata. Arus urbanisasi dari desa ke kota menyebabkan berbagai permasalahan kehidupan. Keseluruhan permasalahan tersebut mengakibatkan krisis politik, ekonomi dan juga budaya.
 Banyak sekali gagasan-gagasan yang dinilai sangat penting untuk mendukung gerakan go green. Salah satunya dalam bab 3 penulis mengungkapkan sebuah gagasan yang dianggap dapat mengurangi pemanasan global, yaitu dengan menerapkan konsep pembangunan berkelanjutan, yang mana sering dijumpai istilah konstruksi berkelanjutan. Di negara maju, pemahaman tentang konstruksi berkelanjutan lebih difokuskan pada inovasi teknologi, sedangkan di negara berkembang masih berkutat pada permasalahan sosial dan ekonomi. Dalam buku ini dibahas mengenai pengembangan konstruksi berkelanjutan di Indonesia, yang terbagi menjadi 3 agenda untuk rentan waktu antara 2011 hingga 2030, yaitu :
a.       Jangka pendek untuk kurun waktu 2011 s/d 2017 berisi agenda yang harus dilakukan untuk penciptaan kondisi lingkungan.
b.   Jangka menengah untuk kurun waktu 2011 s/d 2024 berisi agenda yang bertujuan untuk melaksanakan implemenasi konstruksi  berkelanjutan termasuk dampaknya.
c.     Jangka panjang untuk kurun waktu 2011 s/d 2030 berisi agenda yang bertujuan menciptakan paradigma baru dalam implementasi konstruksi berkelanjutan.
Pembahasan menarik dalam buku ini yaitu mengenai penelolaan proyek hijau. Point penting dalam proses mewujudkan green building yaitu pada proses perencanaan sampai proses konstruksi. Dikarenakan proyek berorientasi hijau berbeda dengan proyek lain pada umumnya, maka tim proyek harus menyadari sejak awal perbedaan pengelolaan dalam proyek jenis ini.
Dalam tahap pembangunan konstruksi hijau, selain dibutuhkan beberapa macam sumberdaya seperti bahan bangunan, metode, alat, pekerja dan uang, juga perlu diperhatikan proses pembangunannya secara ekologis. Hal ini dikarenakan konstuksi hijau adalah proses dalam merealisasikan bangunan fisik konstruksi dengan mengedepankan prinsip-prinsip ramah lingkungan.
Yang perlu digaris bawahi adalah, buku ini benar-benar membahas segala aspek penghijauan. Mulai dari isu global warming, pencemaran lingkungan, sejarah mengenai gerakan selamatkan bumi, cara membangun kawasan hijau, aspek-aspek lingkungannya, hingga membangun kerja sama teamwork yang kuat dan terorganisir sehingga tercapai tujuan pembangunan berkelanjutan yang baik. Penyampaian materi dari buku ini disajikan secara sistematis dan menarik. Banyak struktur dan bagan-bagan untuk memudahkan pembaca dalam memahami materi yang disampaikan dan menurut saya buku ini layak untuk dijadikan bahan bacaan dan sumber referensi bagi para pembaca.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.