.

Senin, 12 September 2016

PENELITIAN PADA EKSTRAK BIJI PEPAYA



EFEKTIVITAS BUBUK BIJI PEPAYA (CARICA PAPAYA LINNAEUS) SEBAGAI LARVASIDA AEDES SP INSTAR III

ABSTRAK
Kasus DBD dari tahun ke tahun selalu mengalami peningkatan, sehingga perlu dilakukannya pengendalian kasus DBD, salah satu cara penegendalian DBD membunuh larva nyamuk dengan menggunakan cara abatisasi. Penggunaan abate mempunyai kelemahan yang bisa berpengaruh terhadap pengguna abate dan terjadinya resistensi pada nyamuk Aedes sp. Biji pepaya sangat baik untuk dimanfaatkan sebagai pembasmi jentik nyamuk Aedes sp karena memiliki racun yang terkandung dalam biji pepaya adalah saponin. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui efektivitas bubuk biji pepaya sebagai larvasida Aedes sp.
Jenis penelitian ini adalah True Eksperimen dengan desain penelitian Posttest Only Control Group Design, menggunakan 4 perlakuan (10 ml, 20 ml, 30 ml, dan 40 ml) dan 1 kontrol. Objek yang digunakan sebanyak 300 Larva Aedes sp yang telah mencapai instar III. Bubuk biji pepaya di ekstraksi dengan cara metode maserasi Masing-masing perlakuan berisi 20 larva dan dilakukan pengulangan sebanyak 3 kali. Data dianalisis secara univariat dan bivariat.
Hasil Analisis univariat jumlah larva yang mati pada bebagai dosis yang mati pada total persentase terendah 35 % pada dosis 10 ml dan persentase tertinggi 100 % pada dosis 40 ml. Hasil uji analisis bivariat one way anova adanya jumlah perbedaan jumlah larva yang mati, dengan didapatkan nilai sig. = 0,000, sehingga ρ < α (0,05) artinya ada pengaruh yang signifikan terhadap perbedaan dosis larutan bubuk biji pepaya yang dipakai terhadap kematian larva Aedes sp. Hasil analisis Bonferroni menunjukan dosis 40 ml efektif sebagai larvasida Aedes sp instar III. Pengendalian larva Aedes sp dengan menggunakan larutan bubuk biji pepaya dapat dilakukan dengan cara memasukkan larutan bubuk biji pepaya sebanyak 40 ml setiap 1 liter air selama 24 jam pemaparan.

Kata Kunci : larvasida biji pepaya, saponin, dan larva Aedes sp           


 Pendahuluan
Penyakit DBD disebabkan oleh virus dengue, ditularkan ke tubuh manusia melalui gigitan nyamuk Aedes sp yang terinfeksi dan karenanya dianggap sebagai arbovirus (virus yang ditularkan melalui arthropoda). Bila terinfeksi, nyamuk tetap akan terinfeksi sepanjang hidupnya. Nyamuk jantan akan menyimpan virus pada nyamuk betina saat melakukan kontak seksual selanjutnya, nyamuk betina tersebut akan menularkan virus ke manusia melalui gigitan (WHO, 1999).
Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat Indonesia yang cenderung semakin luas penyebarannya sejalan dengan peningkatan arus transportasi dan kepadatan penduduk. Penyakit ini terutama menyerang anak-anak, dapat menimbulkan kematian dan sering menimbulkan wabah (Kementerian Kesehatan RI, 2007).
Deman Berdarah Dengue (DBD) Sejak tahun 1968 telah terjadi peningkatan persebaran jumlah provinsi dan kabupaten/kota yang endemis DBD. Berdasarkan situasi tersebut WHO menetapkan Indonesia sebagai salah satu negara hiperendemik dengan jumlah provinsi yang terkena DBD sebanyak 32 dari 33 provinsi di Indonesia (Achmadi, 2010).
Profil kesehatan Indonesia mencatat data tentang penyakit DBD tahun 2008 yaitu 137.469 kasus dan 1.187 diantaranya meninggal dunia, tahun 2009 yaitu 158.912 kasus dan 1.420 diantaranya meninggal dunia, tahun 2010 yaitu 156.085 kasus dan 1.358 diantanya meninggal dunia, dan  tahun 2011 yaitu 65.432 kasus dan tahun 2012 yaitu 595 diantaranya meninggal dunia. Berdasarkan informasi di atas maka didapatkan penurunan jumlah kasus 99,7 %  antara jumlah kasus DBD di Indonesia dengan jumlah kasus di Provinsi Bengkulu. (Kementerian Kesehatan Indonesia, 2008-2012).
Kasus penderita (DBD) di Provinsi Bengkulu tahun 2012  juga  tercatat sebanyak 409 kasus yang terjangkit dan menyebar di 67 Kelurahan Provinsi Bengkulu dan meninggal dunia 2 orang. Kasus tersebut meningkat dari tahun 2011 yang hanya 300 kasus. Berdasarkan informasi di atas maka didapatkan penurunan jumlah kasus 47,77 % antara jumlah kasus DBD di Provinsi Bengkulu dengan Kota Bengkulu. (Dinkes Provinsi Bengkulu, 2012).
Dinas Kesehatan Kota Bengkulu mencatat jumlah penderita demam berdarah dengue (DBD) Sejak tahun ke tahun mengalami peningkatan jumlah penderita demam berdarah dengue (DBD) pada tahun 2012 mencapai 470 orang jauh lebih meningkat dibandingkan periode yang sebelumya. Warga kota Bengkulu yang terjangkit penyakit demam berdarah dengue hingga akhir Februari 2012 tercatat 102 orang dan 2 orang diantaranya meninggal dunia (Dinkes Kota Bengkulu, 2012)
Melihat cara pengendalian secara kimiawi dengan sasaran nyamuk atau larva kemungkinan ada dampak negatif yang ditimbulkan yaitu terjadi resistensi Aedes sp yang diakibatkan dari penggunaan cara pengendalian secara kimiawi. Bentuk pengendalian lain dapat dilakukan secara mekanik, biologi, kimia, atau perubahan sifat genetik. Digunakannya insektisida karena bekerja lebih efektif dan hasilnya cepat terlihat. Namun hal ini mempunyai dampak negatif antara lain pencemaran lingkungan, kematian predator, resistensi serangga sasaran, dapat membunuh hewan peiiharaan, bahkan mengganggu kesehatan manusia. Sejauh ini langkah yang telah dilakukan masyarakat adalah abatisasi. Abatisasi dilakukan untuk mengendalikan larva nyamuk dan dosis yang dipakai cenderung lebih rendah dengan alasan air yang ditaburi abate berbau kurang sedap, karena ini memang adalah salah satu kelemahan formulasi temefos SG. Lebih tingginya frekuensi abatisasi ini dapat mendorong terjadinya resistensi pada populasi Aedes sp. Selain itu, pemakaian abate selama 30 tahun memang memungkinkan berkembangnya resistensi (Mulla, 2004). Melihat berbagai alasan tersebut maka perlu dilakukan suatu usaha mendapatkan insektisida alternatif yaitu menggunakan insektisida alami, yakni insektisida yang dihasilkan oleh tanaman beracun terhadap serangga tetapi tidak mempunyai efek samping terhadap lingkungan dan tidak berbahaya bagi manusia.
Metode yang paling efektif untuk mengendalikan nyamuk vektor demam berdarah adalah dengan cara membunuh jentik-jentiknya (Nurhasanah, 2001). Larvasida yang merupakan salah satu insektisida dapat menjadi alternatif pengendalian demam berdarah. Larvasida alami dapat ditemukan dalam tumbuhan yang didalamnya terkandung senyawa yang berfungsi sebagai larvasida, diantaranya adalah golongan sianida, saponin, tanin, flavonoid, alkaloid, steroid dan minyak atsiri (Kardinan, 2000). Salah satu tumbuhan yang dapat dimanfaatkan sebagai larvasida adalah pepaya. Biji pepaya merupakan bagian yang mengandung senyawa kimia golongan alkaloid, saponin, flavonoid.
Berdasarkan uraian di atas peneliti ingin mencoba menggunakan biji pepaya sebagai larvasida alami dan mengetahui daya bunuh ekstrak biji pepaya terhadap larva nyamuk Aedes sp dalam berbagai dosis Penggunaan biji pepaya diharapkan mampu menjadi alternatif larvasida alami yang aman dan mampu membunuh larva Aedes sp sebagai upaya mengurangi tingginya angka penyakit DBD di Indonesia.

Metode Penelitian
2.1 Alat
Mortal dan pastel, ovitrap, kain kasa, gelas aqua, baskom, nampan, labu ukur, water bath, counter.

2.2 Bahan
Ekstrak biji pepaya, larva aedes sp instar III, , alkohol 96%.

2.3 Cara Kerja
Proses kolonisasi larva dilakukan dengan dua cara yaitu dengan menggunakan ovitrap yang diletakkan didekat tempat-tempat perindukan nyamuk dan juga dengan cara pencidukan larva pada tempat-tempat perindukkan nyamuk.. Setelah telur berubah menjadi larva maka larva diberi makan pelet ikan yang telah dihaluskan sebagai makanan bagi larva agar larva tetap  hidup. Larva yang digunakan sebagai penelitian adalah larva instar ke III.
Proses pembuatan ekstrak biji pepaya mendapatkan hasil ekstraksi yang baik, maka biji pepaya dikering anginkan terlebih dahulu selama 5 hari dengan suhu 25°C/suhu kamar sehingga  kadar air yang ada di dalam biji pepaya berkurang. Setelah proses pengeringan selesai kemudian tumbuhan biji pepaya dihaluskan yang bertujuan untuk memperluas permukaan sel buah pare terhadap cairan alkohol sehingga zat aktif  yang terdapat didalam buah pare akan lebih mudah untuk diekstraksi. Biji pepaya yang telah halus kemudian ditimbang sebanyak 100 gr untuk konsentrasi 1%, dengan penggunaan 4 dosis (10ml. 20ml, 30ml. 40ml) pada neraca analitik dengan menggunakan kaca arloji kemudian memasukkan kedalam labu ukur 100 ml lalu direndam dengan pelarut alkohol selama 3 hari dan setiap harinya dilakukan penghomogenan. Kemudian hasil perendaman disaring,  setelah itu hasil penyaringan dipanaskan dengan menggunakan water bath hingga mencapai titik didih alkohol dengan suhu 80°C, agar alkohol dapat menguap dan didapatkan ekstrak biji pepaya kental. Setelah melakukan pemanasan volume ekstrak biji pepaya akan berkurang maka dilakukan penambahan aquadest hingga tanda tera.
Mempersiapkan 5 buah nampan yang masing-masing nampan diisi dengan air sebanyak 1 liter. Kemudian memasukkan ekstrak biji pepaya dengan dosis 10 ml ke baskom pertama, dosis 20 ml baskom kedua, dosis 30 ml baskom ketiga, dosis 40 ml baskom keempat, dan nampan 5 tidak menambahan zat apapun sebagai kontrol. Kemudian memasukkan larva kedalam masing-masing nampan sebanyak 20 ekor. Tunggu dan amati perkembangan larva selama 1 jam pertama , 2 jam kedua, 3 jam ketiga dan 24 jam lalu hitung larva yang mati dengan menggunakan counter.  Pengulangan dalam proses penelitian dilakukan sebanyak 3 kali. Hasil yang telah didapat dimasukkan ke dalam tabel pengamatan dan dianalisis  dengan menggunakan uji One Way Anova.

Hasil
3.1    Analisis Univariat
Penelitian yang di lakukan pada tanggal 24 April s.d 24 Mei 2014 di Laboratorium Terpadu Poltekkes Kemenkes Bengkulu menghasilkan data jumlah larva yang mati pada penambahan ekstrak biji pepaya dengan berbagai variasi dosis yang disajikan secara deskriptif dan analitik.
Tabel 1
Jumlah Larva Yang Mati Dengan Berbagai Variasi Dosis Ekstrak Biji Pepaya Pemaparan 24 jam
 


Tabel 1 menunjukkan bahwa dari 3 kali pengulangan dengan total jumlah larva  Aedes sp sebanyak 60 ekor setelah dilakukan kontak selama 24 jam kematian larva tertinggi (100%) terjadi pada perlakuan ekstrak biji pepaya dosis 40ml..

3.2         Analisis Bivariat
Uji One Way Anova ini digunakan untuk menguji sebuah rancangan variabel lebih dari satu, uji ini digunakan untuk mengetahui apakah ada perbedaan jumlah larva yang mati pada penambahan eksrtak biji pepaya dengan berbagai variasi dosis.
Tabel 2
Hasil Uji One Way Anova Jumlah Larva yang Mati Pada Penambahan Ekstrak Biji pepaya dengan Berbagai Variasi dosis

Pada tabel 2 hasil uji One Way Anova didapat nilai ρ = 0,000 < 0,05 dapat diartikan bahwa secara statistik Ho ditolak dan Ha diterima, disimpulkan bahwa ada perbedaan jumlah larva nyamuk Aedes sp yang mati pada penambahan ekstrak biji pepaya dengan dosis (10ml, 20ml, 30ml, 40ml).
Selanjutnya untuk mengetahui rata-rata beda jumlah larva nyamuk Aedes sp yang mati pada penambahan ekstrak buah pare dengan berbagai variasi dosis serta kontrol, dilakukan uji bonferroni. Hasil uji bonferroni dapat dilihat pada tabel 3:


Tabel 3
Hasil Uji Bonferroni Jumlah Larva Nyamuk Aedes sp yang Mati Pada Penambahan Ekstrak Biji Pepaya Dengan Berbagai Variasi Dosis

Berdasarkan tabel 3 diketahui bahwa selisih jumlah rata-rata beda larva nyamuk Aedes sp yang mati antara kontrol dan perlakuan ekstrak 10 ml adalah 7,000 ekor. Selisih rata-rata antara kontrol dan perlakuan ekstrak dengan dosis 20 ml adalah 11,000 ekor. Selisih rata-rata antara kontrol dan ekstrak dengan dosis 30 ml adalah 16,667 ekor. Selisih rata-rata antara kontrol dan ekstrak dengan dosis 40 ml adalah 20,000 ekor.
Selisih rata-rata antara perlakuan ekstrak dengan dosis 10 ml dan ekstrak dengan dosis 20 ml adalah 4,000 ekor. Selisih rata-rata antara perlakuan ekstrak dengan dosis 10 ml dan ekstrak dengan dosis 30 ml adalah 9,667 ekor. Selisih rata-rata antara perlakuan ekstrak dengan dosis 10 ml dan ekstrak dengan dosis 40 ml adalah 13,000 ekor. Selisih rata-rata antara perlakuan ekstrak dengan dosis 20 ml dan ekstrak dengan dosis 30 ml adalah 5,667 ekor. Selisih rata-rata antara perlakuan ekstrak dengan dosis 20 ml dan ekstrak dengan dosis 40 ml adalah 9,000 ekor. Selisih rata-rata antara perlakuan ekstrak dengan dosis 30 ml dan ekstrak dengan dosis 40 ml adalah 3,333.
Hasil uji Bonferroni menunjukkan bahwa selisih rata-rata yang bermakna dengan p value = 0,000 terhadap jumlah larva nyamuk Aedes sp yang mati penambahan ekstrak biji pepaya pada berbagai variasi dosis (10 ml, 20 ml, 30 ml, 40 ml) dan kontrol, dan diantara keempat perlakuan yang paling berpengaruh adalah perlakuan dengan penambahan ekstrak bubuk biji dengan dosis 40 ml.

Pembahasan
Berdasarkan tabel 1 Berdasarkan hasil analisis univariat menunjukkan bahwa ekstrak biji pepaya memiliki pengaruh sebagai larvasida terhadap larva Aedes sp. Dari masing-masing variasi dosis ekstrak biji pepaya (Carica Papaya Linnaeus) memiliki tingkat daya bunuh lava Aedes sp yang berbeda-beda. Ini dapat dilihat dari rata-rata persentase kematian larva Aedes sp pada dosis 10 ml dapat membunuh larva Aedes sp sebesar 35%, pada dosis 20 ml dapat membunuh larva Aedes sp sebesar 55% , pada dosis 30 ml, dapat membunuh larva sebesar 83,3% dan pada dosis 40 ml dapat membunuh larva Aedes sp sebesar 100%. Hal ini terjadi karena semakin besar dosis yang digunakan maka kandungan zat toksik saponin yang terdapat di dalam ekstrak biji pepaya dapat semakin efektif untuk membunuh larva Aedes sp, jadi diperoleh dosis 40 ml yang paling efektif sebagai larvasida dengan kandungan saponin yang terbesar 0,04 %.
Hasil analisis bivariat pada tabel 2 yaitu uji One Way Anova diketahui bahwa ekstrak biji pepaya (Carica papaya Linnaeus) mempunyai kemampuan untuk mematikan larva Aedes sp. Ini dapat dilihat dari nilai p value < 0,05 yang berarti Ho ditolak dan Ha diterima. Hal ini sesuai dengan kemampuan biji pepaya dalam membunuh larva nyamuk Aedes sp di karenakan adannya kandungan saponin dalam biji pepaya. Saponin adalah jenis glikosida yang banyak ditemukan dalam tumbuhan. Saponin memiliki karakteristik berupa buih. Sehingga ketika direaksikan dengan air dan dikocok maka akan terbentuk buih yang dapat bertahan lama. Saponin mudah larut dalam air dan saponin memiliki rasa pahit menusuk dan menyebabkan iritasi pada selaput lendir. Saponin merupakan racun yang dapat menghancurkan butir darah atau hemolisis pada darah.
Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan terhadap obyek penelitian dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Jumlah rata-rata larva yang mati pada penambahan ekstrak biji pepaya dengan dosis 10 ml adalah 7 ekor, dosis 20 ml adalah 11 ekor, dosis 30 ml adalah 16,66, dosis 40ml adalah 20 ekor.
2. Perbedaan jumlah larva Aedes sp yang mati pada penambahan bebagai macam dosis ekstrak biji pepaya pada dosis 10 ml dengan 20 ml adalah 4 ekor, pada dosis 10 ml dengan 30 ekor adalah 8 ekor, pada dosis 10 ml dengan 40 ml adalah 13, pada dosis 20 ml dengan 30 ml adalah 5 ekor, pada dosis 20 ml dengan 40 ml adalah 9 ekor, pada dosis 30 ml dengan 40 ml adalah 4 ekor.
3. Dosis yang paling efektif untuk membunuh larva Aedes sp adalah dosis 40 ml dengan persentase kematian larva Aedes sp 100 %.

Saran
Berdasarkan hasil penelitian yang telah di lakukan adapun saran yang dapat diberikan adalah sebagai berikut:
1. Bidang Akademik Pendidikan
Diharapkan penelitian ini bermanfaat bagi ilmu pengetahuan yaitu dapat menambah khasanah ilmu pengetahuan kesehatan lingkungan khususnya penyakit demam berdarah dengue (DBD).
2. Manfaat Bagi Peneliti Lain
Diharapkan penelitian ini dapat memberikan informasi mengenai larvasida biji pepaya sehingga diharapkan dapat melanjutkan penelitian dengan menggunakan larutan tumbuhan yang berkualitas.
3. Bagi Masyarakat
Diharapkan penelitian ini dapat memberikan informasi tentang alternatif pembasmi larva nyamuk, memberikan informasi tentang salah satu solusi pencegahan penyakit demam berdarah (DBD), Memberikan pengetahuan bagi masyarakat mengenai potensi bahan alami sebagai larvasida.

DAFTAR PUSTAKA
Achmadi, 2010, Demam Berdarah Dengue (DBD) Di Indonesia. Diakses Dari http//google.com/Demam Berdarah Dengue Di Indonesia Jurnal.
Arikunto, 2010,  Prosedur Penelitian, Rineka Cipta : Jakarta Depkes RI, 2007, Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD), Indonesia : Depkes RI 2007.
Depkes RI, 2002, Penularan Demam Berdarah Dengue (DBD). Depkes RI, 2002.
Dinas Kesehatan, 2008-2012, Profil Kesehatan Indonesia 2008- 2012. Indonesia : Profil Kesehatan Indonesia.

Dinkes Kota Bengkulu, 2012,  Jumlah Penderita Demam Berdarah Dengue (DBD), Dinkes Kota Bengkulu.
Dinkes Provinsi Bengkulu, 2012, Kasus Penderita Demam Berdarah Dengue (DBD), Dinkes Provinsi Bengkulu.

Ivan V, 2006, Perbandingan Efektivitas Abate Dengan Papain Dalam Menghambat Pertumbuhan Larva Aedes spp.

Ginanjar, 2008, Apa yang dokter anda tidak katakan tentang demam berdarah, PT. Mizan Publika, Bandung.

Kardinan, 2000, Larvasida Alami,

Kementerian Kesehatan RI, 2007,

Penyakit Demam Berdarah Dengue
(DBD).
Kementerian Kesehatan RI, 2005, Morfologi dan lingkungan hidup nyamuk, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
Kementerian Kesehatan RI, 2002, Perantara Penularan DBD. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia
Moehd. Baga Kalie, 1996, Bertanam Tanaman Pepaya Edisi Revisi, Penebar Swadaya : Jakarta.

Mulla, 2004, Demam Berdarah Dengue (DBD) Jurnal, Diakses Dari http//google.com.

Nadesul, 1996, Demam Berdarah Dengue  (DBD), Diakses Dari http://www.scribd.com/doc//Makalah-Dbd.

Noraida, 2000,   Formula Abbot Corrections, Bandung : ITB.

Notoatmojo, 2010,  Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta..
           
Nurhasanah, 2001, Demam Berdarah Dengue (DBD) Jurnal, Diakses Dari http//google.com.

Dinas Kesehatan, 2008-2012, Profil Kesehatan Indonesia 2008- 2012. Indonesia : Profil Kesehatan Indonesia.

Simanjuntak, 2005, Senyawa Kimia Sintetis, Diakses  Dari http://repository.usu.ac.id/bitstream//Chapter II. pdf.
Soegijanto,  2006  ,  Pengendalian Vektor Secara Mekanik Dan Pengelolaan          Lingkungan,   Diakses Dari http://repository.usu.ac.id/bitstream/Chapter II. pdf.

Soroso, 2000, Penularan Demam Berdarah Dengue (DBD), Diakses Dari http://repository.usu.ac.id/bitstream//Chapter II.pdf.
Sudrajat dkk, 2009, Masalah Pengendalian Vektor Demam Berdarah Dengue (DBD), Diakses Dari http//google/com.

                  , SB, 2008, Perantara Penularan Demam Berdarah Dengue (DBD), Diakses Dari http//google.com.

Tjitrosoepomo, Gembong, 2012, Morfologi Tumbuhan, Yogjakarta, UGM Press.

Wahyuni, 2005, Senyawa Kimia Non Nabati, Diakses Dari http://repository.usu.ac.id/bitstream//Chapter II. Pdf.004,  Siklus Hidup Nyamuk Aedes Aegypti, WHO.
                 , 1999,  Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) Disebabkan Oleh Virus Dengue. WHO.
_________, !997, Pengendalian nyamuk yang paling efektif, WHO

Wikipedia, 2007, Tanda Dan Gejala Demam Berdarah Dengue (DBD) www.wikipedia.com.
Yoyon Maryono, 2013, Pengaruh

Penambahan Berbagai Dosis  Ekstrak Pepaya (CaricaPapaya Linnaeus)
Terhadap Kematian Larva Aedes sp

Yunida, 2009, Penyebab Virus Dengue, Diakses Dari www.adulgopar.files, wordpress.com 6 oktober 2011.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.