.

Kamis, 29 September 2016

Review Jurnal : Pengembangan Alat Pengukuran Kelelahan Mental Berbasis Uji Flicker

Oleh : Junitadahra
A.  Judul Penelitian
     Pengembangan Alat Pengukuran Kelelahan Mental Berbasis Uji Flicker.
B.  Nama Penulis
1.   Yassierli
 Fakultas Teknologi Industri, Jurusan Teknik Industri, Institut Teknologi Bandung, Jl. Ganesha  10, Bandung 40132.
2.   Atya Nur Aisha
 Fakultas Teknologi Industri, Jurusan Teknik Industri, Institut Teknologi Bandung, Jl. Ganesha  10, Bandung 40132.
3.   Azi Ginanjar Nugraha
 Fakultas Teknologi Industri, Jurusan Teknik Industri, Institut Teknologi Bandung, Jl. Ganesha  10, Bandung 40132.
C.  Nama Jurnal
Jurnal Teknik Industri, Vol. 18, No. 1, Juni 2016, 11-20, DOI: 10.9744/jti.18.1.11-20, ISSN 1411-2485 print / ISSN 2087-7439 online, dalam link: http://jurnalindustri.petra.ac.id/index.php/ind/article/view/19580
D.  Latar Belakang

Angka kecelakaan kerja di Indonesia masih tergolong tinggi. Pada akhir Triwulan IV tahun 2014, angka kecelakaan kerja nasional mencapai 14.519 kasus, dengan jumlah korban kecelakaan mencapai 14.257 orang. Sumber kecelakaan kerja didominasi oleh kecelakaan lalu lintas dalam hubungan kerja, alat kerja mesin serta perkakas kerja tangan (Pusdatinaker). Caldwell, et al. menyatakan bahwa faktor kelelahan berpengaruh terhadap terjadinya kecelakaan. Kelelahan diidentifikasi sebagai faktor yang berkontribusi terhadap kecelakaan, insiden dan kematian di berbagai kondisi karena adanya penurunan kewaspadaan dan kinerja (Williamson, et al.). Oleh karena itu, perlu adanya suatu alat pengukuran dan monitoring kelelahan kerja, termasuk di dalamnya kelelahan mental.
Berbagai alat ukur untuk monitoring kelelahan telah diusulkan dalam literatur. Salah satunya adalah alat ukur berbasis uji flicker dengan menggunakan indikator Critical Flicker Fusion Frequency (CFFF).
Konsep dasar pengukuran flicker dengan menggunakan konsep lampu yang berkedip pada frekuensi tertentu, kemudian frekuensi dari lampu akan meningkat sampai frekuensi tertentu, sehingga kedipan lampu terlihat seperti lampu yang kontinu. Frekuensi dari kondisi tersebut dinamakan CFFF. Nilai CFFF mempunyai satuan Hertz (Hz), yang dapat digunakan untuk mengukur efisiensi fungsi sistem saraf pusat atau ketanggapan sistem saraf (cortical arousal) (Kroemer dan Grandjean).
E.     Masalah
Menurut Kroemer dan Grandjean , adanya penurunan nilai CFFF sebesar 0,5–6,0 Hz mengindikasikan adanya kelelahan yang dialami selama beraktivitas. Penurunan nilai CFFF yang cukup besar dapat disebabkan oleh tingkat kelelahan (mental) yang dialami cukup tinggi. Selain itu, pekerjaan yang berulang dan kondisi yang monoton, juga dapat mempengaruhi penurunan nilai flicker. Sementara itu, tidak adanya penurunan nilai CFFF mengindikasikan bahwa aktivitas yang dilakukan hanya membutuhkan usaha mental tingkat rendah hingga sedang (Kroemer dan Grandjean).
F.     Tujuan Penelitian
Untuk mengukur tingkat kelelahan seseorang, khususnya kelelahan mental dengan menggunakan indikator Critical Flicker Fusion Frequency (CFFF). Konsep dasar pengukuran flicker dengan meng-gunakan konsep lampu yang berkedip pada fre-kuensi tertentu, kemudian frekuensi dari lampu akan meningkat sampai frekuensi tertentu, sehingga kedipan lampu terlihat seperti lampu yang kontinu. Frekuensi dari kondisi tersebut dinamakan CFFF. Nilai CFFF mempunyai satuan Hertz (Hz), yang dapat digunakan untuk mengukur efisiensi fungsi sistem saraf pusat atau ketanggapan sistem saraf (cortical arousal).
G.    Metode
Dalam penelitian ini, kerangka pengembangan produk yang digunakan sebagai acuan adalah model system life cycle Chapanis yang dilengkapi oleh model siklus pengembangan produk dari Ulrich dan Eppinger. Pada kedua kerangka ini, metode pengembangan produk berpusat pada pemenuhan kebutuhan, fungsi, prosedur, fitur dan disain lainnya, karena adanya kelebihan, kekurangan, dan sifat-sifat khusus dari manusia sebagai penggunanya.
Kerangka usulan dimulai dari evaluasi alat ukur eksisting, untuk merancang fungsi dasar produk yang akan dijabarkan dalam konsep operasional. Bersamaan dengan penjabaran kebutuhan konsep operasional dilakukan identifikasi kebutuhan produk dengan mempertimbangkan karakteristik pengguna.
Evaluasi dilakukan terhadap berbagai alat ukur yang ada saat ini. Dua alat uji flicker yang di-evaluasi adalah produk buatan Yagami Scientific Instrument Mfg dan portable fatigue meter yang diusulkan Saito.
H.     Hasil Penelitian
Dari hasil pengukuran, diperoleh bahwa alat ukur kelelahan usulan sensitif untuk mengukur kelelahan, ditandai dengan melihat adanya penurunan nilai CFFF. Nilai delta CFFF diperoleh dengan cara menghitung selisih dari nilai CFFF partisipan sebelum beraktivitas dengan nilai CFFF responden setelah beraktivitas. Menurut Kroemer dan Grandjean, adanya penurunan nilai CFFF sebesar 0,5-6 Hz mengindikasikan adanya kelelahan yang dialami selama beraktivitas. Penurunan nilai CFFF yang cukup besar, dapat disebabkan oleh tingkat kelelahan (mental) yang dialami cukup tinggi. Selain itu, pekerjaan yang repetitif dan kondisi yang monoton, juga dapat mempengaruhi penurunan nilai flicker. Sementara, tidak adanya penurunan nilai CFFF mengindikasikan bahwa aktivitas yang dilakukan hanya membutuhkan usaha mental ting-kat rendah hingga sedang (Kroemer dan Grandjean).
Berdasarkan hasil pengujian, baik pengujian eksperimen laboratorium maupun pengujian di lapangan kepada pengemudi bis malam, diperoleh hasil nilai delta CFFF yang positif. Nilai delta CFFF positif pada eksperimen untuk aktivitas critical reading sebesar 4,8 Hz dan aktivitas aritmatika kompleks: 5,3 Hz. Penurunan nilai CFFF ini masih berada pada batas penurunan nilai CFFF menurut Kroemer dan Grandjean sebesar 0,5-6 Hz. Hal ini mengindikasikan bahwa aktivitas yang dilakukan memberikan dampak kelelahan normal yang masih dapat ditoleransi selama beraktivitas. Sementara hasil pengujian di lapangan pada pekerjaan supir bis malam memiliki nilai rentang CFFF sebelum berangkat (sebagai baseline) adalah 18-42 Hz. Sementara nilai CFFF pada kondisi setelah beraktivitas berada pada rentang 10-35 Hz, dengan nilai rataan delta CFFF yaitu sebesar 8,97 Hz, indikasi kelelahan yang tinggi. Hal-hal yang dapat menimbulkan kelelahan dalam aktivitas ini adalah kondisi kerja (seperti kursi pengemudi) yang masih kurang nyaman, kondisi jalan raya selama perjalanan, lama waktu mengemudi dan adanya keharusan untuk bekerja di malam hari yang dapat mempengaruhi circadian rhythym. Penelitian sebelumnya oleh Sang dan Li juga menunjukkan adanya penurunan nilai flicker frequency yang signifikan pada supir bis.
I.       Review
Penelitian ini telah menghasilkan suatu produk usulan untuk pengukuran alat ukur kelelahan berbasis uji flicker. Metode pengembangan alat ukur yang diusulkan berangkat dari kerangka usulan konsep perancangan berbasis human faktor dengan siklus meliputi evaluasi kondisi saat ini, rancangan konsep operasional, identifikasi kebutuhan pengguna, penentuan kriteria kinerja, penentuan ke-butuhan sistem, perancangan prototipe, uji usabilitas dan uji akhir produk.
Hasil pengujian produk menunjukkan bahwa hasil produk rancangan sensitif terhadap kelelahan yang ditandai dengan perubahan nilai CFFF secara konsisten. Produk juga dianggap ergonomis, yang menjadi bukti bahwa tahapan perancangan produk yang dilakukan sudah sistematis menjawab kebutuhan pengguna. Alat ukur kelelahan usulan ini diharapkan kedepannya dapat dimanfaatkan oleh industri untuk kegiatan pengukuran dan monitoring kelelahan secara kontinu, sehingga dapat mencegah terjadinya kecelakaan kerja sedini mungkin.
J.      Abstrak
Studi sebelumnya telah dilakukan untuk mengukur kelelahan menggunakan uji flicker. Namun, validitas perangkat masih belum diketahui secara empiris. Penelitian ini mengusulkan modifikasi alat kelelahan ukur berdasarkan uji flicker. Modifikasi dikembangkan dari kerangka desain faktor produk manusia, dengan tahapan termasuk analisis kondisi yang ada, konsep operasional, kebutuhan pengguna, kriteria kinerja, persyaratan sistem, desain prototipe, pengujian kegunaan dan pengujian akhir. aparatur yang diusulkan terdiri dari dua bagian utama: sumber stimulus dan perangkat kontrol sebagai masukan. stimulus yang diberikan oleh tiga lampu dengan posisi disesuaikan dan sudut orientasi. Sebuah layar LCD disediakan untuk menampilkan status dan hasil pengukuran. Perangkat kontrol terdiri dari tiga tombol untuk merespon stimulus yang sesuai. pencobaan produk yang dilakukan melalui 1) percobaan laboratorium dengan kegiatan membaca kritis dan kompleks aritmatika dan 2) studi lapangan pada sopir bus malam. Semua tugas yang dipilih mewakili karya dengan beban kerja mental yang dominan. Percobaan laboratorium menunjukkan kisaran Kritis Flicker Fusion Frequency (CFFF) di tempat kerja dari 14-40 HZ, dengan penurunan rata-rata nilai CFFF 5,3 Hz di kompleks aritmatika dan 4,8 Hz dalam kegiatan membaca kritis. Studi pada driver bus malam mengakibatkan CFFF nilai kisaran 18-40 Hz dengan delta CFFF rata-rata 8,97 Hz. Kedua pencobaan menunjukkan bahwa uji flicker dengan CFFF indikator dapat digunakan untuk mengukur kelelahan mental. Selain itu, kerangka yang diusulkan digunakan dalam pengembangan desain ini dapat digunakan sebagai acuan dalam merancang berbagai produk dengan mengambil aspek faktor manusia sebagai fokus seperti kebutuhan pengguna dan keterbatasan pengguna.
K.     Daftar Pustaka
  1. Pusdatinaker, Pusat Data Informasi Ketenagakerjaan Badan Penelitian Pengembangan dan Informasi Kementrian Ketenagakerjaan Republik Indonesia (Pusdatinaker), Data Tipe Kecelakaan Kerja di Indonesia Menurut Provinsi dan Sumber Kecelakaan Kerja, 2015, retrieved from: http://pusdatinaker.balitfo.depnakertrans. go.id/viewpdf.php?id=391on 24 Agustus 2015.
  2. Caldwell, J. A., Caldwell, J. L., and Schmidt, R. M., Alertness Management Strategies for Opera-tional Contexts, Sleep Medicine Reviews, 12(4), 2008, pp. 257-273.
  3. Williamson, A., Lombardi, D. A., Folkard, S., Stutts, J., Courtney, T. K., and Connor, J. L., Link Between Fatigue and Safety, Accident Analysis and Prevention (43), 2011, pp. 498-515.
  4. Kroemer, K. H. E., and Grandjean, E.,Fitting the Task to the Human: A Textbook of Occupational Ergonomics, Taylor & Francis Ltd, London, 2000.
  5. Saito, K., Measurement of Fatigue in Industries, Industrial Health, 37, 1999, pp. 134-142.
  6. Kulinski, M., Koszela-Kulinska, J., and Jach, K., Worker Fatigue, An Overview of Subjective and Objective Methods of Measurement, Advances in Human Factors and Sustainable Infrastructure, 2014, pp. 51-56.
  7. Chapanis, A., Human Factors in Engineering Design, John Wiley & Sons, Inc, New York, 1996.
  8. Ulrich, K. T., and Eppinger, S. D.,Product Design and Develpoment. McGraw-Hill, New York, 2008.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.