.

Minggu, 17 September 2017

Bangunan Atap Kuat Ramah Lingkungan

@F17-Nanda
Oleh : Nanda F A M


Latar Belakang

                Rumah atau tempat tinggal merupakan kebutuhan primer bagi manusia. Semakin berkembangnya jumlah penduduk pada saat ini maka kebutuhan rumah akan semakin bertambah. Rumah terdiri dari beberapa konstruksi yang menjadi unsur pembangunnya, salah satunya adalah konstruksi atap. Pada era terdahulu konstruksi atap tersusun dari bahan kayu. Pemilihan bahan kayu sebagai konstruksi atap bangunan pada era dulu menurut rumahmaterial.com (2014) karena memiliki berbagai keunggulan antaralain tahan terhadap karat, beratnya cukup ringan sekitar 10 kg/m2, proses pelaksanaan pekerjaan cepat, dan bentuk desain atap bebas. 


                Pada era modern seperti sekarang konstruksi atap bangunan mulai berubah tren yang sebelumnya dari kayu menjadi menggunakan baja ringan, hal ini juga beriringan dengan isu lingkungan dimana hutan sebagai tempat asal produksi kayu makin berkurang karena adanya pemanfaatan kayu yang tidak terkendali seperti apa yang ditulis Yudis (2016) dalam artikel yang dimuat  housing-estate.com. 

Sumber : http://mafiaharga.com/251-harga-baja-ringan-terbaru/
Apakah baja ringan itu ? 

                Menurut Sucipta, A., dkk (2013) baja ringan adalah komponen struktur baja dari lembaran atau pelat baja yang berbahan zinc-alum dengan proses pengerjaan pada keadaan dingin yang kemudian didesain dengan komputerisasi oleh tenaga ahli dan dipabrikasi dengan menggunakan mesin.Menurut Nugroho (2015)  Produk baja ringan yang ada di pasaran Indonesia dilapisi oleh dua komposisi bahan yang berfungsi sebagai lapisan anti karat. Pertama galvanis, dengan komposisi 98% zincdan 2% alumunium. Kedua zincalume, dengan komposisi 55% alumunium, 43,5% zincdan 1,5% silikon. Galvanis yang sebagian besar dibentuk oleh zinc(seng) tahan terhadap korosi air adukan semen, namun tidak tahan terhadap air garam. Sedangkan zincalume, tahan terhadap korosi air garam namun lemah bila terkena air adukan semen. Untuk mencapai taraf ketahanan yang relatif setara, ketebalan lapisan zinc yang dipakai harus lebih tebal daripada alumunium zinc. Standar umum untuk bahan struktural (menanggung beban), ketebalan lapisan alumunium zinc tidak boleh kurang dari 150 gram/m2 (AZ 150) sedangkan untuk lapisan zinc (galvanis) tidak kurang dari 200 gram/m2 (Z 200). Ketahanan baja ringan, tergantung pada ketebalan lapisan anti karatnya. 

                Masih menurut Nugroho (2015) ada beberap profil/bentuk baja ringan yang umum digunkan dalam konstruksi atap bangunan antara lain :
1.       Profil C
Pada kuda-kuda digunakan untuk top chord , bottom chord, dan web
2.       Profil U terbalik
Dapat digunakan sebagai top chord dan bottom chord pada kuda-kuda, sebagai jurai, sebagai braching serta sebagia gording apabila menggunakan atap metap longpsan.
3.       Profile Hollow
Profil ini jarang digunakan sebagai kuda-kuda. Biasanya digunakna sebagai rangka untuk partisi.
4.       Profile yang berfungsi  sebagai reng.

Kelebihan

                Selain keunggulan baja ringan yang sudah disebutkan diatas, ada beberpa keunggulan lain yang dimili bajaringan dibandingkan material lain sebagai material konstruksi atap bangunan. Beberapa manfaat yang didapat ketika menggunakan rangka atap baja ringan (Rogan, 1998; Yu, 2000; Thong, 2003), diantaranya adalah:

  •    Constructability. Kegunaan dari pembuatan dan perakitan baja bekerja mengurangi limbah dan kualitas yang sudah maju.
  •  Cepat. Sistem ini menggunakan periode konstruksi yang lebih singkat dibandingkan dengan sistem  konvensional.
  • Aman. Kekuatan baja alami dan sifatnya yang tidak mudah terbakar dapat menghindari beberapa keruntuhan seperti kebakaran, gempa bumi dan tanah longsor.
  •  Kuat dan Ringan.
  •  Berkualitas. Kualitas yang lebih baik adalah tahan lama dan rendah biaya pemeliharaannya.
  •  Mudah dimodifikasi. Modifikasi dapat dilakukan dengan mudah. Dinding bantalan yang tanpa beban dapat bisa dipindahkan, dibuang atau diubah.
  •  Desain yang flexible. Karena kekuatannya yang tinggi, baja dapat digunakan pada rentang yang lebih panjang, menyajikan ruang terbuka yang lebih besar dan meningkatkan desain yang fleksibel tanpa memerlukan kolom menengah dan dinding bantalan berbeban.
  •   Semua produk baja dapat di daur ulang.
  •    Tidak ada serangga dan infeksi jamur.
  •   Ketepatan dan keakuratan profil.
  • Bentuk profil yang bervariasi.
  • Anti karat


Kekurangan

                Selain memiliki beberapa keunggulan dan kelebihan, konstruksi atap baja ringan juga tidak terlepas dari kekurangan antara lain sebagai berikut menurut  Pangaribuan (2014) :

  •  Tidak bisa dibuat sembarang tukang harus dibuat oleh kontraktor spesialis konstruksi atap baja ringan.
  •  Harga per meter atap baja ringan cenderung lebih mahal
  •   Kerangka atap baja ringan tidak bisa diekspos seperti rangka kayu, sistem rangkanya yang berbentuk seperti jaring kurang menarik bila tanpa penutup plafond.
  • Karena strukturnya yang seperti jaring maka bila ada salah satu bagian struktur yang salah hitung ia akan menyeret bagian lainnya.
  •  Rangka atap baja ringan tidak sefleksibel kayu yang dapat dipotong dan dibentukberbagai profil jika atap dibentuk bundar.
                Dari uraian diatas penggunaan baja ringan sebagai material konstruksi atap bangunan memiliki banyak keunggulan dibandingkan material lain seperti kayu, dll. Penggunaan baja ringan sebagai pengganti kayu dalam konstruksi atap juga merupakan dukungan dalam pelestarian lingkungan. Yang dimaksud lingkungan disinin adalah hutan tempat asal kayu. Kita tahu hutan berfungsi sebagai paru-paru dunia dan penyeimbang alam. Disana juga sebagai tempat berbagai spesies makhluk hidup tinggal .Menurut Prabowo (2016) dalam kompas.com menyebutkan Dari sekitar 150 juta hektar lahan perhutanan yang dimiliki Indonesia pada 1955, saat ini yang tersisa kurang dari 90 juta hektar, tentu hal ini mengkhawatrikan jika pemanfaat hutan yang berlebihan yang tidak dibarengi dengan reboisasi setelah pemanfaat terus berlanjut. Oleh karena itu semakin sedikitnya produk kayu yang dibutuhkan dipasar maka semakin sedikit pula perusakan hutan.


Daftar Pustaka

  1. Anonim. 2014. Mengenal Material Rangka Atap Bangunan. Dalam :  http://www.rumahmaterial.com/2014/11/mengenal-material-rangka-atap-bangunan.html. ( diakses pada 16 September 2017 ) 
  2. Nugroho, Fajar. 2015. Baja Ringan sebagai Salah Satu Alternative Pengganti Kayu Pada Struktur Rangka Kuda-Kuda Ditinjau dari Segi Biaya. Dalam :download.portalgaruda.org/article.php?article=284330&val=5448&title=BAJA RINGAN SEBAGAI SALAH SATU ALTERNATIF PENGGANTI KAYU PADA STRUKTUR RANGKA KUDA-KUDA DITINJAU DARI SEGI BIAYA. ( diakses pada 16 September 2017 )
  3. Sucipta, Andry, Anis Saggaff, Sutanto Muliawan. 2013. Analisa Keruntuhan Konstruksi rangka Atap dengan Menggunakan Profil Baja Ringan. http://download.portalgaruda.org/article.php?article=147096&val=5847&title=Analisa%20Pola%20Keruntuhan%20Konstruksi%20Rangka%20Atap%20dengan%20Menggunakan%20Profil%20Baja%20Ringan. ( diakses pada 16 September 2017 )
  4. Pangaribuan,M.R. 2017. Baja Ringan sebagai Pengganti Kayu dalam Pembuatan Ranga Atap Bangunan Rumah Masyarakat. Jurnal Teknik Sipil dan Lingkunga vol.2, no 4. Dalam : ejournal.unsri.ac.id/index.php/jtsl/article/view/1729. ( diakses pada 16 September 2017 )
  5. Prabowo, Dani. 2016. Wapres: Dalam 60 Tahun Luas Hutan Indonesia Berkurang 50 Persen. Dalam : http://nasional.kompas.com/read/2016/11/30/15554291/wapres.dalam.60.tahun.luas.hutan.indonesia.berkurang.50.persen. ( diakses pada 16 September 2017 )
  6. Yudis. 2016. Rangka Baja Ringan Makin Populer Sebagai Pengganti Kayu. Dalam :  http://www.housing-estate.com/read/2016/02/13/rangka-baja-ringan-makin-populer-sebagai-pengganti-kayu/. ( diakses pada 16 September 2017 )




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.