.

Minggu, 22 Oktober 2017

PENDIDIKAN GIZI SEBAGAI SALAH SATU SARANA PERUBAHAN PERILAKU GIZI PADA REMAJA



PENDIDIKAN GIZI SEBAGAI SALAH SATU
SARANA PERUBAHAN PERILAKU GIZI PADA
REMAJA

Nama Penulis: Esi Emilia / Universitas Negeri Medan
Nama Jurnal: JURNAL TABULARASA PPS UNIMED
Vol.6 No.2, Desember 2009

A. Pendahuluan

Pada masa remaja, kebutuhan energi dan protein meningkat untuk memenuhi kebutuhan untuk pertumbuhan cepat. Meningkatnya masa otot dan lemak dimana remaja putri lebih banyak mendapatkan lemak dan remaja putra lebih berotot. Terpenuhinya kebutuhan energy dan protein ditandai dengan berat badan dan tinggi badan yang normal. Oleh karena itu monitoring berat badan dan tinggi badan pada remaja sangat esensial untuk menentukan kecukupan energi setiap individu. Jika asupan energi tidak terpenuhi, protein digunakan untuk memenuhi kebutuhan energi namun tidak ada persediaan untuk sintesis jaringan baru atau untuk perbaikan jaringan yang rusak. Keadaan ini dapat menyebabkan penurunan tingkat pertumbuhan dan masa otot meskipun konsumsi protein cukup. Selama puncak pertumbuhan cepat pada remaja menyebabkan peningkatan masa tubuh, volume darah dan jumlah sel darah merah. Dengan demikian kebutuhan zat besi meningkat yang digunakan untuk myoglobin pada otot dan haemoglobin pada darah (Spear 1996). Pada remaja putra, kebutuhan besi selama growth spurt kira-kira 10-15 mg/hari (WNPG VIII 2004). Setelah growth spurt dan maturase seksual terjadi penurunan kebutuhan untuk zat besi (Spear 1996).

B. Pembahasan

Status Gizi Remaja Status gizi merupakan keadaan tubuh seseorang atau sekelompok orang akibat dari konsumsi, penyerapan dan penggunaan zat gizi makanan. Dengan menilai status gizi seseorang atau sekelompok orang, maka dapat diketahui apakah seseorang atau sekelompok orang tersebut status gizinya baik atau tidak baik (Riyadi 2001).

Remaja putri yang telah mengalami haid lebih rentan terhadap anemia dibanding yang belum mendapat haid. Asupan makanan yang tidak cukup pada remaja putri tidak dapat menyediakan cukup zat gizi untuk memenuhi kebutuhan mereka. Kekurangan zat gizi mikro pada remaja dapat berdampak negatif pada proses pertumbuhan dan kematangan organ-organ reproduksi. Kegagalan mencapai status gizi dan kesehatan yang optimal akan berdampak pada status gizi dan kesehatan saat ini dan juga berdampak pada status gizi generasi penerus.

Perubahan fisik karena pertumbuhan yang cepat akan mempengaruhi status gizi dan kesehatan remaja. Remaja yang mengalami gizi kurang, tumbuh lebih lambat dan umur menarche (umur pertama kali haid) juga tertunda (Spear 1996). Massa tubuh yang rendah pada remaja putri berhubungan dengan menurunnya massa tulang pada masa dewasa awal dan dapat menyebabkan risiko osteoporosis yang lebih besar pada pasca menopause (Riyadi 2001)

Keadaan gizi seseorang merupakan gambaran makanan yang dikonsumsi dalam jangka waktu yang cukup lama. Pada masa remaja, kebutuhan zat gizi yang tinggi diperlukan untuk memenuhi kebutuhan pertumbuhan dan perkembangan tubuh yang cepat. Jika kebutuhan zat gizi tersebut tidak terpenuhi maka akan menyebabkan terhambatnya pertumbuhan dan perkembangan tubuh, bahkan dapat menyebabkan tubuh kekurangan gizi dan mudah terkena penyakit dan sebaliknya (Supariasa et al. 2001).

Masalah gizi kurang disebabkan rendahnya konsumsi energi dan protein dalam makanan sehari-hari. Terjadinya gizi kurang karena konsumsi energi lebih rendah dibandingkan dengan kebutuhan yang mengakibatkan sebagian cadangan energi tubuh dalam bentuk lemak akan digunakan. Survei Nasional yang dilakukan di Indonesia pada tahun 1996/1997 di Ibukota seluruh propinsi Indonesia (Depkes 2003).

Menunjukkan bahwa 5,9% penduduk laki-laki (umur diatas 18 tahun) mengalami gizi kurang dan pada perempuan 5,7%. Lebih dari 36,1% anak sekolah di Indonesia tergolong pendek ketika memasuki usia sekolah yang merupakan indikator adanya keadaan kurang gizi kronik pada waktu kecilnya (Hadi 2005). 

Dalam profil Kesehatan Indonesia tahun 2001 dapat dilihat bahwa prevalensi anak yang bertubuh pendek hanya mengalami sedikit perubahan yaitu 39,8% tahun 1994 menjadi 36,1 pada tahun 1999. Anemia diakui sebagai masalah gizi terbesar selama remaja dan makanan merupakan faktor penyebab utama. Berdasarkan Survey Konsumsi Rumah Tangga 2001, prevalensi anemia gizi besi pada remaja putri 26,5%. Penelitian Saraswati dan Sumarno (1997) pada enam Dati II propinsi Jawa Barat menemukan prevalensi anemia pada anak SMU sebesar 42,6%.

Pada tahun 1995, Direktorat Bina Gizi Departemen Kesehatan menerbitkan buku panduan “ 13 Pesan Dasar Gizi Seimbang” untuk dewasa dan remaja. Pedoman Umum Gizi Seimbang untuk remaja adalah suatu panduan bagi remaja yang berisi informasi tentang “13 Pesan Dasar Gizi Seimbang” khusus untuk remaja. Buku panduan tersebut merupakan pegangan bagi petugas kesehatan dalam melaksanakan kegiatan penyuluhan kepada remaja (Depkes 1997). Ke 13 pesan Pedoman Umum Gisi Seimbang tersebut adalah: 1) Makanlah Aneka Ragam Makanan, 2) Makanlah Makanan untuk Memenuhi Kecukupan Energi, 3) Makanlah Makanan Sumber Karbohidrat, setengah dari Kebutuhan Energi, 4) Batasi Konsumsi Lemak dan Minyak sampai Seperempat dari Kecukupan, 5) Gunakan Garam Beryodium, 6) Makanlah Makanan Sumber Zat Besi, 7) Berikan ASI Saja Kepada Bayi sampai Berumur 6 Bulan, 8) Biasakan Makan Pagi, 9) Minumlah Air Bersih, Aman dan Cukup Jumlahnya, 10) Lakukan Kegiatan Fisik dan Olahraga Secara Teratur, 11) Hindari Minum Minuman Beralkohol, 12) Makanlah Makanan yang Aman bagi Kesehatan, dan 13) Bacalah Label pada Makanan yang Dikemas

Daftar Pustaka:

Baranowski T, Cullen KW, Nicklas T, Thompson D, Baranowski J. 2003. Are Current Health Behavioral Change Models Helpful in Guiding Prevention of Weight Gain Effort? Obesity Research 11:23S-43S.
Delisle H. 1999. Nutrition in Developing Countries? To Address Which Problems, and How? WHO: Geneva.
[Depkes] Departemen Kesehatan. 1997. Pedoman Gizi Seimbang untuk Remaja. Jakarta: Depkes RI.
[Depkes] Departemen Kesehatan. 2003a. Gizi Dalam Angka Sampai Dengan Tahun 2002. Jakarta: Depkes RI.
Haddad EH. 1996. Vegetarian and Other Dientary Parctices. Di dalam : Rickert VI, editor. Adolescent Nutrition Assessment and

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.